Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (2) Rena Menghilang



Keesokan harinya,


Setelah mengantar Coco ke mobil, aku segera menghubungi Dila untuk mengajaknya bertemu. Kami janjian di café dekat SMA ku dulu. Setelah mandi, aku bersiap-siap berangkat. Rena yang aku ajak awalnya bingung. Karena aku memang tidak bilang mau mengajaknya ke mana.


“Kita mau kemana sih kak?”tanya Rena.


“Temenin aku ketemu temenku ya”


“Oo..ketemu temen”


Akhirnya kami sampai juga di café. Aku langsung berjalan ke lantai dua café. Tempat janjianku dan Dila. Menaiki anak tangga satu per satu. Kuedarkan pandanganku mencari keberadaan Dila.


Aldi?


Aku kaget karena Dila mengajak Aldi juga. Padahal tadi aku pesan ga usah ngajak Aldi. Kalo Coco tau aku ketemu Aldi, bisa marah besar nanti Coco. Aku terus berdoa semoga Coco ga tau pertemuan ini.


“Kak Vivi mau ketemu kak Aldi?”tanya Rena begitu melihat Aldi dan Dila yang sudah menunggu kami


“Ngawur kamu..aku ngajak ketemuan Dila. Bukan Aldi”


Setelah sampai di meja Dila, aku sapa mereka.


“Halo Dila..halo Al”sapaku


“Halo kak Al”sapa Rena sambil senyum-senyum


Bisa kupastikan, Rena pasti seneng banget bisa ketemu Aldi lagi. Sementara Aldi kulihat malah menatap ke arahku. Membuatku hanya bisa mengalihkan pandanganku. Dila memeluk tubuhku.


“Halo kak..cewek ini ikut juga?”tanya Dila dengan wajah tak suka.


“Iya..kenalin ini…”


Belum selesai aku mengenalkan Rena, Rena sudah memotong omonganku.


“Kemarin kita udah kenalan kok kak”ucap Rena padaku.


“Kemarin aku udah baikan sama kak Vivi” ucap Rena pada Dila


“Syukurlah kalo udah”sahut Dila


“Kemarin Coco marah Vi? Kamu ga papa kan?”tanya Aldi padaku


“Ga papa kok..tenang aja”jawabku


Aku masih risih dengan tatapan Aldi. Bagaimana juga kami pernah dekat. Bahkan Aldi hampir melamarku.


Kami berempat pun duduk. Aku duduk di depan Dila. Rena duduk menghadap Aldi.


“Kak Vivi tumben ngajak ketemuan?”tanya Dila


“Iya..aku sebenarnya mau minta tolong. Rena ini kan mau pindah kuliah ke Jogja”


“Kenapa pindah?”tanya Dila


Rena kulihat menghela nafasnya.


“Semester depan aku udah semester tiga. Tentu saja materi kuliah semakin susah. Aku juga terkendala bahasa. Jadi aku mau pindah ke Jogja aja. Ke U*M”


“Nah..aku mau minta tolong sama kamu Dila..kamu kan juga kuliah di U*M. Kamu bisa kan bantu Rena mencari kos dan liat-liat kampus. Aku sebenarnya pingin nemenin Rena, tapi..”


“Coco ga bolehin”tebak Aldi jitu


“Kok kak Aldi bisa tau kalo Coco ga bolehin?”tanya Rena penasaran


“Nebak aja”jawab Aldi lalu menatapku dengan senyum di bibirnya.


Aku merasa tak enak hati melihat tatapan Aldi. Mungkin Aldi bisa menebak sejitu itu karena dia juga tau kalo suamiku itu posesif banget.


“Aku sih ga masalah kak..kamu sendiri gimana? Mau ga aku temenin liat-liat kampus”


“Beneran kamu mau bantu aku?”tanya Rena tak percaya


“Karena kak Vivi yang minta tolong..aku mau lah. Masak sama mantan calon kakak ipar ga mau bantuin”ucap Dila sambil menahan tawanya dan melirik ke arah Aldi.


Membuat Aldi menatap tajam ke arah Dila. Aku juga kaget mendengar ucapan Dila barusan.


“Dilaaaa”Aldi menatap Dila sambil melotot


“Iya..iya..becanda”sahut Dila sambil menahan tawanya.


“Mantan calon kakak ipar? Maksudnya? Kak Vivi dulu calon kakak iparmu? Calon kak Aldi?”tanya Rena


Kulihat wajah Rena berubah sedih. Seperti mau menangis.


“Ga gitu Ren..”ucapku mencoba menenangkan Renata


“Iya..kak Vivi sama kak Al hampir nikah”


“Dilaaaa”ucapku sedikit marah


Kali ini aku yang merasa becandaan Dila udah ga lucu. Karena aku tahu Rena kemarin mengaku padaku dia suka Aldi.


“Dila cuma becanda kok Rena”ucapku sambil mengelus pundak Rena


“Tapi itu benar kan..kita hampir aja nikah, kalo kamu ga nerima lamaran Coco waktu itu”ucap Aldi membuat aku semakin serba salah.


Kenapa Aldi malah menambahi seperti itu? Gadis di depanku ini suka kamu Al..aduhhh..gimana nih? Rena pasti sangat terluka mendengar kenyataan itu.


Kulihat Rena langung beranjak dari kursinya.


“Rena, mau kemana?”tanyaku pada Rena tapi gadis itu tetap diam dan meninggalkan aku.


“Jangan pergi Vi!”


“Pliss Al..jangan gini. Semua itu udah masa lalu Al..ga usah dibahas lagi. Sekarang aku udah nikah sama Coco. Dan aku udah bahagia dengan kehidupanku. Aku harap kamu juga seperti itu”


“Tapi bagaimana caranya? Katakan! Kalo di hatiku ini selalu saja cuma kamu”seru Aldi


Mendengar pengakuan Aldi, aku merasa Aldi belum juga move-on dariku. Ahh..kenapa harus serumit ini..


“Kamu lelaki yang baik Al..beri kesempatan pada hatimu untuk menerima cinta yang lain. Jangan mencintaiku. Karena aku sudah bersuami Al..Dan aku takkan mungkin menerima cintamu karena selamanya dihatiku hanya ada Coco. Kau tahu itu kan? Berhentilah mencintaiku Al..ada banyak wanita yang siap mencintaimu..jangan sia-siakan waktumu dengan mencintai wanita bersuami”


Kulepaskan pegangan Aldi di pergelangan tanganku. Lalu aku pamit menyusul Rena. Gadis itu pergi entah kemana. Pasti dia sangat marah padaku sekarang. Aku benar-benar merasa serba salah.


Karena aku tak punya nomor hp Rena, akhirnya dengan terpaksa aku harus menghubungi Coco. Dengan segala konsekuensinya. Dengan kemarahan Coco nanti padaku.


Sekarang yang terpenting bagiku adalah menemukan Renata.


“Kenapa Rena marah?”tanya Coco saat kami sudah di dalam mobil.


“Kamu boleh marah sama aku nanti. Sekarang yang penting kita temukan Rena dulu”


Coco menghubungi nomor Rena berkali-kali. Tapi Rena tak mau mengangkatnya. Membuatku semakin panik. Takut jika terjadi sesuatu pada Rena.


“Tenanglah..kita pasti bisa menemukan gadis itu”ucap Coco sambil menggenggam tanganku.


Aku mengangguk pelan.


Kami terus berkeliling kota. Mencari keberadaan Rena. Tapi tetap saja tak ketemu. Kemana Rena pergi? Dia kan ga kenal kota ini. Kalo kesasar gimana? Kalo dia ketemu orang jahat..dirampok? diculik? Ahhh..Rena kamu dimana?


Aku dan Coco berkeliling menyusuri kota berharap menemukan sosok gadis cantik yang tadi sudah aku bikin marah. Tapi aku sama sekali tak menemukannya.


“Kita pulang aja ya?”


“Terus Rena gimana?" tanyaku sambil kuusap butiran airmataku yang menetes.


“Dia udah dewasa. Pasti dia bisa menemukan jalan pulang”ucap Coco sambil mengelus kepalaku lembut.


“Udah jangan nangis”


Akhirnya aku dan Coco pulang. Badanku lemas karena aku tak juga bisa menemukan gadis itu. Aku sangat sedih karena sudah membuat Rena marah tadi.


Sampai di ruang keluarga, aku kaget karena Rena ternyata sudah di rumah dan sedang asyik menonton TV.


“Kalian baru pulang?”tanya Rena sambil makan buah.


“Rena..kamu tadi kemana? Kenapa ninggalin aku tadi?”


“Aku pulang..emang kak Vivi pikir aku kemana?”


“Ya Allah Renaaa”


Rasanya aku benar-benar lega bisa menemukan gadis ini. Sampai-sampai airmataku keluar saking senangnya. Aku menangis setelah menemukan Rena pulang dengan selamat.


“Kok kak Vivi nangis? Jangan nangis kak”


“Sayang..kamu kenapa?”tanya Coco padaku


Aku tak bisa menyembunyikan perasaan bahagiaku karena melihat Rena ternyata sudah di rumah. Padahal tadi aku sudah panik banget. Aku pikir Rena hilang.


“Aku pikir tadi Rena hilang”ucapku sesenggukan.


“Hahahahaha”


Rena malah menertawakanku.


“Ya ampun, kak..kak Vivi kuatir banget aku ilang ya?”


Rena langsung memeluk tubuhku.


“Udah kak..ga papa..aku baik-baik aja kok..Cuma syok bentar doang..terus pulang”ucap Rena sambil memelukku dan mengusap punggungku untuk menenangkanku.


Rena kemudian melepaskan pelukannya. Lalu mengusap airmataku yang masih menetes.


“Udah ya kak”ucap Rena lembut padaku


“Kalian tadi kemana aja? Kamu syok kenapa Ren?”tanya Coco


“Tadi kami ke café deket SMA kita”jawabku sambil sesenggukan.


“Ngapain kesana?”tanya Coco penasaran.


Kulihat wajah suamiku yang sangat serius. Sudah waktunya aku mengungkapkan yang sebenarnya pada Coco. Aku tak mau ada rahasia di antara kami.


“Aku ceritakan di kamar aja ya? Jangan sekarang. Sekarang aku laper banget. Dari tadi belum makan. Gara-gara nyariin Rena”


Akhirnya aku ke ruang makan. Karena sangat lapar, aku minta Uti menyiapkan makanan. Coco yang menemaniku di ruang makan juga ikut makan.


Saat itu aku merasa sangat kelaparan. Panik memikirkan Rena yang hilang membuat naf** makanku meningkat. Aku makan sampai dua piring. Coco yang menemaniku makan, kulihat malah tak jadi makan.


“Kamu dari pagi belum makan, sayang?”tanya Coco yang melihatku menyantap makanan dengan lahap.


“Udah.. Tapi gara-gara panik mikirin Rena, aku jadi kelaparan”


Rasanya semua makanan yang kumakan dari pagi sampai siang tadi sudah hilang tak tersisa karena kugunakan untuk memikirkan keberadaan Rena.


“Kok ga dimakan Co?”tanyaku melihat makanannya yang belum disentuh


“Liat kamu aja aku langsung kenyang”jawab Coco sambil tersenyum padaku.


Aku pun menghabiskan piring keduaku sampai habis isinya. Masakan Uti memang yang terbaik. Semua masakan Uti selalu bisa menambah naf** makanku.