Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
I'll Let You Go



Akhirnya kami sampai di hotel Alila. Rupanya dia mengajakku kesitu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku disini. Di hotel bintang lima terbaik di kota Solo. Ternyata bagian dalam hotel ini sangatlah indah. Mewah dan megah. Dia kemudian mengajakku ke bagian rooftop hotel ini.


Ketika berada di dalam lift, setiap ada orang yang masuk ke lift, dia selalu berdiri di depanku. Seperti ingin melindungiku. Membuatku merasa tersanjung dengan sikapnya padaku.


Sepintas kupandangi sosok di depanku ini. Dia jadi tambah tinggi. Badannya juga semakin atletis. Sepertinya dia sering nge-gym. Karena lengannya terlihat kekar. Dan bahunya juga terlihat semakin lebar.


Bagaimana kabar roti sobeknya ya? Aahh.. dasar mesum!! Kenapa aku malah mikirin roti sobek yang indah itu?


Segera kubuang jauh pikiran kotor dalam kepalaku yang justru membayangkan roti sobek berlapis-lapis milik Coco yang sangat indah itu.


Sesampainya di rooftop, kami menuju kursi di salah satu sudut rooftop. View dari atas rooftop hotel ini sangatlah indah. Bisa kulihat pemandangan kota Solo dari atas sini. Kota Solo di malam hari.


Sambil menunggu makanan datang, kami berbincang-bincang ringan. Dia bertanya tentang beberapa hal. Kujawab apa adanya.


Kemudian makanan pesanan kami pun datang. Jujur makanan di sini aku tak tahu apa namanya. Karena baru kali ini aku ke Agra Rooftop Lounge ini. Belakangan aku tahu, makanan yang kami pesan adalah paket menu Romance in The Sky. Nama Romantic Dinner Package yang ditawarkan di hotel ini.


Selesai makan, kami berbincang-bincang lagi. Tetapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, dia terlihat lebih serius. Hingga pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya.


“Kenapa kamu meninggalkan aku?” tanyanya mengagetkanku.


“Kenapa Vi? Kenapa kamu meninggalkan aku enam tahun lalu?”


“Apa kau tahu apa yang selama ini sudah kualami karena kamu meninggalkan aku seperti itu?"


Dia mulai meluapkan emosinya. Emosi dalam hatinya. Membuatku hanya sanggup terdiam. Aku tak berani menjawab pertanyaannya. Sorot matanya penuh kemarahan. Aku tak sanggup menatap wajahnya yang menatapku dengan tatapan penuh kemarahan. Aku hanya bisa tertunduk.


“Kenapa kamu diam?”bentaknya mengagetkanku dan orang-orang di rooftop ini.


“Maafkan Aku Co” jawabku lirih sambil menahan sesak di dadaku


“Aku tak butuh permintaan maafmu. Aku butuh penjelasanmu” teriaknya lagi


Kami pun bertengkar hebat malam itu. Dia benar-benar marah. Disaksikan beberapa orang di rooftop kala itu. Suara kerasnya membuat pelayan hotel sampai menegur kami.


Aku ingin menangis. Aku tak bisa mengungkapkan alasanku meninggalkannya. Kutahan air mataku agar jangan sampai mengalir.


“Apa kamu ingin melihat aku menikah dengan wanita lain? Apa itu maumu?”


Aku ingin mengelak. Bukan itu mauku. Tapi aku tak bisa.


“Iya” Aku berbohong karena terdesak keadaan, karena dia terus mendesakku.


“Apa?” dia seakan tak percaya dengan perkataanku


“Aku mau pulang sekarang” pintaku


Aku sudah tak sanggup lagi meneruskan pembicaraan ini. Ini terlalu menyakitkan. Hatiku sakit. Dadaku terasa sesak.


“Baiklah..jika itu maumu”


Aku pikir dia mau mengantarkan aku pulang setelah ini.


“Sebentar lagi aku akan menikah”katanya sambil menatapku.


Degh..


Serasa disambar petir, Aku tak percaya dengan yang barusan kudengar.


Dia akan menikah? Aku tak salah dengar kan?


Dia bilang..akan menikah?


Cocoku?


Aku tak pernah bermaksud menyuruhnya menikahi gadis lain.


“Baguslah kalo begitu” kataku lemas.


Akhirnya kami pun pulang. Hari pun telah larut. Dia mengantarkanku sampai di rumah kos. Sepanjang perjalanan pulang, kami tak berbicara sepatah kata pun. Kami sama-sama diam. Aku terus memikirkan perkataannya di rooftop tadi. Kata-kata “dia akan menikah” terus tergiang-ngiang di telingaku.


Lagi-lagi seperti sebelumnya, di mobil dia menyalakan radio. Kali ini lagu yang diputar adalah Broken Vow, milik Lara Fabian.


Tell me her name I want to know


Beritahu aku namanya..Aku ingin tahu


The way she looks..And where you go


Bagaimana penampilannya..Dan kemana kau pergi


I need to see her face .. I need to understand


Aku harus melihat wajahnya..Aku perlu mengerti


Why you and I came to an end


Kenapa hubungan kita harus berakhir


Tell me again ..I want to hear


Beritahu aku lagi..Aku ingin mendengar


Who broke my faith in all these years


Siapa yang hancurkan kepercayaanku selama ini


Who lays with you at night


Siapa yang berbaring denganmu di malam hari


When I'm here all alone


Saat aku di sini sendirian


Remembering when I was your own


Mengingat saat aku masih milikmu


I'll let you go


Kan kubiarkan kau pergi


Kan kubiarkan kau terbang


Why do I keep on asking why


Kenapa aku terus bertanya kenapa


I'll let you go


Kan kubiarkan kau pergi


Now that I found


Karena tlah kutemukan


A way to keep somehow


Cara tuk menjaga


More than a broken vow


Lebih dari sekedar sumpah yang terlanggar


Tell me the words I never said


Katakan padaku kata-kata yang tak pernah kukatakan


Show me the tears you never shed


Tunjukkan padaku air mata yang tak pernah kau tumpahkan


Give me the touch


Berikan aku sentuhan itu


That one you promised to be mine


Yang kau janjikan jadi milikku


Or has it vanished for all time


Ataukah itu telah hilang entah ke mana


I close my eyes


Kupejamkan mataku


And dream of you and I


Dan mimpikan tentang dirimu dan diriku


And then I realize


Dan lalu aku sadar


There's more to life than only bitterness and lies


Ada banyak hal dalam hidup selain kepahitan dan dusta


I close my eyes


Kupejamkan mataku


I'd give away my soul


Kan kukorbankan jiwaku


To hold you once again


Untuk mendekapmu sekali lagi


And never let this promise end


Takkan kubiarkan janji ini berakhir


Lagu itu benar-benar menyayat hatiku. Sambil memandang ke arah jendela, kuusap tetesan airmata yang perlahan jatuh dari pelupuk mataku. Aku tak ingin dia melihatku yang rapuh ini. Kini dia sangat dekat denganku tapi juga sangat jauh dariku.


Sesampainya di depan rumah kos, aku ingin berjabatan dengannya


“Kalo begitu, biarlah aku mengucapkan “selamat” terlebih dulu”kataku berusaha tegar


“Berjanjilah kamu akan datang di pesta pertunanganku minggu depan?”


Apa? Minggu depan? Secepat itukah? Tak kusangka ternyata dia akan bertunangan secepat ini.


“Ba..baiklah” kataku terbata-bata sambil menahan sesak dalam dadaku.


Dia pun pulang. Kuamati mobilnya yang semakin lama semakin menjauh lalu menghilang dari pandanganku.


Kubuka pintu kosku. Kulihat Chika dan Lala masih asyik menonton TV. Mereka kaget ketika melihatku.


“Kamu udah pulang?”tanya Chika


“Mana babang tamvan tadi?” tanya Lala


Aku hanya tersenyum


“Aku lelah..aku ke kamar dulu ya” kataku


Aku pun berjalan menuju kamarku tanpa menjawab pertanyaan mereka.


Kubuka pintu kamarku. Lalu kurebahkan tubuhku di ranjang. Tak terasa airmataku mengalir lagi. Aku menangis. Airmata yang sudah kutahan sejak tadi, akhirnya tak mampu kubendung lagi. Aku sedih sekali. Tangis ini mengiringi kesedihan dalam hatiku.


Kubuka hp ku sambil kunikmati lantunan musik dari radio yang menyayat hatiku. Kulihat kembali foto-foto kebersamaan kami dulu.


Kuputar lagi video kenangan kami saat masih bersama. Foto dan video inilah yang selama ini menemaniku. Saat aku sedih, aku selalu melihatnya. Semua kenangan itulah yang membuatku mampu bertahan sampai sekarang


Kenapa kisah cintaku setragis ini? Kenapa kisahku justru seperti film Anna and The King yang dulu pernah kunyanyikan lagunya saat prince and princess tahun pertama? Mungkinkah itu pertanda sejak awal bahwa cintaku takkan berlabuh bersama Coco? Bahwa kami takkan mungkin bersatu?


Dadaku semakin sesak membayangkan semua ini. Derai airmata ini. Semua kenangan indah bersamanya. Harus aku kubur dalam-dalam. Kini, aku harus mulai menata hatiku untuk melihat dia bertunangan dan akhirnya menikah dengan wanita lain. Andai saja dia tahu, aku masih sangat mencintainya. Aku masih sangat merindukannya. Tak pernah berkurang sedikitpun rasa cintaku untuknya.