Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Ulah Jahil Dila



Dila ngomong apaan barusan? Bisa-bisanya dia ngomong aku pacar Aldi..


Aku kaget hingga mataku terbelalak mendengar ucapan Dila.


“Uhukkk..uuhuukk”Coco tiba-tiba tersedak


“Beneran Vi kamu udah jadian sama Aldi?”tanya Dedi


“Kok ga bilang-bilang Vi kalian udah jadian?”tambah Daniel


Coco juga menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Seolah menuntut penjelasan.


Kenapa aku jadi terpojokkan dengan ucapan Dila? Coco dan teman-temannya kenapa juga mesti ada disini sih? Membuatku menyesali keputusanku rapat di tempat ini.


“Bukan..bukan..kak Vivi bukan pacar kak Al”sanggahku


“Kamu ngomong apaan sih Dil?”semprot Aldi


“Lho..kak Al kan suka kak Vivi”ucap Dila dengan polosnya


Doooeeenggggg…


Semua mata langsung mengarah padaku. Peserta lomba olimpiade yang duduk di sebelahku malah sekarang lebih tertarik mendengarkan penjelasan hubunganku dengan Aldi.


Kenapa jadi begini? Ya Allaaaahh..cobaan apalagi ini?


“Dilllaaa..jangan ngomong sembarangan seperti itu”Aldi terlihat menahan marah pada adik kecilnya yang sudah membongkar rahasia kecilnya. Meskipun sebenarnya aku juga sudah tahu itu.


“Dila jangan salah paham.. kak Vivi sama kak Al Cuma berteman kok..ya kan Al?”


“Sudah..sudah..kalian katanya mau kerja kelompok kan..kakak pesankan g*ca* sekarang. Daripada disini lama-lama malah bikin rusuh”ucap Aldi lalu segera memesan di aplikasi sewa mobil online untuk memesankan mobil yang akan mengantarkan Dila dan teman-temannya ke tempat guru lesnya untuk kerja kelompok.


“Tapi aku masih mau disini”rengek Dila sambil memegang lenganku.


“Driver-nya bentar lagi datang. Jangan banyak alasan. Kakak sama kak Vivi masih ada pekerjaan”ucap Aldi


“Iya deh..”akhirnya Dila menurut permintaan kakaknya dengan wajah cemberut.


Begitu driver g*ca* datang, Dila berpamitan padaku.


“Dila pergi dulu ya kak..maaf kalo tadi kata-kata Dila menyinggung kakak”ucap gadis kecil itu padaku


“Iya..gapapa..hati-hati ya..belajar yang rajin”jawabku sambil mengusap kepala Dila.


“Aku mau kak Vivi jadian sama kak Al”


“Dillaaaaaa”seru Aldi


“Iya..iya..kak..dadah kak Vivi”


“Dadahhh”


Akhirnya Dila dan teman-temannya pergi kerja kelompok.


“Aku antar pulang sekarang kak?”tanya Aldi


Aku pun mengangguk. Aku segera membereskan barang-barangku lalu bersiap pulang. Sebelum pulang aku pamitan pada Coco dan teman- temannya.


“Ga pulang bareng kita aja Vi? nanti biar diantar Coco”ucap Daniel


Aku hanya membalasnya dengan senyuman.


“Duluan ya kak”pamit Aldi pada Coco, Dedi dan Daniel.


Mereka hanya mengangguk saja.


“Duluan ya Fel, San, Chard, Ma”pamit Aldi pada Feli, Sandra, Richard, dan Ema


“Iya..hati-hati ya”


“Semoga olimpadenya lancar ya..bye”pamitku.


Aku pun akhirnya pulang bersama Aldi menaiki motor sport Aldi. Sepanjang perjalanan kami mengobrol bersama. Aldi masih tak enak hati dengan ucapan Dila di café tadi. Sampai di depan gerbang rumahku.


“Maafin Dila ya kak..anak itu memang suka semaunya sendiri”


“Iya..gapapa”


“Kakak jangan salahpaham..aku tak pernah bilang sama Dila kalo kak Vivi pacarku. Itu semua murni pemikiran Dila sendiri kak..maaf ya kak”


Aku lihat Aldi benar-benar takut aku salahpaham.


“Iya..iya..aku tahu. Aku ga marah kok”


“Syukurlah..aku takut kakak salahpaham padaku dan Dila”


“Biasa anak kecil..suka menyimpulkan sendiri”


“Emang dasar anak itu..biar nanti aku kasih dia pelajaran”


“Eh..jangan main kasar ya Al..aku beneran ga papa lho..aku ga marah..jadi jangan marah sama Dila”


Aku jadi takut sendiri mendengar Aldi akan memberi Dila pelajaran.


“Hahaha..kakak takut aku mukul atau main kasar sama Dila ya? Kakak tenang saja..Semarah apapun aku pada Dila aku tak pernah main tangan kok kak..Karena aku sayang Dila. Paling aku cuma menegurnya saja.. Bagaimanapun juga dia adikku”


“Syukurlah..aku pikir kamu akan memberi Dila pelajaran itu artinya kamu akan menghajarnya..aku kan jadi parno”


“Hahahaha..”Aldi malah tertawa mendengar ucapanku.


Dari pembicaraan singkat kami, aku bisa lihat Aldi adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adik semata wayangnya itu. Walaupun adiknya sudah membuka rahasianya, tapi karena aku sudah tahu makanya Aldi paling hanya akan menegur dan menasehati adiknya. Aldi juga menyadari betapa adiknya itu sangat menyukaiku makanya dia tak bisa sepenuhnya menyalahkan adik kecilnya itu.


Andai perasaanku tak dikuasai Coco pasti aku akan menerima pengakuan cinta Aldi padaku. Dan sekarang kami pasti sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Walaupun selisih satu tahun tapi Aldi benar-benar cowok yang sangat dewasa untuk anak seusianya. Dia juga sangat baik, sopan, dan menghormati wanita sepertiku.


Sayangnya perasaanku tak sejalan dengan pemikiranku. Hati ini sudah melabuhkan pilihannya pada Coco. Meskipun hubungan kami merenggang seperti ini tapi aku tetap tak bisa menghapuskan Coco dari hatiku. Masih ada satu sisi dalam diriku yang berharap hubungan kami bisa kembali seperti dulu lagi.


Walaupun kami sudah jarang bertegur sapa dan ngobrol seperti dulu, tapi kehadirannya di sekolah setiap hari selalu kutunggu. Bisa melihatnya dari jauh saja aku sudah senang. Kadang jika mengingat kenangan indah selama kami di kelas XI membuatku ingin menangis. Kesedihan karena perpisahan dengan dia yang kusayangi benar-benar pukulan telak bagiku.


Senyum dan suara tawanya yang dulu selalu menghiasi hari-hariku terasa sangat jauh dari jangkauanku. Aku hanya bisa melihat dia tertawa dari kejauhan. Ingin rasanya aku teriak dan meluapkan semua kekesalan dalam hatiku. Meluapkan semua gejolak hatiku. Apalagi jika aku melihat dia bersama Feli. Benar-benar hatiku menjadi rapuh. Ingin aku menangis namun kutahan.


Selalu kukatakan pada diriku sendiri, untuk apa menangisi seseorang yang bahkan tidak menganggap kita ada? Untuk apa menangis jika dia saja tak merasakan yang aku rasakan? Kami hanya teman. Sebatas teman. Yang kebetulan pernah sangat dekat. Itu saja.