Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Nyium Aspal



Sikapnya yang selalu perhatian padaku jujur saja selalu membuatku sangat bahagia. Mendapat perhatian seorang Coco. Cowok tampan yang selalu berhasil membuatku tersipu dengan perhatian dan perlakuan hangatnya padaku.


Waktu itu, saat jam pelajaran olahraga, saat penilaian materi lari jarak jauh. Seperti biasa, Pak Willy memberi kami rute yang lumayan jauh. Untung saja waktu itu, rute yang dberikan adalah rute kanan. Rute lari yang walaupun jauh tetapi lumayan landai jalannya sehingga membuat aku dan teman-teman tidak terlalu kelelahan.


Jalur kanan yang diberikan Pak Willy merupakan jalur yang biasa digunakan PMR dan Pramuka sekolahku untuk jalur penjelajahan. Termasuk saat penjelajahan PMR waktu itu. Rute yang memiliki pemandangan yang indah. Karena kami bisa menikmati pemandangan hamparan sawah yang hijau.


Setelah melakukan pemanasan, Pak Willy memberi kami instruksi.


“Yakk..hari ini adalah penilaian materi lari jarak jauh”ujar Pak Willy


“Yahhhh..kok lari jarak jauh lagi sih Pak..basket gitu lho sekali-kali”protes teman-teman cowok sekelasku.


"Bener pak..basket aja"


"Lari terus sih Pak? Bosen"


“Bisanya bantah saja kalian ini”ucap Pak Willy pura-pura hendak memukul temanku yang membantah tadi.


Karena memang ucapan teman-teman cowok kelasku kadang tidak sopan. Tapi tentu saja, Pak Willy hanya bercanda hendak memukul mereka.


“Sudah ga usah bantah..kalo disuruh lari..lari aja..minggu depan kalo mau basket, bapak ijinkan”ucap Pak Willy


“Beneran lho Pak”jawab teman-teman hampir bersamaan.


“Oke..sekarang dengarkan. Kali ini rutenya adalah..”


Deg..deg..


Tiap Pak Willy menggantung ucapannya selalu berhasil membuatku dan teman-teman penasaran.


“Kemana Pak?”


“Kanan ya Pak”


“Iya Pak..kanan ya”


“Rute kanan ya Pak..Plisss”


Teman-teman sampai memohon-mohon pada Pak Willy. Sementara beliau tampak menikmati wajah putus asa kami setiap kali beliau menggantung ucapannya.


“Rutenya nanti ke…kanan”


“Yeyyyyy”sorakku dan teman-teman


“Alhamdulillahhhhh”ucap teman-teman yang lain


“Oke..sekarang bersiap ya..Bapak beri aba-aba”


“Siappp Pak”jawab teman-teman penuh semangat


“Bersedia..siapp..pritttttttt”Pak Willy meniup peluit yang menggantung di leher beliau.


Aku dan teman-teman pun segera berlari dengan penuh semangat. Coco berlari di depanku bersama dengan Dito. Aku lari bersama Tiwi, Ana dan Tika. Kami berenam berlari dengan langkah yang lumayan pelan. Karena memang rute kanan yang lumayan, kami harus menghemat energi. Kami berlari sambil ngobrol sepanjang rute lari.


Setelah menyeberang, kami berlari lagi bersama-sama. Kami berlari melewati deretan ruko-ruko yang memang banyak didirikan di sisi jalan. Kami juga melewati pedagang kaki lima yang banyak menjajakan jajanan yang


menggugah selera seperti siomay, batagor, cakue, es pisang ijo, cilok dan beberapa jajanan lain. Mereka berjualan di depan ruko-ruko yang memang sengaja didirikan oleh pemerintah kotaku.


Aku lihat beberapa cowok kelasku malah sudah jajan disana. Mereka tampak menikmati jajanan. Dan sengaja mengulur waktu. Karena memang mereka paling malas disuruh lari. Tapi kalo disuruh sepakbola atau basket


merekalah yang paling bersemangat. Bahkan mereka suka sekali tanding antar kelas setiap jam olahraga.


Setelah melewati deretan ruko-ruko, aku dan teman-teman melewati lapangan sepakbola milik kelurahan sebelah sekolahku. Kulihat saat itu banyak anak kecil usia SD yang bermain disana. Kebetulan lapangan itu berdekatan dengan sebuah SD, sehingga kemungkinan anak-anak SD itu berolahraga di sana.


Dasar teman-teman cowok sekelasku usil, bisa-bisanya mereka ikut nimbrung main sepakbola melawan anak-anak SD itu. Ketika mereka dengan postur tubuh yang lebih tinggi dari anak SD, saling berebutan bola, benar-benar kekanak-kanakan. Tapi  juga lucu, karena anak-anak SD itu ternyata juga sangat lincah. Beberapa kali mereka menggiring bola melewati deretan teman-temanku. Dan akhirnya…


"GOOOOLLLL!"


Anak-anak SD itu berhasil mencetak gol. Akku dan teman-teman yang menyaksikan pertandingan bola itu, bertepuk tangan memberi semangat adik-adik SD yang berhasil mencetak angka.


Teman-temanku akhirnya melanjutkan lari. Aku dan teman-temanku yang awalnya ikut menyaksikan pertandingan sepakbola singkat selanjutnya lari lagi. Kami berlari lagi melewati rumah-rumah penduduk. Kemudian kami belok kiri, memasuki perkampungan yang tak terlalu banyak rumah warga, karena disana lebih banyak area persawahan warga.


Aku dan teman-temanku Tiwi cs, sempat berfoto dengan background persawahan yang terhampar sepanjang mata memandang. Sangat indah. Apalagi cuaca juga sangat indah. Langit biru dan awan putih menghiasi langit pagi itu. Cahaya matahari juga tidak terlalu menyengat karena hari masih lumayan pagi. Baru kira-kira jam 08.00 pagi.


Selesai mengambil foto, kami berenam melanjutkan berlari. Saat sedang lari itu, tiba-tiba Jordan dan Faiz, dua temanku yang tadi di depan ruko jajan siomay, kejar-kejaran lalu menabrak tubuhku hingga aku jatuh tersungkur di atas aspal.


“Aduhh”


Aku mengaduh karena jatuhku tadi lumayan keras. Teman-teman yang melihat aku terjatuh segera mendekatiku. Coco juga berjongkok di depanku. Aku duduk sambil memegangi lututku yang terasa perih akibat jatuh tadi. Sikuku juga sedikit lecet akibat terjatuh tadi.


“Hei Jo..tanggungjawab kamu..lihat..Vivi jatuh gara-gara kamu tabrak tadi”omel Ana sambil memegangi tanganku


“Maaf Vi..aku ga sengaja”ucap Jordan


“Ga sengaja..ga sengaja”omel Tiwi


“Maaf ya Vi..kami ga sengaja”ucap Faiz


“Iya”


“Kamu masih bisa jalan ga? Sini aku bantu”ucap Coco


Aku berpegangan pada lengan Coco. Untung saja celana olahragaku panjang jadi lututku tidak sampai lecet. Masih terlindungi kain celana olahraga. Hanya terasa sedikit  perih karena benturan dengan aspal yang lumayan keras.


“Kalian lanjut aja, biar aku yang jagain Vivi”ucap Coco pada teman-teman


“Kamu ga papa Vi kami tinggal?”tanya Ana


“Aku jalan aja. Masih bisa kok”jawabku


“Ya udah..kami duluan ya”jawab Tiwi dan teman-teman


Akhirnya aku dan Coco jalan sementara teman-teman yang lain lari. Langkah kakiku sedikit pincang, karena memang lututku tadi masih sakit. Tapi aku masih kuat jalan. Aku jalan ditemani Coco. Dengan aku yang berpegangan pada lengannya.