
Felicia Putri Paramitha. Gadis cantik yang juga adik kelasku. Aku akui secara penampilan dia memang cantik. Dengan tinggi 169 cm, dan berat badan 46 kg, badannya terlihat sangat langsing. Lumayan tinggi. Lebih tinggi dari aku. Kulitnya putih, rambutnya panjang dan indah. Dia juga jago main gitar. Terbukti dulu dia pernah ikut solo guitar performance saat ulangtahun sekolahku yang ke-50tahun. Dia juga sangat pandai. Itu sebabnya dia terpillih ikut olimpiade math bareng Coco dan Dedi.
Sejak aku dan Coco perang dingin, Feli yang selalu berada di samping Coco. Kedekatan mereka selalu berhasil membuat api cemburu menyala dalam hatiku.
Aku merasa gadis itu memang menginginkan Coco. Karena tatapan matanya dan bahasa tubuhnya setiap berada di dekat Coco, sangat kentara kalo dia memang suka Coco. Menurutku dia suka bermanja- manja pada Coco. Kalo bahasa Anti, Feli tuh ganjen. Karena nempel terus seperti prangko.
Waktu itu, lomba basket classmeeting ulangtahun sekolahku yang ke-52 tahun, kelasku berhadapan dengan kelas Aldi. Kelas Feli juga.
Karena saat itu aku dan Aldi mulai dekat, aku juga datang menonton lomba basket. Tentu saja aku datang untuk memberi semangat pada teman- teman sekelasku, walaupun aku datang bareng Aldi.
“Aku ke sana ya Al..bareng temen-temen sekelasku” pamitku pada Aldi
“Oh..iya kak”
“Semangat ya..maaf aku hari ini harus jadi supporter kelasku”ucapku pada Aldi
“Iya kak..ga papa”
“Good luck”
Aku pun segera berjalan ke arah kumpulan supporter kelasku yang kebanyakan adalah teman-temanku cewek dan beberapa anak cowok yang sudah bersiap mengerahkan dukungan mereka untuk mensupport temanku yang hari itu bermain.
Teman-teman membawa beraneka aksesoris dan peralatan untuk mendukung Coco cs. Ada yang membawa balon tepuk, bass drum dan spanduk. Hari itu kelasku sengaja memakai dresscode yang sama yaitu atasan hitam dan bawahan celana jeans. Kami juga membuat yel-yel untuk mendukung Coco cs. Aku dan teman-teman duduk di bangku penonton yang dekat dengan pemain.
Hari itu permainan yang dimainkan kedua tim sangatlah seru. Kejar mengejar angka terjadi. Masing-masing anggota tim saling bahu membahu mengumpulkan poin. Coco dan teman-teman juga bermain sangat agresif. Tak jarang kontak fisik antara kedua tim terjadi.
Setiap bola dibawa tim kelasku, jantungku rasanya ikut berdebar-debar. Saking terbawa suasana. Saat timku berhasil mencetak angka, aku dan teman- teman girang bukan main. Kami berteriak- teriak terus sepanjang pertandingan. Dan saat timku gagal mencetak angka, kami merasa kecewa tapi kemudian kami akan meneriakkan yel-yel kelas kami untuk menyemangati Coco cs.
Hatiku selalu saja bergetar, setiap kali melihat Coco yang tersenyum bahagia setelah mencetak angka. Dan saat dia yang bercucuran keringat dengan rambutnya yang sudah lepek, berlari kesana kemari mengikuti arah bola, entah kenapa malah terlihat sangat seksi. Hihihihi…
Sayangnya hari itu, aku tak bisa menikmati pemandangan “roti sobek” Coco, seperti yang terjadi dua tahun lalu dan setahun sebelumnya. Padahal itu yang dari tadi aku tunggu- tunggu.. hahahahaha..
Sepanjang pertandingan, aku perhatikan antara Coco dan Aldi sering sekali terjadi kontak fisik. Entah karena mereka memang kebagian mengawasi satu sama lain, atau mereka memang kebetulan selalu head to head, aku juga ga paham. Hari itu kulihat keduanya bermain ngotot. Aku akui keduanya pemain yang bagus, karena sering mencetak angka untuk timnya.
Pernah saat Aldi mencetak angka, tanpa sadar aku ikut berteriak senang. Membuat teman-teman sekelasku memarahiku.
“Gimana sih Vi? Kamu dukung kelas kita apa kelas lawan sih?”
“Iya nih Vivi..Mereka cetak angka kok kamu malah seneng”
“Pengkhianat kamu Vi”
Anti yang jengkel melihat aku mendukung kelas Aldi juga menoyor kepalaku.
“Maaf..maaf..aku khilaf” ucapku pada teman-teman sengaja memasang wajah memelas supaya mereka mengampuni aku. Fenda mengepalkan tangan kanannya seolah akan memukulku.
“Awas kalo diulangi lagi”
“Iya..iya..maaf”ucapku
Sempat saat Coco mencetak angka, kulihat Feli yang duduk di bangku penonton di sisi lain dari tempatku, berteriak dengan gembira. Persis seperti yang kulakukan tadi. Mendukung tim lawan.
Setelah diwarnai kejar-mengejar angka, akhirnya kelasku berhasil memenangkan pertandingan lomba basket classmeeting dengan skor akhir 100 : 87. Dan sekali lagi Coco menjadi pencetak angka terbanyak dengan torehan 45 angka.
Setelah pertandingan berakhir, aku dan teman- teman mengerubuti para pemain, merayakan kemenangan kelasku. Kami merayakan kemenangan kami sekaligus perayaan kelasku yang menjadi juara umum lomba classmeeting ulangtahun sekolahku ke-52. Karena kami berhasil menjuarai lomba basket putra-putri, menghias kelas, prince and princess, lomba bola tangan putri, lomba voli putra, futsal, badminton tunggal putri dan ganda putra.
Aku juga merasa bangga karena Coco dinobatkan menjadi pemain terbaik atau most valuable player (MVP) 20XX. Sementara Aldi dinobatkan menjadi pemain paling berkembang atau most improved player (MIP) 20XX. Senyum Coco begitu indah saat menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah kami.
Setelah menerima penghargaan, Coco kembali kepada kami, dan bersiap-siap untuk pulang.
“Selamat ya Co”seru teman-teman sambil menepuk bahu Coco memberinya selamat.
“You’re the best my man”seru Jansen pada Coco
Saat Coco berdiri di depanku, kuberanikan diri untuk memberinya selamat.
“Selamat ya Co”
“Thanks”jawabnya singkat sambil tersenyum
“Wah..kita mesti rayakan kemenangan kelas kita nih, gimana kalian setuju?”
“Iya..iya..setuju”
“Gimana kalo di café El-Mo aja?”
“Boleh..boleh”
Teman-teman sangat bersemangat merayakan kemenangan kelas kami. Kami pun berencana makan-makan di café milik kakak Dedi yang memang sedang hits dan jadi favorit kami.
“Kalian duluan aja..kami ganti baju dulu”jawab Rafa
“Ya udah..ketemuan di El-Mo ya?”
Coco cs meninggalkan kami, dan berjalan menuju ruang ganti pemain.
Saat akan berangkat ke café, Aldi datang menghampiriku. Aku lupa kalo tadi aku berangkat bareng Aldi dan udah janjian pulang bareng. Melihat Aldi mendekatiku, teman-teman langsung menggodaku.
“Kita pulang sekarang kak?”tanya Aldi
“Cieee..yang mau nge-date”goda Fenda lalu menyenggol badanku.
“Al maaf ya, aku sama temen-temen mau ngrayain kemenangan kelasku”
“Kemana?”tanya Aldi
“Udah..diajak aja ga papa Vi”ucap Nisa
Aku sebenarnya malu karena saat ngobrol dengan Aldi, teman-temanku malah ikutan nimbrung. Mereka malah mengajak Aldi ikut serta. Sempat kulihat Coco yang sudah berganti baju berjalan ke arahku dan teman-teman. Wajahnya kelihatan jutek banget. Tidak seperti tadi, saat aku mengucapkan selamat padanya. Feli dan Sandra, kulihat berjalan ke arah Coco.
“Coco..selamat ya..good job”ucap Feli pada Coco
“Ciee..yang satu didatengin pangerannya, yang satu didatengin bidadarinya..”goda Syifa
“Ah..kak Syifa bisa aja”ucap Feli malu-malu.
“Mau ikut sekalian Fel?”tanya Coco pada Feli
Mendengar Coco mengajak Feli, sontak membuatku sangat marah.
“Kemana?”tanya Feli dengan ekspresi bingung
“Aku sama temen-temen mau main ke café El-Mo. Sekalian ngrayain kemenangan kelasku”
“Ga papa nih aku ikut?”tanya Feli
Ihh..dasar! Aku yakin pasti dalam hati, dia seneng banget diajak jalan sama Coco. Karena wajahnya yang sumringah setelah diajak Coco tak bisa menipu.
Akhirnya Feli ikut kami ke café El-Mo. Begitu juga dengan Aldi. Kami rame-rame main ke café El-Mo. Kami berkumpul di rooftop café lantai tiga yang pemandangannya sangat bagus. Apalagi pemandangan langit senja saat itu benar-benar bagus. Langit berwarna jingga mengiringi matahari yang beranjak ke peraduannya.
Suasana rooftop café yang ditawarkan café El-Mo sangat asri dan natural dengan pohon-pohon hias serta penggunaan warna-warna netral yang menyejukkan mata. Konsep cafe ini di bagian indoor adalah glass house. Jadi, bagus banget kalo foto-foto saat sore hari alias golden hour.
Aku duduk bersama Anti. Aldi duduk di depanku. Sementara Coco dan Feli duduk tak jauh dari tempatku. Melihat kedekatan dan keakraban mereka selalu berhasil menyulut api cemburu dalam hatiku. Membuatku tak tahan melihat dia tertawa dan bercanda dengan cewek lain. Karena harusnya aku yang ada di sana, bukan Feli. Soup yang kupesan juga hanya aku mainkan saja sejak tadi. Membuat Aldi menegurku.
“Soup-nya ga enak kak?”tanya Aldi padaku
“Hah..ah ga kok..enak”jawabku sambil kupaksakan tersenyum
“Kok dari tadi dimainin aja?”
“Kamu kenapa sih Vi? Nglamun aja..apa mau disuapin Aldi?”goda Nisa
“Apaan sih Nis? Ga lah”kelitku
Aku tak tahu apakah Coco mendengar candaan Nisa, tapi saat Nisa menggodaku, sekilas kulihat Coco menatap ke arah mejaku. Tapi aku segera menepiskan pandanganku begitu mataku bertatapan dengan Feli.
Aku sama sekali tak menikmati pesta perayaan kemenangan kelasku. Setiap aku mencuri pandang melihat Coco, kulihat dia bercanda dan tertawa dengan Feli. Aku mencoba bertahan dan bersabar. Namun terlalu lama di tempat itu, membuat dadaku terasa sesak.
Karena tak tahan, akhirnya aku pamit pulang lebih dulu.
“Al, pulang sekarang yuk”ajakku pada Aldi
Aldi mengangguk.
“Aku duluan ya..takut dicariin Ayah” alasanku pada Anti
“Guyss..aku duluan ya”teriakku pada teman-teman
“Lho kok duluan sih Vi? Ga nanti aja pulangnya”protes Bila
“Iya..kan masih jam segini juga”
“Nanti aja Vi..bareng kita-kita”
Teman-teman mencoba membujukku tapi aku menolak. Kalo aku paksakan tetap di sana, aku yang takkan kuat. Perasaanku akan semakin ga karuan. Saat aku berjalan melintas di depan meja Coco, kulihat tatapan matanya yang sangat menusuk. Mungkinkah itu karena kamu cemburu? Mungkinkah itu arti tatapan matamu padaku? Aku sangat ingin mengetahui apa yang kau rasakan saat itu.
“Ayo kak”
“Eh..Iya”
Akhirnya aku pulang diantar Aldi.