Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Galau



Setelah selesai rapat, aku kembali ke kelas. Aku mencoba menghadirkan jiwa dan ragaku untuk bisa mengikuti pelajaran ini. Walaupun ternyata tidak semudah itu. Apalagi saat aku dan Coco sama-sama ditunjuk pak Akmal, guru Math ku untuk mengerjakan soal di papan tulis, kami harus berdiri berdampingan di depan kelas mengerjakan soal itu. Entahlah, perasaanku masih kacau balau. Dan berdiri di sampingnya waktu itu terasa sangat berat. Karena walaupun kami tak saling bertatapan, tetapi ekor mataku masih bisa menangkap kehadiran Coco di sampingku.


Dia kembali ke mejanya lebih dulu ketimbang aku. Aku yang memang sedang susah konsentrasi, merasa soal Math untukku saat itu sangat susah. Walaupun mungkin sebenarnya soalnya gampang. Sampai-sampai pak Akmal menegurku,


“Kenapa Vi? Ga bisa ngerjain soalnya?”tanya pak Akmal


“Maaf pak”


Aku berdiri mematung di depan kelas sambil memegang spidol di tanganku. Sempat aku melihat ke arah Coco, ekspresinya sangat dingin padaku tetapi kemudian ku alihkan pandanganku.


“Tumben kamu ga bisa”


“Ayo siapa yang mau membantu Vivi?”


“Saya pak” Diandra mengangkat tangannya


“Oke..silahkan maju”


Diandra yang akhirnya maju menggantikan aku waktu itu. Aku serahkan spidol ditanganku padanya. Aku pun kembali ke mejaku.


“Kamu kenapa? Kamu sama Coco berantem?”tanya Anti lirih padaku


Aku menggeleng pelan sambil tersenyum.


“Ga tau..mungkin memang aku yang salah udah ganggu diskusi kelompok dia”


“Tumben dia marah kayak gitu”Anti terlihat bingung


Bukan cuma kamu An yang bingung..aku lebih bingung lagi.


Saat pulang sekolah, tak seperti biasanya, Coco langsung pergi meninggalkanku. Dia pulang sendiri. Sebenarnya apa yang merasukinya hingga berteriak sekeras itu padaku?


“Kamu ga pulang bareng Coco, Vi?”tanya Anti begitu melihat Coco yang pergi begitu saja melewati meja deretanku.


Aku hanya tersenyum pada Anti, karena aku sendiri tak tahu jawabannya.


“Udah yuk, kita pulang”ajakku


Akhirnya aku pun berjalan pulang bersama Anti.


Di tengah perjalanan menuju gerbang, kulihat sepeda motornya berhenti di samping seorang gadis. Ternyata Feli. Akupun berjalan begitu saja melewati mereka.


“ Mau kuantar pulang kak?” ajaknya padaku


Anti yang dari tadi di sampingku terus mendorong-dorong badanku.


“Udah, ikut aja” bujuknya


Aku sebenarnya tak mau menerima ajakan Aldi. Tetapi setelah melihat dia menghampiri gadis lain selain aku, membuat rasa sedih di hatiku karena kejadian tadi saat jam istirahat, berubah menjadi rasa cemburu dan marah juga. Aku ingin membalasnya.


“ Baiklah”kuterima ajakan Aldi.


Setelah mengenakan helm milik Aldi, akupun naik sepeda motornya. Tak kuhiraukan tatapan mata adik-adik kelas seangkatan Aldi ataupun teman-teman seangkatanku yang menatap sinis padaku. Mungkin mereka cemburu. Cemburu karena aku dibonceng Aldi.  Aku pun berpegangan pada tas Aldi.


 “Bruuuummmm…” suara knalpot sepeda motor Aldi. Kami pun berlalu meninggalkan sekolah


Sesampainya di perempatan jalan, rambu lalu lintas berwarna merah, sepeda motor pun berhenti. Aku sebenarnya merasa bersalah. Kepada Aldi yang hanya aku jadikan pelampiasan kemarahanku. Kepada Coco yang kutinggalkan begitu saja.


Tiba-tiba sebuah motor yang sangat kukenal, berhenti tepat di samping kiriku. Itu motor Coco. Dan…Feli naik motor itu juga? Apa-apaan ini? Kenapa dia boncengin Feli? Apa mereka sudah sedekat itu?


Kulihat Coco menatap ke arahku dari balik helm hitam putih milliknya, aku pun segera mengalihkan pandanganku. Kudengar dia bercakap-cakap dengan Aldi. Sekilas kudengar dia berkata supaya Aldi hati-hati.


Rambu lalu lintas berganti warna, hijau, motorpun melaju. Aku dan Aldi mengambil jalan lurus, sementara Coco dan Feli belok kiri. Sempat kulihat motornya dari kejauhan sampai benar-benar tak terlihat. Sepanjang perjalanan menuju rumah, perasaanku semakin tak karuan. Sedih, Kesal, Marah, Cemburu menjadi satu.


Sampai di rumah, aku mengucapkan terimakasih atas tumpangannya hari ini. Aldi pun kemudian pulang. Saat kututup pintu gerbang, sepintas kulihat motor mirip motor Coco melintas di depan rumahku. Sepanjang sore dan malam aku mencoba mengirimkan chat menanyakan perihal siang tadi di sekolah.


“Co..kamu tadi kenapa?”


“Kamu marah sama aku?”


“Ga papa”jawabnya


“Ga papa gimana?”


“Kalo aku ada salah, kamu bilang dong..jangan kayak tadi”


“Ya”jawabnya singkat.


Tetapi dia hanya membalas satu dua kata saja. Sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Karena kesal, akhirnya aku tidur.


Keesokan harinya, ternyata adalah hari pelaksanaan lomba olimpiade Matematika. Aku tahu dia masih marah padaku, sehingga aku berpesan pada Dedi dan Daniel untuk menjaga dia untukku. Aku mengingatkan dia untuk makan melalui chat, dan hanya dibalas emoticon olehnya.