Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Dunia Memang Sempit ( Visual Pemain)



Assalamu'alaikum kakak-kakak cantik, reader saya tercinta


Sebelum lanjut ke episode ini. author ingin menyapa kakak-kakak semua.


Terima kasih banyak untuk semua dukungan dan kesetiaan reader semua, yang sudah mengikuti novel ini dari awal sampai episode ini. Terimakasih juga untuk jempol like, vote, hadiah dan komentarnya selama ini. Setiap hari saya selalu ngecek Noveltoon. Berasa pacaran lagi, nungguin chat reader semua. Dan setiap ada notifikasi tanda merah di profile, rasanya senenggg bangettttt..


Di sini saya juga mau sedikit curhat sama reader semua. Novel Stuck With My First Love ini adalah karya perdana saya. Vivi dan Coco adalah tokoh fiktif hasil imajinasi dan kehaluan saya.


Awalnya karena gabut, efek WFH (Work From Home) setahun kemarin, saya akhirnya iseng-iseng nulis novel ini. Versi awal dari novel ini sebenarnya hanya 39 episode. Makanya saya pesimis saat mulai merilis novel ini di Noveltoon. Karena saya lihat novel yang ada, bisa sampai 100episode lebih. Sementara novel ini cuma dikit. Tapi ga tau kenapa, setelah mulai rilis, jalan ceritanya bisa berkembang jauh sampai sekarang, sampai 74 episode. Saya sendiri juga kaget kok bisa seperti ini ya? Mungkin karena awal-awal nulis, per episodenya jumlah katanya dikit, makanya semakin kesini, episodenya jadi panjang. Maafkan ya kak..


Sejak mulai berani menulis novel ini, setiap hari di kepala saya muncul setiap adegan yang dialami tokoh-tokohnya. Bahkan sampai pernah kebawa mimpi, hehehehe


Makanya begitu muncul ide cerita langsung saya tuliskan supaya tidak lupa. Bahkan kadang dialog antar pemain, saya bacakan, sambil ngetik, sambil meragain juga. Dengan intonasi dan pelafalan seperti orang ngomong biasa.


Ada perasaan bangga dan senang tak terkira, saat novel ini disukai reader semua. Karena itu saya ucapkan baaaaanyakkk terimakasih untuk kakak semua yang sudah meninggalkan jejak di novel ini. Membuat saya semakin bersemangat menulis novel ini.


Dan akhirnya  jadilah karya perdana saya yang sederhana ini. Semoga karya saya ini, bisa menemani hari-hari kakak semua. Saya minta maaf jika masih banyak kekurangan dari segi jalan cerita maupun ejaannya. Namanya juga newbie, saya harap kakak-kakak semua maklum yah..


Dan akhirnya seperti yang sudah saya janjikan pada reader semua, hari ini saya akan rilis visual pemain yang menjadi rujukan saya dalam membuat novel ini. Kecantikan dan ketampanan pemain menurut saya relatif. Karena itu, jika nantinya tidak sesuai ekspektasi reader semua, saya minta maaf ya kakak-kakak semua?


Kalo ada yang ga sesuai, silahkan membayangkan visual tokoh lain yang menurut reader sesuai.


Oke, yuk kita mulai!!!


VISUAL PEMAIN


Viviane Mikaylafayza Putri (Vivi)





Marco Reynand Valencio (Coco)





Rianti Kalila Zahra (Anti)



Vivi dan Anti




Dedi Ezra Febrian (Dedi)



Daniel Gerald Adelio (Daniel)



Aldi Ardiansyah (Aldi)



Adilla Jihan Faiha  (Dilla)



Arsy Mahendra (Arsy)



Felicia Putri Paramitha (Feli)



Almira Nadia Azarine (Mira)



Gimana kakak-kakak semua? Ada yang samaan dengan author ya? Selamat!! Berarti kita sehati, hihihihihi..


Udah ya, segitu dulu curhat author. Maaf jika kurang berkenan.


Author harap kakak-kakak semua sabar menanti. Author doakan semoga kita semua sehat selalu..


Ditunggu like, vote, hadiah dan komentarnya ya kak..


Selamat Mengikuti Kelanjutan Kisah Cinta Vivi..


Wassalamu'alaikum kakak-kakak cantik


*


*


*


*


*


Sampai di rumah, aku langsung mengurung diriku di kamar. Sungguh berpisah darinya adalah pukulan terberat dalam hidupku. Karena dia adalah cinta pertamaku. Lelaki pertama dalam hidupku yang sangat berarti untukku. Aku sangat menyayanginya. Mencintainya dengan sepenuh hatiku. Dia sangat berharga bagiku. Kehilangan dirinya membuat separuh jiwaku seakan menghilang pula bersamanya. Kesedihan ini hanya bisa kuluapkan dengan menangis. Derai airmata yang membasahi pipiku, sesak dalam dadaku dan kesedihan dalam hatiku, membuatku semakin rapuh.


Sempat kudengar beberapa kali Bunda mengetuk pintu kamarku, menanyakan keadaanku. Aku tahu pasti Ayah dan Bunda akan khawatir dengan keadaanku. Tetapi mau gimana lagi, saat itu aku benar-benar rapuh. Aku hanya ingin sendiri. Meratapi kesedihanku seorang diri. Aku tak siap jika harus menceritakan penderitaanku yang telah kehilangan cinta dalam hidupku kepada siapapun. Termasuk pada orangtuaku. Aku belum siap menerima kenyataan yang terpampang nyata di depan mataku. Bahwa aku akan kehilangan dirinya mungkin untuk selamanya.


Kesedihan dalam hatiku membuat nafsu makanku berkurang. Aku sama sekali tak berselera untuk makan. Meskipun tlah kuusahakan untuk makan namun rasa-rasanya makanan yang kumakan terasa hambar. Aku hanya sanggup makan 2-3 sendok saja. Aku pun lebih memilih kembali mengurung diriku di dalam kamar. Sambil memandangi foto dan video kenanganku bersama Coco.


Kuakui semua ini sungguh berat. Sangat berat. Bahkan untuk bernafas pun dadaku masih terasa sangat sesak. Entah ini karena faktor psikologisku yang menderita atau memang efek psikomatis sehingga membuat kerja tubuhku pun seperti tak karuan. Kepalaku terasa pening. Airmata juga tak henti-hentinya menetes. Seakan kebahagiaan tak ada lagi dalam hidupku. Awan mendung telah menyelimuti hatiku. Aku hanya sanggup menangis dan menangis. Aku sedih sekali.


Setelah merasa sedikit tenang, aku putuskan untuk mengganti nomor hp ku. Aku mencoba mengikhlaskan dan melepaskan dia. Aku tak kan kuat jika harus mendengar suaranya lagi. Lagipula aku sudah berjanji pada mamanya. Aku tak ingin suatu hari nanti mendengar dia bilang dia akan menikah dengan gadis pilihan orangtuanya itu. Biarlah aku simpan kenangan indah kami berdua selama bersama. Kusimpan rapi dalam hatiku. Aku tak ingin merusak kenangan indah itu. Biarlah kenangan indah itu yang menjadi penyemangat hidupku dalam melalui hari-hariku tanpa kehadirannya.


Dua hari setelah kepergiannya, aku dan keluargaku pindah ke Solo. Karena Ayahku diminta kakek kembali ke kota kelahirannya dan melanjutkan bisnis keluarga milik kakek. Di kota itu juga aku melanjutkan hidupku. Aku kuliah disana. Tak ada yang tahu kepindahanku kecuali Anti, sahabatku. Aku juga tak pernah kembali walaupun sekedar mengikuti acara reuni SMA.


*


*


*


*


Setahun berlalu dengan sangat lambat. Walaupun aku sudah berusaha sangat keras untuk melanjutkan hidupku di kota yang jauh dari kota kelahiranku, namun tak bisa kupungkiri kenangan masa lalu bersamanya masih tersimpan rapi dalam hatiku. Kadang jika tiba-tiba aku teringat padanya, aku bisa dengan mudah menangis. Membuat teman-teman kuliahku menjuluki aku, putri cengeng. Karena saking gampangnya aku mewek hanya karena teringat cintaku pada Coco.


Aku mengambil jurusan keperawatan di salah satu akademi keperawatan ternama di kota Solo. Aku pernah mencoba mendaftar SNMPTN tetapi aku gagal masuk jurusan yang aku pilih. Waktu itu aku memilih jurusan Kedokteran UN*, jurusan Statistika IT*, dan ilmu Sejarah UN**R. Tetapi aku gagal. Aku tidak lolos seleksi. Aku akui sedikit banyak perpisahanku dengan Coco telah menurunkan semangatku dalam melanjutkan pendidikanku. Aku yang biasanya selalu well-prepared, saat itu benar-benar tanpa persiapan sama sekali. Jadi aku pun tak heran jika kemudian aku gagal masuk jurusan yang aku inginkan. Untungnya kedua orangtuaku seperti mengerti keadaanku dan tidak terlalu memaksaku untuk masuk kuliah di Universitas Negeri.


Sebenarnya aku ingin mencoba mengambil jurusan kedokteran tahun depannya, tetapi karena kondisi keuangan keluargaku yang tak memungkinkan, akhirnya aku kubur saja, keinginanku itu. Ketika kemudian Ayah menawarkan aku untuk masuk akademi keperawatan, aku pun langsung mengiyakan. Setidaknya ini yang bisa aku lakukan untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Menjadi seorang perawat.


Bagiku, jika aku bisa menolong orang yang sedang sakit dan butuh perawatan, itu sudah lebih dari cukup. Melihat mereka bisa kembali pulih dan sehat, adalah kebahagiaan buatku. Itulah caraku untuk menyembuhkan luka dalam hatiku. Luka karena perpisahan dengan dia yang selalu kurindukan.


*


*


*


*


Dunia memang sangat sempit. Meskipun aku sudah berusaha “menghilang” dari kehidupanku yang lalu, tetapi ternyata tidak semudah itu. Entah karena memang berjodoh atau memang kebetulan, aku akhirnya bertemu dengan seseorang dari masa laluku.


Hari itu, aku baru pulang dari kampusku. Aku pulang ke kosan bersama Chika dan Lala, dua sahabatku selama di Solo. Sebelum ke kos, kami mampir makan siang di sebuah warung makan langganan kami yang terletak di sekitar kos. Kebetulan kosku berdekatan dengan salah satu universitas ternama di kota Solo yaitu U*S. Sehingga tak jarang, kami berpapasan dengan anak-anak kampus tersebut.


Kebanyakan rumah makan di dekat kampus, menggunakan sistem prasmanan. Jadi pembeli akan mengambil makanan mereka sendiri sesuai kebutuhan, kemudian makanan itu diantar ke kasir untuk kemudian kasir akan menghitung sesuai yang kami ambil.


Karena waktu itu bertepatan dengan waktu makan siang, maka antrian pembeli lumayan panjang. Chika yang lumayan bawel jika sudah lapar, beberapa kali menggerutu karena orang-orang yang mengantri di depan makanan tidak segera mengambil lauk atau sayur yang ingin mereka makan. Beberapa orang terlihat bingung akan memakan apa. Mereka terlihat memandangi lauk dan sayur tetapi tidak segera menentukan pilihan.


Sebenarnya wajar saja sih, karena biasanya menu makanan di rumah makan sangatlah beragam. Lauknya mulai dari tempe goreng, tahu goreng, ayam bakar, ayam goreng, tempe dan tahu bacem, telur goreng, telur balado, ayam Kentucky, menu daging dan ikan juga banyak. Ada daging bumbu terik, dan bumbu rendang. Ikan bakar, ikan goreng, ikan bumbu rujak.


Sayur yang disajikan juga banyak. Ada sayur sop, sayur asem, sayur bayam, opor ayam, lodeh, bothok, gudeg, oseng-oseng kangkung. Ada juga soto seger, salah satu jenis soto khas solo. Ada juga timlo, lotek, pecel, trancam atau gudangan. Dan beberapa jenis sayur lainnya.


Karena sudah sangat tak sabaran, Chika menggerutu dengan mengeraskan suaranya


“Duhhh..lamanya..ga kasihan apa sama yang lain, udah kelaparan nih”sindir Chika sengaja dengan suara keras.


“Hushh..pelan-pelan dong Chik kalo ngomong..sabar..bentar lagi juga bagian kita”ucapku pada Chika.


“Biarin..biar tau yang disini udah kelaparan”gerutu Chika dengan memonyongkan bibirnya.


Orang yang disindir Chika spontan menengok kami. Membuat aku dan Lala sedikit malu dengan kelakuan kekanak-kanakan Chika.


“Kak Vivi?”


Aku menoleh mendengar namaku disebut. Suara itu nampak tak asing. Saat kucari siapa yang memanggil namaku, aku kaget.