Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Malu Malu Mau



Sudah hampir satu jam lebih kami meninggalkan kelas. Akhirnya kami memutuskan kembali ke kelas. Kami pun berjalan berdampingan menuju kelas. Sepanjang perjalanan kami saling melempar senyum dan saling pandang.


Sesampainya di kelas, yang mengajar adalah Pak John, Guru Bahasa Inggrisku. Saat ditanya, dari mana kami berdua, Coco menjawab kami dari toilet.


Maafkan kami pak John telah berbohong..


“Kalian dari toilet? Bareng?ckcckck”canda Pak John


Seisi kelas langsung tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan pak John. Beliau memang guru yang sangat humoris dan menyenangkan.


 “Ya ga lah pak”kami mengelak


“Sudah..sudah..duduk sana” kata Pak John menyuruh kami duduk.


“Terimakasih Pak” sahut kami berdua hampir bersamaan


Kami pun dipersilahkan duduk. Aku kembali ke tempat dudukku. Dia kembali ke tempat duduknya. Anti langsung membrondongku dengan banyak pertanyaan. Aku hanya memberi isyarat untuk bicara pelan-pelan.


“Sssstttt…Nanti Aku jawab” kataku mencoba  menenangkan Anti


Dari cerita Anti ternyata tadi jam pelajaran ketiga dan keempat setelah istirahat, gurunya berhalangan hadir. Jamkos. Jam kosong. Syukurlah kami tidak ketinggalan pelajaran.


Kami mengikuti pelajaran dengan baik. Sesekali aku menengok ke arah Coco. Begitu juga Coco melihat ke arahku. Kami sama-sama tersenyum. Kami memang sedang kasmaran.


“tteeettttttt…tttteeettttttttt” bel istirahat kedua berbunyi


Coco mengajak Dedi duduk di kursi di depanku dan Anti. Menyusul Daniel datang. Kami berlima berkumpul bersama.


“KALIAN SUDAH BALIKAN???” sahut Dedi dan Anti bersama-sama. Membuat kami bertiga kaget. Aku dan Coco tertawa geli.


“Akhirnyaaaa…” Dedi, Daniel dan Anti tampak sangat lega.


“Maaf ya..gara-gara kami, kalian jadi ikutan repot” kataku.


Daniel melingkarkan tangannya ke leher Coco seolah hendak mencekiknya. Sementara Anti memelukku. Kami berlima tertawa bersama.


Dari cerita mereka, aku akhirnya tahu bahwa mereka sampai membuat obrolan grup bertiga : Dedi, Daniel dan Anti. Kadang mereka malah ribut sendiri, karena Anti membelaku dan menyalahkan Coco. Begitu juga sebaliknya. Lucu sekali ekspresi mereka.


“Dulu aku memang tidak setuju dengan hubungan kalian, karena menurutku kalian itu tak cocok. Tapi setelah melihat kalian berpisah kemarin, aku jadi tahu kalo Vivi memang orang yang bisa menjinakkan sifat dia yang super menyebalkan itu” ujar Daniel sambil menunjuk pada Coco. Dia hanya tersenyum


“Hampir 13 tahun aku kenal dia. Aku tahu dia itu memang menyebalkan. Aku lihat dia mulai berubah ya sejak dia kenal kamu, Vi..” kata Dedi


“Dia yang biasanya jarang ngobrol, kecuali dengan orang yang dikenalnya. Makanya orang yang ga kenal dia pasti bilang dia sombong..dan menyebalkan.” Kenang Dedi


“Kemarin ketika kalian musuhan, kamu ga tahu Vi.. kerjaannya marah-marah melulu. Hal kecil bisa jadi besar. Latihan lomba kemarin hampir berantakan karena moodnya yang jelek banget itu..Sifatnya yang menyebalkan kambuh” kenang Daniel.


“Kami sudah bilang, jauhi Feli. Selesaikan masalahmu dengan Vivi, tapi dia malah marah-marah. Katanya itu bukan urusan kami. Katanya mau menyelesaikan sendiri masalah itu..lihat kenyataannya, malah tambah runyam” Ujar Dedi


“Kalian pikir kami bertiga mau ikut campur?”Dedi kesal


“Kalo tak mengingat persahabatan kita, Aku tak mau membantu kalian baikan” Daniel menimpali


Coco lantas merangkul dua sahabatnya itu.


“Yang bikin aku geregetan itu adalah waktu kalian nanyain hal yang sama, pesan juga sama.. Kalian pikir kami makcomblang?” Anti menambahkan.


“Lihat isi chat kalian”


Anti menunjukkan screenshot isi chatku pada Dedi dan screenshot chat Coco pada Anti di obrolan grup mereka. Isinya sama. Mirip malah. Hanya berbeda susunan kata-katanya saja. Inti percakapannya sama. Segera kurangkul Anti dan kupeluk untuk meredakan luapan emosinya.


“Maafin ya?”kataku pada sahabat baikku ini.


“Udah ya..ga usah pakai acara marahan lagi..musuhan lagi…”pinta Daniel sambil memohon pada kami berdua.


“Hayati lelah, bang!” ujar Daniel yang mengundang gelak tawa kami.


*


*


*


*


*


Hari itu kami pulang bersama. Mulai dari koridor kelas sampai tempat parkir, dia selalu menggenggam tanganku. Seakan tak ingin melepaskanku. Tak dihiraukan sorak sorai teman-teman seangkatan yang melihat kami berpegangan tangan.


Tapi tak seperti biasanya, kami berjalan bukannya ke tempat parkir motor, tapi malah ke pinggir lapangan. Sebuah mobil merah mungil terparkir di sana di antara deretan mobil yang ada. Di bawah rindangnya pohon beringin. Dia mengeluarkan sebuah kunci dan memencet tombol kecil disitu.


Dia membukakan pintu mobil untukku. Melindungi kepalaku agar tidak sampai terbentur. Lalu dia berjalan memutar menuju pintu kemudi sopir.


Aku masih tak percaya. Dia membawa mobil ke sekolah. Sejak hari itu, dia selalu membawa mobil ke sekolah. Orangtuanya membelikan sebagai hadiah ulangtahunnya ke-18.


“Nanti malam ada acara tidak?”tanya Coco masih sambil menyetir mobil.


“Emm..biasanya aku makan malam sama ayah bunda di luar”jawabku


“Kalau begitu, besok sore aku ajak ya?”ajaknya tiba-tiba


“Kemana?” tanyaku penasaran


“Aku mau merayakan ulangtahunmu”katanya sambil menatap ke arahku lalu tersenyum. Membuatku malu. Malu karena ini pertama kalinya merayakan ulangtahunku bersama pacarku.


“Boleh”jawabku lirih.


Dia tersenyum.


Kuperhatikan cincin yang diberikan Coco. Aku bingung, darimana dia tahu ukuran jariku.


“Ehmm..Co?”


“Ada apa?”


“Kok bisa cincin ini bisa pas banget di jariku?”


Coco tertawa.


“Aku kan punya ilmu kebatinan”


“Bohong banget. Aku ga percaya”


“Hahahahaha…”


Aku sebal karena Coco tak menjawab pertanyaanku malah tertawa terbahak-bahak.


“Ayo cepetan ngaku..kok bisa cincin ini pas banget dijariku? Kamu tahu darimana?”


“Oke..oke..kemarin Anti ngajak ke toko emas kan? Itu aku yang minta. Aku mau ngasih hadiah cincin buat kamu. Tapi karena aku ga tau ukuran jarimu, makanya aku minta tolong Anti”


Rupanya kepergianku mengantar Anti sehari sebelumnya, adalah akal-akalan Coco.


“Pantesan..di toko emas itu Anti maksa aku nyobain cincin-cincin itu.. Rupanya itu akal-akalanmu”


“Tapi kamu suka kan?”


Aku mengangguk sambil tersenyum.


“Makasih ya”


“Cuma makasih doang?”goda Coco


“Emang kamu minta apa?”


Dia menyentuh pipinya.


Whattt? Dia minta dicium? Ga mungkin kan Co????


Aku kaget banget waktu dia menggodaku sambil menunjuk pipinya. Memberi isyarat minta dicium. Bisa gila aku kalo nyium Coco..Baru juga beberapa jam jadian, masak iya aku udah cium pipi Coco..


Akhirnya aku pukul lengannya karena godaannya berhasil membuat aku salah tingkah.


“Aduhh..kok dipukul sih Vi?”


“Kamu juga becandanya keterlaluan..Rasain”


“Terus tadi kenapa mau kupeluk waktu di ruang ganti?”


“Udah ah ga usah dibahas lagi..aku kan malu”


“Malu-malu mau”


“Ihhhh…Coco”kupukul lagi lengannya karena dia tak berhenti menggodaku


“Hahahahaha..”


Dasar Coco sukanya bikin aku salting aja!