Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (7) Tokcer



Keesokan harinya, setelah bangun tidur, aku memberanikan diri untuk menggunakan test pack digital yang baru saja kami beli kemarin.


Jujur saja, jantungku berdegup sangat cepat. Meskipun ini bukan pertama kalinya aku memakai test pack, tapi tetap saja menggunakan alat ini selalu membuatku gelisah dan takut. Takut dengan apapun hasilnya. Karena mungkin trauma yang kualami setelah keguguran tiga bulan lalu meninggalkan bekas dalam hatiku.


Karena itu, ketika menggunakan alat ini setelah tiga bulan kehilangan “calon bayi” kami, membuatku mesti mengumpulkan keberanianku. Aku harus siap dengan apapun nanti hasil yang muncul di alat tes kehamilan ini.


Aku tempatkan sebagian kecil air seni yang kukeluarkan pagi itu di sebuah wadah kecil, kemudian kumasukkan alat test pack digital itu.


Deg..deg..deg..


Aku menunggu hasilnya dengan jantung yang berdebar kencang. Dan setelah beberapa saat aku pun bersiap membaca hasil yang tertera di layar test pack digital.


Saking gugupnya aku sampai gemetaran. Rupanya aku belum siap membaca hasilnya. Aku menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan diriku.


Kenapa susah banget buat tenang?


Akhirnya kubangunkan Coco yang masih tertidur. Aku minta Coco saja yang membacanya.


“Coo..bangun Co”pintaku sambil menggoyang tubuh Coco pelan unuk membangunkannya.


“Ehmmmm..”Coco menggeliat sambil membuka matanya perlahan


“Kenapa sayang?”tanya Coco sambil mengucek matanya.


“Bacain”pintaku sambil menyodorkan test pack digital yang ada ditanganku


Coco mengambil test pack itu lalu memperbaiki posisi duduknya. Kulihat Coco masih berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya. Karena memang dia belum 100% sadar.


“Kamu udah test?”tanya Coco dengan suara serak khas bangun tidur


Aku mengangguk pelan.


Coco kemudian menyalakan lampu yang ada di samping ranjang. Aku menunggu dengan penuh harap cemas.


“Gimana hasilnya?”


“Bentar”


“Lebih baik kita sholat dulu”


Benar juga, sebaiknya kami sholat dulu. Supaya hati lebih tenang. Akhirnya aku dan Coco pun sholat berjamaah berdua.


Kupanjatkan doa-doa terbaikku. Jika memang nanti hasilnya aku hamil, semoga aku bisa menjalankan amanah yang diberikan Yang Maha Pencipta. Semoga aku bisa menjadi orangtua yang terbaik bagi buah hati kami. Dan jika hasilnya aku belum hamil, aku akan terus berusaha dan berdoa serta belajar menjadi orangtua yang baik, agar ketika waktunya tiba, dan kami diberikan amanah, aku dan Coco bisa menjalankan amanah dengan sebaiknya. Itulah pintaku dalam doa-doaku.


Kini aku dan Coco duduk di atas ranjang kami berdua. Dengan Coco yang memegang test pack digital. Saking takutnya aku sampai tak berani menatap ke arah Coco.


“Ga usah takut gitu”


“Udah bacain aja..hasilnya apa?”


Aku memalingkan wajahku ke arah berlawanan dengan Coco. Sehingga aku tak tahu saat Coco membacanya.


Tiba-tiba,


“Alhamdulillah..kamu hamil sayang”ucap Coco sambil memeluk tubuhku


Aku yang masih tak percaya dengan apa yang kudengar hanya bisa mematung.


Aku hamil? Benarkah aku hamil?


Coco melepaskan pelukannya dan menatap wajahku lalu mencium keningku.


“Terimakasih sayang”


Aku hanya bisa mengerjapkan mataku karena aku belum melihat sendiri hasilnya.


“Coba lihat!”


Kuraih test pack yang ada di tangan Coco. Kuperhatikan dengan seksama. Tanpa terasa butiran air mataku menetes seketika tanpa bisa kutahan. Saat kulihat hasil yang tertera di layar.


“Pregnant 4 weeks” tulisan yang ada di layar


“Coo..aku hamil”


“Iya sayang”


Kami berdua berpelukan lagi. Kupeluk tubuh lelaki yang sangat kucintai, lelaki yang telah menanamkan benih di rahimku. Aku menangis tersedu-sedu. Karena aku masih tak percaya akan menerima anugerah ini sekali lagi.


Coco menciumi wajahku.


“Terimakasih sayang”


Aku mengangguk pelan. Kami sangat bahagia dengan hasil yang baru saja kami dapat. Coco menggenggam tanganku dan menatap mataku dalam. Kulihat Coco sangat bahagia dengan berita ini. Coco bahkan mengelus perutku dengan satu tangannya.


“Apa kabar jagoan?”ucap Coco sambil mengelus perutku yang masih rata


Membuat aku tersenyum melihat tingkah konyol Coco.


“Nanti sore kita ke klinik dokter kandungan”


“Iya”


“Ingat! Jangan sampe kecapekan..kalo butuh apa-apa, minta tolong mbak-mbak yang ada di rumah”


“Iya”Kupegang wajah tampan suamiku yang selalu mengkhawatirkan diriku.


Coco kemudian menarik tubuhku dalam pelukannya. Kami berdua berbaring di ranjang sambil berpelukan mesra. Kusandarkan kepalaku di lengannya yang kekar sambil berpegangan tangan berdua. Sesekali Coco mencium keningku dan mengelus rambutku dengan lembut.


“Tokcer juga ya?”


“Apanya?”


“Perasaan baru 2 bulan kemarin puasa, digempur tiap hari akhirnya “jadi” juga, hahahaha”


“Iiihhh..apaan sih Co?”kucubit dada bidang suamiku.


“Aduh”Coco mengelus dadanya lalu menggenggam tanganku erat.


****


Setelah mengantar Coco berangkat kerja, aku ngobrol berdua dengan Rena sambil membantunya berkemas-kemas karena sebentar lagi dia akan pindah ke kosnya di Jogja. Kos yang sama dengan Dila.


“Selamat ya kak”


“Iya sama-sama”


“Pasti nanti debay nya cakep banget. Papa mamanya cantik sama ganteng banget soalnya”


“Doanya aja ya Rena, moga kehamilan kali ini lancar”


“Aamiin”


“Oya kak, boleh aku tanya sesuatu?”


Tiba-tiba wajah Rena mendadak serius, membuatku penasaran.


“Ehmm..tentang kak Aldi”


Rena ngapain nanyain Aldi?


“Mau nanya apa Rena?”


“Kakak bisa ceritain ga apa aja yang kakak tau tentang kak Aldi”


“Bukannya aku ga mau sih Rena, tapi menurutku ga etis aja kalo aku nyeritain Aldi sementara aku udah nikah sama Coco. Aku merasa harus menjaga perasaan Coco juga. Kamu beneran suka Aldi?”


Rena mengangguk sambil tertunduk malu.


“Aku cuma bisa bilang, kalo Aldi itu cowok baik Rena. Dia juga sayang keluarga. Kalo kamu beneran suka dia, kamu harus berusaha deketin dia”


“Gimana caranya kak? Sementara kak Aldi setiap sama aku, yang ditanyain kak Vivi mulu”


Mendengar ucapan Rena, membuat aku merasa tak enak hati. Seakan aku menjadi penghalang hubungan Rena dan Aldi. Kenapa Aldi tak mencoba membuka hatinya untuk cewek lain, seperti Rena?


Huuuhh..membuatku jadi serba salah saja di depan Rena.


“Maaf ya Rena”


Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan untuk menenangkan Rena. Karena aku juga pernah merasakan gimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, saat aku dan Coco “berpisah” saat di kelas XII dulu karena ulah Feli.


“Kamu udah punya nomornya Aldi?”tanyaku antusias


Walaupun aku tak bisa menceritakan semua yang aku tahu tentang Aldi tapi mungkin aku bisa membantu Rena untuk mendekati Aldi dengan memberikan nomor Aldi yang masih ku punya.


“Enggak kak”


“Aku sepertinya masih punya. Tapi kamu harus janji, jangan bilang Coco kalo aku yang ngasih ya..aku ga mau ribut sama Coco. Aku ngasih ini, supaya kamu bisa lebih deket sama Aldi”


“Oke..aku janji kak..makasih ya kak..kakak memang yang terbaik”ucap Rena sambil memeluk tubuhku.


Akhirnya kuberikan nomor Aldi pada Rena. Semoga dengan begini, Rena bisa lebih dekat dengan Aldi. Semoga saja..


Malam harinya,


Seperti yang sudah aku rencanakan dengan Coco, malam ini aku pun diantar Coco untuk periksa ke dokter kandungan. Untuk kontrol sekaligus periksa kandungan.


Klinik yang terletak lumayan dekat dengan rumahku. Rupanya malam itu lumayan banyak yang periksa. Aku dan Coco mendapat nomor antrian ke sepuluh.


Kulihat di klinik itu banyak sekali ibu hamil yang usia kandungannya berbeda-beda. Aku sampai membayangkan jika nanti usia kehamilanku seperti mereka.


Karena antrian yang lumayan lama, aku memilih membaca majalah seputar ibu hamil dan balita. Coco juga menemani aku membaca majalah. Sesekali kami bercanda dan tertawa bersama melihat gambar anak-anak di majalah itu yang terlihat sangat menggemaskan.


Coco juga mengelus-elus perutku yang masih rata. Bisa kulihat pancaran kebahagiaan di matanya. Di mata suamiku tercinta.


Setelah menunggu satu setengah jam lebih, tibalah giliran kami masuk ruang periksa dokter kandungan yang menanganiku dulu.


Begitu masuk, dokter menyapa kami dengan ramah. Kami pun berkonsultasi dengan dokter. Akhirnya aku diarahkan untuk menuju ranjang pasien untuk diperiksa dengan menggunakan alat USG.


Coco berdiri di sampingku sambil menggenggam tanganku. Begitu layar monitor merekam penampakan yang ada di rahimku, tiba-tiba butiran airmata kembali mengalir dari sudut mataku. Aku bisa melihat kantung kehamilan di layar. Menandakan aku memang sedang hamil.


“Selamat Pak, istri Anda sedang hamil”ucap dokter pada kami


“Benarkah dok?”


“Iya..itu bapak lihat ada kantung kan..coba sekarang kita lihat ukuran janinnya ya?”


Dokter mengarahkan alatnya untuk melihat ukuran janin di dalam rahimku berdasarkan gambar yang tadi ditangkap layar monitor alat USG.


“Nah..ini janinnya..udah 12mm”


Aku dan Coco merasa sangat bahagia. Senyum terus terpancar di wajah kami berdua.


Kami sekarang duduk di depan meja dokter.


“Kira-kira istri saya sudah hamil berapa minggu dok?”


“Dilihat dari ukuran janin dan tanggal terakhir mens..perkiraan istri Anda sudah hamil 4 minggu Pak”


Rupanya test pack digital itu benar-benar akurat. Perkiraan usia kehamilanku dengan hasil diagnosa dokter sama persis. 4 minggu.


Dokter kemudian menuliskan beberapa resep vitamin dan suplemen makanan yang baik untuk ibu hamil.


“Maaf dok..apa selama hamil..kami boleh….”


Coco menggantung ucapannya sendiri. Membuat aku malu karena aku tahu arah pembicaraan Coco. Kulihat dokter juga tersenyum mendengar ucapan suamiku


“Maksud bapak berhubungan?”


“Iya..boleh Pak”


Wajah Coco langsung sumringah. Membuat aku tambah malu.


“Tapi sebisa mungkin jangan melakukan gaya yang terlalu menekan perut ya pak..karena bu Vivi kan baru keguguran beberapa waktu yang lalu, sebisa mungkin dijaga kandungannya”


“Siapp dok”ucap Coco mantap


Sumpah..aku benar-benar malu. Padahal aku kan mantan perawat. Aku sudah sering bilang, kalo selama hamil ga papa berhubungan asal pelan dan tidak menekan perut. Tapi tampaknya suamiku lebih percaya pada dokter.


Keluar dari ruang periksa, aku cubit perut suamiku yang nakal.


“Awww..sakit sayang”


“Rasain..ngapain kayak gitu ditanyain”


“Ga papa..Cuma memantapkan aja”


“Tapi kan aku malu”


“Kenapa mesti malu?”


“Hiishhh..”


Aku cemberut karena ulah Coco tadi. Coco terus berusaha menenangkanku.


Sampai di pintu keluar klinik,


“Kamu tunggu di sini..aku ambil mobilnya bentar”


“Aku ikut”


“Tadi tempat parkirnya agak jauh. Udah kamu tunggu di sini aja, oke”


“Ya udah”


Aku akhirnya menurut saja. Aku tunggu suamiku di depan klinik yang malam itu memang sedang banyak pasien. Tiba-tiba seseorang memanggil namaku,


“Vivi?”