Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Pertemuan Yang Disengaja



Ketika perawat pribadi keponakanku Chloe ijin karena sakit selama dua hari, aku seakan mendapat ide untuk bertemu dengannya kali ini.


Aku yakin kali ini dia takkan bisa pergi dariku.


Dan benar saja, ketika kami bertemu di rumah kakak pertamaku, dia seperti melihat hantu. Dia benar-benar syok melihatku. Aku pura-pura tak menyangka pertemuan kami.


Ketika kami bicara di ruang kerja, suasana sungguh canggung dan kaku. Aku dan dia seperti dua orang asing. Aku terus menahan diriku. Sesekali kupandangi wajahnya dari dekat.


Dia kelihatan semakin cantik. Dia sudah menjadi seorang wanita yang bisa memikat lelaki manapun yang melihatnya. Kupandangi wajah cantiknya, mulai dari rambutnya yang disanggul ke atas, bulu matanya yang lentik, hidungnya dan pipinya yang merona. Ketika kulihat bibirnya, ingin rasanya kucium bibir itu lagi.


Selama kami bicara dia hanya menunduk. Sesekali dia menatap kearahku, membuat jantungku berdegup kencang.


Akhirnya aku antar dia melihat Chloe, keponakanku. Kebetulan Caroline juga datang.


Ketika Caroline bertanya apakah kami sudah saling kenal. Dan kujawab kami dulu teman SMA, ekspresi wajahnya berubah. Dan ketika dia membenarkan jawabanku, aku merasa tak terima. Kutatap dia dengan tatapan yang tajam.


Chloe sepertinya nyaman berada dalam gendonganya. Gadis kecil itu tampak nyaman dalam dekapan Vivi.


Ketika aku berdiri di samping Caroline, dia terus-terusan menggodaku.


“Gimana? Kau senang sekarang?”


“Tentu saja”


“Ingat! Jangan gegabah..jangan buat dia tak nyaman. Kalian harus bisa bicara dengan lebih santai. Kau mengerti?”


“Iya..aku tahu”


“Aku cuma khawatir. Kau akan mengacaukan semua rencana kita”


“Tenang saja. Aku akan menahan diriku”


Akhirnya Caroline pamit kembali ke klinik. Saat kuberpesan pada Caroline untuk menjaga kesehatannya, bisa kubaca raut wajah Vivi yang sedih. Karena yang kutahu dulu, Vivi sangat tak suka jika aku dekat dengan wanita lain.


Ketika dia menyuapi Chloe dengan sabar, kuperhatikan dia dari kejauhan. Kulihat dia begitu keibuan terhadap anak kecil. Dan ketika Chloe menyemburkan MPASi ke wajahnya, tak bisa kusembunyikan senyumku melihat ekspresi wajahnya yang sangat lucu. Persis seperti dulu saat kujahili dia di SMA. Tapi ketika dia melihat ke arahku, segera kusembunyikan senyumku.


Ketika dia menidurkan Chloe, tiba-tiba terbersit pertanyaan menggelitik dalam pikiranku.


“Kamu sudah punya anak?”tanyaku


Walaupun aku tahu dia belum menikah dan belum memiliki anak, tapi pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutku. Aku hanya ingin  mengujinya saja waktu itu. Tetapi sepertinya pertanyaanku sudah menyinggungnya.


Aku pun meminta maaf.


****


Keesokan harinya, aku tak berani bicara lagi dengannya. Aku takut emosiku yang meluap-luap karena terlalu bersemangat dengan kehadiran Vivi disekitarku malah membuat dia semakin tak nyaman. Aku hanya bisa melihatnya saja dari kejauhan. Mengamatinya selama merawat Chloe.


Hari-hari berikutnya ketika dia sudah tak merawat Chloe, aku terus memutar otakku mencari cara supaya bisa bertemu lagi dengannya. Akhirnya karena aku sudah tak bisa berpikir lagi, aku pun menyusul ke klinik Caroline tempatnya bekerja.


Aku sempat membuat keributan kecil, karena aku memaksa berbicara dengannya. Dia marah karena banyak pasien yang melihat waktu itu. Akhirnya dia minta aku menunggunya sampai waktu bekerjanya selesai.


Aku pun menunggu dia di luar klinik dengan penuh harap-harap cemas. Sampai-sampai aku belum makan.


Aku sebenarnya malu ketika perutku keroncongan saat bersama dengan dia. Tapi aku beranikan diriku mengajaknya makan malam.


Makan malam inipun tak berakhir dengan baik seperti yang aku inginkan. Aku terlalu emosi mendengar jawaban-jawaban yang dia berikan. Apalagi ketika kutanya apakah dia ingin aku menikah dengan orang lain dan dia jawab “Iya” rasa-rasanya hatiku sangat marah.


Akhirnya aku pun berbohong padanya, mengatakan aku akan menikah dan akan bertunangan minggu depan.


Sebenarnya ini adalah usul dari Caroline yang awalnya tak kusetujui. Aku masih percaya, dia akan mencoba mempertahankan hubungan kami lagi setelah melihatku. Tetapi ternyata dia malah tetap berusaha berpisah dariku, membuatku tambah emosi.


*


*


*


*


Dan benar saja. Ketika jamuan makan malam yang dilakukan Caroline untuk mengumumkan pertunangan “fake” kami, bisa kulihat dia sedih mendengar berita itu. Walaupun dia berusaha tersenyum tapi ekspresi wajahnya tak bisa menipu. Dia sedih. Ketika kami berjabatan tangan memberiku selamat, kugenggam tangannya begitu erat. Tak ingin kulepaskan.


Beberapa hari sebelum pertunangan, aku sempatkan menemui orangtuanya. Aku mengundang mereka hadir, untuk memberi restu padaku dan Vivi. Kuutarakan maksudku untuk melamar Vivi di hari pertunangan itu. Aku rahasiakan semua dari Vivi. Syukurlah orangtuanya setuju dan mau ikut merahasiakan kedatangan dan rencana lamaranku pada Vivi. Kuminta mereka datang bersama beberapa kerabat dekatnya. Saat itu aku juga datang bersama dengan kedua orangtuaku.


Aku juga minta tolong kepada Chika, teman baik Vivi selama di akademi dan di klinik untuk mengabariku semua perkembangan Vivi. Jujur saja, aku takut rencanaku ketahuan sebelum aku melakukannya. Aku takut Vivi tahu semua rencanaku. Untungnya Vivi tampak tak curiga sama sekali dan percaya saja aku akan bertunangan dengan Caroline.


Hari itu, aku mengajak Chika bertemu di sebuah café, tak jauh dari tempat kos Vivi. Aku sengaja minta Chika merahasiakan pertemuan ini dari Vivi.


“Babang tamvan tumben ngajak ketemuan?”tanya Chika


“Aku langsung saja, aku ngajak kita ketemuan karena aku ingin meminta pertolonganmu. Aku tak tahu apa Vivi pernah menceritakan tentang kami atau tidak..”


“Tunggu dulu..Kok babang tamvan malah ngomongin Vivi? Kan situ mau tunangan sama dokter Caroline? Aku bingung deh”


“Sebenarnya aku dan Vivi dulu pacaran sewaktu masih SMA”


“Oh ya? Beneran bang? Kok Vivi ga pernah cerita ya? Aku pikir Vivi itu jomblo”


Mendengar ucapan Chika, aku yakin Vivi menutup rapat cerita masa lalunya tentang kami pada sahabatnya itu.


“Terus kalian putus gitu?”tanya Chika


“Karena satu dan lain hal kami tidak bisa bersama. Dan kali ini aku ingin minta bantuanmu untuk membantuku”


“Bantu apa bang?”


“Sebenarnya pertunanganku dengan Caroline hanya akal-akalan kami untuk Vivi”


“Hah..beneran bang?”


Aku mengangguk.


“Aku minta tolong kabari aku semua tentang Vivi. Tolong pastikan Vivi tidak curiga dengan pesta pertunangan itu. Karena aku berencana melamar Vivi di hari itu”


“Ya ampun, babang tamvan so sweet banget..bikin aku baper deh..Oke..aku akan bantu. Tenang aja”jawab Chika


“Sekalian aku mau dengar, selama kuliah apa saja yang terjadi pada Vivi?”


“Vivi ya..ehmm..dari mana ya mulainya? Kami dulu kenalan pas OSPEK sih bang..anaknya pendieeeemmm banget. Sukanya mojok. Jauh dari perhatian. Padahal kan mau dia nyungsep di kolong juga pasti orang bakal ngeliat dia, ya kan bang? Dia cantik gitu. Pasti gampang diingat sama orang lah”


“Yang aku inget, awal kuliah anaknya tuh pendiem terus sensitive banget. Dikit-dikit nangis. Makanya dia tuh punya julukan di kampus”


“Oh ya..apa itu?”tanyaku


“Julukannya putri cengeng. Karena dia tuh halus banget perasaannya. Gampang bangeet mewek. Aku dulu juga heran, gadis secantik dan seperfect Vivi, kenapa merasa insecure gitu? Sebenarnya apa sih masalahnya? Kayak punya beban hidup yang berat gitu. Tapi anaknya ga pernah mau cerita. Setiap aku tanya, dia pasti milih diem. Tapi aku sekarang mungkin ngerti dikit. Dia mungkin keinget masa lalunya. Sama babang tamvan mungkin.. mungkin lho ya..”


“Soalnya Vivi tuh jarang banget cerita. Bahkan ga pernah sekalipun cerita tentang babang tamvan”


“Gitu ya”


“Iya. Baru kira-kira semester tiga, Vivi ketemu sama Aldi. Kenal Aldi kan? Katanya adik kelas Vivi dulu di SMA”


Aldi? Tentu saja aku masih mengingatnya. Dia lah satu-satunya saingan terberatku  dalam mendapatkan Vivi. Rupanya Aldi juga kuliah di sini. Takdir sekali lagi menempatkan kami dalam cinta segitiga untuk mendapatkan seorang Vivi.


“Iya aku kenal. Kami pernah ikut PMR sama-sama”jawabku


“Apa mereka pernah pacaran selama kuliah?”tanyaku


“Setauku sih ya..Aldi tuh sayang banget sama Vivi. Mereka juga deket banget. Aldi selalu support Vivi, bahkan sepertinya sampai sekarang. Walaupun sekarang Aldi di Surabaya. Tapi setahuku mereka masih sering telpon dan Video call-an”


“Benarkah?”


“Iya bang..bahkan setahuku Aldi tuh pernah mau nglamar Vivi..tapi Vivi nya yang belum siap.. makanya mereka nunggu sampai Aldi selesai magang”


Dari Chika, aku tahu selama lima tahun kuliah, Aldi dan Vivi semakin dekat. Bahkan Aldi berencana melamar Vivi, setelah dia selesai magang. Tentu saja aku takkan biarkan hal itu. Karena Vivi adalah milikku.