Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Kekalahan Telak Arsy



Sehari setelah jadian, aku berencana mengajak Vivi makan malam bersama teman-teman. Persis seperti dulu saat aku ulangtahun ke 17. Di antara kami berlima, Vivilah yang paling muda. Jika tahun itu kami berempat sudah berumur 18 tahun, tapi Vivi baru 17 tahun. Rupanya dulu karena dia masuk SD lebih awal. Dia masuk saat usianya baru enam tahun. Itu sebabnya aku selalu menganggap Vivi gadis kecil yang belum cukup umur.


Aku sempat dibuat marah oleh kelakuan Mira, pacar Arsy yang tiba-tiba saja melabrak Vivi. Hari itu, setelah pulang dari wawancara dengan walikota, aku kembali ke kelas. Tapi Vivi tak ada di kelas. Aku sudah mencoba menghubungi hp Vivi tapi hp nya tidak aktif. Akhirnya aku menghubungi Anti.


“Vivi dimana An?”tanyaku pada Anti melalui chat


“Di markas PMR. Kamu udah balik?”


“Udah”


“Kamu bisa kesini sekarang”pinta Anti


Aku penasaran kenapa Anti memintaku ke markas sekarang. Dan ada perlu apa Vivi ke markas? Karena sejak pengangkatan pengurus PMR yang baru, kami senior PMR kelas XII sudah jarang ke markas.


Aku segera ke markas. Dedi dan Daniel sengaja menunggu di depan perpus. Karena kupikir kami hanya sebentar saja. Sesampainya di sana, Anti menahanku sebentar.


“Vivi mana An?”


“Vivi di dalam. Ada Arsy dan Mira di dalam juga. Sebaiknya kamu segera masuk”


Mendengar ada Arsy dan Mira di dalam sana, membuatku semakin penasaran.


Aku kaget mendengar suara seorang gadis yang menangis di dalam markas. Aku pikir saat itu yang menangis adalah Vivi. Membuatku segera mempercepat langkahku. Rupanya Mira yang menangis.


Aku kaget saat mendengar Mira bertanya pada Vivi,


“Apa kak Vivi bersedia menjadi pacar kak Arsy?”


“Kalo kak Vivi bersedia, aku akan dengan senang hati melepas kak Arsy. Aku akan ikut bahagia untuk kalian, apa kakak bersedia?”tanya Mira lagi


Mendengar pertanyaan Mira itu, aku langsung menjawabnya dengan tegas.


“Dia tak bersedia”kataku mantap


Lalu aku segera berjalan di hadapan Vivi dan menghadap Arsy Mira. Aku pun menggenggam tangan Vivi, pacarku. Aku katakan pada mereka bahwa Vivi sekarang adalah pacarku. Dan aku tak suka jika Vivi dibawa-bawa dalam masalah mereka berdua.


Aku sempat jengkel pada Arsy karena dia masih juga bersikeras mendekati Vivi padahal aku sudah pernah memperingatkan Arsy supaya tidak mendekati Vivi karena dia juga sudah punya pacar, Mira. Begitu kutunjukkan cincin yang melingkar di jari Vivi, barulah Arsy terdiam.


Karena aku sangat kesal, akhirnya aku tarik Vivi keluar dari markas. Aku berjalan terus tanpa menghiraukan Vivi yang dari tadi memintaku melepaskan tangannya. Aku benar-benar sangat kesal melihat kelakuan Arsy yang terus-terusan mendekati Vivi. Akhirnya aku berhenti mendadak, membuat Vivi justru menabrak punggungku.


“Apa kau pernah pacaran dengan Arsy?”


“Ngaco kamu..mana ada aku pacaran dengan Arsy”


“Terus kenapa dia bisa segitunya sama kamu?”


“Ya mana aku tahu..yang suka aku kan dia, tanya Arsy aja sana..jangan tanya aku. Emang aku paham situasi seperti tadi. Aku aja ga ngerti apa-apa”


Aku penasaran kenapa Arsy bisa begitu menyukai Vivi padahal dia jelas-jelas sudah punya pacar. Aku takut jika Arsy masih mendekati Vivi di belakangku. Sampai di perpustakaan, Dedi dan Daniel yang melihat aku sangat marah, malah menggodaku. Membuatku menatap tajam pada kedua sahabatku ini. Hingga Dedi mengingatkanku akan rencana makan malam kami nanti. Aku yang masih kesal, menjawab tegas pertanyaan Dedi.


Sampai di kelas, karena guru tidak segera datang, aku dan Dedi duduk di kursi Pak Hendy dan Dion. Dari percakapan kami, baru aku tahu ternyata hp Vivi baterainya habis. Itu sebabnya aku sulit menghubunginya tadi. Aku penasaran darimana Arsy tahu kalo aku dan Vivi tak pernah jadian. Padahal semua teman-teman selama ini tahunya aku dan Vivi sudah jadian saking dekatnya hubungan kami selama ini.


Rupanya Vivi sendiri yang mengatakannya pada Arsy. Dia yang uring-uringan saat menjawab pertanyaanku membuatku tersenyum karena dia sangat lucu saat uring-uringan seperti itu. Membuat aku tak tahan untuk tidak mencubit hidungnya. Saking gemasnya dengan tingkah Vivi. Membuat hidung Vivi memerah akibat kucubit tadi. Dan dia protes karena sudah kucubit.


Karena aku merasa urusanku dengan Arsy belum selesai, makanya aku mengajak Arsy bertemu berdua.


“Pulang sekolah ayo kita ketemu”tulisku di chat pada Arsy


“Dimana?”


“Taman kota deket sekolah”


“Oke..aku tunggu”


Aku berencana menemui Arsy setelah aku mengantar Vivi pulang ke rumah. Awalnya aku mengatakan padanya aku ada urusan sebentar. Tapi anehnya Vivi malah seperti punya indera keenam. Dia bisa tahu aku menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Akhirnya kukatakan yang sesungguhnya kalo aku akan bertemu dengan Arsy di taman kota deket sekolah. Di luar dugaanku, Vivi malah ingin ikut. Dia terus membujukku untuk mengijinkan dia ikut. Vivi bahkan mengancamku tidak akan ikut makan malam nanti jika aku tak mengajaknya menemui Arsy. Akhirnya aku menyerah. Aku ajak Vivi menemui Arsy.


Kami berbicara bertiga. Kesabaranku sepertinya memang sedang diuji ketika berhadapan dengan Arsy yang memang keras kepala. Saat itulah Vivi membeberkan sebuah fakta yang membuat aku sangat bahagia dan membuat Arsy kalah telak. Rupanya Vivi sudah menyukaiku sejak kami kelas X. Berarti aku dan Vivi sama. Sejak awal kami sudah punya perasaan satu sama lain. Hanya saja, di kelas X, aku belum berani mengekpresikan perasaanku.


Mendengar pengakuan Vivi membuat Arsy tak dapat berkutik. Dia pun akhirnya menyerah. Setelah tau bahwa perasaannya selama ini bertepuk sebelah tangan. Karena Vivi hanya menganggap Arsy sebagai teman saja. Arsy juga bersedia memenuhi permintaan Vivi untuk memperbaiki hubungannya dengan Mira. Arsy bahkan sempat mengancamku jika sampai aku melepaskan Vivi, dia tak kan tinggal diam dan akan berusaha mendapatkan cinta Vivi kembali.


Dengan tegas kukatakan pada Arsy sambil menggenggam tangan Vivi dengan erat,


“Tak akan”


Aku tak akan melepaskan cinta dalam hidupku. Karena aku sangat mencintai Vivi. Dia yang membuatku selalu bahagia di sisinya. Apapun yang terjadi, aku berjanji pada diriku sendiri aku akan membahagiakan Vivi dan takkan melepaskannya karena dialah kebahagiaan dalam hidupku.












Saat perayaan ulang tahun Vivi, aku sengaja datang lebih awal karena aku ingin membelikan Vivi sebuah buket bunga. Dan ketika dia datang ke restoran yang sudah kupesan, kulihat Viviku yang sangat cantik. Membuatku terpesona dengan kecantikannya. Kupandangi dia selama beberapa saat. Membuat Vivi malah salah tingkah.


Akhirnya kuserahkan buket bunga itu dan kukecup keningnya. Aku kaget karena teman-teman datang mengganggu momen kemesraanku dengan Vivi. Mereka datang tepat saat aku mencium keningnya.


Aku sangat bahagia bisa merayakan pesta ulangtahun Viviku bersama dengan teman-teman. Dan saat aku menerima potongan kue ulangtahun yang pertama, aku cium lagi keningnya. Membuat teman-teman selalu protes melihat kemesraan kami. Wajah Vivi juga langsung memerah karena malu. Lalu kugenggam tangannya.


Setelah merayakan di restoran, kami berpindah ke cafe kakak Dedi. Di sana aku mengajak Vivi bernyanyi bersama. Menyanyikan sebuah lagu milik Afgan feat. Rossa yang berjudul Kau Yang Kutunggu. Diiringi petikan gitar Dedi dan Daniel.


telah ku temukan yang aku impikan


kamu yang sempurna


segala kekurangan semua kelemahan


kau jadikan cinta


tanpamu ku tak bisa berjalan


mencari cinta sejati tak ku temukan


darimu aku bisa merasakan


kesungguhan hati cinta yang sejati


untuk melengkapiku tuk jaga hatiku


kamu hasrat terindah untuk cintaku


takkan cemas ku percaya kamu


karena kau jaga tulus cintamu


ternyata kamu yang ku tunggu


segala kekurangan semua kelemahan


kau jadikan cinta


tanpamu ku tak bisa berjalan


mencari cinta sejati tak ku temukan


darimu aku bisa merasakan


kesungguhan hati cinta yang sejati












Selama pacaran dengan Vivi, aku merasa sangat bahagia. Hari-hariku menjadi berwarna, karena ada dia dalam hidupku. Kini aku merasa, ada oranglain yang menyayangiku. Dialah Vivi. Kekasihku. Cinta dalam hidupku. Aku merasa beruntung, karena dia telah hadir dalam hidupku yang kosong ini. Dia membuatku selalu bersemangat menjalani hari-hariku.


Kami sering berkencan, entah itu sekedar nongkrong di café, ke mall atau hanya sekedar jalan-jalan di CFD dan berolahraga bersama.


Ada foto saat kami mencoba resto baru di kota. View-nya saat matahari tenggelam sangat indah. Aku suka memfoto candid Vivi karena kecantikannya sangat alami.


Karena aku lumayan suka makan, maka kami pasti sempatkan makan di café atau resto di kota. Dia rupanya tidak terlalu suka makan, takut gemuk katanya. Makanya dia selalu pesan porsi kecil saja. Padahal aku selalu mengatakan padanya, gemuk pun aku tetap suka. Walaupun gemuk, dia tetap cantik di mataku. Dia yang mendengar pujianku selalu tersenyum malu.


Aku suka menjadikan dia objek fotoku. Menjadikan dia foto modelku. Ekspresinya saat aku foto kadang cantik, kadang centil, kadang konyol. Kami juga suka sekali olahraga bersama.












Satu hari, saat kami sedang ngobrol, dia mengaku padaku bahwa dia menyukai aku sejak aku menolongnya di perpustakaan sekolah. Dia bilang aku ganteng. Walaupun aku sering mendengar pujian tentang ketampananku, tapi mendengar gadis yang kusukai memujiku membuatku sangat senang. Sejak pengakuannya itu, aku menjadi sering mengiriminya foto-foto ketampananku, supaya dia selalu terpaku padaku dan selalu memikirkanku.


Awalnya dia marah, katanya kiriman fotoku memenuhi hp nya. Tapi kemudian kami seperti berperang. Saling mengirim foto. Dia juga mengirimiku foto-foto wajahnya yang cantik.


Setiap dia mengirimiku foto wajahnya yang cantik, aku benar-benar speechless. Gadisku sangat cantik. Aku beruntung memiliki dia dalam hidupku.












Saat libur semester, seperti biasanya, aku, Dedi dan Daniel berencana pergi keluar negeri. Tahun ini, aku ingin mengajak Vivi pergi bersamaku. Tapi dia pasti menolak, jika hanya pergi berdua. Akhirnya aku bujuk Anti untuk pergi bersama aku dan teman-teman.


Kebetulan sekali, Anti dan keluarganya berencana berlibur ke Korea dan Jepang. Aku pun mengajak Dedi, dan Daniel ikut sekalian. Sementara tiket dan akomodasi Vivi, aku semua yang menanggung. Tapi aku rahasiakan ini dari Vivi, karena dia pasti tak kan mau menerimanya. Aku minta Anti mengaku pada Vivi bahwa tiket dan akomodasinya Anti yang menanggung. Ekspresi wajah Vivi sangat menggemaskan ketika memberiku kejutan, bahwa ayah bundanya mengijinkan dia ikut kami berlibur ke Korea dan Jepang. Bisa kulihat dia sangat senang, bisa berlibur ke korea dan jepang. Apalagi aku. Tahun ini benar-benar tahun yang menggembirakan untukku.


Dia yang mengenakan kimono merah waktu itu, benar-benar cantik. Aku tak pernah bisa berhenti mengagumi kecantikannya. Bahkan orang local disana mengira dia adalah orang jepang. Karena dia terlihat sangat cocok mengenakan kimono itu.


Selama pacaran dengan Vivi, kami semakin sering berkirim foto gaje (ga jelas).


Dia sempat mengirimiku foto saat dia sedang sakit.


Katanya dia sedikit demam. Membuatku khawatir. Aku ingin sekali menjenguknya waktu itu, tapi dia bilang tidak usah. Makanya kukirimkan fotoku yang sedikit cemberut karena dilarang menjenguknya waktu itu.