Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Hancur



Keesokan harinya, dia tidak masuk sekolah. Ternyata dia lolos penyisihan grup. Jadi dia harus ke kota XX lagi.


Selama dia lomba, aku terus memantau perkembangannya melalui Dedi. Kata Dedi dalam chat, lomba kali ini lebih susah daripada lomba tingkat kota kemarin. Selain soal-soalnya yang lebih susah, lawan-lawan mereka juga kelihatan lebih tangguh. Mereka benar-benar harus berusaha lebih keras untuk melewati babak semifinal.


Dengan susah payah akhirnya babak semifinal dapat terlewati. Mereka lolos semifinal dan masuk final. Aku ikut deg degan. Dari tiga tim yang diutus mengikuti lomba, hanya tim Coco dan Dedi yang lolos Final. Daniel dan Richard tak lolos semifinal. Tim Feli dan Sandra lolos semifinal tapi tak bisa lanjut ke final.


Aku jadi ikut deg-degan. Harap-harap cemas. Dan akhirnya kabar gembira itupun datang,


DIA MENANG!


“Yeeeayyyy”


Aku melompat kegirangan. Membuat seisi rumah bingung dengan kelakuanku. Tapi Aku tidak perduli. Aku ikut senang dengan kemenangannya.


Aku pun bermaksud menghubungi dia mengucapkan selamat.


Tiba-tiba hp ku berbunyi. Ada pesan masuk. Pesan itu dari Feli. Dia juga ikut lomba olimpiade untuk grup putri.


Tumben Feli nge-chat aku, ada apa ini?


Begitu kubuka chat dari Feli, aku syok berat.


Feli mengirimiku foto mereka berdua yang sedang foto selfie berdua di dalam bus. Kulihat Coco ikut tersenyum di foto itu. Sungguh pemandangan yang menyesakkan karena senyumnya saat itu terlihat sangat bahagia. Seketika itu juga hatiku sakit. Sakit sekali. Seperti ada pisau yang menyayat hatiku. Airmataku pun tak terasa membasahi pipiku. Aku baru tahu kalau ternyata mereka berdua duduk bersebelahan, karena Dedi juga memfoto ketika mereka di bus sebelum berangkat. Jadi aku tahu pasti, foto itu bukan rekayasa.


Senyum bahagia mereka dalam foto itu, menusuk tepat di jantungku. Rasanya sakit sekali.


Melihat dia begitu perhatian pada cewek lain selain aku, benar-benar menyakitkan. Foto-foto yang dikirimkan kepadaku memperlihatkan kedekatan mereka berdua.


Foto berikutnya memperlihatkan mereka foto selfie berdua. Dengan senyum merekah di bibir mereka. Seolah mengatakan bahwa mereka sedang sangat bahagia sekarang. Caption dibawah foto kedua berbunyi “NOW GET OFF FROM MY BOYFRIEND”


Aku benar-benar tak percaya dengan kenyataan di depanku.


Benarkah semua ini?


Coco dan Feli?


Benarkah mereka sudah pacaran?


Coco memilih Feli?


Benarkah gadis itu yang dia pilih? Dan bukan aku?


Ribuan pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Semua ini terlalu menyesakkan. Kenyataan di hadapanku ini benar-benar menusuk hatiku. Aku masih sulit percaya jika Coco akhirnya memilih Feli dan bukan aku.


Airmata ini terus menetes, mengiringi kesedihan mendalam dalam hatiku.


Lalu kubuka video kiriman Feli.


Dalam video berdurasi pendek itu, kulihat Coco dan Feli saling bertukar cincin, seperti cincin pasangan. Mereka saling melepas tawa bahagia. Disambut tepuk tangan orang-orang di sana.


Walaupun dari pakaian yang mereka kenakan memperlihatkan mereka sangat santai, karena Coco hanya memakai kaos dan celana pendek 3/4 . Dan Feli juga hanya memakai hot pants, kaos dan cardigan. Tapi teriakan di sekitar mereka membuatku tambah sedih.


“JADIAAN…JADIAANN..” bunyi teriakan itu disertai tawa yang lain dan tepuk tangan orang-orang disitu.


Sementara foto berikutnya yang dikirim padaku memperlihatkan foto jari keduanya memakai cincin. Saling berpegangan tangan.


Airmataku terus saja mengalir.


Aku sedih sekali.


Aku menangis semalaman.


Aku tak mengira akan mengalami kenyataan sepahit ini.


Semua foto dan video kiriman Feli benar-benar menampar kesadaranku.


Ditambah ketika melihat status facebook Coco yang bertuliskan : “KEMENANGAN INI UNTUKMU"


Tangisku semakin menjadi-jadi.


Aku tak tahan melihat kenyataan yang baru saja kulihat.


Lelaki yang selama ini kusukai, selama hampir tiga tahun bersamaku ternyata memilih gadis lain. Lelaki yang kucinta, yang kupikir tak kan mudah menyatakan cinta malah bertukar cincin dengan gadis lain. Lelaki yang kupikir kumiliki, ternyata bukan milikku lagi. Ternyata perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan. Karena dia tak menyukaiku seperti aku menyukainya selama ini. Ternyata dia tak memiliki perasaan yang sama dengan yang kurasakan.


Lalu untuk apa semua perhatiannya selama ini padaku? Untuk apa semua kecemburuannya yang dia tunjukkan itu? Untuk apa? Jika pada akhirnya ternyata dia memilih gadis lain menjadi kekasihnya.


Aku benar-benar sedih.


Sedih sekali.


Dadaku terasa sangat sesak.


Hatiku hancur.


Aku galau.


Aku cemburu.


Karena gadis itu bukan aku.