Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Drama Jamkos



Ketika kami naik kelas XII, aku senang sekali karena ternyata aku dan Coco tetap berada di kelas yang sama. Saat pengumuman pembagian kelas yang dishare di website sekolah, aku Anti Coco Dedi dan Daniel sampai harap-harap cemas.


"Kapan sih dishare pengumumannya? Dari tadi ga keluar-keluar?"keluh Daniel


"Sabar Dan! Kan di surat pengumuman udah dibilang, pembagian kelasnya jam 10.00. Masih 5 menit lagi"jawab Anti


"Iya..sabar dikit napa"


"Kira-kira kita ada yang sekelas ga ya?"tanya Dedi


"Wah..kalo itu aku ga tau deh"jawabku


Jam menunjukkan jam 10.00 WIB. Pengumuman yang kami tunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Kami melihat website sekolah, men-scroll pengumuman dengan penuh kecemasan. Kami meneliti tiap nama yang muncul mulai dari kelas XII IPA 1. Kelas pertama sampai kelas ketiga, nama kami berlima tak ada satupun yang muncul.


Begitu masuk kelas keempat yaitu XII IPA 4, nama Dedi yang pertama kali muncul.


"Yess..namaku ada disini"ucap Dedi


"Namaku juga ada Ded"seru Coco sambil tos dengan sahabatnya


"Aku juga ada"Anti berteriak senang


"Namaku mana?"tanyaku


"Sabar Vi..namamu kan paling bawah biasanya" jawab Coco


"Ini Vi..kamu juga ada. Yeyyyy..kita sekelas"ucap Anti sambil memelukku


"Hah..beneran namaku ada?" karena aku belum melihat namaku ada di daftar


"Iya..kamu ada Vi..kita berempat sekelas"sahut Dedi


"Yeeeyyyy"Aku dan Anti melompat-lompat kegirangan.


"Kamu gimana Dan?"tanya Coco


"Aku kelas XII IPA 5. Kita tetanggaan lagi rupanya, hahahhaha"jawab Daniel


"Dah, gapapa" balas Dedi


"Iya..nanti istirahat kita juga ngumpul seperti biasa" jawab Dedi


Di kelas XII ini, aku sebangku dengan Anti. Dia dengan Dedi. Yup..kami berempat menjadi teman sekelas lagi (dulu di kelas X sekarang di kelas XII berkumpul lagi). Di kelasku ini juga ada beberapa pengurus organisasi sekolah. 5 orang pengurus PMR sama seperti aku dan Coco. 4 orang pengurus OSIS. 3 orang pengurus Rohis. 3 orang pengurus Majalah Sekolah. 4 orang pengurus Pramuka. Bisa dibilang kelasku terdiri dari anak-anak TOP sekolah. Apalagi di kelasku ini para pemegang peringkat 1 dan 2 di kelas XI kemarin dari 1 paralel ada banyak. Sehingga persaingan di kelas XII ini sangatlah ketat. Oya, aku masuk kelas IPA. Kelas XII IPA 4.












Awal semester 1 kami masih seperti biasa. Masih dekat seperti di kelas XI. Kali ini teman diskusi kami bertambah. Karena ada Dedi dan Anti yang juga sahabat baik kami masing-masing. Kami sering bercanda bersama. Berdebat bersama. Ke kantin sekolah bersama saat istirahat. Aku masih sering mencatatkan pelajaran dari Bapak Ibu guru di catatannya, yang kemudian aku bawa pulang untuk kusalin dirumah. Dia tak keberatan.


Mungkin karena sudah kelas XII dan teman kami sekelas adalah teman kami di organisasi, maka suasana di kelas sangatlah menyenangkan. Kompak. Lebih menyenangkan dari kelas XI ku dulu.


Karena kelasku lumayan dekat dengan kantin, maka setiap jamkos (jam kosong), aku dan teman-teman sekelas, pasti langsung menyerbu kantin. Kami disana sambil ngobrol, dan makan-makan. Kadang juga sekedar nongkrong sambil bernyanyi bersama diiringi petikan gitar cowok-cowok sekelasku yang memang pada jago main gitar.


Dan jika tiba-tiba ada guru yang masuk kelas, padahal kami masih asyik nongkrong di kantin, maka kami akan berebutan kembali ke kelas. Kami akan lomba lari ke kelas, supaya tidak dihukum guru. Lucu sekali tapi hal-hal kecil seperti itu sangat membekas dalam hati.


Pernah waktu itu, saat pelajaran kimia, kebetulan bu Eni, berhalangan hadir. Ketua kelasku, Hendy, kebagian mencari guru piket menanyakan tugas bu Eni. Sementara kami sekelas, menunggu di kelas. Dimana-mana yang


namanya kelas tanpa guru, pasti kisruh. Ramai sekali. Kelasku yang notabene adalah salah satu kelas favorit, malah menggila. Persis kelas yang tawuran. Kami bercanda sekelas. Dion yang memang hobi becanda malah stand up comedy di depan kelas. Membuat kami semua sekelas tertawa terbahak-bahak mendengar leluconnya.


“Pak Hendy lama banget sih?”tanya Dedi.


Pak Hendy adalah sapaan akrab kami semua satu kelas pada Hendy yang juga mantan ketua ROHIS sekolahku


“Iya ya..jangan-jangan jamkos?”tebak Anti


“Moga-moga aja jamkos..tadi aku pas jam istirahat ga sempet makan banyak”ucapku


“Perasaan tadi dah makan banyak Vi..ga takut gemuk”goda Coco padaku.


“Tadi Cuma cemilan Co..mana kenyang”protesku


“Orang Jawa tuh kalo belum makan nasi, itu berarti belum makan”jelas Anti


“Iya ding..kamu kan orang jawa tulen”goda Coco


“Biarin”jawabku


Di tengah percakapan kami, Pak Hendy datang. Sekelas langsung bersorak setelah melihat Pak Hendy membawa selembar kertas kecil berisi tugas dari bu Eni.


“Yeyyyyyyy”sorak seisi kelas


“Jamkosssss…horeee”


Pak Hendy berpesan pada kami semua, setelah mengerjakan tugas, kami diijinkan ke kantin asal tidak rame dan tidak mengganggu kelas lain. Dan jika guru pelajaran berikutnya sudah datang, kami harus kembali ke kelas.


“Siap Pak”jawab seisi kelas kompak


Kami sangat senang setiap jamkos. Coco dan Dedi kembali ke tempat duduk mereka untuk mengerjakan tugas. Semua temanku juga bergerak cepat, saling berbagi tugas supaya tugas bu Eni cepat selesai, jadi kami bisa segera melarikan diri ke kantin. Kelas langsung sunyi senyap, karena kami langsung fokus mengerjakan tugas. Kadang ada beberapa anak yang saling berteriak, ketika tak menemukan jawaban dari pertanyaan tugas bu Eni. Lalu salah satu dari kami yang tahu jawabannya, akan meneriakkan jawabannya. Sahut menyahut pun terjadi. Dan seperti itulah cara kerja kami mengerjakan tugas. Kerja kelompok sekelas. Seru sekali!


Setelah tugas selesai, kami kumpulkan di meja guru, lalu kami akan ke kantin bersama-sama. Karena sudah diperingatkan Pak Hendy untuk tidak rame ketika meninggalkan kelas, maka ketika melewati kelas lain, kami jalan dengan pelan-pelan. Kadang ada yang bertingkah aneh, mengendap-endap seperti maling. Kadang ada yang pura-pura membaca buku. Tapi kadang ada juga  yang malah kejar-kejaran, membuat anak-anak kelas sebelah menengok ke luar kelas. Membuat aku dan teman-teman sekelas, semakin mempercepat langkah menahan malu dilihatin seisi kelas sebelah dan guru yang mengajar.


Sampai di kantin, rasanya seperti menemukan oase setelah mengelilingi padang pasir yang gersang. Seperti mendapat guyuran hujan setelah gersang karena kekeringan. Surga Dunia.


Kami berebutan memesan makanan dan minuman. Karena memang waktu jamkos yang tidak terlalu lama. Aku pun segera membeli nasi kucing yang dijual di kantin. Nasi kucing adalah nasi berukuran kecil berisi nasi, sambal dan irisan kecil ikan bandeng. Menu makanan andalan di kantin sekolahku. Makanan sejuta umat. Makanan sederhana yang mampu mengganjal perut dan harganya pun sangat terjangkau. Tak akan membuat kantong kering. Apalagi untuk anak sekolah yang uang jajannya tidak banyak sepertiku. Sebenarnya uang jajanku lumayan dari orangtuaku, tapi karena aku tabung di awal bulan, maka untuk jajan aku memang lebih ngirit.


“Makan yang bergizi dong Vi”keluh Coco setiap kali melihat aku makan nasi kucing


“Sayur yang berkuah gitu..ga kasihan ususmu?”


“Ini juga udah bergizi Co..tuh lihat ada karbohidrat, vitamain, sama protein” jawabku.


Dia yang cerewet seperti itu kadang membuatku jengkel. Karena dia selalu protes jika aku makan nasi kucing. Padahal kan nasi kucing ini enak banget. Aku kadang penasaran kenapa rasa makanannya terutama sambalnya bisa seenak itu. Selalu sama setiap hari.


“Katanya ga kuat pedes..malah makan sambel”keluh Coco


“Udah lah Co..biarin. Vivinya suka..apa salahnya?”ucap Dedi membelaku


“Tau nih Coco..cerewet banget tiap kali aku makan nasi kucing”


“Dibilangin malah ngeyel..sakit perut baru tau rasa”ucap Coco


“Tenang aja..kalo sambel ini ga bakal bikin aku sakit perut”ucapku dengan nada menyombongkan diri.


“Udah..udah..kalian tuh kalo udah berantem kayak tom and jerry aja..Ga pernah akur”ucap Anti


Akhirnya kami berdua mengalah. Coco tak lagi mempermasalahkan nasi kucingku setelah aku janji akan mengurangi makan nasi kucing dan memperbanyak makan sayur. Dia yang tersenyum setelah mendengar janjiku membuat hatiku sangat bahagia.


“Gitu dong”ucapnya sambil mengusap-usap rambutku dan tersenyum


“Tuh kan mulai lagi..iihhh..jangan diberantakin dong Co”ucapku sambil menjauhkan tangan Coco dari kepalaku. Kebiasaan dia emang, sukanya berantakin rambutku.


Kami menikmati acara jamkos kami dengan penuh kegembiraan. Beberapa cowok asyik main gitar lalu diiringi suara merdu teman-teman cewekku sekelas. Jadilah kami paduan suara dadakan. Kami yang katanya tak boleh rame malah membuat keributan karena suara nyanyian kami yang sangat keras.


Tiba-tiba dari arah tempat parkir, muncul guru killer, musuh bebuyutan anak-anak yang suka nongkrong di kantin. Siapa lagi kalau bukan guru BK kami, Pak Eko


“Siapa itu yang di kantin?”teriak pak Eko


“Gawat..itu suara pak Eko”


“Lariiii”


“Ayo balik kelas..cepetan”