Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Permintaan Seorang Mama



Seminggu telah berlalu. Mamanya sudah lebih baik. Beliau sudah bisa duduk dan berjalan lagi. Aku senang mendengar berita itu. Tapi aku memang belum bisa bertemu dengan dia, kami hanya bisa berkomunikasi via chat atau sekedar video call. Tanpa bisa bertemu secara langsung. Walaupun sebenarnya aku sudah sangat merindukan dia.


Hari itu, tiba-tiba saja hp-ku berdering. Nomor di layar tak kukenal. Saat kuangkat telponku, aku kaget karena ternyata itu dari mamanya.


Aku berusaha menjawab dengan sopan. Ternyata Ia ingin bertemu denganku. Hanya denganku. Aku diminta tak memberitahu Coco masalah ini. Aku pun menyanggupinya.


Saat aku berkunjung ke rumahnya, Coco sedang tidak di rumah. Dia sedang ke kota XX mengantar Papa dan kedua kakaknya pulang. Hanya ada Uti dan beberapa ART, dan mamanya saja yang ada di rumah.


Beliau duduk di sofa. Kujabat tangannya dan kusapa beliau dengan ramah.Ia menjawabku namun kali ini suaranya tampak berat. Mungkin karena Ia masih belum sembuh benar.


Tak seperti biasanya, Ia memegang tanganku dan menyuruhku duduk di sampingnya. Kami pun berbincang-bincang. Namun dalam hatiku, aku merasa ada sesuatu yang Ia sembunyikan. Karena Ia tak biasanya berlaku demikian padaku. Sampai akhirnya,


“Tante punya satu permintaan”


“Apa tante?”


Jantungku berdegup sangat kencang, hatiku juga tak karuan. Ada apa gerangan? Kenapa sorot mata dan raut wajah mamanya mendadak berubah? Aku benar-benar dibuat penasaran dengan apa yang ingin mamanya katakan padaku.


“Mungkin kamu pikir tante egois, tapi tante tau hanya kamu yang bisa mewujudkannya”


Kenapa susunan kata-kata mamanya seperti itu?


Sebenarnya apa yang diminta mamanya padaku? Saat itu, waktu terasa berjalan sangat lambat. Bahkan aku merasa dapat mendengarkan suara detak jantungku yang bergemuruh hebat, menantikan permintaan mamanya padaku.


“TOLONG TINGGALKAN COCO”


Degh


Apa?


Mamanya minta aku untuk apa?


Meninggalkan Coco?


Benarkah ini?


Aku benar-benar syok mendengar ucapan mamanya. Rasanya seperti disambar petir. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Hatiku hancur berkeping-keping. Hatiku teriris mendengar permintaan berat dari mamanya. Tanpa kusadari air mataku pun mengalir. Kucoba mengusapnya tapi air mataku justru mengalir semakin deras. Wanita yang melahirkan lelaki yang kucintai, memintaku meninggalkan putranya.


Mamanya mendekapku. tubuhku.


“Maafkan permintaan tante ini.. Tapi kami harus segera pindah ke Cina” jelasnya


Ia menceritakan bagaimana kondisi keuangan keluarganya yang saat ini sedang buruk. Papanya terjerat masalah keuangan dan satu-satunya jalan keluar adalah pindah ke Cina karena di sana sebagian besar keluarga papanya berada. Mereka akan membantunya. Mereka akan mulai lagi semua dari awal. Memulai usaha mereka dari


awal. Begitu kata beliau padaku.


Aku berusaha menguatkan diriku. Mamanya merasa hanya akulah yang bisa membujuk Coco untuk meninggalkan Indonesia dan pindah ke Cina.


“Segera setelah papanya menyelesaikan masalah disini, kami semua akan pergi ke Cina”


“Hanya saja Coco bersikeras tak mau pindah”


“Mana mungkin tante biarkan dia disini sendiri. Sementara semua keluarganya di sana”


“Dokter juga memvonis hidupku tak kan lama jika sampai terkena serangan jantung yang kedua kalinya”


“Aku tak mau terus-terusan bertengkar dengan putraku sendiri”


“Aku dan papanya juga sudah memilihkan seorang gadis yang aku jodohkan untuk dia. Dia pun tau itu. Tapi dia bersikeras menolak perjodohan ini”


“Jadi..tante minta tolong, tinggalkan Coco..”


“Tante percaya kamu pasti bisa menemukan seseorang yang lebih baik dari Coco”


Tubuhku gemetar mendengar setiap kata yang diucapkan mamanya. Aku coba terus menguatkan diri. Memahami semua masalah ini.


Setelah mendengar semua, aku pun pamit pulang. Sepanjang perjalanan pulang aku terus menangis. Membuat sopir taksi yang mengantarku bingung. Tapi aku tak perduli. Sesampainya di rumah aku langsung berlari menuju kamarku. Aku menangis tersedu-sedu di dalam kamar.


Semua perkataan mamanya terus terngiang-ngiang di telingku. Aku sedih. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?


Aku sangat terpukul.


Permintaan mamanya sungguhlah berat. Aku harus merelakan dia pergi. Bukan hanya merelakan kepergiannya ke Cina tetapi memutuskan hubungan kami selamanya. Aku harus merelakan dia menerima perjodohan itu. Aku harus meninggalkan dia.


Ini sungguh berat. Aku tak kuat. Membayangkannya saja aku tak mampu. Apalagi harus menjalani hari-hariku tanpanya. Aku galau.


Di sisi yang lain, Aku tak bisa membayangkan harus melepaskan lelaki yang sangat kucintai. Aku sangat mencintai dia. Dia telah mengambil hatiku dan mengisi hidupku. Dia telah menjadi bagian dalam hidupku.


Lama sekali aku berpikir tentang apa yang akan Aku lakukan.


Berhari-hari kuterus dihantui permintaan mamanya ini. Masalah ini benar-benar menguras hati dan pikiranku, membuat nafsu makanku berkurang. Berat badanku turun. Membuatku sering melamun juga.


Setiap kali kami bertemu, tak bisa kusembunyikan kegalauanku ini. Dia juga sepertinya mencium perubahan dalam diriku. Tetapi aku selalu berusaha menutupinya. Kadang jika tak bisa menahan emosiku yang bergejolak ini, membuat kami bertengkar tanpa sebab yang jelas.


Akhirnya semua keputusan ada padaku.


*


*


*


*


Hari itu, di café dekat sekolah, tempat kami biasa bertemu, kuberanikan diriku.


“Co"


"Ada apa?"


"Beberapa hari kemarin aku menjenguk mamamu”


“Benarkah?” Dia tak percaya.


Dia menatap kearah ku dengan tatapan yang sangat tajam. Membuatku malah jadi salah tingkah. Aku mengangguk pelan.


" Kami berbincang cukup lama. Sepertinya sekarang, mamamu sudah bisa menerimaku"


Coco masih saja memasang wajah seriusnya mendengar ucapanku.


“Mamamu juga bilang...Ia mau menerima hubungan kita” Aku berbohong.


Maaf Co..


Wajahnya masih tak percaya.


 “Tapi Ia memberiku satu syarat” Aku masih berbohong


“Apa itu?” tanyanya penasaran


“Aku harus bisa membujukmu pindah ke Cina”


“AKU TAK MAU!”bentaknya penuh kemarahan


“Kenapa? Apa kamu tak mau kita bersama? Mamamu sudah mau menerimaku” kataku dengan emosi


Kami pun bertengkar hebat. Semua orang yang berada di café saat itu, semuanya memandang ke arah kami. Akupun mencoba mengalah dan menurunkan nada suaraku. Kuraih tangannya tapi dia malah menepis tanganku. Aku yakin dia sangat marah padaku. Aku pun mencoba menenangkannya.


"Ayolah Co? Bukankah sekarang media sosial sudah banyak? Aku yakin kita bisa terus bersama walaupun kita berjauhan"


"Aku tak mau.. Berapa kali aku katakan padamu, jika aku pindah ke sana, hubungan kita tak kan bisa seperti dulu. LDR (Long Distance Relationship) itu berat Vi? Seminggu kemarin saja bagiku sudah sangat berat.. Dan sekarang kau memintaku untuk ke Cina? Tidak.. aku tak setuju.. Sampai kapanpun aku tak kan setuju"


"Co? Kita kan belum mencobanya"


"Sudahlah Vi.. jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil dariku"


"Kenapa kamu keras kepala begini sih?" gerutuku


Sebenarnya dalam hati kecilku, aku bahagia mendengar dia tak ingin melepaskanku dan ingin selalu bersama.


Tapi, kami masih beradu argumen. Dia tetap tak mau mendengarkanku. Aku terpaksa berbohong, supaya dia mau menerima permintaan mamanya.


Ya..Aku putuskan untuk melepaskannya. Walaupun sangat berat. Tapi Aku harus menerima ini.


Aku membujuknya dengan segala cara. Awalnya dia benar-benar menolaknya. Kami sama-sama keras kepala. Kami jadi sering bertengkar karenanya. Coco bersikeras ingin tetap tinggal dan kuliah di Indonesia. Dia ingin tetap di sisiku. Di sampingku.


Tapi karena mamanya sudah memintaku membujuknya, akhirnya kuputuskan untuk memenuhi permintaan mamanya itu. Walaupun itu artinya aku harus melepaskan lelaki yang sangat kucintai. Lelaki yang telah menjadi bagian hidupku selama ini. Cinta pertamaku yang sangat berarti.