
Keesokan harinya,
Saat pagi menjelang, dan aku sudah terbangun dari tidurku, aku merasakan rasa sakit dan nyeri di area pangkal pahaku. Kulihat Coco sudah bangun dulu. Aku pun segera mandi. Aku kaget melihat bercak darah di atas ranjangku. Darah yang keluar setelah “pembobolan” yang dilakukan Coco. Darah dari “milikku yang paling berharga” semalam.
Aku bingung harus bagaimana, karena ini kamar hotel bukan kamar di rumahku. Jika di rumahku tentu aku akan segera membungkus seprei itu dan kumasukkan mesin cuci. Lha ini kan sprei hotel yang tentu saja yang membereskan dan mencucinya adalah pelayan hotel.
“Kenapa sayang?”tanya Coco melihat aku yang hanya terbungkus selimut hotel menatap sedih ke arah seprei hotel yang dipenuhi bercak darah.
“Ini gimana?”tunjukku pada Coco
Coco malah tersenyum. Dan memeluk tubuhku dari belakang.
“Sudah..biarin aja..nanti petugas hotel yang akan membersihkannya”ucap Coco sambil mencium bahuku.
“Tapi kan aku malu..mana ada noda darahnya”gerutuku
“Mereka pasti paham..ini kan kamar pengantin baru..mereka takkan complain”ucap Coco
“Sebaiknya kau segera mandi, sebelum aku “memakan”mu lagi seperti semalam” ucap Coco sambil menciumi leherku.
Oh tidak..semalam saja rasa capeknya belum hilang..masak dia mau melakukannya lagi pagi-pagi gini..
Aku segera melepaskan pelukan Coco dan berjalan ke kamar mandi.
Acara mandi pagiku berjalan lancar. Tanpa gangguan dari Coco yang tadi menggodaku akan “memakan”ku lagi.
Ternyata begini rasanya berci*ta. M*. Rasanya nano nano. Tapi benar seperti yang dikatakan Anti, nagih...
Aaaghhhh..sudah mulai mesum isi otakku. Terbayang jelas dalam pikiranku tubuh Coco yang sangat kekar, gagah dan berotot.
Sudah Vi..mandi..mandi..sarapan lalu pulang..
Aku segera mengakhiri acara mandiku. Tubuhku pun sudah mulai merasa segar setelah mandi tadi.
*
*
*
*
Dua hari setelah menikah, aku dan Coco pergi honeymoon ke Korea dan Jepang. Kami di sana selama seminggu. Kami memang sengaja pergi ke sana selain untuk bulan madu, juga untuk bernostalgia dengan tempat-tempat yang pernah kami kunjungi dulu.
Selama di Korea dan Jepang, waktu kami tersita karena Coco hanya mengurungku di kamar hotel. Kenapa dia seakan tak ada lelahnya?
Hari ketiga di Korea kami baru bisa jalan-jalan. Itupun karena aku mengeluh dan protes. Jauh-jauh ke Korea hanya di kamar saja, apa bedanya dengan di Indonesia? Mending ga usah ke Korea Jepang.
Akhirnya Coco menuruti keinginanku untuk jalan-jalan. Selama di Korea yang paling berkesan bagiku adalah ketika kami bisa pergi ke atas Namsan Tower dan meletakkan gembok cinta di atas Seoul Namsan Tower.
Menara setinggi 236,7 meter ini dibuka untuk umum pada 15 Oktober 1980, dan sampai saat ini masih berfungsi sebagai menara pemancar bagi radio dan televisi, seperti KBS, MBC dan SBS. Objek wisata yang paling populer di Seoul ini sering dijadikan sebagai lokasi syuting, seperti Winter Sonata, My Girl, Boys Before Flower (BBF), Roftop Prince, My Love from Another Star dan True Beauty.
Kami juga mengunjungi beberapa tempat di Seoul. Seperti Gwanghwamun Square. Tempat yang sempat menjadi lokasi syuting The King Eternal Monarch yang dimainkan Oppa Lee Min Ho dan Kim Go Eun. Kami juga mengunjungi Cheonggyecheon Stream, sebuah aliran sungai bergaya modern yang mengalir di tengah kawasan bisnis Seoul.
Malam harinya kami menikmati indahnya Rainbow Fountain di Banpo Bridge, sebuah atraksi air mancur yang diiringi alunan musik. Kami juga merasakan makan malam di Some Sevit (Hangang Floating Island). Sebuah tempat wisata di atas pulau terapung buatan yang di bangun di atas Sungai Han. dari Some Sevit, kami bisa menikmati pemandangan Banpo Bridge dari sudut yang berbeda. Bangunan ini juga menjadi hits karena sempat dijadikan lokasi syuting film Avengers : Age of Ultron.
Tak lengkap rasanya jika ke Seoul tanpa berbelanja di Dongdaemun Market. Saat berbelanja di sana Coco sempat mengeluh karena aku tak segera membeli barang namun hanya berpindah-pindah dari satu toko ke toko yang lain.
Aku sangat menikmati perjalanan honeymoon kami kali ini. Karena walaupun hanya pergi berdua namun aku dan Coco bisa menghabiskan waktu bersama. Mengunjungi beberapa tempat wisata di sana.
*
*
*
*
Sepulangnya dari honeymoon, aku dan Coco pulang ke rumah. Coco mengajakku tinggal di rumahnya di kota XX, kota kelahiran kami berdua. Dulu kukira setelah pindah ke Cina, rumah besar itu dijual. Ternyata tidak.
Rumah itu awalnya akan diberikan pada dokter Caroline dan kak Rafael sebagai hadiah pernikahan mereka. Namun karena sudah nyaman di Solo, dan sudah memiliki klinik di Solo maka dokter Caroline dan kak Rafael memilih membangun rumah di Solo. Sedangkan rumah di kota XX diberikan pada Coco. Dan jadilah kini rumah itu sebagai rumah kami berdua.
Aku sebenarnya tidak terlalu nyaman tinggal di rumah sebesar ini. Tapi sebagai seorang istri tentu aku akan ikut kemanapun suamiku berada. Aku juga memilih resign dari klinik dokter Caroline untuk mengikuti suamiku.
Bosan? Tentu saja.
Aku yang biasanya memiliki pekerjaan, kini harus di rumah saja. Makanya kuputuskan untuk belajar memasak pada Uti. Serta belajar mengurus rumah tangga. Seperti yang dulu biasa aku lakukan di kos selama kuliah. Hanya saja sekarang aku mengurus tak hanya diriku sendiri tetapi juga melayani suamiku. Cocoku yang tampan. Pangeran hatiku.
Awal-awal pernikahan kami, semua sangatlah indah. Perasaan bahagia dapat bersatu dengan dia yang sangat kucintai dan sangat mencintaiku. Terbayarkan sudah semua penderitaan yang dulu aku alami karena berpisah dengan dirinya.
Sebulan setelah pernikahan kami, keluarga besar Coco mengadakan acara makan dan kumpul keluarga. Baru kali ini aku bisa bertemu dengan sanak keluarga mama dan papa yang mayoritas keturunan Cina.
Setelah menghadiri acara itu, aku baru tahu kalo keluarga Coco sangat beragam. Dengan perbedaan budaya dan keyakinan yang ada di antara mereka namun hubungan kekeluargaan di antara mereka sangat kental sekali.
Saat Coco sedang mengambilkan aku minuman, tiba-tiba seorang gadis muda menghampiri aku. Gadis cantik dengan rambut panjangnya yang indah. Sepertinya usianya masih di bawahku. Mungkin seumuran dengan Dila sekarang.
“Jadi kamu yang bernama Vivi?”tanya gadis itu sambil menatapku
“Iya..saya Vivi”jawabku
Gadis itu seperti sedang memindaiku. Dia melihatku dari atas sampai bawah. Membuatku bingung hingga mengernyitkan dahiku.
“Untung kamu cantik”
Ni anak siapa sih? Ga sopan banget..Kenalan aja ga..
Jujur aku merasa tak nyaman dengan tatapan anak ini, yang melihatku dengan tatapan tidak suka.
Mama datang dari belakang gadis itu.
“Rena, kamu udah kenalan sama Vivi?”tanya mama sambil memegang pundak gadis itu.
Tiba-tiba gadis itu dengan wajah manjanya dan senyum yang mengembang di wajahnya menatap mama yang ternyata dipanggilnya dengan sebutan mami.
“Iya mi..baru saja kita mau kenalan”ucap gadis itu.
“Vi..kenalin ini Renata. Rena ini Vivi, istri Coco sekarang”ucap mama mengenalkan kami berdua.
Aku mengulurkan tanganku pada Renata, dia juga menjabat tanganku.
“Vivi”
“Renata..panggil aja Rena”
“Coco mana Vi?”tanya mama sambil mencari keberadaan Coco.
“Tadi mau ambil minuman ma”jawabku
“Kalian ngobrol aja berdua. Mama mau ngobrol sama keluarga kita di sana”
“Iya ma”
“Iya mi”ucap gadis itu.
Aku dan Renata saling bertatapan. Entah kenapa gadis ini sepertinya tak suka denganku. Padahal aku sama sekali tak mengenalnya. Kami juga baru bertemu sekali ini.
Karena mejaku ini hanya ada aku dan Coco sementara keluarga yang lain berada di meja sebelah kami. Gadis itu kemudian ikut duduk bersamaku.
“Aku dengar kamu pacar Coco waktu SMA ya?”
“Iya”
“Kamu ngapain disini Ren?”tanya Coco sambil menyerahkan gelas jus padaku.
“Makasih”ucapku pada suamiku. Coco malah mencium keningku saat akan duduk di sampingku.
“Iihhh..Coco..kamu sengaja kan nyium istrimu di depanku. Nyebelin”ucap Rena sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ga lah..ngapain? Terserah aku dong dia kan istriku. Udah kamu balik sana ke mejamu”
Gadis itu tak menjawab langsung beranjak dari mejanya dengan ekspresi marah. Dia berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Mirip anak kecil. Membuatku hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan Rena.
“Dia itu siapa?”
“Bukan siapa-siapa. Ga usah dipikirin. Anak kecil kayak gitu”ucap Coco kemudian Coco malah menggeser kursiku supaya mendekat padanya. Membuatku kaget.
“Co..kamu mau ngapain?” tanyaku melihat tangannya yang sudah melingkar di pinggangku dan kepalanya malah disandarkan di bahuku.
“Ibadah”bisiknya ke telingaku.
“Yang pengantin muda..bawaannya mesra-mesraan terus”tiba-tiba seseorang datang.
Rupanya itu Dedi dan Vanya. Mereka berdua datang sambil bergandengan tangan dengan senyum penuh arti. Mungkin mereka melihat kelakuan suamiku yang kadang ga liat sikon.
Coco langsung menegakkan kepalanya. Tapi tangannya tetap melingkar di pinggangku.
“Kenapa kalian baru datang?”tanya Coco.
Dedi dan Vanya duduk di depanku.
“Tadi jemput dia dulu. Nyelesein kerjaan biar ga lembur, baru bisa kesini”jawab Dedi
Akhirnya kami berempat ngobrol bersama. Dengan Coco yang tetap saja melingkarkan tangannya di pinggangku. Sebenarnya aku malu. Tapi mau gimana lagi..
Dari percakapan kami, aku tahu bahwa Coco dan Vanya memang masih kerabat. Mama Vanya sepupu jauh mama mertuaku. Itu kenapa sejak dulu mereka dekat. Aku jadi malu sendiri, karena pernah salah paham pada hubungan Coco dan Vanya. Yang kukira pernah pacaran. Padahal sebenarnya mereka masih saudara.