
Akhirnya acara resepsi pernikahanku berakhir. Semua tamu undangan telah pergi satu per satu. Menyisakan beberapa sanak keluarga dan beberapa teman saja. Kulihat beberapa pelayan hotel mulai merapikan piring-piring dan semua dekorasi pernikahanku. Aku pun duduk di kursi pengantin yang sejak tadi hanya menjadi pajangan sepanjang acara resepsi.
“Sayang, Bunda sama Ayah mau istirahat dulu..kalian cepet istirahat ya..udah malam”ucap Bunda padaku
“Iya nak..mama juga udah capek banget”ucap mama
“Ayo kita juga mesti istirahat”ajak Coco padaku sambil mengulurkan tangannya.
Aku berjalan dengan langkah gontai. Kakiku seakan tak ada tenaga lagi untuk melangkah.
Aku merasa seluruh tubuhku sangat lelah. Ternyata resepsi pernikahan sangat menguras tenaga. Bahkan untuk tersenyum rasanya aku sudah tak sanggup. Setelah berpamitan pada semuanya, aku dan Coco masuk lift berdua.
“Capek?”tanya Coco
“He em”aku hanya berdehem sambil menyandarkan kepalaku di bahunya.
Yang kuinginkan sekarang adalah mandi air panas untuk melemaskan otot-otot tubuhku yang sudah pegal-pegal dan segera tidur.
Tapi tunggu dulu..tidur? Aku melupakan satu hal..Malam pertamaku apa kabar?
Malam ini adalah malam pertamaku bersama Coco. Bersama suamiku.
Ya Allah..apa yang harus aku lakukan? Benarkah malam ini aku akan melewatkan malam pertamaku bersama Coco? Hanya berdua saja?
Tiba-tiba otakku yang tadinya lelah, mendadak cemerlang. Rasa kantukku pun langsung menghilang berganti rasa cemas dan gelisah. Karena ini artinya aku akan menjalani malam pertama bersama Coco suamiku. Beragam pertanyaan berseliweran di kepalaku. Memaksa otakku untuk bekerja kembali.
Begitu pintu lift terbuka, jantungku langsung berdetak tak karuan. Karena kamar hotel tempatku menginap tinggal beberapa langkah lagi. Ditambah Coco yang tiba-tiba malah menggendong tubuhku di depan. Mirip pengantin baru di drama korea kesukaanku. Ala bridal style katanya. Membuatku kaget setengah mati.
“Co..kamu ngapain? Turunin aku..aku mau jalan aja..aku masih kuat kok”
“Udah diem..kamu akan mengganggu tamu hotel yang lain”
Mendengar kata-kata Coco, aku langsung memelankan suaraku.
“Cepet turunin..aku kan berat”bisikku pada Coco
Dia malah hanya tersenyum.
“Aku tahu kamu capek..makanya diem aja..kita sudah sampai”Coco membuka pintu hotel tanpa menurunkanku.
Jantung dan tubuhku langsung gemetaran begitu mengalami kejadian yang kata orang romantis. Tapi bagiku, itu tadi malah semakin memperburuk kondisi jantungku yang detaknya semakin cepat saja. Apalagi sekarang kami sudah sampai di dalam kamar hotel yang memang disediakan pihak hotel untuk kami berdua. Kamar yang sudah dihias dengan sangat apik untuk kamar pengantin kami berdua.
Coco menurunkanku perlahan. Suasana kamar yang hanya dihiasi lampu tidur dan beberapa lilin aromaterapi, sontak membuat tubuhku merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Suasana menjadi canggung antara aku dan Coco.
Kulepaskan sepatu high heels yang sangat menyiksaku selama dua jam tadi. Aku duduk di sofa sambil mengurut-urut kakiku. Kulihat Coco mulai melepas jas, rompi dan dasi yang dipakainya. Coco juga memijit lehernya sendiri. Melihat Coco yang hanya mengenakan kemeja lengan panjang slim fit putih itu, membuat tubuhku langsung panas dingin. Akhirnya kuputuskan untuk berganti baju dulu, karena baju pengantin yang kukenakan sangat berat.
“Aku ganti baju dulu ya Co”ucapku
“Mau aku temani?”goda Coco padaku membuat aku langsung tersipu malu
“Ihhh..ga usah mulai deh..udah ah..aku ke kamar mandi dulu”
Aku berjalan ke arah lemari pakaian yang siang tadi sudah kutaruh beberapa pakaian ganti dan…lingerie? Aku menatap lama lingerie warna peach yang kubeli bersama Anti beberapa hari yang lalu. Model lingerie ini memang lebih tebal dari beberapa lingerie lain yang berbahan transparan. Lingerie yang kubawa berbahan sutra. Aku bingung haruskah aku memakainya sekarang?
“Kamu lihat apa? Ambil baju lama banget”suara Coco langsung membuyarkan lamunanku dan segera kusambar lingerie warna peach itu.
“Emm..gak kok ga papa..aku ganti baju dulu ya..kamu lihat TV aja dulu”ucapku sambil menyembunyikan lingerie peach itu dibalik tubuhku.
Aku segera berjalan ke arah kamar mandi. Kuletakkan lingerie itu di gantungan yang ada di kamar mandi. Sementara itu aku lepaskan gaun pengantinku. Karena aku tak ingin gaunku basah, aku meminta Coco menggantung gaunku di luar kamar mandi. Akhirnya aku bisa mandi air panas. Guyuran air panas dari shower yang mengenai tubuhku perlahan-lahan mengobati pegal-pegal yang sejak tadi aku rasakan. Aku bisa merasakan aliran darahku yang kembali normal setelah mendapat “pijatan” dari air panas.
Sejak dulu, aku memang terbiasa mandi air panas saat merasa lelah dan pegal-pegal. Mandi air hangat juga mempunyai beberapa manfaat, salah satunya adalah mengurangi stress. Sensasi hangat dari air yang disiram ke seluruh tubuh dapat memberikan efek tenang pada tubuh, sehingga bisa mengurangi bahkan menghilangkan pikiran serta perasaan stres.
Pegal-pegal di tubuhku langsung menghilang begitu selesai mandi air panas. Setelah berkali-kali mencoba meyakinkan diriku sendiri, aku pakai juga lingerie-ku. Tentu saja dengan perasaan dan pikiran yang berlompatan kemana-mana. Karena malam ini, aku akan menyerahkan “kehormatanku” sebagai seorang wanita, kepada suamiku tercinta. Sesuatu yang sangat berharga yang selama dua puluh tiga tahun ini aku jaga karena hanya akan aku serahkan pada suamiku seorang.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Hufffttt..Ayo Vi..kamu pasti bisa..
Kubuka gagang pintu kamar mandi perlahan dengan detak jantung yang menderu kencang. Pintu terbuka sedikit, kukeluarkan kepalaku memandangi seluruh isi kamar hotel.
“Cari siapa?”Coco rupanya sedang berdiri di sebelah pintu. Membuatku kaget hingga membelalakkan mata.
“Gantian ya..aku juga mau mandi”ucap Coco sambil tersenyum dan berjalan masuk kamar mandi.
“Ah iya..masuklah..aku..aku juga sudah selesai mandi”ucapku dengan terbata-bata sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
Aku berjalan ke arah ranjang pengantin yang sudah dihias sangat indah dengan hiasan bunga segar warna pink dan warna putih dengan dedaunan hijau. Di tengah ranjang sudah ditabur beberapa helai mawar merah yang membentuk gambar hati dan sepasang handuk putih yang sudah dibentuk menyerupai angsa putih yang saling berhadapan hingga membentuk simbol hati. Beberapa lilin aromaterapi yang menyala di dekat ranjang. Menghadirkan suasana yang sangat romantis di dalam kamar pengantin kami.
Kudengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Coco sedang mandi.
Aku harus bagaimana sekarang? Apa aku tidur dulu? Atau aku harus menunggunya? Arrgghhh..aku tak bisa berpikir lagi. Aku bingung. Dan lagi hiasan di tengah ranjang ini..harus aku apakan? Haruskah aku singkirkan? Tapi hiasannya bagus banget.. sayang jika harus disingkirkan begitu saja..Tapi kalau tidak disingkirkan aku harus tidur dimana? Masak di sofa..
Semua ini lama-lama bisa membuatku gila.
“Lagi mikirin apa? Serius banget”suara Coco lagi-lagi berhasil mengagetkanku yang sedang asyik bicara sendiri.
Aku pun menoleh ke arah Coco.
Ya Allah..Apa lagi ini? Coco kenapa..kenapa jubah mandinya ga ditutup rapat?
Aku segera membalikkan tubuhku karena tak kuat melihat tubuh Coco yang hanya menggunakan handuk mandi yang dililitkan dari pinggang ke bawah, sementara jubah mandinya tadi tidak ditutup rapat. Membuat mata suciku ternodai melihat tubuh suamiku yang kekar. Roti sobek yang waktu wisata akhir kelas XI hanya kulihat sepintas, tadi benar-benar terpampang nyata. Aku harus tenang..sabar Vi..sabar..
Ekor mataku menangkap Coco yang kini berjalan ke arahku. Aku harus bagaimana? aku benar-benar salah tingkah.
Aku memang sudah bukan anak ABG, aku wanita berusia dua puluh tiga tahun. Sudah bukan anak-anak lagi. Hanya saja, dari dulu aku bukan penikmat film porno atau film dewasa yang kadang secara vulgar memperlihatkan tubuh polos pemain utamanya atau dengan jelas menampilkan adegan ranjang 21+. Aku hanya pernah menontonnya beberapa kali, itupun karena ditutup mata oleh Coco saat masih kelas XI dan karena diajak menonton oleh Chika dan Lala.
Selama menjadi perawat, aku juga sudah sering menyaksikan secara langsung tubuh polos pasien. Dan itu semua tidak pernah mempengaruhiku karena aku selalu menekankan pada diriku bahwa aku harus seprofesional mungkin. Yang ada dihadapanku adalah pasien, dan aku adalah perawat. Jadi desiran-desiran aneh antara lelaki dan wanita tak pernah muncul dalam kamusku selama bertugas.
Tapi dia..dia bukan pasienku. Dia lelaki yang kucintai. Yang kurindukan selama enam tahun ini. Lelaki yang mengisi perjalanan hidupku dan mengisi hatiku selama sembilan tahun ini. Lelaki yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku. Yang hanya dengan melihat wajahnya saja selalu berhasil membuat jantungku berdetak sangat kencang. Sekarang ditambah melihat tubuhnya yang terlihat sangat kekar dengan perutnya yang penuh lekuk sempurna. Roti sobek yang terpahat sempurna. Aagghhh..aku benar-benar bisa gila malam ini jika begini terus..