Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Coco vs Arsy (2)



Kulihat hari itu, wajah Coco lain dari biasanya. Tetep ganteng sih, tapi beda aja. Seperti ada kemarahan yang terpendam di balik senyumnya yang tersungging.


“Hei Co..sejak kapan kamu disitu?”tanya Titan


“Udah dari tadi”katanya sambil menyapa semua lalu dia duduk tak jauh dari tempatku.


“Kamu kesini sendirian Co?”tanya Bila


“Iya”jawabnya


Kemudian dia mengajak aku ngobrol. Menanyakan tentang lomba yang sudah aku ikuti.


“Gimana lombanya?”tanya Coco padaku


“Lumayan..sekolah lain juga bagus-bagus kayaknya”jawabku


“Tapi kita lebih bagus kok”imbuh Denise


“Kapan pengumuman lombanya?”tanya Coco


“Mungkin besok sekalian upacara penutupan”jawabku


“Gimana persiapan lomba olimpiadenya?”tanyaku


“Ya..gitu lah”jawabnya singkat


Kulihat wajahnya agak beda. Entahlah. Aku tak tahu pasti.


“Ya gitu gimana?”tanyaku lagi


“Susah”jawabnya singkat


“Hehehe..semangat ya”ucapku sambil kukepalkan tanganku di depannya memberinya semangat


“Iya Co..semangat ya”ucap beberapa teman-teman


“Makasih”ucapnya pada teman-teman


“Co?”


“Hah?”


“Fighting!!!”ucapku sambil mengepalkan tanganku di depan wajahnya.


Dia tersenyum melihatku memberinya semangat. Kami pun ngobrol bersama dengan teman-teman.


“Oya..Aku bawa makanan kesini..Aku ambilkan dulu ya”katanya sambil berdiri dari tempat duduknya.


“Yyyeeeyyy…makan-makan”teriak teman-teman senang


Dia melihat kearahku sambil memberi isyarat supaya aku ikut dia. Akupun bangun dari tempat dudukku.


“Awas Vi” teriak Arsy memperingatkanku


Tak kuperhatikan di atas kepalaku ternyata ada tali pramuka yang digunakan untuk menahan posisi tenda agar tetap berdiri.


“Aduh”


Aku mengaduh setelah menabrak tali itu. Kupegangi kepalaku yang kesakitan.Teman-teman tertawa melihat kecerobohanku.


“Hati-hati dong Vi” kata Nisa menasehatiku


Aku hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku. Tiba-tiba Coco mengelus kepalaku didepan teman-teman. Membuatku kaget sekaligus malu.


“Aduh..Aku juga mau dong kepalaku dielus-elus” ucap Arman sambil menirukan suara cewek.


Membuat teman-teman geli mendengarnya. Mereka pun tertawa mendengar kekonyolan Arman. Sementara Coco tampak tak perduli sama sekali dengan candaan teman-teman.


“Aku ambilkan makanannya ya”ujar Coco kepada teman-teman


Aku berjalan di belakangnya. Dia melambatkan jalannya sehingga kami bisa jalan berdampingan.


“Masih sakit?”tanyanya sambil menoleh kearahku.


“Iya..sedikit”kataku sambil meringis.


“Makanya hati-hati”katanya


Kami berjalan beriringan menuju suatu tempat. Sesekali kami bertemu dengan siswi dari sekolah lain. Saat mereka melihat Coco, mereka kelihatan senang dan berbisik-bisik satu sama lain. Aku yakin mereka pasti naksir Coco. Karena dia memang ganteng. Tapi dia nya sih biasa aja. Cuek seperti biasanya.


“Katanya kamu ga bisa datang? Ehh..Tau-tau dah nongol” kataku sambil tersenyum, karena aku memang senang dia datang


“Kamu ga suka aku datang? Ya udah..Aku pulang aja” katanya dengan nada merajuk


“Iihh..kok ngomongnya gitu” kataku mencoba menghiburnya


“Pasti seneng banget ya ada yang terang-terangan naksir” katanya sambil melirik ke arahku. Raut mukanya kelihatan jengkel banget.


“Ngomong apaan sih kamu?”kataku mencoba mengelak sambil menepuk pundaknya. Aku pura-pura tak tahu arah pembicaraan Coco.


“Barusan..Arsy bilang dia naksir kamu..”Udah cantik, baik, pinter lagi” katanya menirukan kata-kata Arsy


Gawat..rupanya Coco denger obrolan teman-teman tadi. Aku pun mencoba setenang mungkin menanggapinya.


“Kamu denger obrolan temen-temen tadi?”tanyaku


“Denger lah, keras gitu ngomongnya”jawabnya masih dengan muka jengkel.


Sumpah ya, raut wajahnya waktu itu kelihatan jengkel banget. Tapi tetep ganteng kok. Hahahaha..


Kucoba mengalihkan pembicaraan, supaya dia tidak semakin marah.


“Oyaa…Kamu bawa makanan apa? Enak ga?”tanyaku mencoba mengalihkan percakapan


“Udah ga usah mengalihkan topic pembicaraan”katanya


Yahh..aku ketahuan.


“Emangnya kenapa kalo Arsy naksir Aku? Ga boleh?”tanyaku mencoba menggoda dia


Hah..kenapa dia sewot? dia cemburu? Masak iya, Coco cemburu..really?? Aneh banget. Dia yang sewot..tapi kenapa aku yang seneng ya..hahahaha


Kuperhatikan dia dari belakang. Bahkan tampak belakangnya pun kelihatan cakep banget. Maskulin sekali. Maklum saja dia atlet basket di sekolah. Kaos slimfit hitam yang membalut tubuh bagian atasnya semakin mempertegas tubuhnya yang benar-benar atletis. Keren abissss…


Dia berbalik menengok ke arahku.


“Ngapain bengong disitu?”tanyanya


“Nungguin Arsy?” tanyanya lagi menggodaku


Aku segera berjalan ke arahnya setengah berlari. Enak saja dia bilang aku nungguin Arsy. Kalo udah marah, dia jadi nyebelin banget.


“Jalanmu itu yang kecepetan..kakiku kan pendek”kataku


“Tu..liat” kataku sambil kujulurkan kakiku didepannya


Dia tertawa mendengar jawabanku. Dia mengusap- usap rambutku, membuat rambutku sedikit berantakan.


“Aaaahhh..Coco..jangan diberantakin dong” protesku sambil kurapikan rambutku. Bibirku cemberut. Dia tertawa lagi. Kami pun berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di tempat parkir di luar lapangan.


“Kamu bawa mobil?”tanyaku penasaran


“Aku pinjam mobil kakakku”katanya sambil membuka pintu mobil bagian tengah.


Dia mengambil 4 box pizza hut dan diserahkan padaku.


“Bawain bentar”katanya


Dia mengambil 1 box berisi minuman ringan.


“Eeemmmm..baunya enak banget”kataku sambil mencium aroma pizza yang masih hangat.


Kami pun kembali ke tenda setelah Coco mengunci mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju tenda, kami ngobrol dan bercanda bersama. Tatapan siswi sekolah lain yang berpapasan denganku dan Coco benar-benar membuat jengkel.


“Liat tuh..ciwi-ciwi yang lagi liatin kamu”ucapku padanya


“Mana?”tanyanya


“Pura-pura ga tahu lagi”keluhku


“Kenapa? Cemburu?”godanya padaku


“Cemburu apanya..nih  rasain”jawabku.


Kutendang saja pantatnya. Tendanganku tadi membuat Coco kaget.


“Nih rasain juga”Dia menendangku balik.


Kelakuan kami berhasil membuat cewek-cewek sekolah lain yang dari tadi memperhatikan Coco, ikut cekikikan melihat kelakuan kami. Sampai di tenda, teman-teman kelihatan sangat senang dengan makanan yang dibawanya.


“Yeyyy..makan-makan”ucap teman-teman bersamaan


“Makassih ya Co”


“Iya..makasih ya”


Dia hanya menggangguk. Kali ini aku dan dia duduk  bersebelahan di depan tenda. Kami makan sambil bercanda dengan teman-teman. Dasar si Coco manja, maunya diambilin pizza nya.


“Ambilin”ucapnya padaku


Aku pun mengambilkan seiris pizza untuknya.


“Mau saus sambal apa tomat?”tanyaku


“Sambal aja”ucapnya.


“Idihhh..udah kayak suami istri aja kalian berdua ini. Jiwa jombloku meronta nih liat kemesraan kalian”protes Aryo


“Mesra apanya? Manja iya”protesku sambil menyerahkan irisan pizza itu pada Coco


Coco seperti tak ambil pusing dengan ocehan Aryo. Arsy juga menatapku dengan tatapan tak suka. Maaf ya Ar..


Kami menikmati pizza yang dibawa Coco sambil ngobrol dengan teman-teman. Cowok kan biasa, makannya lebih cepat dari cewek, jadi pizza di tangan Coco udah ludes sementara pizzaku masih lumayan.


Saat itu, aku lagi asyik ngobrol dengan Denise sambil menikmati pizza ditanganku. Dasar Coco usil bisa-bisanya dia menggigit juga pizzaku. Tentu saja aku kaget. Sementara teman-teman malah asyik ber “cieee..cieee” melihat kelakuan Coco.


“Ciee..ciee..”seru teman-teman hampir bersamaan.


“Kamu apaan sih Co? Ngapain makan pizzaku” protesku sambil memukul lengannya karena kesal.


Dia malah asyik mengunyah pizza hasil rampasannya tanpa rasa bersalah.


“Kirain ga mau dimakan..ya aku bantuin makan. Kan kasihan, dari tadi pizzanya dianggurin”alasannya


“Ini juga lagi ngunyah Co..lihat! Punyamu dah abis? Cepet banget”


“Hahaha..Vivi kalo makan kayak anak kecil ya..blepotan”ucap Intan


“Kenapa?”tanyaku


Aku bingung karena teman-teman melihat ke arahku sambil tertawa.


“Apaan sih?”


Tiba-tiba Coco menyentuh ujung bibirku. Refleks aku memundurkan tubuhku.


“Lihat ini”Coco menunjukkan sisa saus tomat di jarinya.


“Aduduhhhhh..kalian bisa ga sih jangan pamer kemesraan gitu..aku kan jadi pingin”goda Titan


“Kamu sih..temen-temen jadi mikir yang enggak-enggak kan?”protesku sambil memukul lengannya beberapa kali.


“Emang aku ngapain?” ucap Coco polos sambil mengusap lengannya yang kupukul.


Selesai makan kami ngobrol bersama teman-teman. Sesekali dia merentangkan kedua tangannya ke belakang, menyangga tubuhnya. Sehingga bahunya berhimpit dengan tubuhku. Dan tangannya tepat di belakang tubuhku. Seolah-olah dia memang sengaja seperti itu. Kadang dia membisikkan sesuatu di telingaku. Sepertinya dia ingin memanas-manasi Arsy. Itu sih pikiranku. Begitulah  dia. Jika sudah jealous pasti ada-ada aja kelakuannya. Aku yang mengenalnya hanya bisa tersenyum sendiri melihat kelakuannya seperti itu. Karena aku memang suka. Suka saat dia cemburu seperti itu.