Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Stuck with My First Love



Kutatap wajah suamiku yang sudah sangat marah. Apa dia pikir aku tidak marah melihat dia datang dengan Renata seperti itu?


Aku pamit lalu meninggalkan mereka semua. Aku juga tak menghiraukan panggilan Coco. Karena aku memang baru marah padanya. Karena dia sudah merahasiakan hubungannya dengan Renata selama ini.


Kurasakan tanganku ditarik. Coco yang memang langkah kakinya lebih lebar dariku menarik tanganku kemudian membawa aku masuk lift.


Kukibaskan tanganku. Lalu aku menoleh ke arah yang berlawanan dengan Coco. Setelah pintu lift terbuka, sekali lagi Coco menarik tanganku hingga kami sampai di mobil. Aku masuk sendiri ke dalam mobil.


Sepanjang jalan aku terus menoleh ke arah jendela.


“Kamu kenapa marah seperti ini? Ada apa?”tanya Coco


Aku memilih diam.


“Sayang..aku tanya sama kamu. Kenapa kamu diam saja?”


Aku tetap tak menjawab. Kutatap jalanan yang kulalui. Ini adalah jalan menuju SMA-ku.


“Aku mau ke SMA. Turunkan aku di sana!”


“Ngapain ke SMA?”


“Pokoknya turunin aku di SMA”pintaku setengah memaksa


Akhirnya kami sampai di SMA kami yang dulu. Setelah memarkirkan mobil, aku keluar mobil. Kupandangi sekolah kami dulu yang penuh memori kebersamaan kami. Sudah lama kami tidak ke SMA ini. Bangunannya masih sama, hanya sekarang lebih bagus. Hampir tujuh tahun lamanya kami tak menginjakkan kaki di sekolah ini.


“Kenapa? Kangen kesini?”tanya Coco


Aku masih diam. Aku memilih memasuki area sekolah. Aku langkahkan kakiku menyusuri lorong sekolah. Aku kaget karena di lorong sekolah ada fotoku dan Coco. Foto prince and princess tiga tahun berturut-turut yang pernah kami menangkan. Aku berdiri di depan pigura besar yang memajang wajah kami berdua. Terlintas kembali dalam ingatanku masa-masa selama mengikuti kontes itu.


Kebetulan hari sudah sangat sore jadi suasana sekolah sudah lumayan sepi. Kupandangi pigura itu. Coco malah mengenggam tanganku.


“Mbak Vivi sama Mas Marco ya?”


Rupanya Ustadz Anwar yang sudah menyapa kami. Beliau yang dulu datang saat akad nikahku dengan Coco setahun lalu.


“Iya Ustadz”jawab Coco sambil menjabat tangan ustadz Anwar.


“Apa kabar?”


“Baik ustadz”jawabku sambil menjabat tangan beliau


“Ustadz apa kabar”


“Saya juga baik. Ada perlu apa nih ke Sekolah?”


“Cuma mau jalan-jalan aja sih tadz”


“Oo..nostalgia masa SMA”goda ustadz pada kami berdua


Aku dan Coco hanya tersenyum. Setelah berbincang agak lama, ustadz Anwar pamit pulang. Sementara kami berdua berjalan menyusuri lorong menuju kelas-kelas. Kami berjalan berdua sambil bergandengan tangan. Sebenarnya aku sudah berusaha melepaskan pegangan tangan Coco tapi dia malah menggenggam tanganku erat hingga akhirnya aku pasrah saja digandeng suamiku.


Kami malah berjalan berdua sambil ngobrol bernostalgia masa-masa SMA kami. Sambil sesekali kami tertawa dan bercanda mengingat kenangan indah kami berdua. Kami juga sempat bertemu beberapa adik kelas SMA. Mereka yang mengenali kami, bahkan mengajak kami berfoto. Udah berasa kayak artis aja. Apalagi saat mereka melihat Coco, suamiku yang gantengnya kelewatan. Membuat ciwi-ciwi berebutan minta foto.


Setelah melayani permintaan foto “penggemar”nya, aku dan Coco berjalan ke arah lapangan tenis. Tempat kami latihan PMR dulu. Kebetulan hari itu tidak ada latihan PMR, karena biasanya latihan PMR dilaksanakan setiap hari Kamis. Aku dan Coco duduk berdua di kursi taman yang menghadap ke arah lapangan tenis. Kami duduk berdua dengan Coco yang merangkul pinggangku. Kami berbincang mengenang masa-masa kami selama menjadi junior lalu menjadi senior PMR. Kenangan indah yang selalu tersimpan dalam hatiku. Membuat aku yang tadinya jengkel dan marah pada Coco perlahan bisa melupakan kemarahanku padanya.


“Kamu tadi kenapa? Kamu marah sama aku?”tanya Coco pelan


“Iya”jawabku sambil cemberut


“Emang aku salah apa?”


“Kenapa kamu ga pernah cerita kalo ternyata kamu sama Renata dulu pernah dijodohkan? Kalo Renata itu mantan calon istrimu”


“Aku pikir itu bukan hal yang perlu diceritakan”


“Kenapa kamu ga pernah cerita sama aku? Aku merasa sangat bodoh udah ngijinin gadis yang pernah jadi calon istrimu menginap di rumah kita” gerutuku


“Aku ga cerita, ya biar kamu ga marah kayak gini. Karena aku tahu pasti kamu ga akan suka dengan kenyataan itu”


“Tapi aku kan perlu tahu. Dulu aku pikir Renata itu keluargamu. Tau gitu, aku usir aja si Renata”keluhku sambil mendengus kesal.


“Kamu ga usah marah..Renata itu cuma mau bikin kamu marah. Makanya aku selalu bilang dia itu anak kecil. Dia itu keras kepala banget”


“Kok kamu malah belain Renata sih?”keluhku mendengar Coco malah membela Renata


“Tuh kan salah lagi. Jangan marah..Renata tadi udah cerita semua”


“Cerita apa?”


“Masalah dia nyindir keguguranmu dan perceraian kita. Percayalah..anak itu cuma mau goda kamu doang. Dia cuma mau balas dendam sama aku. Biar kamu ngambek dan marah-marah sama aku”


“Masak?”


Aku hanya diam sambil cemberut.


“Sayang..udah ya jangan marah lagi. Kamu kan tahu, di hatiku ini cuma ada kamu seorang”


“Huh..gombal”keluhku


“Kamu ga percaya? Kalo gitu…”


Coco malah melepas satu kancing kemejanya di depanku.


“Belahlah dadaku”goda Coco padaku. Kelakuannya berhasil membuatku syok dan kaget.


“Kamu ngapain buka kancing segala?”


Coco malah tertawa melihat aku yang kelabakan. Aku menoleh ke kanan kiri dan belakang. Untunglah tak ada orang.


“Ihhh..ga lucu ah..ngapain kamu buka baju kayak tadi”keluhku sambil kupukul lengan Coco.


“Aduh” Coco mengaduh sambil tersenyum. Lalu dia memeluk tubuhku.


“Udah ya..ga usah marah lagi”ucap Coco.


Aku juga memeluk tubuh Coco.


“Maaf ya kalo aku udah marah-marah”ucapku


"Iya"ucapnya lembut di telingaku.


Coco mengelus rambutku lembut. Lalu melepaskan pelukannya.


“Mau jalan-jalan? Udah lama aku ga kesini..terakhir waktu malam wisuda itu”


Aku pun mengangguk. Aku dan Coco berjalan-jalan menyusuri setiap tempat di sekolah sambil bergandengan tangan. Mengingat kembali kenangan indah kami di tempat itu. Mulai dari markas PMR tempat kami menjadi senior PMR. Kelas X saat aku pertama kali menjadi secret admirer-nya. Kami bahkan reka adegan waktu kami sama-sama di kelas X. Waktu kami saling mencuri pandang. Baru kutahu ternyata Coco mulai menyukaiku sejak kami di kelas X.


“Tapi dulu kamu cool banget..nyebelin juga”keluhku


“Waktu itu kan aku masih belum bisa mengekspresikan perasaanku sama kamu. Karena aku malu”


Aku hanya tersenyum mendengar curahan hati Cocoku. Kulingkarkan tanganku di lengannya. Dan saat Coco menceritakan insiden hari Valentine, saat kak Candra menembakku, aku tertawa mendengar dia pingin mencolok mata kak Candra yang menatapku penuh cinta.


“Cemburu ya?”godaku


“Ya iyalah”jawabnya tegas membuat aku sangat terharu.


“Untung saja waktu itu kamu tolak kak Candra. Kalo ga..”


“Kalo ga?”


“Aku pasti dah nyari cewek lain”


Aku cubit pinggangnya. Dia malah terkekeh lalu menarikku dalam pelukannya.


“Makasih ya sayang..karena kamu udah nolak kak Candra waktu itu”


Aku mengangguk pelan. Lalu kucium pipi Coco. Membuat Coco tersenyum padaku.


Kami kemudian melanjutkan perjalanan nostalgia kami ke kelas XI. Tempat yang sangat berkesan bagi kami berdua. Di sanalah benih-benih cinta kami semakin bersemi. Dunia serasa milik kami berdua. Yang lain berasa ngontrak semua, hahahaha..


Kami duduk di kursi Coco dan Dito dulu. Sambil bernostalgia masa-masa indah di kelas XI. Kami bercerita sambil Coco merangkul pinggangku dan kusandarkan kepalaku di bahunya. Kami pun tertawa dan bercanda bersama mengingat semua kenangan manis waktu itu.


Selanjutnya kami ke kelas XII. Kelas terakhir kami di SMA. Dimana semua pergolakan batin terjadi di sana. Mulai dari perseteruan kami karena ulah Feli. Masa-masa kami resmi jadian, lalu kami lulus SMA. Semuanya terjadi di kelas itu.


Kulihat kelas itu tidak banyak berubah. Hanya warna catnya saja yang baru. Dan beberapa hiasan yang kini menambah keindahan kelas kami dulu. Akhirnya kami berhenti di lapangan basket. Kami duduk berdua dikursi penonton. Mengingat lagi kejadian aku menangis karena patah hati dulu itu. Kami mengingat semuanya dengan dia


yang memeluk tubuhku dan kusandarkan kepalaku di bahunya. Sesekali dia mencium keningku.


“Terimakasih sayang..kamu sudah hadir dalam hidupku”


“Terimakasih juga udah mencintaiku selama ini”ucapku sambil menatap suamiku.


Kutatap mata indahnya. Dia juga menatapku dengan penuh cinta. Dia mengecup bibirku lembut. Dalam hati aku berjanji akan selalu mencintai suamiku apa adanya. Dengan cinta dan kasih sayangnya padaku, aku yakin kami akan mampu melewati semua ombak dan rintangan apapun yang menghalangi perjalanan biduk rumah tangga kami berdua.


Aku yakin semua rumahtangga pasti memiliki masalahnya masing-masing. Namun dengan cinta dan keyakinan, serta komunikasi yang baik antara suami istri, semua masalah pasti akan dapat kami lewati berdua.


Aku sangat bersyukur memiliki dia dalam hidupku. Dialah Cocoku. Suamiku. Lelaki yang sudah menjadi bagian hidupku sejak SMA. Yang adalah cinta pertama dalam hidupku. Dialah yang membuatku jatuh cinta dan terjebak dengan cinta pertamaku. He’s the only one I love and he makes me stuck with my first love.


Ketika kita saling mencintai, yakinlah bahwa kebahagiaan pasti akan datang. Walaupun harus melewati jalan yang berliku, tetapi kekuatan cinta pasti akan mampu melewati itu semua. Berbahagialah bersama orang yang kita cintai. Karena kita semua pantas bahagia.


ViCo (Vivi dan Coco)