
Akhirnya kami sampai di hotel Alila. Rupanya dia mengajakku kesitu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku disini. Di hotel bintang lima terbaik di kota Solo. Ternyata bagian dalam hotel ini sangatlah indah. Mewah dan megah. Dia kemudian mengajakku ke bagian rooftop hotel ini.
Ketika berada di dalam lift, setiap ada orang yang masuk ke lift, dia selalu berdiri di depanku. Seperti ingin melindungiku. Membuatku merasa tersanjung dengan sikapnya padaku.
Sepintas kupandangi sosok di depanku ini. Dia jadi tambah tinggi. Badannya juga semakin atletis. Sepertinya dia sering nge-gym. Karena lengannya terlihat kekar. Dan bahunya juga terlihat semakin lebar.
Bagaimana kabar roti sobeknya ya? Aahh.. dasar mesum!! Kenapa aku malah mikirin roti sobek yang indah itu?
Segera kubuang jauh pikiran kotor dalam kepalaku yang justru membayangkan roti sobek berlapis-lapis milik Coco yang sangat indah itu.
Sesampainya di rooftop, kami menuju kursi di salah satu sudut rooftop. View dari atas rooftop hotel ini sangatlah indah. Bisa kulihat pemandangan kota Solo dari atas sini. Kota Solo di malam hari.
Sambil menunggu makanan datang, kami berbincang-bincang ringan. Dia bertanya tentang beberapa hal. Kujawab apa adanya.
Kemudian makanan pesanan kami pun datang. Jujur makanan di sini aku tak tahu apa namanya. Karena baru kali ini aku ke Agra Rooftop Lounge ini. Belakangan aku tahu, makanan yang kami pesan adalah paket menu Romance in The Sky. Nama Romantic Dinner Package yang ditawarkan di hotel ini.
Selesai makan, kami berbincang-bincang lagi. Tetapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, dia terlihat lebih serius. Hingga pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya.
“Kenapa kamu meninggalkan aku?” tanyanya mengagetkanku.
“Kenapa Vi? Kenapa kamu meninggalkan aku enam tahun lalu?”
“Apa kau tahu apa yang selama ini sudah kualami karena kamu meninggalkan aku seperti itu?"
Dia mulai meluapkan emosinya. Emosi dalam hatinya. Membuatku hanya sanggup terdiam. Aku tak berani menjawab pertanyaannya. Sorot matanya penuh kemarahan. Aku tak sanggup menatap wajahnya yang menatapku dengan tatapan penuh kemarahan. Aku hanya bisa tertunduk.
“Kenapa kamu diam?”bentaknya mengagetkanku dan orang-orang di rooftop ini.
“Maafkan Aku Co” jawabku lirih sambil menahan sesak di dadaku
“Aku tak butuh permintaan maafmu. Aku butuh penjelasanmu” teriaknya lagi
Kami pun bertengkar hebat malam itu. Dia benar-benar marah. Disaksikan beberapa orang di rooftop kala itu. Suara kerasnya membuat pelayan hotel sampai menegur kami.
Aku ingin menangis. Aku tak bisa mengungkapkan alasanku meninggalkannya. Kutahan air mataku agar jangan sampai mengalir.
“Apa kamu ingin melihat aku menikah dengan wanita lain? Apa itu maumu?”
Aku ingin mengelak. Bukan itu mauku. Tapi aku tak bisa.
“Iya” Aku berbohong karena terdesak keadaan, karena dia terus mendesakku.
“Apa?” dia seakan tak percaya dengan perkataanku
“Aku mau pulang sekarang” pintaku
Aku sudah tak sanggup lagi meneruskan pembicaraan ini. Ini terlalu menyakitkan. Hatiku sakit. Dadaku terasa sesak.
“Baiklah..jika itu maumu”
Aku pikir dia mau mengantarkan aku pulang setelah ini.
“Sebentar lagi aku akan menikah”katanya sambil menatapku.
Degh..
Serasa disambar petir, Aku tak percaya dengan yang barusan kudengar.
Dia akan menikah? Aku tak salah dengar kan?
Dia bilang..akan menikah?
Cocoku?
Aku tak pernah bermaksud menyuruhnya menikahi gadis lain.
“Baguslah kalo begitu” kataku lemas.
Akhirnya kami pun pulang. Hari pun telah larut. Dia mengantarkanku sampai di rumah kos. Sepanjang perjalanan pulang, kami tak berbicara sepatah kata pun. Kami sama-sama diam. Aku terus memikirkan perkataannya di rooftop tadi. Kata-kata “dia akan menikah” terus tergiang-ngiang di telingaku.
Lagi-lagi seperti sebelumnya, di mobil dia menyalakan radio. Kali ini lagu yang diputar adalah Broken Vow, milik Lara Fabian.
Tell me her name I want to know
Beritahu aku namanya..Aku ingin tahu
The way she looks..And where you go
Bagaimana penampilannya..Dan kemana kau pergi
I need to see her face .. I need to understand
Aku harus melihat wajahnya..Aku perlu mengerti
Why you and I came to an end
Kenapa hubungan kita harus berakhir
Tell me again ..I want to hear
Beritahu aku lagi..Aku ingin mendengar
Who broke my faith in all these years
Siapa yang hancurkan kepercayaanku selama ini
Who lays with you at night
Siapa yang berbaring denganmu di malam hari
When I'm here all alone
Saat aku di sini sendirian
Remembering when I was your own
Mengingat saat aku masih milikmu
I'll let you go
Kan kubiarkan kau pergi
Kan kubiarkan kau terbang
Why do I keep on asking why
Kenapa aku terus bertanya kenapa
I'll let you go
Kan kubiarkan kau pergi
Now that I found
Karena tlah kutemukan
A way to keep somehow
Cara tuk menjaga
More than a broken vow
Lebih dari sekedar sumpah yang terlanggar
Tell me the words I never said
Katakan padaku kata-kata yang tak pernah kukatakan
Show me the tears you never shed
Tunjukkan padaku air mata yang tak pernah kau tumpahkan
Give me the touch
Berikan aku sentuhan itu
That one you promised to be mine
Yang kau janjikan jadi milikku
Or has it vanished for all time
Ataukah itu telah hilang entah ke mana
I close my eyes
Kupejamkan mataku
And dream of you and I
Dan mimpikan tentang dirimu dan diriku
And then I realize
Dan lalu aku sadar
There's more to life than only bitterness and lies
Ada banyak hal dalam hidup selain kepahitan dan dusta
I close my eyes
Kupejamkan mataku
I'd give away my soul
Kan kukorbankan jiwaku
To hold you once again
Untuk mendekapmu sekali lagi
And never let this promise end
Takkan kubiarkan janji ini berakhir
Lagu itu benar-benar menyayat hatiku. Sambil memandang ke arah jendela, kuusap tetesan airmata yang perlahan jatuh dari pelupuk mataku. Aku tak ingin dia melihatku yang rapuh ini. Kini dia sangat dekat denganku tapi juga sangat jauh dariku.
Sesampainya di depan rumah kos, aku ingin berjabatan dengannya
“Kalo begitu, biarlah aku mengucapkan “selamat” terlebih dulu”kataku berusaha tegar
“Berjanjilah kamu akan datang di pesta pertunanganku minggu depan?”
Apa? Minggu depan? Secepat itukah? Tak kusangka ternyata dia akan bertunangan secepat ini.
“Ba..baiklah” kataku terbata-bata sambil menahan sesak dalam dadaku.
Dia pun pulang. Kuamati mobilnya yang semakin lama semakin menjauh lalu menghilang dari pandanganku.
Kubuka pintu kosku. Kulihat Chika dan Lala masih asyik menonton TV. Mereka kaget ketika melihatku.
“Kamu udah pulang?”tanya Chika
“Mana babang tamvan tadi?” tanya Lala
Aku hanya tersenyum
“Aku lelah..aku ke kamar dulu ya” kataku
Aku pun berjalan menuju kamarku tanpa menjawab pertanyaan mereka.
Kubuka pintu kamarku. Lalu kurebahkan tubuhku di ranjang. Tak terasa airmataku mengalir lagi. Aku menangis. Airmata yang sudah kutahan sejak tadi, akhirnya tak mampu kubendung lagi. Aku sedih sekali. Tangis ini mengiringi kesedihan dalam hatiku.
Kubuka hp ku sambil kunikmati lantunan musik dari radio yang menyayat hatiku. Kulihat kembali foto-foto kebersamaan kami dulu.
Kuputar lagi video kenangan kami saat masih bersama. Foto dan video inilah yang selama ini menemaniku. Saat aku sedih, aku selalu melihatnya. Semua kenangan itulah yang membuatku mampu bertahan sampai sekarang
Kenapa kisah cintaku setragis ini? Kenapa kisahku justru seperti film Anna and The King yang dulu pernah kunyanyikan lagunya saat prince and princess tahun pertama? Mungkinkah itu pertanda sejak awal bahwa cintaku takkan berlabuh bersama Coco? Bahwa kami takkan mungkin bersatu?
Dadaku semakin sesak membayangkan semua ini. Derai airmata ini. Semua kenangan indah bersamanya. Harus aku kubur dalam-dalam. Kini, aku harus mulai menata hatiku untuk melihat dia bertunangan dan akhirnya menikah dengan wanita lain. Andai saja dia tahu, aku masih sangat mencintainya. Aku masih sangat merindukannya. Tak pernah berkurang sedikitpun rasa cintaku untuknya.