Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Ikutan Gila



Sejak hari itu, kami jadi semakin sering bertemu dan berkomunikasi. Aldi beberapa kali menjemputku ke kampus jika sedang tak ada kuliah. Bahkan sampai teman-temanku sesama calon perawat, mengatakan Aldi adalah pangeranku. Ditambah lagi kompor bleduk, si Chika dan Lala yang menambah- nambahi berita tentang Aldi. Membuat semua orang percaya Aldi adalah pacarku.


Setiap Sabtu dan Minggu atau saat jadwal kuliah kami kebetulan pas longgar, aku dan Aldi ditemani Benny, Agus, Chika dan Lala akan hangout bersama. Biasanya kami akan jalan-jalan ke mall, pergi ke toko buku bersama, nonton bioskop, atau sekedar nongkrong di food court dan café langganan kami yang terletak di dekat kampus Aldi. Dan seperti biasa, Chika dan Agus akan berantem. Kadang pertengkaran mereka dipicu hal-hal sepele. Mereka


sudah seperti tom and jerry. Yang selalu bertengkar karena banyak hal. Tetapi jika salah satu dari mereka tidak ada, maka mereka akan selalu merasa kuatir.


Sejak kami semakin dekat, baru aku tahu ternyata sebenarnya aku dan Aldi seumuran. Karena itu, Aldi mulai memanggilku tanpa embel-embel “kak” yang biasanya dia ucapkan. Kami selalu menyempatkan bertemu atau sekedar video call. Persis seperti yang dulu selalu aku lakukan bersama Coco.


Seperti juga saat di SMA, di kampusnya yang sekarang, Aldi juga sangat terkenal. Sebagai MABA tahun pertama, popularitas Aldi sangat tinggi. Dari yang kudengar dari Benny dan Agus, bahkan banyak kakak tingkat yang mengidolakan Aldi.


“Dia tuh seleb-nya FK (Fakultas Kedokteran) sekarang”ujar Benny


“Iya..cewek—cewek kalo lihat dia udah kayak lihat artis..pada ngeces”tambah Agus


“Ga usah dengerin Vi..mereka berdua ini cuma ngarang cerita doang”balas Aldi


Aku hanya menggangguk saja. Aku sih lebih percaya cerita Agus dan Benny.


“Ngarang cerita gimana? Ga lihat apa tiap kita ke lab, jalan di lorong kampus, atau pas di kantin, hebohnya kayak apa?”ucap Agus


“Aku percaya kok..dulu di SMA juga kayak gitu..ya kan Al?”


“Kamu sejak dulu udah terkenal ya Al? Wahh..bener-bener deh pangerannya Vivi nih”ucap Chika


Spontan aku pukul lengan Chika membuatnya mengaduh.


“Aduhh..sakit Vi”rengek Chika


“Pangeran apaan sih? Kalo ngomong yang bener napa?”protesku


Aku malu karena Chika membongkar rahasia di kampusku, yang sudah menjuluki Aldi “pangeranku”. Aku lihat Aldi malah senyum-senyum.


Hadehhh..Chika ini emang perlu belajar memfilter omongannya sendiri biar ga bikin orang lain malu.


“Lha kan bener Vi..Eh tau ga Al, kamu tuh di kampus dijuluki pangerannya Vivi”tambah Lala sambil cekikikan


“Beneran?”tanya Benny


Lala dan Chika mengangguk bersamaan. Aku benar-benar pingin menyumbat mulut Lala dan Chika saat itu.


“Cieee..pangeran Aldi”goda Agus pada Aldi membuat Aldi bersemu merah.


“Kamu juga Gus..ngapain ikut-ikutan gila kayak mereka berdua”semprotku pada Agus yang malah ikutan gibahin aku dan Aldi.


“Kalian berdua tuh serasi banget lho..ga bayangin deh kalo kalian nikah tar”ucap Lala spontan.


Aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Memiliki sahabat seperti mereka membuatku benar-benar ingin menyembunyikan wajahku saking malunya.


“Kenapa diam Vi? Ehmm..aku tahu..Pasti lagi bayangin nikah sama Aldi ya?”goda Chika


“Nikah..nikah..kamu tuh jangan-jangan yang kebelet pingin nikah. Kuliah aja belum kelar ngomongin nikah aja dari tadi. Udah puas belum gibahnya?” kataku sewot sambil menoyor kepala Chika.


“Vivi kalo sewot gitu tambah manis kan Al?”goda Chika pada Aldi


“Iya”jawab Aldi membuatku tambah senewen.


“Udah ah..males ngomong sama kalian”


Aku pun memilih meninggalkan mereka berlima. Kelamaan disitu membuatku panas saja.


“Duhh..malah ngambek..Vi tunggu”seru Chika


Tak kuhiraukan mereka, aku langsung saja pergi.


“Kamu marah Vi?”tanya Aldi yang sudah berjalan di sampingku.


Rupanya Aldi menyusulku. Aku diam saja mendengar pertanyaan Aldi karena aku masih marah.


“Jangan marah..mereka kan Cuma bercanda”ucap Aldi mencoba menenangkanku.


“Emang aku ngomong apa?”kelit Aldi


“Udah lupain aja..aku ga mau bahas lagi”


Aku berjalan dengan langkah yang lumayan cepat, membuat Aldi mengeluh.


“Jalannya pelan dikit napa? Kayak dikejar dosen killer aja, hahahaa..Vi, temenin ke toko buku bentar, mau kan? Aku mau cari buku buat bahan kuliah”


“Iya deh, aku juga mau cari buku”


Akhirnya aku dan Aldi pergi ke toko buku terbesar di Solo. Benny, Agus, Chika dan Lala terpaksa pulang naik go**r, karena tadi kami berenam berangkat bersama ke mall dan kini kami terpisah. Chika marah-marah di telpon karena aku meninggalkan mereka berempat.


“Kalian kenapa malah ninggalin kita berempat sih?”gerutu Chika


“Kalo mau ngedate, paling tidak anterin kita pulang dulu kek..bukan malah main ninggalin gini?”


“Siapa juga yang mau nge-date, aku sama Aldi mau beli buku”


“Alasan”protes Chika


“Kalian pulangnya naik go**r ya? Jangan marah ya Chik?”pintaku


“Aku sumpahin kalian beneran jadian”umpat Chika


“Hei..jangan asal ngomong kamu Chik..tarik lagi ucapanmu”


“Bodo amat..salah sendiri ninggalin temen demi cowok”


Aldi menatap wajahku saat mendengar percakapan kami.


“Udah ya jangan marah..nanti aku beliin martabak pas pulang, oke?”bujukku


“Sama roti bakar”pinta Chika


Ni anak katanya marah, dibujuk pake martabak malah minta nambah roti bakar..hadehhh..Chika..chika..


“Iya deh..martabak sama roti bakar..udah ya”


Aku pun menutup telpon Chika setelah memastikan Chika sudah tidak marah lagi.


“Chika marah?”tanya Aldi


“Ya jelas lah..kita ninggalin mereka begitu aja”


“Tadi aku denger Chika ngomong sumpah- sumpah..emang apaan?”tanya Aldi karena suara Chika yang menggelegar di telpon tadi.


“Biasalah..Chika kalo udah marah kan suka ngomong ga karuan..ntar juga lupa”kelitku.


Aku tak mungkin mengatakan pada Aldi kalo Chika tadi nyumpahin kami berdua segera jadian.


Sampai di toko buku, aku dan Aldi langsung menuju lantai dua toko buku untuk mencari buku yang kami cari. Kami berjalan menuju kumpulan buku kesehatan yang terpajang rapi di rak buku. Aku mencari buku Keperawatan Dasar


dan Biostatistika yang menunjang mata kuliahku semester tiga, sementara Aldi mencari buku Fisiologi Kedokteraan dan buku Biokimia Harper.


Dibandingkan dengan buku yang ingin kubeli, buku-buku kedokteran milik Aldi  jauh lebih tebal dan lebih susah pastinya. Itu baru bukunya belum prakteknya. Dari cerita Aldi, aku bisa merasakan betapa tertekannya menjadi mahasiswa kedokteran. Walaupun sama-sama berkutat dalam bidang kesehatan, namun aku tahu pasti, Kedokteran adalah salah satu jurusan paling favorit namun juga paling sulit.


Dari cerita Aldi, Benny dan Agus aku seperti bisa merasakan betapa stressnya mereka yang berkutat dengan begitu banyak materi kuliah, hafalan yang bejibun dan praktek yang tidak mudah. Apalagi jika mereka sudah bercerita tentang betapa “mengerikan” nya ujian praktek Anatomi. Ujian teori menggunakan komputer dan soalnya berjumlah 60 pilihan ganda. Sedangkan ujian praktikumnya langsung di lab anatomi dan ada 40 soal. Sistemnya masing-masing mahasiswa akan memutari lab anatomi dan menentukan nama bagian yang ditunjuk, cukup sulit karena waktu yang diberikan juga sangat singkat yaitu hanya sekitar 45 detik. Hanya dalam hitungan detik.


Banyak dari mahasiswa kedokteran yang gagal di mata kuliah itu karena memang yang dipelajari sangat banyak dan cukup sulit dihafalkan. Makanya mata kuliah Anatomi adalah salah satu momok paling menakutkan bagi mahasiswa kedokteran. Untungnya Aldi, Benny dan Agus bisa lulus dengan usaha yang tak bisa dibilang mudah.


Aku pernah bertanya pada mereka bertiga apakah mereka pernah mengalami kejadian mistis atau aneh saat berhadapan langsung dengan cadaver atau jenasah saat mempelajari Anatomi. Mereka bertiga kompak menjawab “Tidak pernah”. Yang ada justru mereka malah semakin penasaran karena bisa melihat secara langsung tubuh manusia.


Karena kami berkutat dalam bidang kesehatan, ada beberapa hal yang sama antara kami sebagai mahasiswa kedokteran dan keperawatan yaitu salah satunya kami diajarkan untuk belajar berkelompok. Bekerjasama dengan yang lainnya untuk memecahkan masalah/kasus atau tugas. Kami juga diajarkan agar cerdas dalam mengambil keputusan. Problem based learning yang kami pelajari mengajarkan kami untuk belajar memecahkan kasus dan belajar mengenai bagaimana cara berpikir berlandaskan dengan bukti-bukti ilmiah yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.


Walau berbeda jurusan namun kadang kami berenam sering mengerjakan tugas kuliah secara berkelompok. Kadang aku membantu Aldi, Benny dan Agus. Kadang mereka bertiga yang membantu aku,Chika dan Lala. Tetapi yang sering adalah aku bertiga dengan Chika dan Lala belajar kelompok. Aldi, Benny dan Agus juga belajar kelompok. Tetapi kami mengerjakannya di satu tempat yang sama.