Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Antara Coco dan Rena



Keesokan harinya, setelah mengantar Coco ke mobil. Aku kembali ke dalam rumah. Kulihat Renata duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


“Kamu nonton apa Rena?”tanyaku lalu aku duduk di kursi sofa di depan TV layar lebar di ruang keluarga.


Renata mendiamkan aku. Mungkin dia masih marah padaku karena kejadian di meja makan semalam.  Akhirnya aku yang mengajaknya ngobrol.


“Oya Ren..kamu sama Coco kerabat jauh ya?”


“Bukan”


Lho? Kok bukan? Bukannya dulu dia datang dalam perjamuan keluarga besar Coco?


“Kok bukan?”


“Emang bukan”


“Terus hubunganmu dengan keluarga Coco itu apa?”tanyaku penasaran


“Emang Coco ga pernah cerita sama kamu?”


“Cerita apa?”


“Aku kan calon istri Coco. Sebelum dia menikah sama kamu”


Apaaaa? Renata calon istri Coco? Apa maksudnya ini?


“Coco ga pernah cerita sama kamu tentang hubungan kami?”tanya Rena sambil menatap ke arahku


Entah kenapa hatiku merasa sangat kesal jengkel dan marah. Kenapa Coco sama sekali tak pernah menceritakan masalah ini? Jadi gadis yang ada di depanku ini adalah sainganku. Gadis ini adalah calon istri Coco. Dulu.


“Mamaku dan Mami sahabatan lama. Makanya mereka mau jodohin aku sama Coco. Tapi gara-gara kamu, aku ga jadi nikah sama Coco”gerutu Rena padaku dengan tatapan mata yang seperti marah padaku.


Ini anak kenapa mulutnya kalo ngomong enteng banget. Dia mikir ga sih? Aku sekarang adalah istri Coco. Dan bodohnya aku malah membujuk Coco mengijinkan dia menginap di rumah kami.


“Jadi kamu calon istri yang dulu akan dinikahkan sama Coco ya? Terus sekarang setelah dia nikah sama aku, kenapa kamu masih mendekati Coco? Kamu berharap bisa nikah sama Coco?”tanyaku ketus


“Ya..siapa tau Coco akan menceraikan kamu. Kamu kan baru keguguran anak kalian kan?”


Kenapa mulut anak ini berbisa seperti ular? Bisa-bisanya dia mengungkit masalah keguguranku dan mengait-ngaitkannya dengan perceraian.


“Kamu kalo ngomong mikir ga sih Ren?”tanyaku karena aku sudah kehabisan kesabaran mendengar ucapan Renata yang menyakitkan.


“Maksudmu apa?”Renata yang mendengar pertanyaanku jadi kesal dan berdiri di depanku.


“Aku baru saja keguguran. Perasaanku sampai sekarang masih sedih karena kejadian itu. Bisa-bisanya kamu mengungkit masalah itu dan mengaitkannya dengan perceraian. Aku ga habis pikir jalan pikiranmu”


“Aku kan cuma kasihan sama Coco karena dia ga juga dapat momongan dari kamu”


“Kalo yang keguguran itu kamu, gimana perasaanmu? Kamu tuh.. Ahh, udah lah..kamu ga bakal ngerti”aku malas berdebat dengan Renata yang rupanya jalan pikirannya ga bisa aku pahami.


Akhirnya aku tinggalkan Renata sendiri. Aku jengkel banget setelah berdebat dengan Renata tadi. Karena suasana hatiku yang tak juga baikan, aku akhirnya mengambil tasku. Aku putuskan aku akan jalan-jalan ke mal saja.


Aku jalan-jalan berkeliling di mal seorang diri. Memasuki took demi toko. Kemudian aku memilih pergi ke toko buku. Biasanya dengan membaca buku, bisa membuatku sejenak melupakan kegundahan dan beban dalam pikiranku,


“Vivi?”tiba-tiba seseorang memanggil namaku.


Aku menoleh kearah suara itu.


“Arsy?”


“Aku pikir tadi aku salah lihat. Ternyata beneran kamu”


Sudah lama sekali aku tak melihat Arsy. Terakhir kudengar dia sudah menjadi dosen di sebuah universitas ternama di Jogja. Playboy sekolah yang dulu pernah punya perasaan padaku, kini sudah menjelma menjadi seorang lelaki dewasa yang berbeda dengan penampilannya dulu terakhir kami bertemu. Kami akhirnya pergi ke food court


untuk ngobrol di sana.


“Udah lama ya kita ga ketemu?”


“Iya. Terakhir waktu wisuda SMA ya?”jawabku


“Aku denger kamu udah jadi dosen ya..wahhh, pak dosen”godaku pada Arsy


Arsy hanya tersenyum mendengar godaanku. Kulihat sekarang dia udah berubah.


“Aku dengar kamu juga udah nikah sama Coco”


“Iya”


“Maaf aku ga bisa datang ke pernikahanmu”


“Iya..kok kamu ga dateng sih? Kan Solo-Jogja deket”


"Aku takut patah hati lihat kamu bersanding sama Coco"ucap Arsy padaku


"Hemmm..mulai deh"


"Hahahaha"Arsy tertawa mendengar ucapanku.


“Kamu masih sama Mira? Gimana kabar Mira?”tanyaku


“Aku dah lama putus dari Mira”


“Oh ya?"


“Ga usah kasihan gitu. Di kampusku banyak cewek cantik kok”


“Heeemmm..kirain kamu dah berubah. Ternyata masih sama aja. Masih suka tebar pesona ya?”tanyaku disambut tawa Arsy


“Kan hilang satu tumbuh seribu”ucap Arsy sambil terkekeh


“Bukannya hilang satu tumbuh sejuta”godaku lagi


“Tau aja kamu Vi..hahahahaa”


Kami kemudian ngobrol banyak hal. Arsy rupanya ga banyak berubah. Hanya penampilannya saja yang sekarang lebih dewasa. Tapi kelakuannya ga banyak berubah. Sekali playboy selamanya playboy. Itu mungkin prinsipnya.


“Coba di kampusku ada mahasiswi kayak kamu Vi..pasti udah aku pacarin dari dulu”


“Hemmm..Mulai..mulai..”


Ditengah pembicaraan kami, ada seseorang yang memanggilku.


“Kak Vivi?”aku menoleh ke arah suara.


Kulihat seorang gadis muda yang sangat cantik berjalan ke arahku.


“Dila?”


“Kak Vivi apa kabar?”sapa Dila sambil memeluk tubuhku


“Baik..Dila apa kabar?”


“Aku juga baik kak. Kak Vivi sama siapa?”


“Oh..ini sama temen SMA kakak”


Saat ingin kukenalkan Dila pada Arsy, kulihat ekspresi Dila yang awalnya senang bertemu denganku tiba-tiba berubah.


Dila kenal Arsy? Wajah Dila seperti kaget melihat Arsy.


“Kalian sudah saling kenal?”


“Pak Arsy dosenku di kampus kak”


“Ooo”


Kenapa ekspresi wajah mereka berdua seperti itu ya? Kulihat wajah Arsy yang tadi sumringah jadi kelihatan dingin. Dila juga kayak ga suka gitu lihat Arsy.


“Kak Vivi dah lama di sini?”


“Sekarang kakak tinggal di sini. Suami kakak kerja disini”


“Oo”


Aku akhirnya ngobrol berdua dengan Dila. Arsy yang biasanya banyak ngomong entah kenapa malah diam sejak ada Dila.


“Aku ke toilet bentar ya Vi?”


“Oke”


Begitu Arsy pergi, aku beranikan diriku menanyakan pada Dila.


“Kok Dila kayak ga suka gitu sama Arsy?”


“Habis dia tuh dosen aneh kak”


“Aneh?”


“Iya..sama mahasiswi lain seangkatanku dan kakak tingkat tuh bisa akrab..sering godain gitu. Playboy banget lah.. Tapi kalo sama aku ketusnya minta ampun. Dasar dosen killer!”


Kenapa aku malah ga percaya omongan Dila ya? Karena Arsy yang selama ini kukenal pasti ramah banget sama cewek apalagi sama cewek cantik, secantik Dila. Masak Arsy ketus, ga mungkin banget deh..


Tiba-tiba hp ku berdering. Coco menelponku.


“Kamu dimana sayang?”tanya Coco


“Aku di mall”


“Sama siapa?”


“Sendiri”


“Pulang sekarang!”perintah Coco padaku


“Ga mau”jawabku ketus. Karena aku memang masih marah pada Coco


“Kalo begitu, aku jemput sekarang. Jangan kemana-mana”


Suamiku yang posesif mulai kambuh lagi penyakit lamanya. Karena aku masih marah dan jengkel sama Coco makanya tadi aku jawab sekenanya.


“Itu suami kakak yang telpon?”


“Iya”


“Kakak baru ada masalah ya?”


Aku hanya tersenyum. Aku mengajak Dila ngobrol lagi menanyakan masalah kuliahnya. Sekarang Dila sudah masuk kuliah semester tiga. Berarti Dila dan Renata seumuran. Kami ngobrol banyak hal. Hingga kudengar suara seseorang yang sudah lama tidak kudengar kabarnya memanggilku.


“Vivi?”aku menoleh ke arah suara.


“Aldi?”


“Kak Al kenapa lama banget?”gerutu Dila pada kakak lelakinya itu


“Apa kabar Vi?”sapa Aldi sambil tersenyum padaku


“Aku baik”


“Hemm..gitu ya, udah ketemu kak Vivi terus adik sendiri dicuekin..oke..fine”gerutu Dila yang merasa dicuekin Aldi.


“Maaf Vi..apa Dila ngrepotin kamu?”


“Ga kok”


“Kamu tuh bilangnya mau beli buku, kakak samperin di toko buku ga ada”


Sudah lama aku ga ketemu Aldi. Sekarang dia tambah keren. Pak dokter keren. Kami pun berbincang-bincang. Rupanya sekarang Aldi membantu mamanya kerja di klinik milik mamanya. Sambil dia mencoba mendaftar PPDS (Program Profesi Dokter Spesialis). Aldi ingin mengambil spesialis kandungan semester depan.


Tiba-tiba,


“Di sini kamu rupanya?”


Kulihat Coco dan Renata sudah menyusulku ke food court. Hatiku mendadak panas, melihat Renata yang datang bersama Coco suamiku, dengan tangannya dilingkarkan di lengan Coco.


“Kamu ngapain sih Ren pegang-pegang.. lepasin”keluh Coco lalu melepaskan tangan Renata di lengannya.


“Apa kabar Co?”sapa Aldi


Kulihat wajah Coco yang sangat tidak suka melihat Aldi. Aku tahu sejak dulu mereka memang tidak pernah akur. Mungkin karena Coco tahu Aldi pernah menyukaiku dan hampir melamarku.


“Oo..kak Vivi lagi selingkuh ya?”ejek Renata membuatku langsung marah pada gadis ini.


“Jaga ucapanmu ya!” Dila yang malah membelaku.


“Emang aku salah?”tanya Renata


“Kalo ga tau apa-apa, mending diem aja deh”ucap Dila masih membelaku


“Kenapa kalian bisa ketemu disini?”tanya Coco padaku.


“Wah..rame banget..ada apa ini?”tanya Arsy yang sudah kembali dari toilet.


“Arsy?”


Kulihat Coco kaget melihat Arsy juga ada disini.


“Kenapa kalian bisa berkumpul disini?”tanya Coco pada kami


“Suami kakak cemburuan ya? Pantes kak Vivi sedih”ucap Dila padaku


“Maaf ya kak..Aku dan kak Vivi ga sengaja ketemu disini. Kakakku juga datang untuk menjemputku. Untuk Pak Arsy..”Dila menatap Arsy


“Aku juga ga sengaja ketemu Vivi di toko buku”jawab Arsy


“Jadi kalian semua ketemu ga disengaja?”tanya Renata membuatku panas.


Karena aku merasa percakapan kami hanya akan membuat suasana tidak kondusif makanya aku memilih pamit saja.


“Sebaiknya aku pulang sekarang. Sampai ketemu lagi ya Dila..kapan-kapan kita ngobrol lagi”


“Iya kak”


“Aku pulang duluan ya Al..Ar”pamitku pada Aldi dan Arsy