
Aku dan Coco berjalan terus. Kami sempat berpapasan dengan teman-teman yang lain yang tadinya lari di belakang kami. Melihat kakiku yang sedikit pincang, membuat mereka mengkhawatirkanku.
“Kakimu kenapa Vi?”tanya Thesa
“Tadi jatuh”jawab Coco menggantikan aku menjawab pertanyaan Thesa.
“Ehmm..hati-hati ya..Pak Willy biasanya nanti nyusul naik motor. Nanti bilang aja sama Pak Willy”ucap Diana padaku
Aku mengangguk.
“Kami duluan ya Co..Vi”ucap mereka berdua bersamaan.
"Iya"
Setelah Thesa dan Diana meninggalkan kami, aku merasa tak enak hati pada Coco karena dia terpaksa menemani aku.
“Kamu lari aja duluan..aku ga papa kok. Aku tungguin Pak Willy sendiri bisa kok”
“Disini sepi..kamu ga takut diculik orang ga dikenal. Atau kalo nanti ketemu orang gila gimana? Ga takut? ”ucap Coco malah menakut-nakutiku
“Kok malah nakut-nakutin sih Co”protesku
“Makanya aku temenin. Kita tunggu Pak Willy di pos kampling depan sana. Masih kuat ga buat jalan? Kalo ga kuat aku gendong”ucap Coco enteng
“Kuat lah”jawabku mencoba tegar.
Walaupun sebenarnya untuk jalan, lututku masih terasa sakit. Tapi aku paksakan untuk jalan. Setidaknya sampai pos kampling yang diucapkan Coco tadi. Akhirnya aku jalan berdua dengan Coco. Aku berpegangan pada lengannya. Kami berjalan sampai di sebuah pos kampling dan menunggu Pak Willy di sana.
“Coba lihat”pinta Coco padaku memeriksa sikuku yang lecet.
Aku tunjukkan sikuku yang lecet. Dia memeriksa lukaku sambil memegang tanganku pelan.
“Aduh..pelan-pelan Co”kataku karena sikuku memang masih terasa perih.
“Perih?”tanyanya
Aku mengangguk.
“Coba lututmu”pintanya lagi ingin memeriksa lututku.
“Ga mau ah..masak dilihat disini”
Aku menolak karena aku malu jika harus melipat celana olahragaku di depan Coco untuk memperlihatkan lututku yang sejak tadi perih.
“Kamu lipat sendiri. Aku cuma pingin lihat, berdarah apa enggak? Parah ga?”perintahnya
Akhirnya aku melipat sendiri celana olahragaku hingga memperlihatkan lututku yang sakit. Agak bengkak memang. Tapi untungnya tidak berdarah. Sepertinya benturan tadi membuat bengkak. Coco memencet lututku yang bengkak.
“Aduh..pelan-pelan dong Co..sakit”pintaku
“Bengkak tuh Vi..nanti sampai di sekolah cepetan dikasih salep, biar bengkaknya cepet hilang”
Aku mengangguk.
“Perasaan kamu gampang banget terluka ya.. kapan itu kepala udah kena bola..sekarang malah nyium aspal”
“Ya kan namanya kecelakaan..emang aku yang minta”protesku
“Makanya yang lebih hati-hati”
“Aku juga udah hati-hati ya”
Aku sebal diceramahi Coco karena kenyataannya kan bukan aku yang minta terluka seperti itu. Memang baru apes aja sih kayaknya. Aku menarik kembali celana olahragaku sehingga kakiku tertutup celana. Aku risih jika memperlihatkan kakiku pada Coco. Akhirnya pak Willy melintas di depan pos kampling tempatku dan Coco menunggu.
“Kalian ngapain disini?”tanya Pak Willy
“Ini Pak..Vivi tadi jatuh, kaki sama sikunya lecet”
“Kamu lagi Vi yang sakit?”tanya Pak Willy
Pasti beliau heran kenapa selalu aku yang terluka pas jam olahraga.
“Iya pak..tadi ada yang nabrak dari belakang terus saya jatuh”
“Bisa sih Pak..tapi agak sakit”jawabku
“Kakinya bengkak Pak..harus segera diobati supaya ga tambah parah”ucap Coco
“Ya udah..saya antar kamu ke sekolah”pinta Pak Willy
“Kalo boleh, saya aja Pak yang antar ke sekolah”pinta Coco
“Naik apa?”tanya Pak Willy
“Pinjam motor Bapak”jawab Coco enteng
Aku sebenarnya sangat malu mendengar permintaan Coco, karena dia dengan entengnya mengucapkan itu semua.
“Ya sudah..ga papa”ucap Pak Willy
Beliau lalu turun dari motornya dan menyerahkan kunci motor serta STNKnya pada Coco.
“Hati-hati bawa motornya ya”
“Iya Pak”
Aku pun akhirnya membonceng Coco naik motor Pak Willy. Saat naik motor itu, kakiku rasanya sakit sekali. Coco mengendarai motor dengan kecepatan sedang.
"Kamu berani banget, pinjam motor Pak Willy?"tanyaku saat kami masih dijalan
"Emang kenapa?"tanyanya
"Daripada kamu diboncengin Pak Willy"jawabnya
Entahlah..Setiap dia mengatakan sesuatu seperti itu, selalu membuat aku merasa terharu, dan tersanjung. Jantungku selalu berdesir dengan ucapannya yang seakan menganggap aku spesial.
Sampai di sekolah, dia menuntunku sampai di UKS.
“Aku kembaliin motor pak Willy dulu ya..kamu disini sendiri ga papa kan?”
“Iya..aku berani kok”
“Ya udah..nanti aku kesini lagi”pamitnya padaku
Perawat sekolah yang melihat kami, kulihat tersenyum padaku dan Coco. Dan ketika Coco sudah meninggalkanku, beliau berkomentar.
“Pacarnya perhatian banget ya”
Tentu aku kaget mendengar komentar perawat sekolah.
“Dia bukan pacar saya kok bu..temen”kataku sambil tersenyum
“Masak temen seperhatian itu..kuatirnya ngalahin suami ibu”ucap beliau
“Hehehe..Ibu bisa saja”godaku pada beliau
Sambil mengoleskan thrombophop, sebuah salep dingin yang biasa digunakan untuk mengurangi bengkak, beliau bercerita padaku.
“Kapan itu pas mbak Vivi pingsan, mas nya kuatir banget lho. Untung aja ada masnya, jadi mbak Vivi ga bentur lantai. Masnya gesit banget. Langsung nangkep badannya mbak Vivi”ucap beliau menceritakan kejadian beberapa waktu sebelumnya saat aku pingsan.
“Begitu ya bu”
“Iya mbak..waktu saya tinggal keluar itu, saya sempet nengok bentar..masnya pegang tangan mbak Vivi kenceng banget. Kelihatan kuatir banget mbak Vivi kenapa-napa”
“Makanya cowok langka kayak gitu perlu diberdayakan mbak..perlu dilestarikan”
“Ibu bisa aja”godaku pada beliau
“Ehhh..mbak Vivi ini dibilangin ga percaya to? Kalo ibu masih muda..ibu mau kok jadi pacar masnya. Tapi kan ibu udah punya buntut dua”
Aku tersenyum mendengar celotehan perawat sekolahku yang memang lucu.
Dalam hati mendengar pengakuan bu Nisa, perawat sekolahku, tentu saja aku sangat senang. Mendengar dia yang kuatir padaku. Perhatian padaku.