
Mereka malah berantem di depanku. Walaupun sering bertengkar, tapi aku bisa lihat kakak beradik ini sangat dekat. Bahkan mereka tak sungkan bertengkar di depanku. Karena aku anak tunggal, maka aku tak pernah merasakan seperti yang mereka lakukan sekarang. Bertengkar dengan saudara sedarah.
Kami ngobrol banyak hal. Sesekali Dila berulah dengan membongkar aib masalalu Aldi padaku. Membuat Aldi malu, dan malah bertengkar lagi dengan Dila. Dila yang takut dipukul Aldi memilih berlindung di belakangku. Dasar kakak beradik ini! Mereka lucu sekali.
Saking asyiknya bercanda, kami tak mendengar mama papa Aldi yang sudah pulang.
“Rupanya ada tamu dirumah? Siapa ini?”tanya mama Aldi padaku.
Aku berdiri dari tempatku dan menjabat tangan mama dan papanya. Mama Aldi sangat cantik, papanya juga tampan. Pantas saja Aldi dan Dila bisa secantik dan setampan itu. Mamanya seorang dokter. Terlihat dari jas putih yang masih dikenakannya.
“Sore om, tante..saya Vivi, senior Aldi di PMR”
“Inikan yang di…”mamanya menunjuk wajahku sambil tersenyum dan bola matanya mengarah pada Aldi.
Ada apa sih dengan keluarga Aldi? Kenapa ekspresi mereka mencurigakan seperti itu? Membuatku semakin bingung juga penasaran.
“Iya kan ma? Mama juga merasa begitu kan?”tanya Dila pada mamanya.
Sumpah..ini kejadian aneh yang aku alami selama bertemu keluarga Aldi. Karena mereka seperti sudah mengenalku. Padahal aku baru pertama kali ini bertemu mereka.
“Sudah sore ma..aku harus antar kak Vivi pulang”
“Lho kok udah mau pulang? Buru-buru banget..Mama kan belum kenalan sama..Vivi ya tadi namanya?”
“Iya tante..Vivi”
“Kak Vivi masih ada urusan ma..ayo kak aku antar pulang”
“Maaf tante saya pulang dulu..takut dicariin bunda sama ayah”pamitku
“Kapan-kapan main sini lagi ya kak?”pinta Dila sambil menggandeng tanganku.
“Iya”jawabku membuat Dila tersenyum sangat manis.
Aku pun pamit pada mama papa Aldi dan Dila. Keluarga Aldi sangat hangat. Aku suka mereka. Terutama Dila. Gadis kecil itu benar-benar duplikat Aldi. Aldi mengantarkanku pulang. Sepanjang perjalanan pulang, kami ngobrol berdua.
Sampai di teras rumahku,
“Maaf ya kak kalo Dila udah ganggu kakak..anak itu memang bawel”
“Ga kok..aku ga merasa terganggu..Dila lucu, mirip kamu ya?”
“Oya? Jadi aku lucu?”
“Kalian mirip banget..pantesan sering berantem.. tapi aku suka kok sama Dila. Anaknya asyik. Aku kan ga punya adik cewek. Lihat Dila tadi jadi berasa punya adik cewek”
“Karena jarak kami yang terlalu jauh, aku kadang ga ngerti maunya Dila. Makanya Dila sering bilang pingin punya kakak cewek. Dia juga sering banget nyuruh aku supaya cepet pacaran, biar dia punya kakak cewek katanya”
“Gitu ya? Oya Al .. tadi katanya mau ngasihtau cewek yang kamu suka. Siapa dia?”
“Bener kakak mau tau?”
“Dari tadi aku juga udah bilang kan? Siapa sih Al? Cepet bilang”
Aku terus meminta Aldi supaya membocorkan gadis yang disukainya. Karena aku memang penasaran, gadis beruntung yang disukai seorang Aldi.
“Aku tunjukin fotonya aja ya?”
Aldi kemudian mengeluarkan hp di saku celananya. Awalnya dia tampak ragu-ragu untuk menunjukkan foto gadis itu padaku. Tapi kemudian dia mau menunjukkannya dengan syarat aku harus menutup mata terlebih dahulu.
Aneh-aneh aja anak ini..kenapa aku harus tutup mata segala sih? Sespesial itukah gadis ini..
“Sekarang kakak boleh buka mata” ucapnya
Saat aku membuka mata, dan hp Aldi sudah ditanganku, aku kaget setengah mati, karena gadis yang disukai Aldi itu…
“Hah? Maksudnya ini apa Al? Kamu bercanda kan?”
Dia menggeleng.
“Kakak kaget ya?”
Kuperhatikan foto itu beberapa kali. Ini pasti ada yang salah..
“Kamu beneran? Tapi ini kan..fotoku?”
“Iya”
“Jadi..”
“Aku suka kakak. Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah suka sama kakak. Aku lihat kakak adalah
gadis yang berbeda dari gadis yang selama ini mendekatiku. Semakin aku mengenal kakak, aku semakin yakin, kalo aku suka kakak”
Entah kenapa mendengar pengakuan Aldi, aku justru merasa tidak senang. Walaupun selama ini aku mengidolakannya dan menyukainya, tapi rasa sukaku padanya hanya sebatas itu. Tak lebih.
“Apa kakak mau jadi pacarku?”
Aldi rupanya cowok yang pemberani. Dia berani “menembak” aku dirumahku. Dimana ayah bundaku ada di dalam rumah.
“Kakak ga harus menjawabnya sekarang..aku siap menunggu jawaban kakak”
“Terimakasih Al..untuk perasaanmu padaku. Jujur sekarang aku masih tidak percaya dengan semua ini. Tapi..aku tak mau memberimu harapan palsu. Aku tak mau kamu terluka karena aku. Apalagi ada seseorang yang aku suka. Maaf aku tak bisa menerimamu. Maaf ya Al”
Raut wajah Aldi berubah. Aku tahu dia pasti sangat kecewa mendengar jawabanku. Tapi aku harus jujur, tidak hanya pada Aldi tapi juga pada diriku sendiri. Karena bagaimanapun juga, yang aku sukai adalah Coco. Dialah lelaki yang sudah menguasai hatiku. Aku tak mau menjadikan Aldi sebagai pelampiasan semata. Itu tidak adil untuk Aldi.
“Aku tahu..kakak pasti akan menolakku”
“Maksudmu?”
“Tapi kita masih bisa berteman kan kak?”
“Tentu saja”
“Aku harap kakak bahagia bersama lelaki yang kakak sukai itu. Karena aku akan bahagia, kalau kakak juga bahagia”
“Terimakasih Al..aku yakin kamu pasti akan menemukan gadis yang juga menyukaimu. Percayalah cowok sekeren kamu, pasti akan menemukan tambatan hatimu”
Aldi pun pulang setelah berpamitan pada ayah dan bundaku.
Maafkan aku Al..
Maaf..