
Selama di Jogja, aku dan Coco menginap di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta yang dahulu dikenal sebagai Ambarrukmo Palace Hotel. Kami menginap di sana karena letaknya yang sangat strategis dan dekat dengan pusat kota. Hari pertama di Jogja, aku merasa sangat bosan, karena harus menunggu Coco selesai meeting.
Akhirnya aku video call Rena dan Dila mengabarkan keberadaanku di Jogja.
“Kak Vivi di Jogja?”
“Iya, kalian dimana sekarang?”
“Aku di kampus kak”jawab Rena.
“Aku juga di kampus” jawab Dila.
“Kalian mau ga aku ajak jalan-jalan? Aku bete nih di hotel mulu”
“Emang Coco kemana kak?”tanya Rena
“Coco masih ada meeting sama klien”
“Aku sebenarnya pingin ikut jalan-jalan kak..tapi bentar lagi aku ada kuliah”jawab Rena
“Aku abis ini longgar kak”jawab Dila
“Bagus..aku kesana sekarang ya..sekalian aku pingin lihat kampus U*M”
Aku senang sekali karena ternyata Dila sudah tidak ada jam kuliah. Aku pun memutuskan untuk menyusul Dila ke kampusnya saja. Sekalian jalan-jalan ke U*M. Sebelumnya aku menghubungi Coco, tapi telponku tidak segera diangkat. Aku pun mengirimkan chat untuk mengabarkan aku main ke kampusnya Dila.
Dila sekarang kuliah di Jurusan Teknik Informatika U*M semester tiga. Aku ke kampus Dila naik go*ar. Dari tempatku menginap ke U*M memakan waktu kurang lebih 10 menit jika tidak macet.
Memasuki area kampus, aku melihat banyak mahasiswa berseliweran. Mengingatkanku pada masa-masa aku kuliah dulu. Bagaimanapun juga masa kuliah adalah masa yang indah untuk dikenang. Meskipun aku melewatinya dengan penuh perjuangan karena saat kuliah aku terpisah jauh dengan Coco. Selama enam tahun aku berjuang sendiri menyelesaikan kuliahku ditemani sahabat-sahabatku dan Aldi juga tentunya.
Ternyata benar apa kata Coco, tanpa sadar aku mulai mengingat Aldi begitu mengingat masa-masa kuliahku. Pantas saja Coco selalu cemburu jika aku membahas kenangan selama kuliah. Termasuk kenangan naik kereta dari Solo-Jogja.
Sampai di kampus Dila, aku disuguhi pemandangan kampus U*M yang berjuluk kampus hijau, saking banyaknya pepohonan yang berdiri kokoh sepanjang jalan menuju kampus Dila. Pemandangan mahasiswa yang saling berdiskusi di bawah rindangannya pepohonan.
Hari itu aku memakai midi dress warna putih yang aku padu padan dengan sweeter cream. Tak lupa aku memakai sneakers putih. Sesampainya di kampus, aku pun menghubungi Dila.
“Kamu dimana Dila? Ini aku dah sampai di depan kampusmu”
“Kak Vivi tunggu bentar di kantin ya..aku mesti ketemu dosen bentar. Ga papa kan kak?”
“Oya udah..aku ke kantin dulu”
Rupanya Dila harus ketemu dosennya. Terpaksa aku jalan-jalan sendiri menuju kantin.
“Vivi?”
Seseorang memanggil namaku. Ketika aku menoleh ke arah suara,
“Arsy?”
Kulihat Arsy jalan ke arahku sambil tersenyum. Penampilannya kali ini benar-benar keren. Dosgan. Dosen Ganteng. Sangat berbeda dengan penampilannya dulu saat di SMA. Kulihat Arsy mengenakan kaos warna hitam dipadu dengan setelan jas dan celana berwarna dark grey. Apalagi dengan bentuk tubuhnya yang sekarang lebih atletis. Arsy terlihat lebih manly.
“Ngapain kamu kesini? Kamu sama siapa?”tanya Arsy begitu di dekatku
“Aku sendirian aja..kebetulan aku baru di Jogja jadi aku sekalian mampir mau ketemu Dila”
“Terus Dilanya kemana?”
“Katanya ketemu dosennya dulu gitu”
“Terus ini kamu mau kemana?”
Di tengah percakapan kami beberapa mahasiswi cantik-cantik yang melintas dengan manjanya menyapa Arsy.
“Pak Arsyyy”
“Oh yaa” ucap Arsy sambil tersenyum pada ciwi-ciwi itu.
“Siapanya nih Pak?”tanya salah seorang dari mereka
“Bukan istrinya kan Pak?”
“Kenalin ini istri bapak”goda Arsy
“Heh ngawur”langsung kupukul lengan Arsy yang mengenalkan aku sebagai istrinya
“Ga kok de..saya bukan istrinya”
“Ihhh..pak Arsy bikin spot jantung deh..kirain beneran istrinya”
“Hahahaha…”Arsy malah tertawa terbahak-bahak
“Ya udah..mari pak Arsy”
Ciwi-ciwi itu pun langsung meninggalkan aku dan Arsy sambil senyum-senyum pada dosgan itu.
“Kamu tuh ga berubah ya..sukanya becanda mulu”
“Hahahaha..memangnya kenapa?”
“Kalo Coco tahu..bisa “habis” kamu tar”
“Suamimu itu emang dari dulu cemburuan ya..kok kamu mau sih sama cowok cemburuan gitu?”
“Itu tandanya kan dia cinta sama aku dan ..ini nih”kataku sambil kuusap perutku yang tertutup dress sehingga perut buncitku tak terlalu terlihat.
“Whattt? Kamu udah bunting?”
“Hamil”
“Iya..sama aja”
“Ya beda..kalo kucing tuh yang bunting”
“Hahaha..”Arsy tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku.
Akhirnya Arsy mengantarku ke kantin dan kami melanjutkan ngobrol di sana. Sepanjang perjalanan kami ke kantin, ga usah tanya berapa ciwi-ciwi yang menyapa ramah dosgan itu dan menanyakan siapa aku. Sepertinya di kampusnya Arsy sangat terkenal.
Di sepanjang jalan juga, banyak dedek-dedek cogan yang betebaran di kampus Dila. Memang beda ya, kampus umum dengan akademi keperawatan. Jika di kampusku dulu jumlah mahasiswa cowok bahkan bisa dihitung dengan jari saking limited edition. Karena mayoritas adalah mahasiswi. Maklum saja rata-rata perawat adalah cewek. Sementara perawat cowok kan jumlahnya memang ga banyak. Tak heran dulu kak Sandy segitu terkenalnya.
Sementara di kampus Dila yang notabene adalah kampus umum, cogan-cogan betebaran dimana-mana. Anehnya banyak di antara mereka, cogan-cogan itu yang mungkin adalah mahasiswa Arsy, beberapa menyapa Arsy lalu menanyakan aku itu siapanya Arsy.
“Ceweknya ya Pak?”
“Iya”
Lagi-lagi Arsy mengatakan aku ceweknya.
“Hei..jangan mulai lagi deh”kupukul lengannya lagi dengan keras.
Karena dia seenaknya saja mengatakan aku adalah ceweknya. Jika Coco sampai tahu, pasti dia akan sangat marah.
“Hahaha..becanda Vi”ucap Arsy sambil mengelus lengannya
“Dari dulu kamu tuh kalo mukul keras banget sih Vi? Sakit tau”
“Makanya ga usah aneh-aneh deh..tadi bilang aku istrimu terus sekarang cewekmu..kalo cewek yang suka kamu denger bisa patah hati nanti”
Sampai di kantin kampus Dila, aku dan Arsy duduk di salah satu meja yang masih kosong. Desain meja kursi di kantin ini mirip meja kursi di warung soto atau warung angkringan. Dengan meja dan kursi yang memanjang sehingga bisa memuat beberapa orang sekaligus.
“Pesan apa Vi? Aku pesenin”
“Aku pesen siomay sama teh anget aja ya”
“Oke”
Akhirnya Arsy yang memesankan aku. Dan saat aku menunggu Arsy, beberapa cogan-cogan malah mendekati aku.
“Mahasiswi baru ya?”
“Maaf de..saya bukan mahasiswi sini”
“Kok manggilnya de’ sih? Boleh kenalan ga?”
Ini dedek-dedek cogan apa ga liat kalo aku udah lebih tua dari mereka sih..Masak dikira mahasiswi. Emang wajahku masih cocok jadi mahasiswi? Hahaha..
Tiba-tiba Arsy datang sambil membawa pesanan kami.
“Kalian ngapain disini?”
“Eh Pak Arsy..maaf Pak..ini mau ngajak kenalan mahasiswi cantik ini”
Aku hanya cekikikan dibilang mahasiswi cantik. Aduh dedek-dedek cogan..Andai aku masih seusia kalian pasti dengan senang hati aku menerima ajakan kalian untuk kenalan. Eh..apaan sih? Kelamaan di kampus bikin pikiranku jadi eror. Berasa muda lagi. Ga sadar udah nikah.
“Udah pergi aja..cewek ini udah ada yang punya”ucap Arsy dengan wajah serius.
Cogan-cogan itupun pergi setelah mendapat tatapan tajam dan wajah serius Arsy.
“Makasih” kataku saat Arsy menyerahkan siomay dan teh anget pesananku.
“Eh Ar..emang wajahku masih pantes jadi mahasiswi?”tanyaku penasaran
“Masih lah”
“Beneran?”
“Eh ga percaya..kamu tuh masih cocok jadi mahasiswi di sini..Wajah masih imut gitu”
“Gombal”
“Hahaha..kok ga percaya sih Vi?”
“Lha kan kita seumuran?”
“Tapi beneran wajahmu itu masih imut banget. Makanya mahasiswa tadi ngirain kamu mahasiswi..masih cantik gitu”
“Makasih ya pujiannya”
Aku dan Arsy ngobrol berdua karena rupanya Dila lumayan lama juga ketemu dosennya. Coco juga sampai sekarang belum menghubungiku.
Ditengah percakapan kami berdua, Arsy melambaikan tangannya pada seseorang.
“Siapa Ar?”tanyaku sambil menoleh ke arah seseorang yang berada di belakangku yang berjalan menuju mejaku dan Arsy.
“Temen dosen”
Seorang cowok ganteng dengan wajah mirip oppa-oppa korea yang datang mendekat. Badannya tinggi besar. Sepertinya dia lebih tinggi dari Cocoku. Dengan sorot mata yang tajam dan garis wajah yang tegas. Dari balik kemeja biru panjangnya yang dilipat sampai siku itu, bisa kulihat tangannya yang kekar dan berotot.
“Sama cewek cantik kok diem aja sih Ar?”
Kenapa di kampus betebaran dosen ganteng sih? Hahaha..Pasti mahasiswi di kampus ini gagal fokus kalo udah diajar sama dosen ganteng seperti Arsy dan temannya ini.
“Eh Adrian..kenalin ini Vivi”
“Vivi”
“Adrian”
Akupun berkenalan dengan Adrian.
“Siapanya Arsy?”
“Aku..”
“Ini biniku”
“Ar..”aku melotot pada Arsy yang selalu bercanda.
“Hahaha..”Arsy malah tertawa terbahak-bahak melihat aku yang melotot padanya.
“Becanda Vi..Vivi ini temen SMA ku”
“Oh..temen SMA. Masih single kan?”tanya Adrian
“Ga usah macem-macem kamu..dia udah punya suami”
“Yahh..kirain masih single”wajah Adrian berubah sendu.
“Kalo Vivi masih single jelas udah aku “sikat” duluan lah”
Kami pun ngobrol bertiga. Asyik juga ternyata ngobrol dengan dosen seperti Arsy dan Adrian yang selalu punya topik menarik untuk dibahas. Kulihat dari kejauhan, Dila dan temannya datang mendekat. Aku langsung melambai pada mereka.
“Siapa Vi?”tanya Arsy begitu melihat aku melambai pada seseorang
“Oh..itu Dila”
“Maaf ya kak..nunggunya lama ya?”ucap Dila begitu sampai di mejaku.
“Iya..ga papa..ada yang nemenin kok”
“Ayo duduk sini”aku menarik Dila dan temannya duduk di sampingku di depan Arsy dan Adrian.
Dila dan temannya begitu melihat lawan bicaraku selama menunggunya, mendadak wajahnya berubah. Kenapa kulihat Arsy dan Adrian wajahnya jadi beda ya? Kok mereka jadi serius gitu wajahnya.
“Oh..pak Arsy sama Pak Adrian”
“Kok kalian berdua jadi pendiem sih..mentang- mentang ada cewek cantik ya? Sok jaim”godaku pada Arsy dan Adrian yang mendadak jadi pendiem.
“Eh..ini siapa Dila?”
“Oh..ini temenku kak..kenalin kak Vivi, ini Chiara”
“Vivi”
“Chiara”
Akupun berkenalan dengan Chiara. Chiara sangat cantik, wajahnya begitu imut dan innocent.
“Chiara cantik banget ya?”
Sambil menunggu Coco, aku ngobrol dengan Dila dan Chiara. Sementara Arsy dan Adrian sejak kedatangan Dila dan Chiara malah jadi pendiam. Semakin aku perhatikan, Dila mengingatkan diriku saat masih muda. Masih SMA dulu. Aku seperti melihat bayangan diriku setiap bersama Dila.