Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Enggan Pacaran



Ketika kami masih junior PMR, saat kegiatan pelantikan anggota baru, kebetulan aku dan Vivi satu kelompok. Selama acara pensi, aku yang duduk agak di belakang Vivi, sangat menikmati acara itu karena aku bisa melihat Vivi dari dekat tanpa ketahuan.  Dia yang sesekali tersenyum dan tertawa bersama teman-teman sambil ikut bernyanyi bersama dengan yang lain, menjadi pemandangan yang tak ingin aku lewatkan.


Saat acara pensi, teman-teman ingin aku yang mewakili kelompokku. Tapi aku menolak, karena memang tidak ada piano. Alat music yang kukuasai. Saat itu alat music yang disediakan panitia hanya gitar, sementara aku tak bisa main gitar.


Akhirnya Arsy yang mengajukan diri mewakili kelompokku. Ada sedikit perasaan kecewa dalam hatiku karena sudah menolak keinginan teman-teman. Karena kemudian Arsy dipuja-puja seperti pahlawan oleh teman-teman. Vivi juga terlihat sangat bahagia, saat Arsy bersedia mewakili kelompokku. Apalagi saat perform, Arsy terus menatap Vivi. Tatapan matanya penuh cinta. Membuat aku sangat tak suka. Untung saja Vivi anaknya kurang peka, jadi tatapan Arsy tadi tak berarti apa-apa untuknya.


Saat acara persiapan jurit malam, kami para junior diminta menutup mata dan mengikatkan bandana slayer PMR kami sebagai penutup mata. Kami dituntun kakak senior berputar-putar di sekitar area sekolah. Aku tahu kami hanya dikerjai kakak senior, karena dulu kakak keduaku juga pernah menjadi senior PMR di SMA ku ini. Jadi aku tak merasa heran sama sekali.


Dan saat seseorang menggenggam ujung bajuku dengan sangat erat lalu kami dituntun menuju lapangan sekolah, aku tahu seseorang itu adalah Vivi dari obrolan kakak senior yang menuntun kami. Dia memegang ujung kaosku sangat kuat. Aku sempat kuatir pada Vivi saat kudengar seseorang terjatuh.


Sampai di lapangan, karena sangat kuatir, aku beranikan diriku menanyakan keadaannya. Aku lega saat mendengar, seseorang yang jatuh itu bukan Vivi.


Kelakuan Vivi dan Anti kadang memang terlalu lebay menurutku. Mereka yang berpelukan seakan sudah terpisah lama, membuatku dan Dedi berkomentar. Dan dia yang tak suka mendengar komentar kami, terlihat sangat menggemaskan saat cemberut.


Karena Anti kakinya sedikit lecet, Vivi memaksa Dedi menjaga Anti saat jurit malam nanti, karena Anti dan Dedi satu kelompok. Dedi tentu saja menolak keras harus menjaga Anti. Tapi Vivi terus saja memaksa. Membuat Dedi kemudian berbisik padaku,


“Lihat tuh kelakuan cewekmu..maksa banget”


Aku hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan Vivi yang memaksakan keinginannya.


Dedi adalah sahabat baikku sejak kecil. Dia yang paling tahu aku seperti apa. Aku pun bisa bercerita apa saja pada Dedi. Itu sebabnya Dedi menyebut Vivi dengan sebutan “cewekku” karena Dedi tahu aku suka Vivi.


Aku dan Vivi sempat ke toilet bersama saat menunggu giliran jurit malam. Awalnya aku pikir Vivi anaknya pemberani. Karena sebelumnya dia menolak tawaran Arsy yang akan menjaganya jika dia ketakutan.


Keluar dari toilet, aku bermaksud mengajaknya kembali ke lapangan. Namun rupanya bunyi ketukan pintuku membuat Vivi ketakutan. Dia sampai memukul lenganku berkali-kali. Dia memukulku sekuat tenaga, membuat lenganku sakit. Aku pun meninggalkan dia sendiri. Mungkin karena menyesal sudah memukulku, Vivi meminta maaf padaku dengan ekspresi memelas.


Akhirnya tiba giliran kelompok kami. Kami diarahkan panitia menuju kebun bambu. Aku kebagian berjalan paling belakang karena postur tubuhku yang paling besar. Vivi berjalan di depanku. Kulihat beberapa kali Vivi tersenyum mendengar obrolan teman-teman satu kelompokku.


Sampai di kebun bambu, kelompokku di pecah menjadi 3 kelompok kecil. Aku dan Vivi kelompok terakhir. Sambil menunggu giliran, Arsy sempat meminta tukar posisi denganku karena dia ingin menjaga Vivi. Dan sekali lagi, Vivi menolak.


Aku tahu pasti, Arsy sebenarnya naksir berat pada Vivi. Itu sebabnya dia ingin sekali satu kelompok dengan Vivi. Untungnya Vivi menolak. Jika Vivi menerima tawaran Arsy untuk menjaganya, aku pasti langsung patah hati.


Aku senang sekali, saat tiba-tiba Vivi memegang lenganku setelah mendengar suara seseorang yang berteriak ketakutan. Walaupun itu karena refleks atau spontanitas Vivi, karena aku yang paling dekat posisinya dengannya namun kejadian itu berhasil membuat Arsy cemburu dan tak lagi ngotot pindah posisi kelompok denganku.


Selama menunggu giliran kelompokku dan Vivi, Vivi justru asyik ngobrol dengan kakak senior yang rupanya adalah teman kakak sepupunya. Aku tak dianggap sama sekali. Mereka berdua asyik ngobrol berdua. Aku hanya mampu memperhatikan dia yang asyik ngobrol dengan kakak senior. Kulihat dia yang tertawa dan bercanda dengan kakak senior, membuat perasaanku jengkel.


Pada acara jurit malam itu, kami diharuskan mengambil bet PMR yang disembunyikan di antara nisan-nisan. Ya.. kami diharuskan menguji nyali kami melalui kegiatan jurit malam.


Kakak-kakak senior mencoba menakut-nakuti kami menggunakan kostum pocong yang sangat menyeramkan. Dia awalnya tampak tidak takut sedikitpun. Dia menyusuri nisan-nisan di makam dengan berani. Aku sempat takjub melihat keberanian gadis ini. Tetapi ketika kakak senior berkostum pocong muncul tiba-tiba dibelakangnya, dia pun menjerit karena kaget. Melihat dia yang ketakutan, membuat aku ingin melindungi dia.


Dia pun bersembunyi di belakangku sambil berpegangan pada ujung bajuku. Setelah menemukan bet PMR yang ditugaskan, kami berdua segera pergi meninggalkan makam. Dia pun segera melepaskan pegangannya, begitu melihat pintu keluar makam. Kebersamaan kami yang sangat singkat kala itu, meninggalkan bekas dalam hatiku. Sementara dia kelihatannya tidak mengingat momen itu.


*


*


*


*


Kecantikan Vivi benar-benar pemandangan indah yang tak ingin kulewatkan. Aku suka memperhatikan dia dari jauh. Andai saja aku punya keberanian lebih, ingin rasanya aku mengajaknya ngobrol. Berbincang tentang banyak hal. Menanyakan hal-hal yang disukainya dan hal-hal yang tidak disukainya. Aku ingin sekali bisa dekat dengannya.


Saat rambut indahnya tertiup angin, benar-benar membuat jantungku berdegup kencang. Apalagi jika kami tiba-tiba bertatapan. Rasa-rasanya jantungku ingin melompat dari tempatnya. Senyumnya mampu mencerahkan suasana hatiku yang kadang mudah berubah. Dan tawanya benar-benar sebuah simponi yang mengalun indah di telingaku.


*


*


*


*


Suatu hari, saat Valentine, 14 Februari. Seperti biasa, ada saja cewek-cewek yang memberiku coklat. Dengan senyum malu-malu mereka memberiku coklat aneka bentuk dan harga. Bahkan ada yang memberiku coklat import dari Belgia. Aku hanya tersenyum menerima semua pemberian mereka.


Sempat kulihat, Vivi menatap ke arahku. Dan ketika sadar aku menatapnya, dia yang salah tingkah segera memalingkan wajahnya. Dasar Vivi!


Aku memang tidak terlalu suka coklat dan makanan manis, maka coklat-coklat itu malah aku bagi-bagikan pada teman-teman. Termasuk Vivi. Dia yang menerima coklatku malah bengong. Gadis ini kenapa suka sekali bengong sih?


“Hei Vi?”tanya Anti sambil menyenggol badan Vivi


“Hah..iya..maaf”jawabnya


Aku hanya tersenyum melihat ekspresi Vivi yang menggemaskan saat bengong.


“Dikasih coklat tuh sama Coco”ucap Anti


“Kalo mau yang lain, tuh juga masih banyak”


“Hei Co..kok malah kamu bagi-bagiin ke kita sih? Cewek-cewek tadi kan ngasih ke kamu?”tanya Anti


“Apa kamu ga kasihan sama mereka? Mereka kan udah susah-susah beliin kamu coklat? Malah dibagi-bagiin”kata Vivi


“Bukan aku yang minta. Mereka sendiri yang ngasih. Jadi terserah mau aku apakan”jawabku


“Coco tuh ga suka coklat. Ga suka yang manis-manis”sahut Dedi


“Tapi aku suka kamu kok Vi”sahut Arsy yang kemudian duduk di belakang Vivi


“Apaan sih Ar? Ga nyambung deh”jawab Vivi sewot


“Aku kan suka yang manis-manis. Karena kamu juga manis. Jadi aku suka”ucap Arsy


“Wwuuueeekkkk”Anti dan Vivi malah membuat ekspresi seperti orang yang mau muntah. Membuatku tersenyum melihat tingkah konyol mereka berdua.


Saat aku akan kembali ke mejaku, tiba-tiba terdengar suara ribut—ribut dari luar. Membuatku juga penasaran.


“Ada apa sih? Ribut banget di luar?”tanya Bima sambil berjalan ke luar kelas


Dari luar kelas, muncul seorang lelaki, kakak kelasku membawa buket bunga besar diiringi beberapa teman-temannya, tersenyum dengan lebar masuk ke dalam kelasku. Dia dengan penuh percaya diri masuk dan berdiri di meja Vivi dan Anti. Vivi dan Anti kulihat sangat kaget melihat kehadiran kakak kelasku itu.


“Suitt..suiittt”


“Hei..diam kalian semua”


“De Vivi”


“Eh Iya kak..ada apa ya?”tanya Vivi dengan ekspresi wajah kaget dan takut bercampur menjadi satu.


“De Vivi yang cantik..di hari penuh kasih sayang ini, ijinkan aku mempersembahkan tanda cintaku padaku” ucap kak Candra, kakak kelasku itu.


Kak Candra kemudian menyerahkan buket bunga besar itu pada Vivi. Vivi tampak linglung dan takut-takut menerima buket bunga itu. Hatiku rasanya panas, melihat gadis yang kusukai menerima buket bunga dan rayuan maut dari kak Candra yang juga playboy di sekolah ini.


“Udah Dra..ga usah lama-lama..tembak aja sekarang”


“Iya..tembak Dra..hahahaha”


Ucap beberapa teman kak Candra yang memanas-manasi keadaan. Rupanya kak Candra pingin nembak Vivi jadi pacarnya. Aku yang awalnya ingin kembali ke mejaku malah ga jadi balik. Aku justru berdiri tak jauh dari kak Candra dan Vivi.


“Tenang-tenang”ucap kak Candra mencoba menenangkan teman-temannya.


Sementara itu suasana kelasku jadi heboh banget dengan kehadiran kakak kelas IPS yang menyerbu kelasku. Teman-teman kelas sebelah juga pada mengintip dari balik kaca jendela dan dari balik pintu. Ingin melihat kelanjutan cerita kakak kelas yang sudah seperti arak-arakan pengantin.


“De Vivi yang cantik..maukah kamu jadi pacarku?”tanya kak Candra sambil senyum-senyum


Vivi kulihat sangat tidak nyaman ketika dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang.


“Udah terima aja”


“Terima aja Vi”


“Iya de Vivi..terima aja”


Sungguh suara-suara dari kakak kelas yang ikut ke kelasku membuatku sangat kesal.


“Maaf kak Candra..jangan tersinggung ya kak..aku tak bisa menerima kakak..maaf ya”ucap Vivi pelan


“Yahhhh..patah hati deh Candra”


“Hushhh..kalian itu bikin rusuh aja..diem dulu”bentak kak Candra pada teman-temannya.


Lalu kak Candra menatap Vivi. Membuatku rasanya ingin mencolok matanya saja. Berani-beraninya dia nembak Viviku.


“Tapi kenapa de Vivi?”tanya kak Candra dengan suara lembut pada Vivi membuatku sangat muak dengan kelakuan playboy satu ini.


“Maaf kak..tapi kita ga saling kenal. Maaf ya kak”ucap Vivi sedikit takut.


“Kan bisa kenalan dulu, de”


“Kita berteman aja ya kak”


“Ya udah lah..kalo itu keputusanmu. Aku akan menerimanya. Tapi kamu mau menerima pemberianku ini kan?”tanya kak Candra


Ini orang udah ditolak masih juga ngotot. Kalo aku jadi Vivi pasti udah aku buang buket bunga dan kotak coklatnya itu. Bikin aku emosi saja..


Setelah itu kak Candra dan rombongannya kembali ke kelasnya setelah berhasil membuat kehebohan di kelasku. Sempat kudengar sebelum kembali ke mejaku, Vivi berkata pada teman-temannya,


“Kok ga diterima sih Vi? Kak Candra kan idola kelas XII, cakep lho..kalian pasti cocok”ucap Nindi


“Kamu aja sana sama kak Candra”


Nindi cemberut mendengar ucapan Vivi. Teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Vivi pada Nindi. Sementara aku hanya menahan tawaku.


“Kamu ga mau pacaran sama kak Candra Vi?”tanya Bima


“Iya..lagian aku juga ga mau pacaran sampe lulus SMA”ucap Vivi


“Emang kenapa?”tanya Arsy


“Aku pingin fokus belajar. Tar kalo udah kuliah, baru deh aku mau pacaran, hahaha”ucap Vivi pada Anti Bima dan Arsy


Rupanya Vivi hanya ingin fokus belajar. Membuat hatiku di satu sisi senang, karena itu artinya dia ga akan pacaran dengan siapapun. Tapi di sisi lain, itu juga berlaku untukku. Jika aku menembaknya sekarang, saat masih SMA, berarti aku juga akan bernasib seperti kak Candra tadi.