Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Rindu



Sampai di sekolah, sekolahku sudah sangat rame. Banyak kendaraan yang lalu lalang masuk area sekolah. Kebetulan hari itu, tempat parkir di dalam sekolah penuh, akhirnya ayah memarkirkan mobil di luar sekolah. Biar nanti ketika pulang lebih mudah.


Aku, Ayah dan Bunda berjalan bersama menuju Aula sekolah. Sepanjang perjalanan aku bertemu dengan beberapa teman seangkatanku. Aku juga bertemu dengan teman-teman ex-senior PMR yang kebetulan bergerombol bersama. Aku pun mendatangi mereka setelah ijin ayah bundaku.


“Jangan lama-lama ya..sebentar lagi acaranya akan dimulai. Ayah sama Bunda masuk Aula dulu”


“Iya Bunda”


Aku pun mendatangi teman-teman. Aku melambaikan tanganku pada semuanya. Dan seperti biasa, Arsy, yang selalu paling bersemangat memujiku.


“Wah..wah..Vi, cantik banget kamu hari ini”puji Arsy


“Kedengeran dedek Mira, baru tau rasa kamu”jawabku


“Iya nih..udah tau dedek Mira cemburuan banget sama Vivi..masih aja kamu suka goda Vivi sih Ar..ga kapok-kapok deh kamu tuh”sahut Nisa


“Biarin..suka-suka aku dong”


“Kamu kok ga putus aja sih Ar? Aku kasihan deh sama dedek Mira. Punya pacar ga jelas gini. Ngapain masih dipaksain sih? Ga sehat gitu hubungannya”ucap Denise


“Udah-udah, ga usah ngurusin aku napa?”sungut Arsy tak terima diceramahi


“Oya, Vi..kamu abis ini mau nerusin kemana? Mau ambil jurusan apa?”tanya Arsy padaku


“Vivi jelas ambil kedokteran sama kayak ayang beb dong”jawab Dedi


“Eh..iya..kok Coco ga kelihatan ya? Coco datang kan Vi?”tanya Dani


“Datang lah..masak ga datang..tar yang nerima penghargaan siapa kalo dia ga datang, ya ga Vi?”jawab Nisa sok tahu


Aku pun tersenyum.


“Dia ga bisa datang. Mamanya kan masih sakit”jawabku


“Eh..beneran Coco ga datang? Kasihan ya..padahal kan ini waktu terakhir kita di SMA. Terakhir masuk sekolah. Yang sabar ya Vi”ucap Bila sambil mengelus bahuku.


Mendengar ucapan teman-teman membuat aku jadi ikut sedih untuk Coco. Karena benar, hari itu adalah terakhir kalinya kami bisa bertemu dengan teman-teman. Terakhir masuk sekolah. Terakhir masuk SMA.


Kulihat semua siswa bergembira. Berfoto bersama-sama. Sangat menyenangkan. Karena kami sadar, hari itu adalah hari terakhir kami menyandang predikat anak SMA. Kami bersiap melanjutkan studi kami masing-masing. Sebentar lagi kami akan melangkah menjadi MAHASISWA.


“Kalian mau nerusin kemana?”tanya Dani


“Aku disuruh mama nyoba SM UGM”jawab Nia


“Aku mau nyoba UI”jawab Arsy


“Waahhhhhhh..jozzz kamu Ar..good luck ya”sorak teman-teman mendengar Arsy akan mencoba masuk UI. Karena UI adalah universitas terbaik pertama di Indonesia.


“Kamu gimana Dan?”tanya Aryo pada Daniel


“Aku pingin nyoba UNAIR”


“Aku juga..semoga kita bisa sama-sama ya”jawab Anti


Rencana masa depan teman-teman bermacam- macam. Ada yang ingin melanjutkan ke UGM, UNDIP, UI bahkan ada yang akan melanjutkan ke luar negeri. Semua bersiap menatap masa depannya masing-masing.


Panitia acara yang juga adalah anggota OSIS, meminta kami semua para wisudawan wisudawati untuk segera masuk aula karena acara akan segera dimulai. Aku sempat ngobrol sebentar dengan Aldi karena dia adalah panitia acara.


“Kak Vivi hari ini cantik banget”puji Aldi sambil tersenyum padaku


“Makasih”jawabku


“Terus aku, cantik juga ga Al?”goda Anti


“Iya kak, kak Anti juga cantik kok”jawab Aldi


“Eling-eling, kak Ilham ngliatin terus itu lho..udah mau copot tuh matanya liatin dari tadi”ucapku pada Anti begitu melihat kak Ilham yang hari itu khusus datang untuk menjadi pendamping wisuda Anti.


“Aku kesana dulu ya”pamit Anti padaku dan Aldi untuk segera menghampiri kak Ilham


“Iya..pergi sana”jawabku


Begitu kami melewati kak Ilham, aku sempatkan menggoda mereka.


“Kak, jagain tuh calon kakak iparku, biar ga kecentilan”godaku pada Anti


“Iya nih..centil banget”jawab kak Ilham sambil mencubit hidung Anti


Anti yang tak terima dengan godaanku malah memukulku.


“Al, jagain temenku ya..kasihan pacarnya ga bisa datang”goda Anti padaku


Sialan kamu An! Kenapa malah nyuruh Aldi jagain aku segala..pake bilang pacarku ga datang..hisshhh..


Aku pun mengepalkan tanganku hendak memukul Anti, tapi kak Ilham melindungi Anti.


“Awas ya kalian berdua”


Kami malah bercanda berempat. Lalu aku putuskan masuk aula lebih dulu.


“Aku masuk duluan ya”ucapku


“Cariin tempat buat aku ya”


“Ogah”


Aku dan Aldi berjalan berdua menuju aula.


“Coco ga datang kak?”tanya Aldi


“Iya..ga bisa datang..mamanya kan baru sembuh. Kemarin abis serangan jantung”jawabku


“Padahal kan dia nerima penghargaan UN tertinggi”


“Iya..tapi mau gimana lagi”


Di dalam aula sudah penuh dengan orang-orang. Wisudawan wisudawati yang memakai toga duduk di tempat yang sudah disediakan. Orangtua kami juga sudah duduk di tempat yang disediakan. Aku sempat melihat-lihat sekeliling. Mencari keberadaan kedua orangtuaku.


Karena banyaknya orang, aku sempat kewalahan mencari Ayah dan Bunda. Tapi kemudian aku berhasil menemukan mereka. Aku melambai pada keduanya. Lalu aku duduk di kursiku.


Acara perpisahan itu berjalan sangat khidmat. Saat penyerahan Surat Tanda Tamat Belajar, satu persatu wisudawan wisudawati maju ke panggung untuk menerima medali, map kelulusan dan vendel.


Dan saat acara penghargaan siswa berprestasi diumumkan, Coco yang harusnya menerima penghargaan itu tidak bisa hadir. Kulihat salah satu kakak lelakinya yang menggantikannya. Andai Coco hadir saat itu pasti dia akan sangat bahagia.


Selesai prosesi wisuda, kami berfoto bersama- sama. Karena saking banyaknya wisudawan dan wisudawati, maka para “pembesar” sekolah yang justru turun panggung. Sementara kami duduk di kursi kami masing-masing. Beberapa memilih berjalan mendekati para “pembesar” supaya mendapat angle foto yang bagus.


Selesai acara foto-foto di aula, aku dan teman- teman memilih berfoto bersama di sekitar sekolah. Lelah berfoto, aku pun ijin kedua  orangtuaku untuk sekali lagi berkeliling sekolah, menikmati pemandangan sekolah yang selama tiga tahun ini telah mengukirkan kenangan sangat indah dalam kamus kehidupanku.


“Aku nanti nyusul bareng Anti sama kak Ilham”ucapku pada Ayah dan Bunda.


Kebetulan selesai wisuda, keluargaku dan keluarga Anti berencana makan siang bersama sekalian merayakan kelulusan kami.


“Ya udah..bunda sama ayah pulang dulu ya..Ham, titip adikmu ya”


“Iya tan”jawab kak Ilham


Orangtuaku dan orangtua Anti bersama-sama ke restoran yang sudah kami pesan malam sebelumnya.


“Jangan lama-lama ya dek..kasihan Ayah sama Bunda nungguin”


“Oke”


Aku pun berjalan sendiri memasuki area sekolahku. Kutatap sekolahku yang penuh kenangan bersamanya. Kutapaki tiap lorongnya dan ruang-ruang kelasnya.


Terbayang kembali dalam ingatanku semua kenangan waktu itu. Saat pertamakali masuk sekolah ini. Saat aku tanpa sengaja menabrak tubuhnya. Semua kenangan itu kembali berputar-putar diingatanku. Satu-per satu kenangan bermunculan.


Aku duduk di samping lapangan tenis, tempat latihan PMR. Tempat dimana aku dan dia menjadi senior PMR. Kenangan-kenangan selama menjadi junior dan senior pun terlihat sangat nyata.


Kulangkahkan  kaki menuju ruang kelasku dulu, Kelas XI. Kelas yang penuh memori indah  bersamanya. Di kelas inilah Aku dan dia mulai merajut cinta kasih kami berdua. Dimana kala itu dunia serasa milik kami berdua. Tanpa peduli omongan semua orang.


Aku sangat bahagia.


Air mataku pun tak terasa mengalir.


Kuusap perlahan air mata yang menetes di pipi.


Kulanjutkan perjalananku menuju ruang kelas XII.


Lorong kelas itu. Loker-loker yang berjajar rapi di depannya. Kuamati satu per satu pemandangan di depan mataku. Kunikmati setiap sudut kelas itu. Kuamati semua.  Karena disanalah pergolakan hubungan kami dimulai. Masalah datang silih berganti kala itu. Sampai akhirnya bisa kami lalui bersama.


Lapangan basket yang penuh kenangan. Kutatap kembali pojok tempat duduk di lapangan itu. Tempat aku menangis kala itu. Tempat aku meluapkan emosiku.


Kupandangi juga tempat ruang ganti. Tempat dimana dia menyatakan cintanya padaku. Tempat dia pertamakali memelukku. Semua kenangan itu terpampang nyata di pikiranku. Dan aku hanya bisa menikmati semua ini sendiri. Tanpa dia di sisiku.


Aku sedih. Aku pun terduduk di sana. Menangis. Menangis seorang diri. Hari terakhirku di SMA ini harus kujalani tanpa kehadiran dirinya di sisiku. Membuatku benar-benar sedih.


*


*


*


*


Sore harinya Anti menelponku. Memintaku menemani dia ke sekolah.


"Vi.. temani aku ke sekolah bentar ya?"


"Ngapain?"


"Itu.. tadi aku dikasih buket bunga sama kak Nio, tapi ketinggalan di sekolah"


"Kok bisa sih? Bukannya tadi semua buket bunga di bawa?"


"Udah aku cari ga ada.. pasti ketinggalan di sekolah.. kamu temenin ya?"


"Iya deh.. aku ganti baju dulu kalo gitu"


"Oke.. aku jemput tiga puluh menit lagi ya"


"Oke"


Tiga puluh menit setelah menelponku, Anti pun datang. Aku pamit pada ayah bundaku untuk menemani Anti.


"Ayah bunda.. aku mau ke sekolah bentar ya?"


"Ngapain sayang malam-malam ke sekolah?"tanya bunda


"Mau nemenin Anti.. katanya ada yang ketinggalan di sekolah"


"Ya udah.. tapi jangan malam-malam pulangnya"


"Iya yah"


Aku pun berpamitan pada Ayah dan Bunda.


Selama di mobil Anti, aku lebih banyak diam. Membuat Anti kuatir padaku.


“Kamu ga papa?”tanya Anti setelah melihatku agak muram.


“Aku baik-baik aja”kataku sambil kupaksakan senyumku.


Sampai di sekolah, suasananya sudah sepi. Hanya beberapa lampu yang dibiarkan menyala untuk menerangi sekolahku.


Aku dan Anti berjalan menyusuri lorong sekolah yang lumayan terang dengan lampu yang menyinari ruangan. Sampai di  lorong sekolah tempatku pertama kali menabrak bahunya, tak kusangka Coco ada di sana. Kulihat Coco sudah  berdiri di sana dengan sebuah buket bunga besar ditangannya.


Dia yang tersenyum padaku membuatku hatiku merasa terharu. Aku sangat merindukan dia.


Aku berjalan mendekatinya. Air mataku pun semakin tak tertahan. Coco mengusap kepalaku lalu menyodorkan buket bunga itu padaku. Kuterima buket bunganya dengan bercucuran air mata.


“Selamat atas kelulusan kita..Maafkan aku tak bisa menemanimu di saat terakhir kita di SMA ini” katanya.


Kata-katanya membuatku hatiku semakin sedih. Karena aku tahu dia juga pasti ingin hadir dalam acara perpisahan tadi pagi. Aku hanya sanggup menganggukkan kepalaku. Aku tak mampu berkata-kata.


Coco mendekatkan tubuhnya padaku lalu memeluk tubuhku. Memelukku dengan sangat erat. Bisa kurasakan sesekali dia mengecup rambutku.


“Terimakasih sayang..kamu sudah hadir dalam hidupku dan mencintai aku apa adanya diriku” katanya.


Sungguh kata-katanya yang diucapkannya sangat indah. Membuat aku menangis semakin menjadi- jadi. Semakin kudekap tubuhnya. Tubuhnya yang sangat hangat.


“Terimakasih untuk tiga tahun kebersamaan kita.. Aku sangat bersyukur dapat mengenalmu.. Terimakasih sayang” ucapnya lirih di telingaku.


Membuatku semakin tak ingin melepaskan dekapanku. Dia juga mendekapku sangat erat.


“Aku berjanji akan selalu menyayangimu dan mencintaimu.. I love you”semua kata-katanya sangat indah, seindah kebersamaan kami selama ini.


“I love you too..”ucapku lirih dengan terisak.


Karena air mataku masih saja terus menetes. Membasahi kemeja yang dipakainya. Anti yang melihat kami pun, jadi ikut menitikkan air mata. Dia juga ikut terharu.


Setelah beberapa saat, aku sudah agak tenang. Aku pun melepaskan diriku dari dekapannya. Kuusap sisa airmata dipipiku. Dia pun mengusap wajahku,


“Maaf aku tak bisa lama, aku takut mama akan mencariku”katanya sambil mengusap wajahku.


Aku mengangguk.


“Kamu pulang saja ke rumah. Aku akan pulang bersama Anti. Terimakasih sudah datang” kataku sambil tersenyum


Diapun mengecup keningku.


“Jangan sedih lagi ya..aku tak suka kamu menangis sendiri” katanya membuatku bingung.


Darimana Coco tahu aku sedih dan menangis sendiri?


"Kok kamu tahu aku nangis sendiri?" tanyaku sambil mengusap airmataku.


Dia hanya diam dan tersenyum padaku. Kepalanya diarahkan ke arah Anti. Ternyata tadi siang saat perpisahan sekolah, Anti sempat melihat aku yang menangis sendiri di ruang ganti pemain basket. Anti lalu memfotoku tanpa sepengetahuanku lalu mengirimkannya pada Coco.


"Aku tadi yang motoin kamu pas di ruang ganti terus aku kirim ke Coco" ucap Anti sambil mengusap air matanya.


"Jangan nangis lagi ya.. Aku pasti akan menghubungimu" ucapnya lembut padaku.


Aku pun mengangguk. Akhirnya Coco pulang, dan aku pulang bersama Anti.