Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Dari hati ke Hati



Coco kemudian menceritakan ketika dia memboncengkan Feli, sebenarnya dia ingin menghampiriku dan mengajakku pulang, tapi dia malu. Akhirnya dia menghentikan motornya di dekat Feli. Hanya agar bisa melihatku dari dekat.


“Waktu pulang aku mau minta maaf, tapi kamu malah membonceng Aldi” wajahnya terlihat sedih.


Mulutnya cemberut. Lucu sekali wajahnya waktu itu. Aku jadi geli.


“Aku mau menyusulmu, tapi Feli mencegahku. Dia minta aku mengantarnya pulang. Karena aku ga mau kehilangan kamu sama Aldi, aku ga pikir panjang. Aku iyakan aja permintaannya”


Ternyata rumahku dan Feli berbeda arah. Dia memacu motornya secepat mungkin dan setelah mengantar Feli pulang, dia memutar arah ke rumahku. Saat Coco lewat, aku sudah masuk rumah.


Berarti benar, yang kulihat saat itu adalah Coco.


Coco juga menjelaskan bahwa dia ingin segera mengakhiri kegalauan dan kemarahannya waktu itu, ketika aku mengirimkan chat menanyakan kejadian dia membentakku. Tapi dia terlalu malu dan gengsi. Akhirnya dia hanya menjawab sepatah dua patah kata.


Dia juga tidak mau mengangkat telponku karena dia takut tak bisa mengendalikan ucapannya seperti ketika dia marah padaku waktu itu.


Coco sempat bertengkar hebat dengan Dedi dan Daniel karena tidak segera meminta maaf padaku dan malah melarikan diri dari masalah kami. Selama persiapan lomba, dia bertengkar terus dengan Dedi dan Daniel.


Dia juga menjelaskan bahwa setiap kali aku dan Aldi lewat depan lab IPA selama dia persiapan lomba, dia sebenarnya selalu memperhatikanku dari jauh. Dia selalu membayangkan aku dan dia berjalan berdua seperti dulu di kelas XI. Berjalan bersama kemanapun berdua, bercanda bersama, ke kantin bersama.


Ternyata kami sama. Yang kami rasakan. Yang kami bayangkan. Yang kami inginkan selama ini sama.


Dia memegang tanganku erat. Mata kami saling berpandangan. Kupandangi wajah tampan lelaki di depanku ini. Lelaki yang walaupun cool dan cuek, tapi ternyata sangat imut dan pemalu. Suasana sangat hangat. Aku hanya diam selama dia bercerita. Mengungkapkan semua beban dalam hatinya. Dalam pikirannya. Aku hanya ingin mendengarkan keluh kesahnya.


Dia sebenarnya ingin sekali menyelesaikan masalah kami. Tapi dia bingung harus mulai dari mana. Hingga akhirnya keadaan kami menjadi runyam seperti ini.


Dia juga bercerita bahwa Anti, Dedi dan Daniel bertubi-tubi meminta penjelasannya. Mereka bertiga selalu menasehati dia untuk segera “rujuk” denganku.


Tetapi karena dia juga disibukkan dengan persiapan lomba yang sangat menyita waktunya, akhirnya dia pasrah dengan keadaan kami.


Aku sempat kaget, ketika dia bilang bahwa selama ini dia meminta Anti mengabarinya. Menanyakan keadaanku dan kabarku setiap harinya. Bagaimana dia mengkhawatirkan kesehatanku yang semakin hari semakin buruk, karena dia lihat badanku semakin kurus dari hari ke hari. Bagaimana dia mencemaskan aku karena aku mulai kehilangan senyum dan tawaku ketika di sekolah.


Jujur aku terharu dan tersanjung mendengar ceritanya.


Karena nyatanya aku juga sama. Selalu menanyakan keadaan dan kabarnya setiap hari pada Dedi.


Bagaimana aku selalu berpesan pada Dedi agar mengingatkannya untuk makan dan istirahat yang teratur. Karena aku tahu benar, bagaimana kacaunya jadwal makan dan tidurnya jika dia sudah sangat sibuk.


Bisa kulihat dari matanya betapa dia sangat menyesali “perpisahan” kami. Satu per satu benang kusut masalah kami sedikit demi sedikit mulai terurai.


Dia juga menjelaskan alasan dia marah-marah selama Latihan musik lomba prince and princess. Dia marah karena tahu aku sepertinya mau menangis setiap menyanyikan lagu Utada Hikaru itu.


Awalnya dia setuju, karena melodinya sangat bagus. Dia juga suka. Tapi melihat aku hampir menangis setiap menyanyikan lagu itu, dia jadi marah. Lalu dia coba googling mencari arti lagu itu. Begitu dia tahu itu adalah lagu perpisahan, lagu patah hati, dia jadi semakin marah. Dia tak mau membawakan lagu seperti itu. Akhirnya dia mengusulkan lagu Need You Now, Lady Antebellum. Karena lagu itu lebih mewakili perasaannya padaku.


Mendengar dia bilang seperti itu, membuatku terharu. Ternyata dia sekhawatir itu padaku. Dia tak mau lagu Utada Hikaru itu menjadi akhir kisah kami berdua.


Sampai akhirnya aku tahu, Aldi menyusul Coco ke hotel tempatnya menginap ketika penyisihan grup waktu itu. Kebetulan Aldi sedang ada acara keluarga, lalu dia berinisiatif menemui Coco di hotel tempatnya menginap.


Mereka bicara empat mata. Aldi bercerita bahwa dia menaruh hati padaku. Sejak pertama kali bertemu. Sejak kami latihan PMR pertama kali saat perkenalan senior.


Aldi juga bercerita bagaimana dia baru saja “menembak”ku memintaku menjadi pacarnya. Tetapi kutolak. Karena ada orang lain di dalam hatiku. Saat mendengarkan curahan hati Aldi, Coco sempat naik pitam.


“Aku hampir saja memukulnya, ketika dia bilang dia suka kamu dan baru nembak kamu”


wajahnya terlihat memerah. Membuatku percaya bahwa dia benar-benar marah.


"Tapi kutahan…Dan ketika dia bilang ada seseorang dihatimu, itu membuatku bersemangat. Aku senang sekali waktu itu” wajahnya sumringah


“Artinya Aku masih punya harapan untuk memperbaiki hubungan kita”


“Emang orang itu kamu? Dasar pede!” godaku sambil menyembunyikan senyum di wajahku.


“Lalu untuk apa Aldi menemuimu?” Aku penasaran


“Itu..rahasia..Sesama lelaki”jawabnya membuatku semakin penasaran


“Apaan sih? main rahasia-rahasiaan?”


Kukepalkan tanganku, kupukul dadanya.


Dia mengaduh sambil memegangi dadanya seolah pukulanku sangat menyakitkan. Dia menepis pukulanku dan memegang tanganku.


Penjelasannya membuatku semakin mengerti, kenapa tiba-tiba setelah pulang dari penyisihan grup, dia mulai berubah. Kembali menjadi Coco yang kukenal selama ini. Yang kala itu, aku sendiri tak mengerti kenapa tiba-tiba dia berubah hangat lagi padaku.


Setelah kedatangan Aldi, dia bertekad segera menyelesaikan lomba, dan pulang menyelesaikan masalahku dengannya. Tetapi karena lolos semifinal, dan harus lanjut Final juga, akhirnya dia harus sedikit bersabar.


Ketika kemudian dia menang lomba, dia senang sekali. Dia ingin sekali berbagi momen kemenangan itu denganku.


“Coba kota XX itu deket. Pasti aku langsung pulang membawa piala itu di hadapanmu” katanya menggebu-gebu


“Karena ga bisa, ya udah aku ketik aja status di FB ku.. kamu dah baca kan?”tanyanya penasaran


“Jadi..status itu..buat aku?”tanyaku balik


“Aku pikir…”tak kulanjutkan kata-kataku.


Ternyata selama ini aku sudah salahpaham.


“Kamu pikir…buat Feli?” Tebakannya jitu


“Dasar bodoh” Dia pun mengelus-elus kepalaku.


Kami tertawa bersama.


“Senangnya bisa mendengar tawamu lagi”katanya sambil tersenyum.


Membuatku tersadar memang sudah lama sejak terakhir aku tertawa lepas seperti ini. Dan itu juga saat masih bersamanya. Mungkin karena bersamanya aku bahagia.


Akhirnya dia bertanya kenapa aku menangis tadi.


“Sekarang katakan, kenapa kamu menangis tadi?”


Aku ambil hp di kantong rokku. Lalu kutunjukkan video dan foto kiriman Feli semalam.


“Karena ini?"


Dia meraih hp ku dan berpikir keras.


“Jadi kamu sedih karena ini?” sambil menunjukkan foto tangan dengan cincin itu


“Itu bukan tanganku. Itu tangan Richard”


Sambil membandingkan tangannya dengan tangan di foto itu. Memang sedikit berbeda.  Richard adalah adik kelasku peserta lomba dari grup lain.


“Lalu foto berdua itu?”tanyaku sambil menunjukkan foto yang lain


“Itu foto kemarin setelah penyerahan piala di sana. Dan itu bukan hanya aku. Semua tim. Kebetulan Feli berdiri di sampingku…itu foto hasil crop”jelasnya panjang lebar


Dia menunjukkan foto perayaan kemenangan yang dia maksudkan itu.


Aku masih belum puas dengan penjelasannya. Lalu kutunjukkan video ketika dia menyematkan cincin di jari Feli. Ada banyak orang di sana. Dia tak mungkin mengelak.


“Video ini juga dikirimkan padamu?” tanyanya


“Anak ini…”katanya menahan marah


“Waktu itu di hotel, sambil menunggu lomba, dia mengusulkan untuk membuat permainan. Buat seru-seruan aja. Cincin-cincin itu dia dan Sandra yang punya. Dia bilang, barangsiapa yang cocok dengan cincin-cincin itu maka mereka harus menjadi pasangan seharian.


“Aku sebenarnya malas ikut permainan itu. Karena menurutku permainan itu kekanak-kanakan. Tapi karena yang lain ikut, ya sudah aku ikut”


“Memang waktu itu, aku menyematkan cincin itu pada Feli. Tapi giliran Feli menyematkan cincin satunya padaku cincinnya kekecilan. Kamu bisa tanyakan ini pada Dedi dan Daniel kalo tidak percaya.”


“Tak kusangka Feli akan bertindak sejauh ini”katanya


“Membuatmu sesedih itu sampai menangis”


Dia memegang pipiku lalu menggenggam tanganku semakin erat, mencoba menghiburku.


Aku lega dan bahagia mendengar semua penjelasannya. Kesalahpahaman kami selama ini semata disebabkan ulah si Feli. Mungkin karena Feli menyukai Coco, sehingga dia pikir dengan menyingkirkan aku dari sisinya, dia bisa mendapatkan simpati dan perhatian Coco.


“Sekarang jawab pertanyaanku, jika selama ini, kamu tidak menaruh perasaan apa-apa terhadap Feli, lalu kenapa kamu biarkan dia selalu di sampingmu?” tanyaku penasaran


“Awalnya aku hanya ingin membuatmu cemburu.. Kupikir jika aku dekat dengan gadis lain, kamu pasti cemburu. Sama seperti dulu. Ternyata aku salah. Justru aku yang semakin cemburu melihat kamu semakin dekat dengan Aldi” ucapnya lugu.


“Aku juga cemburu tau”jawabku sambil cemberut


Dia mengelus kepalaku dan tersenyum


“Baru kali ini aku lihat kamu menangis.. Lucu juga ya ternyata”katanya


“Lucu apanya?” Aku ngambek


“Masak orang nangis, ngomong-ngomong sendiri”


Dia tertawa. Kucoba mengingat apa yang kulakukan saat menangis tadi. Ternyata saat aku menangis sesenggukan, aku bicara sendiri dan dia mendengarnya


“Udah..ngapain nangis..toh kalian kan ga pernah jadian” kataku sambil menangis lalu aku menangis sejadi-jadinya.


“Hehehehe..iya..ya”jawabku


Dia kemudian merogoh saku celananya, mengambil sesuatu.


Sebuah kotak kecil. Ketika dia membukanya, di dalamnya ada sebuah cincin. Cincin emas putih minimalis yang sangat indah. Asli. Dengan ukir-ukiran di sekelilingnya.


“Kita memang tidak pernah mengucapkan kata jadian. Karena ungkapan perasaan kita tidak pernah terucap oleh kata-kata”


“Tapi aku ingin mulai hari ini kamu tahu, aku milikmu” katanya sambil menyematkan cincin putih itu di jari manisku.


Ukurannya pas. Aku tak sanggup berkata apa- apa. Aku sangat terharu.  Air mataku hampir jatuh lagi. Aku benar-benar kaget dengan surprise yang diberikannya. Tak kusangka dia akan memberi kejutan seindah ini. Dia mendekapku hangat.


“Selamat ulang tahun”bisiknya di telingaku.


Akhirnya kami jadian. Tepat di hari ulang tahunku yang ke-17.


Dia pun mengecup keningku. Rasanya hari itu adalah hari ulang tahunku yang terindah. Dengan dia di sisiku. Dengan hadiah ulangtahun terindah pula.


Kupandangi cincin putih itu. Sungguh indah. Aku sangat-sangat bahagia saat itu.