Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Cemburu (2)



Setelah Bima selesai memfoto, kami melanjutkan mengobrol. Tiba-tiba pandangan mataku tertuju pada sosok yang kukenal. Aldi. Segera kubisikkan kehadiran Aldi kepada Anti. Kebetulan tadi pas di pos 1, bukan aku yang menguji kelompok Aldi. Jadi aku senang melihat dia ada di pos 3 waktu itu.


“Anti, itu Aldi” bisikku pada Anti


“Mana?”Anti mencari-cari sosok yang aku maksud.


“Eh iya…” Anti menemukan Aldi. Kami pun cekikikan berdua. Membuat Coco dan Dedi melihat ke arah kami.


“Hehehehe…Ga ada apa-apa, kok” kataku berusaha menyembunyikan kegembiraan kecilku.


Aldi adalah adik kelasku kelas X. Sosoknya lumayan good looking.  Dengan tinggi badan yang semampai dan badan tegaknya. Itu sebabnya Aldi sangat terkenal di kalangan cewek-cewek sekolahku. Apalagi dia juga aktif di kegiatan OSIS, Pramuka dan PMR. Idola baru kaum hawa di sekolah. Termasuk aku dan Anti. Apalagi anaknya juga sangat ramah, humoris dan murah senyum. Membuat cewek-cewek pada klepek-klepek dihadapannya. Senyumnya itu lho, membuat ga kuat iman.


“Aku pergi sebentar ya?”pamitku pada Coco dan Dedi.


Aku dan Anti pun bergegas pergi. Menuju arah kelompok Aldi. Tetapi supaya tidak ketahuan Coco, aku pun mengambil jalan melingkar.


Sesampainya di kelompok Aldi, kebetulan ada Bima. Kelompoknya juga sudah menyelesaikan tugas di pos 3 dan bersiap menuju pos 4. Sebelum Aldi pergi, aku dan Anti mengajak Aldi berfoto bersama.


“De, kita foto bertiga ya?” ajakku pada Aldi


“Boleh kak” Aldi membolehkan sambil tersenyum. Oh .. manisnya senyum itu.


Aku dan Anti segera berdiri disamping kanan dan kiri Aldi. Kami pun tersenyum bahagia. Jarang- jarang bisa foto bersama cowok ganteng.


Anak ini ternyata tinggi juga. 11-12 dengan Coco-ku lah. Hanya bedanya Coco anaknya cool banget. Beda dengan Aldi yang lebih humble dan ramah.


“Aku ikut..Aku ikut”


Teman-teman cewek sesama senior PMR di pos 3 jadi ikutan berebut mengajak foto Aldi. Membuat suasana menjadi riuh.


“Gantian ya kak..”Aldi mengarahkan sambil tersenyum pada teman-temanku.


“Bim, fotoin ya?” pintaku pada Bima


“Ok..”


Kami bertiga (aku, Aldi dan Anti) bersiap berfoto bersama.


1..2..”


Tiba-tiba ada yang memegang pundakku dan menarikku ke arah samping menjauh dari Aldi. Ketika aku menoleh, Coco sudah berdiri di sampingku, memegang pundakku. Aku kaget. Tapi aku segera menghadap kamera kembali.


“..3..”


Jadilah kami berfoto berempat.


“Aku ikut..Aku ikut”


serbu teman-teman yang lain


Jadinya kami berfoto beramai-ramai. Dengan Coco masih memegang pundakku. Kali ini aku digeser dari posisiku ke posisinya. Kami bertukar posisi.


“ Kita balik aja” bisiknya padaku


“Ya deh..” aku mengiyakan


Akhirnya kami pun berpamitan pada semuanya.


“Guys..aku lanjut ke sekolah ya?”


Aku melambaikan tangan pada semua. Dia mengikutiku dari belakang. Jadilah kami berjalan berdua menuju ke sekolah yang merupakan pos terakhir.


Karena jalan dari pos 3 ke sekolah jalannya menurun, seperti sebelumnya, dia menawarkan tangannya untuk kupegang. Dia berjalan di depanku pelan-pelan, sambil menuntunku menuruni jalan yang licin. Aku juga berjalan pelan-pelan sambil berpegangan pada pergelangan tangannya.


Sepanjang perjalanan ke sekolah kami melewati pematang sawah, jalan desa dan akhirnya melewati trotoar. Dia bagaikan pelindungku. Bodyguard yang selalu siaga menjagaku.


Ketika kami melewati warung tempat nongkrong anak-anak muda, aku yang awalnya disisi kanan, digeser ke sisi kiri menjauhi anak-anak muda yang sedang nongkrong-nongkrong itu. Mereka adalah anak-anak SMA dan SMK sekitar sekolahku yang kerjaannya merokok dan nongkrong. Setiap ada gadis lewat di depan mereka, pasti mereka goda. Karena itu, dia memindahkan posisiku.


"Makasih ya Co"ucapku setelah "diselamatkan" Coco


"Hemm" penyakit 'hemm' nya mulai kambuh


"Ngomong napa? Hemm..hemm..sariawan bosque?"godaku pada Coco


Aku sebal jika dia mulai menjawab dengan kata "hemm". Apa ga ada kosakata lain dalam kamus hidupnya selain "hemm".


Mendengar ledekanku, Coco malah tertawa. Sungguh suara tawanya sangat renyah.


Sepanjang perjalanan pulang ke sekolah kami bercanda dan ngobrol bersama. Dan setiap bertemu sesama senior PMR yang lain atau kebetulan berpapasan dengan kelompok junior PMR yang kembali ke sekolah, mereka pasti langsung jadi grup paduan suara dadakan ketika melihat kami berdua. Karena mereka melantunkan kata "Cieeeee"bersama-sama.


Hal kecil itu, kadang berhasil membuat wajah Coco bersemu merah. Kulit putihnya yang memerah karena malu pasti langsung terlihat. Tapi kami berdua selalu berusaha setenang mungkin menghadapi serbuan "ciee" dari teman-teman atau dari adik-adik junior.


Dan saat kami berdua harus menyeberang jalan, kuperhatikan dia benar-benar menjagaku. Keadaan jalanan siang menjelang sore itu memang lumayan rame. Karena bertepatan dengan jadwal kepulangan sekolah-sekolah di sekitar sekolahku.


Saat menyeberang, dia selalu memberiku aba-aba, kapan harus menyeberang dan kapan harus jalan.


Dia memperlakukanku seperti anak TK yang baru belajar menyeberang jalan. Menyebalkan!


Padahal jalanan saat aku menyeberang sudah sedikit lengang, artinya kendaraan yang melintas jaraknya cukup jauh. Tetapi pengendara motor yang saat itu akan melintas, ternyata ngebut dengan kecepatan tinggi. Membuat aku sangat kaget. Karena hampir saja terserempet motor itu. Untung saja, Coco saat itu langsung menarik tanganku, sehingga aku selamat. Tapi aku syok.


"Kamu ga papa kan Vi?"tanya Coco


"Iya..aku ga papa"ucapku dengan nada bergetar saking syoknya.


"Kalian ga papa kan? Tadi aku lihat kejadiannya. Untung kamu gesit Co, langsung narik Vivi. Coba kamu telat, Vivi pasti keserempet motor tadi"ujar Lea, sesama senior PMR yang tadi berjaga di depan gerbang sekolah.


"Kamu masih kuat jalan kan?"tanya Coco


"Iya"jawabku


Kakiku rasanya lemas karena kejadian mendadak tadi. Benar-benar pengalaman yang tak ingin aku ulangi lagi. Aku dan Coco akhirnya masuk ke sekolah dan beristirahat di ruang PMR untuk menenangkan diriku. Dan sekali lagi, Coco yang menjagaku. Membuat perasaan hangat merasuk dalam hatiku melihat semua perhatian dan perlakuannya padaku. Membuat aku terharu sekaligus bahagia diperhatikan Coco seperti itu.