
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan perkataan kak Oline tentang kemungkinan aku hamil. Tapi mungkinkan secepat ini? Karena setauku biasanya setelah kuret diperlukan waktu untuk memulihkan rahim supaya siap untuk hamil kembali. Walaupun kemungkinan itu bisa saja. Karena memang pemulihan rahim tiap wanita berbeda-beda tergantung usia keguguran.
Usia kehamilanku yang masih trisemester awal, dengan kondisi kehamilan kosong (blighted ovum), mungkin saja pemulihan untuk rahimku lebih cepat dari perkiraan.
Tapi jika beneran aku hamil apa aku sudah benar-benar siap?
Aku jadi tak yakin pada diriku sendiri. Pengalaman pernah kehilangan calon buah hati kami, membuat mentalku bener-bener drop. Aku juga jadi sangat sensitif terlebih jika melihat seorang anak kecil yang lucu.
Kutatap pemandangan lalu lintas kendaraan yang lalu lalang. Saat di lampu merah, kutatap pemandangan keluarga kecil yang sedang naik motor. Sepasang suami istri dengan dua anak mereka. Si sulung duduk di jok motor paling depan, di depan ayahnya. Sementara anak kecil yang masih bayi di gendong ibunya sambil ditutupi menggunakan selimutnya.
Pemandangan sederhana yang sangat menentramkan. Apalagi mereka terlihat sangat bahagia, meskipun harus berpanas-panasan di bawah matahari sore, di tengah hiruk pikuk kesibukan lalu lintas kota Solo. Aku jadi ikut tersenyum sambil memandangi keluarga kecil itu. Apalagi saat si sulung yang masih berusia kurang dari lima tahun menatap ke arah kaca mobilku sambil tersenyum lalu melambaikan tangan padaku. Membuatku ikut tersenyum dan membalas lambaian tangan kecil tadi.
Saat lampu sudah hijau, dan kendaraan kami berpisah, kuhadapkan tubuhku ke depan. Sesekali kulihat ke arah Coco yang mengelus kepalaku lembut. Lalu menggenggam tanganku.
Tenggelam dalam lamunanku tentang keluarga kecil membuatku sejenak melupakan masalah Rena. Begitu ingat, aku langsung menghubungi Rena di hp nya. Kebetulan setelah kejadian menghilangnya Rena tempo hari membuatku akhirnya minta nomor hp Rena.
“Mau telpon siapa sayang?”tanya Coco padaku
“Telpon Rena. Mau tanya gimana perjalananya? Udah dapat kos belum?”jawabku sambil menunggu telponku diangkat oleh Rena.
Tapi Rena tak juga menjawab panggilan telponku.
“Kok ga diangkat ya?”
“Mungkin dia baru sibuk”
“Sibuk ngapain coba? Nih anak masak udah sibuk aja sampe ga sempet angkat telponku”gerutuku karena Rena tak juga menjawab panggilan telponku
Selang beberapa menit setelah panggilan telponku pada Rena, giliran Rena yang menghubungi. Rena video call aku.
“Kamu dimana Ren?”tanyaku
“Maaf ya kak..tadi ga tau kalo kak Vivi telpon”jawab Rena
“Halo kak Vivi”sapa Dila padaku
Kok ada Dila?
Kulihat Rena menggerakkan hp nya ke samping sehingga terlihat wajah Dila dan Rena di layar.
Perasaana aku ga ngasih nomor hp Dila ke Rena, kok sekarang mereka bisa barengan gitu.
“Halo Dila”
Gawat..Coco kenapa menatap ke arahku seperti itu? Gara-gara aku menyapa Dila.
“Kok kalian bisa barengan?”tanyaku
“Tadi kebetulan aku ke kampus buat ngurus KRS terus ketemu Rena di depan rektorat. Makanya sekarang kami bisa barengan”jawab Dila
Rena menggerakkan hp nya hingga bisa kulihat wajah Aldi di layar. Aldi yang sedang menyetir mobil.
“Ada kak Aldi juga”ucap Rena
Ini kenapa Rena mesti ngasih tau aku kalo Aldi juga ikut sih? Apa dia ga tau kalo sekarang aura di mobilku mendadak jadi gerah?
Aku sampai tak berani menatap Coco yang sedang fokus menyetir karena wajah Coco mendadak serius banget.
“Jadi kamu pulang sekarang Rena? Udah dapat kos belum?”tanyaku untuk mengalihkan kekhawatiran dalam hatiku karena aku ga mau membahas tentang Aldi di depan Coco, suamiku yang sekarang wajahnya seperti menahan marah.
“Udah kak..kak Vivi tenang aja. Aku kos bareng Dila”
“Ya udah..ati-ati dijalan ya”
“Kak Vivi juga ati-ati ya”
Akhirnya Rena mengakhiri panggilan video call kami.
Perasaan AC mobilku masih normal tapi kenapa aku merasa kepanasan ya?
“Emm..Co..kita mampir makan yuk” ajakku pada Coco
“Kenapa? Kamu udah laper”
“Iya”
“Mau makan apa?”
“Yang seger-seger aja..soto kayaknya enak deh”
Membayangkan semangkuk soto panas dengan irisan daging kecil-kecil dan kecambah. Kuahnya yang mendidih setelah dipanaskan dalam tungku, membuat air liurku pingin netes..Terbayang betapa segarnya soto itu. Ditambah perasan jeruk nipis dan kecap serta satu sendok kecil sambal. Wahhh..mulutku langsung penuh dengan air liur.
Kami pun mampir di sebuah warung soto terkenal yang ada di pinggir jalan. Warung soto legendaris yang memiliki banyak cabang di sekitar karesidenan Solo. Warung soto dengan model bangunan joglo tradisional dengan pelataran parkir yang luas.
Walaupun sudah sore, tapi pengunjung yang datang masih banyak. Kulihat dari plat nomor yang parkir, memang banyak dari luar daerah.
Seperti biasa, Coco yang selalu membukakan pintu mobil untukku. Meskipun pernikahan kami sudah jalan hampir dua tahun tapi perhatian dan kasih sayang Coco padaku masih sama seperti dulu saat kami masih pacaran. Berasa pengantin baru terus kalo sama Coco.
Aku sangat bersyukur, cinta dan kasih sayang Coco padaku tak pernah berkurang sejak dulu. Membuatku merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini karena memiliki suami seperfect dan sebaik Coco.
“Makasih”ucapku sambil memasang wajah seimut mungkin
Coco hanya tersenyum lalu menggenggam tanganku. Belum sampai masuk warung, sebuah suara yang sangat familiar berteriak memanggil namaku.
“Kak Vivi?”
Aku dan Coco menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
Ya Allah, kenapa bisa pas gini sih?
Kulihat Rena, Dila dan Aldi yang ternyata juga mampir ke warung soto yang kami tuju.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Rena.
“Aku juga ga nyangka bisa ketemu kak Vivi disini”ucap Dila
Aldi berjalan ke arahku dan Coco.
Coco segera berdiri di depanku. Kini Coco dan Aldi saling berhadapan. Kulihat wajah Coco yang mulai tak bersahabat melihat kehadiran Aldi.
“Kalian baru datang juga?”tanya Aldi
“Ayo masuk..kita makan sekarang..aku dah laper”ucap Rena
Kulihat Rena dan Dila jalan lebih dulu ke dalam. Kemudian Coco menarik tanganku. Aldi jalan di belakangku.
Kami berlima duduk bersama di salah satu sudut warung soto itu. Model kursi di warung itu bentuknya memanjang saling berhadapan dengan sebuah meja panjang di depannya. Aku duduk di samping Coco. Dila, Rena dan Aldi duduk di depanku. Suasana meja makan kami auranya sangat mencekam. Saat aku melirik ke arah Coco, kulihat dia menatap Aldi dengan tatapannya yang sangat tak bersahabat. Aku hanya tersenyum melihat Rena dan Dila yang beberapa kali menahan tawa.
Di meja kulihat ada beraneka cemilan dan gorengan yang disajikan. Masing-masing dalam piring plastik dengan tutup piring transparan. Ada aneka sate seperti sate telur puyuh kecap manis, sate kerang, sate usus, sate paru, sate kikil. Ada juga tempe mendoan, bakwan goreng, tahu dan tempe goreng, dan ayam goreng. Ada juga cemilan lain seperti kerupuk rambak, kerupuk puli dan kerupuk udang.
Melihat begitu banyak cemilan, aku yang memang sudah lapar, segera menyantap salah satu cemilan. Aku makan tempe mendoan yang masih hangat, yang baru saja dihidangkan. Kuambil sehelai tisu untuk membungkus tempe mendoan yang masih hangat itu.
“Pelan-pelan sayang”ucap Coco padaku melihat aku yang sudah tak sabar memakan tempe mendoan itu.
Kugerak-gerakkan jari-jariku yang kepanasan karena tempe mendoan itu.
Sambil menunggu pesanan kami datang, aku ngobrol dengan Dila dan Rena masalah kuliah mereka.
“Gimana Rena? Kamu udah mantap kan kuliah di U*M?”
“Udah dong kak..udah mantap banget pokoknya”ucap Rena sambil melirik ke arah Aldi.
“Aku titip Rena ya Dila”
“Iya kak..tenang aja”
“Oya, kak Oline gimana kabarnya? Aku belum sempet jenguk”tanya Rena
“Caroline dan baby nya sehat”jawab Coco
“Cewek ya baby nya? Wahh..pasti lucu banget. Kak Oline sama kak Rafael kalo digabungin baby nya pasti gemesin banget”
“Iya..baby nya lucu banget”jawabku antusias
“Baby kita nanti juga pasti gemesin”ucap Coco sambil tersenyum padaku
Ini senyumnya kenapa kayak nyindir gini sih? Kamu ga sedang manas-manasin Aldi kan Co?
“Iihh..so sweet”seru Rena dengan mata berbinar-binar.
Kulihat Dila tanpa ekspresi melirik ke arah Aldi. Aldi kulihat juga menatap ke arah yang lain.
Akhirnya soto yang kami pesan pun datang juga. Air liurku semakin memenuhi rongga mulutku. Kuambil kecap dan mangkok sambal yang ada di hadapanku. Saat aku akan menyendokkan sesendok sambal, tanganku ditahan Coco.
“Jangan makan sambal banyak-banyak, dikit aja”ucap Coco padaku.
Sendok sambal itu pun dikurangi isinya. Membuatku mendengus kesal.
“Dikit banget..ga kerasa nanti sambalnya”gerutuku karena Coco menuangkan kembali sambal cair itu kembali ke mangkok sambal.
“Udah dikit aja..yang penting ada sambalnya kan”
“Tapi segini mana enak?”gerutuku lagi
“Coco bener Vi..jangan makan sambal banyak- banyak. Kamu kan ga kuat pedes”ucap Aldi padaku
Kenapa Aldi ikutan kuatirin aku sih? Al..kamu sadar ga? Di sampingku ini ada suamiku. Ngapain kamu ikut-ikutan kuatir gitu..
Aku benar-benar kaget mendengar ucapan Aldi. Kulihat Coco menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam ke arah Aldi.
“Makasih udah kuatirin Vivi..tapi aku tak suka ada yang mengkhawatirkan istriku” ucap Coco ketus
Gawat..Coco marah..Aduhh..kenapa jadi begini sih? Mau makan soto aja ribet banget..
“Udah ya..kita makan aja yuk”ajakku pada Coco dan Aldi.
Rena yang duduk di depanku sekarang malah kelihatan ga sesemangat tadi. Apa mungkin Rena sedih karena Aldi ikutan kuatirin aku barusan.
Ya Allah..kenapa aku selalu dihadapkan pada keadaan seperti ini sih?
Akhirnya kami bisa makan soto dengan tenang. Sangat tenang karena tak ada satupun dari kami yang berbicara selama sesi makan itu. Aku yang selalu menatap suamiku. Yang memakan sotonya dengan ekspresi seperti menahan marah. Kulihat Rena juga jadi pendiam, entah apa yang dipikirkannya setelah mendengar ucapan Aldi tadi. Dila yang sejak tadi ceria juga jadi pendiam setelah melihat suasana meja makan kami yang berubah mencekam.
Setelah menghabiskan semua makanan, kami pun membayar ke kasir. Kemudian kami keluar dari warung bersama-sama dengan Coco yang terus menggenggam tanganku.
“Rena kamu ikut kami apa bareng mereka?”tanyaku pada Rena
“Aku ikut kalian aja”jawab Rena dengan lirih
“Makasih ya Dila..kak Aldi..aku pulang bareng kak Vivi sama Coco aja”pamit Rena pada Dila dan Aldi
“Nanti aku hubungi lagi kalo mau berangkat ke Jogja”ucap Dila
“Oke”jawab Rena
“Kami duluan ya kak”ucap Dila padaku
“Kami duluan ya”ucap Aldi padaku
Aku hanya mengangguk.
Akhirnya kami berlima pulang secara terpisah.