Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Perseteruan Dengan Arsy



Ada satu momen yang sangat berkesan yang hanya aku ketahui. Bahkan Vivi pun tak tahu. Ini adalah rahasia yang aku simpan sendiri.


Pernah satu ketika, ketika kami sedang olahraga, tiba-tiba kepala Vivi terbentur bola yang ditendang anak kelas sebelah. Aku sangat kuatir, karena dahinya sampai lecet. Aku minta Tika dan Ana mengantarnya ke UKS.


Ketika dia selesai diobati dan hendak kembali ke kelas, tiba-tiba Vivi pingsan. Aku kaget, tapi untungnya aku berdiri di sampingnya. Segera kubopong dia dan kubaringkan dia di ranjang. Tika dan Ana pergi meminta ijin ke guru piket. Kebetulan juga perawat sekolah sedang keluar karena ada urusan sebentar. Sehingga hanya aku dan Vivi di ruang UKS. Aku benar-benar kuatir melihat Vivi tiba-tiba pingsan.


Ketika kami hanya berdua, kupandangi dia yang sedang tertidur pulas. Kulihat wajahnya yang cantik. Ketika kulihat bibirnya yang merah, entah setan apa yang merasukiku, aku jadi ingin menciumnya. Aku dekatkan wajahku ke wajahnya perlahan-lahan. Jantungku pun berdegup sangat cepat. Karena ini adalah pengalaman pertamaku. Aku takut sampai ketahuan. Akhirnya aku berhasil menciumnya. Mencium bibir merahnya yang ternyata sangat lembut. Ketika aku berhasil menciumnya, aku sangat senang. Maafkan aku Vi..


*


*


*


*


Saat aku berulangtahun ke 17, sweet seventeen, aku merayakannya lebih dari sekali. Yang pertama aku merayakan pesta ulangtahunku bersama keluarga besarku. Bersama Oma, Opa, mama papa, kakak-kakak dan keponakanku. Perayaan yang kedua, aku merayakan bersama teman-teman sesama pemain basket sekolah, teman-teman sekelasku dan teman-teman senior PMR. Kami merayakannya di café langgananku, café milik kakak Dedi. Karena selama acara pesta ulangtahunku ini, aku tak bisa benar-benar menikmati acara. Karena Vivi lebih banyak bersama Anti dan teman-teman yang lain. Akhirnya aku mendapatkan ide untuk merayakan bersama Vivi, Anti, Dedi dan Daniel saja.


Aku menraktir mereka berempat nonton film di bioskop. Aku dan teman-teman memang sering nonton bareng. Aku selalu memilih duduk di samping Vivi. Dan saat ada adegan romantis, walaupun hanya sekedar kissing, aku pasti selalu menutup mata Vivi dengan tanganku. Membuat Vivi selalu protes padaku. Aku tak suka jika Vivi melihat adegan romantic seperti itu. Aku takut dia membayangkan yang tidak-tidak. Apalagi aku tahu Vivi gadis yang lugu dan polos. Aku tak mau dia teracuni adegan dewasa yang belum sepantasnya dia lihat.


Mungkin karena kelelahan, atau mungkin karena filmnya yang membosankan, tiba-tiba aku merasakan sesuatu di bahuku. Rupanya Vivi mengantuk dan bersandar di bahuku. Beberapa kali aku coba membangunkan dia, tapi apa dasar Vivi kebo ya..bisa-bisanya dia tidur di gedung bioskop yang suaranya menggelegar.


Saat kutatap matanya yang terpejam, membuatku tersenyum bahagia. Kuamati gadisku yang tertidur di bahuku. Sesekali kubetulkan anak rambutnya yang menutupi wajah cantiknya. Akhirnya kubiarkan Vivi tidur di bahuku. Dan itu membuatku juga ingin tidur juga. Kusandarkan kepalaku di kepalanya. Kami pun tidur bersama.


Aku kaget ketika tiba-tiba dia menepuk pipiku membuat aku terbangun.


“Co..bangun”ucapnya sambil menepuk pipiku


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, karena aku memang belum ON 100%.


“Maaf mbak..mas..filmnya udah selesai. Silahkan keluar..karena ruangan ini akan kami bersihkan..terimakasih”ucap petugas di  gedung bioskop yang membangunkan kami berdua.


Aku clingukan mengamati sekitarku. Lampu ruangan yang sudah sangat terang. Tempat duduk yang sudah sangat sepi. Rupanya teman-teman meninggalkan aku dan Vivi berdua di dalam gedung bisokop.


Aku keluar dari gedung bioskop dengan langkah gontai karena aku memang masih mengantuk. Sementara Vivi yang jengkel dengan kelakuan teman-teman yang meninggalkan kami berdua terus saja uring-uringan.


Sampai di luar gedung bioskop, kulihat Dedi, Daniel dan Anti tertawa terbahak-bahak menertawakan kami berdua. Vivi marah-marah pada mereka bertiga yang tega meninggalkan kami berdua di dalam gedung bioskop. Vivi yang marah-marah, juga memarahiku.


Vivi semakin marah dan tak terima di foto Daniel, membuatku harus meminta Daniel menghapus foto itu.


Akhirnya Daniel membagikan foto itu di grup chat kami berlima. Aku tersenyum saat melihat foto itu. Karena difoto itu aku tidur bersandar pada Vivi. Tanpa sepengetahuan Vivi dan teman-teman aku sengaja mendownload foto itu dan kujadikan koleksi pribadiku.


*


*


*


*


Saat wisata akhir ke luar negeri, aku merasa sangat senang. Karena aku bisa menghabiskan waktu-waktu bersamanya. Aku beberapa kali mengambil foto Vivi dan Vivi juga beberapa kali mengambil fotoku.


Sebenarnya, tiap akhir semester, aku, Dedi dan Daniel atau dengan keluargaku, selalu pergi liburan ke luar negeri. Jadi aku sudah sering pergi keluar negeri. Tetapi kali ini, acara keluar negeriku jadi istimewa karena ada Vivi bersamaku. Aku merasa sangat senang. Aku benar-benar menikmati waktu kebersamaan kami.


*


*


*


*


Jujur saja ketika melihat foto gaje Vivi, jantungku selalu berdetak tak karuan. Karena bagiku wajah gaje nya tetap cantik di mataku. Apalagi saat dia mengirimiku foto dengan baju terbuka yang dipakainya. Membuatku membayangkan hal yang tidak-tidak. Otak kotorku mengelana tak tentu arah.


*


*


*


*


Ketika PMR sekolahku mengadakan kegiatan EPSP, aku sempat berseteru dengan Arsy. Waktu itu, saat tengah malam, saat kami para panitia sedang begadang sambil bernyanyi-nyanyi di pinggir api unggun, Vivi mengeluh padaku badannya tiba-tiba ga enak. Rupanya itu dipicu Vivi yang telat makan malam karena terlalu sibuk menyiapkan acara Cerdas Cermat. Kebetulan aku sedang menyiapkan acara motivasi dan renungan malam bersama teman-teman panitia yang lain, jadi aku tak bisa memastikan Vivi sudah makan malam atau belum.


Malam itu wajahnya kelihatan pucat dengan keringat dingin yang mengucur di wajahnya. Segera saja aku papah dia ke tenda panitia. Aku ambilkan makan, minum dan obat untuknya.


Aku tunggui Vivi sampai dia benar-benar tertidur. Setelah itu, aku kembali berkumpul bersama teman-teman melanjutkan acara begadang kami.


“Vivi gimana Co?”tanya Arsy padaku


Jujur saja aku kesal mendengar Arsy yang mengkhawatirkan Vivi karena waktu itu dia sudah punya pacar. Mira namanya. Jadi untuk apa dia mengkhawatirkan Viviku?


“Udah baikan”jawabku singkat


“Hei Ar..ngapain kamu kuatir sama Vivi..kan udah ada Coco yang siap siaga menjaga Vivi, ya ga Co?”ucap Nisa


Aku hanya tersenyum sinis pada Arsy.


“Nanya doang emang salah?”tanya Arsy


“Ga salah sih..cuma ga pas aja”jawabku ketus


“Maksudmu apa?”tanya Arsy penasaran


“Ingat..kamu udah punya pacar”jawabku singkat


“Terus masalahnya apa? Aku kan Cuma nanya keadaan Vivi. Karena aku peduli sama Vivi”ucap Arsy


“Bukan karena kamu masih suka Vivi?”tanyaku ketus


“Sebaiknya urus saja pacarmu, masalah Vivi aku yang akan mengurusnya”


"Sialan kamu Co" seru Arsy


Pertanyaanku tadi berhasil membuat Arsy naik pitam. Dia sampai maju ke arahku dan menarik kerah bajuku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya sudah mengepal terayun ke udara hendak memukulku. Aku hanya diam tapi kutatap Arsy dengan tatapan sangat tajam. Teman-teman yang melihat kami hampir berkelahi, langsung melerai kami berdua.


“Hei..udah-udah”


“Ar lepasin Coco”


“Hei Ar..jangan berantem dong”


Dani berdiri di antara aku dan Arsy.


“Ar..kendalikan emosimu. Coco benar, sebaiknya kamu jaga sikapmu..jangan sampai pacarmu salah paham dengan Vivi”


“Dan kau Co..jangan memancing emosi Arsy. Sebaiknya kamu jaga saja Vivi. Aku harap masalah ini cukup sampai disini. Kalian mengerti”perintah Dani pada kami berdua.


Akhirnya aku dan Arsy saling berjabat tangan. Kami saling bermaafan. Walaupun dalam hatiku aku masih marah dengan sikap Arsy yang masih terang-terangan mengkhawatirkan Vivi padahal dia sudah punya pacar. Dan aku sangat tak suka akan hal itu.