
“Al..kenapa kamu mesti mengingat masa lalu? Sekarang aku sudah bahagia dengan hidupku. Aku harap kamu juga bisa segera move-on”pintaku pada Aldi
Aldi tersenyum namun kurasakan ada kegetiran dalam senyumnya itu.
“Sayangnya ga semudah itu Vi..sama seperti kamu yang sejak dulu mencintai Coco, sejak SMA. Aku juga sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Apa kau pikir semudah itu melupakan cinta yang sudah menancap kuat dalam hati?”
“Al”
Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Karena aku juga merasakan apa yang Aldi rasakan. Memang tak semudah itu berpaling dari cinta yang sudah bertahun-tahun mengisi hati kita.
“Tapi kamu pantas bahagia Al..Kamu cowok baik”
“Terimakasih Vi..doain aja”
Tiba-tiba pandangan mataku tertuju pada gadis cantik yang saat ini masih asyik bermain di tepi pantai.
“Rena cantik kan Al?”
“Memang kenapa?”
“Aku tanya Rena cantik kan?”
“Lumayan”
“Lumayan gimana? Cantik gitu dibilang lumayan”
“Tapi dia cerewet. Bawel seperti Dila”
“Oh ya?”kataku pura-pura
Ditengah percakapan kami, objek pergibahanku dengan Aldi, Rena, datang menghampiri kami berdua.
“Kak Al?”
Aku dan Aldi menoleh bersamaan. Aldi diam saja dipanggil Rena. Segera kutarik Rena agar duduk di dekatku.
“Kok kak Al bisa disini? Ga kuliah?”tanya Rena
“Aku ijin”
“Ijin? Emang boleh ya ijin kuliah buat ke pantai”
“Aku ijin..ada urusan keluarga”
“What?? Urusan keluarga?”
“Menjaga adik kan juga urusan keluarga”kelit Aldi
Aku hanya menjadi pendengar dari percakapan Aldi dan Rena.
“Kak Al beliin kelapa muda ya?”pinta Rena
“Kenapa mesti aku?”
“Ayolah kak! Aku minta tolong ya..beliin juga buat Dila, Chiara, eh..tunggu bentar”
“Bryan? Dylan? Kalian mau kelapa muda ga?”teriak Rena memanggil kedua temannya.
Bryan, Dylan, Chiara dan Dila langsung menoleh ke arah kami bertiga, dengan mata yang menyipit saking teriknya matahari.
“Iya boleh”jawab Bryan
“Tambah dua ya kak..buat Bryan sama Dylan”
“Kenapa kamu nyuruh aku beliin?”
“Lha kan tadi katanya jagain Dila, gimana sih? Dila sekarang juga haus kak”
“Kenapa ga kamu aja yang beli sendiri?”
“Aku capek kak tadi abis main di pantai sama mereka”
Di tengah perdebatan mereka, Coco datang membawa kelapa muda pesananku dengan wajah sangarnya.
“Kenapa kamu bisa di sini?”tanya Coco pada Aldi
“Aku kok yang minta kak Al kemari. Ga usah marah-marah deh”ucap Rena
Aku sedikit kaget karena Rena malah melindungi Aldi.
“Ini sayang”ucap Coco sambil menyerahkan kelapa muda itu padaku.
“Makasih”jawabku sambil tersenyum manis pada suamiku yang saat ini pasti sedang kebakaran jenggot.
“Ayo kak kita beli kelapa mudanya” ajak Rena sambil menarik tangan Aldi
Aldi menurut saja ditarik Rena. Hingga akhirnya tinggal aku dan Coco yang ada di gazebo. Rena benar-benar penyelamatku dan Aldi dari amukan Coco.
“Ngapain dia di sini?”
“Hah? Aldi maksudmu?”
“Siapa lagi?”
“Oh..itu Aldi disuruh mamanya jagain Dila”
“Bukannya dia ada kuliah?”
“Ga tau..ijin mungkin. Udah ah, ngapain nanyain Aldi ke aku? Kan bukan aku yang ngajak dia kesini, sayang”
Aku terpaksa berbohong demi keselamatanku. Kulihat raut wajah Coco yang berubah.
“Sayang?”
“Hemm”
“Udah dong..jangan marah..kan kita kesini mau seneng-seneng..Jangan ngambek gitu”
“Aku ga bisa sayang”
“Pliss ya..hari ini aja, lupakan kemarahanmu sama Aldi. Anggap dia ga ada. Aku pingin seneng-seneng disini..pliisss!”
Coco menatapku yang menatapnya dengan tatapan memelas. Aku ga mau kebahagiaanku dan keinginanku untuk babymoon di pantai jadi kacau gara-gara kehadiran Aldi.
“Aku usahakan”
“Gitu dong..ayah ganteng”kucium pipi Coco sekali lagi membuat Coco tersenyum padaku.
Benar-benar hormon kehamilan mempengaruhiku. Aku jadi ga tau malu. Ya udah lah..ga urusan sama omongan orang. Yang penting aku dan Coco bahagia.
Coco menarik tubuhku dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Diusapnya pelan perutku yang sudah mulai membuncit.
“Hello jagoannya ayah..Kamu baik-baik aja kan di dalam?”
“Co..jangan manggil jagoan terus dong..dedek bayi gitu lho..kalo dia cewek, kamu panggil jagoan..bisa marah dia nanti”
“Oke..oke”
“Oke..oke..dari kemarin dibilangin kamu manggilnya jagoan mulu”
Coco malah mencubit hidungku karena aku kesal Coco selalu memanggil dedek bayi dengan sebutan “jagoan”.
“Ihhh..sakit Co”kupegang hidungku yang baru saja dicubit Coco.
“Abis kamu gemesin gitu”
“Cie..ciee..yang mesra-mesraan ga tau tempat”goda Rena pada kami.
“Kata yang jual mau dianter kesini”
“Oh”
“Bentar ya aku panggil temen-temen kesini”ucap Rena hendak beranjak dari gazebo.
Tiba-tiba Aldi menarik tangan Rena, membuat Rena menoleh ke arah Aldi.
“Biar aku aja yang manggil mereka”
“Oh..oke..makasih ya kak”jawab Rena sambil tersenyum.
Aldi kemudian berjalan ke arah Chiara, Dila, Dylan dan Bryan yang masih asyik bermain voli pantai. Mungkin Aldi merasa tak enak pada Coco.
Akhirnya Rena duduk di sampingku.
“Hei..bisa ga sih kalian berdua itu ga pamer gitu mulu? Aku risih tau liatnya”pinta Rena karena posisi dudukku yang bersandar di bahu Coco. Sementara tangan Coco masih juga melingkar di pinggangku.
“Iri bilang bos”balas Coco
“Kalian liat tempat dong..masak di mana pun tempatnya selalu pamer. Kalian ga tau mbak-mbak dan mas-mas yang di sana tadi ngomongin kalian?”tunjuk Rena pada beberapa muda mudi yang tadi duduk di gazebo sebelah kami.
“Emang mereka bicara apa?”
“Tadi aku denger mereka bilang, kalo kalian tuh bikin yang liat jadi baper sendiri..main cium aja..cium pipi, cium kening..ga sekalian kissing”
What??
“Beneran Rena?”
“Kalian tuh dibilangin ga percaya..aku kan udah sering bilang kalo kalian mesra-mesraan gitu yang ada tuh justru yang liat yang bakalan baper. Kalian aja yang ga peka”
“Maaf ya Rena”
“Maaf..maaf..tapi nanti diulangin lagi”keluh Rena
Membuat aku dan Coco malah cekikikan. Karena kenyataannya aku dan Coco memang sering menunjukkan rasa kasih sayang kami di depan umum.
“Abis itu dah dorongan dari dalam sih Ren..bawaan hamil kali ya”kelitku
“Bawaan hamil apa kak Vivi yang ga bisa nahan diri?”
“Dua-duanya, hahahaha”
Aku malah tertawa mendengar pertanyaan Rena.
“Dasar bumil”
Kami pun mengobrol bertiga. Kulihat Aldi malah ikut bermain bola voli bersama Dila dan Chiara melawan Bryan dan Dylan. Sesekali aku dan Rena bersorak menyemangati mereka. Dan saat kelapa muda pesanan Rena datang, mereka berlima yang tadi asyik main voli pantai, menghentikan permainan mereka dan duduk di gazebo di sebelah kami.
“Oya Co..kalian jadi ke Jerman?”tanya Rena tiba-tiba
Membuat aku bingung hingga aku langsung menoleh ke arah Coco. Kulihat Coco meletakkan telunjuknya di depan mulutnya memberi tanda Rena untuk diam.
“Co?”
Kutatap Coco dengan tajam karena dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
“Ck..kamu sih Ren”keluh Coco pada Rena
“Lhoh aku kenapa? Kan aku cuma nanya doang. Emang kak Vivi ga tau masalah ke Jerman?”
“Aku ceritain nanti aja ya?”pinta Coco padaku.
Aku menggeleng tanda menolak permintaan Coco. Rasa penasaranku sudah tak terbendung. Bisa-bisanya Rena tau masalah ke Jerman sementara aku malah ga tau. Ini ga bisa dibiarkan..
Coco langsung menggenggam tanganku dengan erat.
“Tuh kan mulai lagi..capek ah, ngomong sama kalian”keluh Rena melihat Coco menggenggam tanganku.
“Rena..siapa yang mau ke Jerman? Terus kamu tau dari mana?”tanyaku pada Rena tanpa memperdulikan Coco yang kelabakan.
Rena cekikikan. Kulihat Coco menatap Rena sambil membelalakkan matanya. Sepertinya Coco mencoba mengintimidasi Rena.
“Sorry Co..aku ga tau kalo kamu belum bilang kak Vivi”
“Ayo Rena, jawab pertanyaanku barusan”
“Sorry ya Co..kak Vivi yang minta. Aku bisa apa melawan bumil”pinta Rena pada Coco
“Waktu itu mami sempet nelpon aku, ngajakin aku supaya ikut ke Jerman. Mau jenguk Sarah, putrinya aunty Widya yang mau nikah. Sekalian nganter kalian babymoon ke sana. Gitu kata mami. Tapi aku kan masih kuliah jadi ga bisa ikut. Padahal aku pingin banget ikut. Tapi kalo ke sana kan ga bisa sehari dua hari doang”
Aku langsung menoleh pada suamiku yang sudah membuatku kesal tapi juga senang. Karena aku mau diajak babymoon ke Jerman.
“Beneran sayang kita mau ke Jerman?”tanyaku sambil menatap lembut suamiku
Coco menghela nafas pelan lalu mengangguk.
“Iya”
“Oh ya? Makasih sayang”ucapku lalu kuhamburkan tubuhku memeluk tubuh besar suamiku yang duduk disampingku
“Kak Vivi?”protes Rena padaku sambil menutup matanya.
“Maaf Rena..aku kelepasan”
Segera kulepaskan dekapanku di tubuh Coco. Aku lupa kalo ada Rena di sampingku.
“Udah ah..aku pindah aja”
Kulihat Rena membawa kelapa mudanya lalu pindah ke gazebo di sampingku. Bersama Chiara, Dila dkk. Rena duduk di samping Aldi.
Segera kuinterogasi Coco.
“Kok kamu ga bilang kalo mau ke Jerman?”tanyaku
“Maunya sih buat surprise..malah ga jadi. Dasar Rena, buka-buka rahasia”keluh Coco sambil menatap Rena.
“Udah ga papa..aku udah seneng banget kok sekarang. Rencana kapan ke Jerman?”
“Rencana sih tiga minggu lagi”
Kuingat-ingat kembali. Tiga minggu lagi kan ulangtahun Coco.
“Pas ulangtahunmu?”
Coco mengangguk pelan.
“Oo..jadi mau ngrayain ulangtahunmu di Jerman sekalian babymoon?”
“Iya..sekalian kita nostalgia waktu study tour ke Eropa”
“Beneran? Asyikkk…Makasih sayang”ucapku pada Coco
Kuarahkan telunjukku di bibirku lalu ke bibir Coco. Aku takut kelepasan lagi malah bikin Rena marah-marah lagi.
Coco mengelus pucuk kepalaku pelan.
“Kenapa? Takut diteriaki Rena lagi?”
“Iya”
Aku dan Coco tersenyum berdua. Kami harus berusaha menahan diri supaya tak membuat orang lain baper. Walaupun aku ingin sekali mencium Coco. Sebagai tanda ucapan terimakasihku sudah mau mengajakku ke Jerman.