
Aku menoleh begitu mendengar seseorang memanggil namaku.
“Tante?”ternyata tante Alya, mama Aldi yang memanggilku
Aku mencium punggung tangan tante Alya.
“Periksa Vi?”
“Iya tante. Periksa kandungan”
“Gimana hasilnya?”
“Alhamdulillah saya hamil tante. Minta doanya ya tan semoga lancar”
“Alhamdulillah”
Aku akhirnya ngobrol berdua dengan tante Alya yang ternyata baru selesai praktek di klinik itu, sambil aku menunggu kedatangan Coco. Ditengah pembicaraan kami, kulihat tante Alya menatapku dengan tatapan sendu.
“Tante kenapa?”
“Ah..maaf. Tante terlalu terbawa suasana. Melihat kamu sekarang, tante jadi ingat masa lalu. Waktu kamu masih sama Aldi. Karena dulu tante selalu bayangin kamu jadi calon menantu tante. Maaf ya Vi”
Ucapan tante Alya membuat aku merasa ikut sedih. Karena kenyataannya memang dulu aku sangat dekat dengan beliau.
“Doakan Aldi cepet ketemu jodohnya ya Vi”
“Iya tante”
Kuusap punggung tangan beliau.
“Pulang sekarang ma?”
Aku menoleh saat mendengar seseorang berada di sampingku.
“Aldi?”
“Vivi?”
“Ngapain kamu disini? Siapa yang sakit?”tanya Aldi
“Ah..tadi aku periksa”
“Kamu sakit Vi?”
“Enggak..aku cuma..periksa kandungan”
“Ohh..”
Kulihat wajah Aldi berubah. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tak jauh dari depanku. Suamiku keluar dari mobil dan berjalan ke arahku. Raut wajahnya bisa kutebak pasti sedang marah. Karena sorot mata Coco yang tajam melihat ke arahku.
“Saya pulang dulu ya tante”pamitku pada tante Alya.
“Kita pulang sekarang sayang?”ucap Coco begitu sudah di dekatku.
“Co..kenalin ini tante Alya, mamanya Aldi”
Aku kenalkan Coco pada tante Alya. Coco dan tante Alya saling berjabatan.
“Kami pulang dulu tante”ajak Coco sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Mari tante..aku duluan ya Al”
Akhirnya aku dan Coco pulang. Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobilku mendadak gerah. AC mobilku yang meski dingin namun tak dapat mendinginkan suasana yang tercipta di dalam mobil.
Masak Coco marah hanya karena aku ketemu Aldi? Aku kan ga sengaja ketemu. Lagian itu tadi kan memang klinik tempat tante Alya dan Aldi praktek. Jadi wajar kan kalo aku ketemu mereka di sana.
“Co?”
“Hemm”
Lelaki tampan di sampingku ini kalo udah marah apa ga punya kata lain selain “hemm”?
“Kamu kenapa? Kok setelah ketemu Aldi jadi bete gitu?”tanyaku langsung tanpa basa basi.
“Ga papa”
“Ga papa gimana? Kamu marah? Aku cuma kebetulan ketemu Co..klinik itu kan juga tempat praktek tante Alya sama Aldi. Jadi wajar dong kalo kita ketemu mereka di sana. Masak gitu aja kamu marah”
“Aku cuma ga suka”
“Ga suka?”
“Ga suka dengan kebetulan seperti tadi. Karena terlalu banyak kebetulan di antara kalian”
“Coo..jangan gitu dong. Namanya kebetulan kan ga ada yang ngrencanain. Jangan marah lagi ya.. Kasihan dedek”ucapku sambil kuraih tangan kiri Coco lalu kuarahkan tangannya ke perutku.
Coco kemudian menatapku sepintas lalu tersenyum padaku.
“Nah..gitu dong. Kalo senyum gitu kan tambah ganteng”godaku pada suamiku yang memang paling ganteng.
*
*
*
*
Selama kehamilanku yang kedua ini, aku merasakan sedikit perubahan pada tubuhku. Aku jadi gampang lelah, suka banget tidur dan ga bisa berhenti makan. Bawaannya makan terus. Kalo ga makan pasti aku tidur. Dan itu terjadi selama trimester pertama.
Tapi meskipun aku suka makan, berat badanku hanya naik sedikit. Sejak masih gadis, aku termasuk tipe yang tidak mudah naik berat badan. Tapi memang pipiku saja yang bertambah chubby. Ternyata saat aku ceritakan pada bundaku, dulu saat mengandung diriku, bunda juga mengalami hal yang sama denganku. Jadi kehamilan beliau dulu, semua nutrisi lari ke baby nya, sementara berat badan bunda tidak bertambah signifikan. Malah kata Ayah, hanya perut bunda saja yang buncit sementara bentuk tubuh bunda tidak berubah.
Sungguh kehamilan seperti bundaku itu aku yakin adalah impian setiap wanita yang hamil. Dimana bentuk tubuh tidak berubah hanya perut kita saja yang membesar. Sehingga setelah melahirkan, bentuk tubuh bisa kembali ke bentuk sebelum hamil.
Saat kuceritakan pada Coco, suamiku itu malah selalu menggodaku.
“Mau kamu gemuk pun kamu tetap yang tercantik untukku”
“Halah..Gombal”
“Eh..kok ga percaya”
“Ya enggak lah”
Coco malah melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarik tubuhku mendekat padanya.
“Lihat aku”
“Ga mau”
“Sayang?”
“Terimakasih sudah bersedia menjadi bunda dari anak kita.. Percayalah aku selalu mencintaimu apa adanya dirimu”
“Iya..aku tahu”
Coco kemudian mencium keningku lalu kami pun berpelukan dengan hangat.
“Oya Co..kapan kita jalan-jalan ke Jogja? Kamu udah janji lho”
Sejak Rena pindah empat bulan lalu ke Jogja, sampai kehamilanku yang menginjak empat bulan ini, aku belum sekalipun main ke kosannya. Aku juga tidak ikut mengantar Rena pindahan karena awal trimester pertama kehamilanku Coco sangat protektif padaku. Aku sama sekali tidak boleh beraktivitas yang berat-berat. Benar-benar kehamilan kedua ini aku rasakan Coco sangat protektif padaku. Setiap hari pasti menelponku untuk memastikan aku sudah minum susu, minum suplemen kehamilan, makan dan istirahat teratur.
“Kamu masih pingin ke Jogja?”
“Iya. Aku pingin lihat kosan Rena”
“Bukan pingin ketemu Aldi kan?”
Coco kalo cemburu ngeselin banget. Masak aku nyariin Aldi?
Aku memasang wajah cemberut dan menatap suamiku dengan tajam. Aku pukul lengannya dengan keras.
“Aww” Coco mengaduh
“Rasain..salah sendiri..masak Aldi dibawa-bawa sih?”
Coco kemudian memeluk tubuhku dengan sangat erat. Mungkin mencoba untuk menenangkanku.
“Maaf..maaf”
“Kamu sih kalo udah cemburu jadi ngeselin banget”
“Iya..maaf..aku ga bisa menahan diriku setiap ingat Aldi juga ada di sana. Apalagi kamu juga bilang kan Rena suka Aldi. Pasti kita akan ketemu Aldi di sana”
“Tapi kan aku pingin ketemu Rena bukan Aldi”
“Kita lihat saja nanti..kalo ada waktu longgar kita jalan-jalan ke Jogja”
“Beneran lho ya?”
“Iya..sayang”
“Awas kalo bohong”
Coco malah tersenyum mendengar ancamanku. Kemudian kami pun segera berbaring di ranjang sambil Coco memeluk tubuhku. Tak lupa sebelum tidur diajaknya ngobrol debay dalam perutku sambil mengelusnya perlahan.
“Halo jagoan..apa kabar? Hari ini kamu baik-baik sama bunda kan?”
“Iya ayah”
Aku yang menjawab pertanyaan Coco sambil kubuat suara seimut mungkin. Membuat Coco cekikikan mendengar suara imutku.
“Kok kamu manggil debay “jagoan”, emang debay cowok? Kalo cewek gimana?”
“Ya gapapa..bagiku cowok atau cewek ga masalah”
Coco kemudian melanjutkan ngobrolnya dengan debay sambil terus mengelus perutku yang mulai sedikit membuncit karena sudah mulai memasuki trimester kedua.
*
*
*
*
Akhirnya setelah menunggu sekian purnama, akhirnya aku bisa juga jalan-jalan ke Jogja. Ke kota yang berjuluk Kota Pelajar. Kota yang dulu sering aku kunjungi saat masih kuliah dan menetap di Solo. Karena jarak Solo-Jogja yang dekat. Selain itu, Jogja adalah kota kelahiran Chika, sahabatku saat di akademi keperawatan. Hampir setiap libur semester aku, Chika dan Lala main ke Jogja kemudian menginap di rumah Chika yang terletak di pusat kota Jogja.
Dulu aku sering ke Jogja naik kereta prameks. Moda transportasi umum dengan harga tiket yang sangat terjangkau di kantong mahasiswa. Dijamin tidak akan membuat kantong bolong. Dan yang paling berkesan saat naik prameks adalah ketika kita harus berdesak-desakan terutama di jam-jam keberangkatan dan pulang kerja. Aku ingat dulu aku sampai punya kursi lipat yang biasa aku gunakan ketika naik kereta prameks. Kursi itu adalah penolong saat capek berdiri setelah berebutan masuk kereta. Sungguh kenangan yang tak terlupakan.
Kali ini, kedatanganku ke Jogja selain untuk jalan-jalan adalah untuk menemani Coco yang ada janji bertemu dengan salah satu klien yang seorang pengusaha sukses di Banjarmasin asli Jogja. Rencananya Coco akan meeting dengan kliennya itu dulu kemudian baru mengajakku jalan-jalan keliling Jogja. Karena aku sudah ngebet ingin ke Jogja maka aku sanggupi saja permintaan Coco. Itung-itung kerja plus babymoon, hehehe..
Menginjak trimester kedua, perutku mulai membuncit. Aku merasa bahagia karena akhirnya aku merasakan kehamilan yang sesungguhnya. Setiap waktu kuelus-elus perutku yang mulai terasa berbeda. Karena aku yakin di dalam rahimku kini telah bersemayam sesosok bayi, buah cintaku dengan Coco.
Aku dan Coco berangkat ke Jogja naik mobil. Sebenarnya aku ingin sekali naik kereta sekalian mengenang masa-masa kuliah. Tapi Coco menolak tegas. Dia ga mau naik kereta karena menurut Coco, kereta itu suaranya berisik. Aku sampai membujuknya naik kereta eksekutif tapi dia tetap menolak.
“Udah sayang..ga usah maksa. Aku ga mau kita naik kereta”
“Tapi kenapa Co?”
“Aku ga suka aja”
“Ga suka kan mesti ada alasannya”
“Kereta itu berisik”
“Ehm..iya juga sih..kalo gitu kita naik kereta eksekutif aja..kan eksekutif lebih teredam suaranya”
Coco tetap menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?”tanyaku begitu melihat Coco menggelengkan kepalanya.
“Pokoknya kita naik mobil saja. Nanti kalo capek kita bisa mampir buat istirahat”
“Tapi..”
“Ga ada tapi-tapian”
“Kasih aku alasan yang kuat kenapa kita ga bisa naik kereta?”tanyaku sedikit memaksa karena sejak tadi alasan Coco sangat tidak masuk akal.
Coco tak segera menjawab pertanyaanku. Kulihat dia seperti sedang berpikir.
“Aku tak suka kita naik kereta, karena…pasti akan mengingatkanmu pada Aldi”
Degh..
Rupanya Coco sangat tak menyukai ideku naik kereta karena dia takut aku akan teringat Aldi jika kami naik kereta. Padahal aku sama sekali tak berpikir seperti itu. Walaupun kenyataannya aku memang pernah main ke Jogja bareng-bareng Chika, Lala, Aldi, Agus dan Benny.
Segera kutangkup wajah tampan suamiku dan kucium bibirnya sekilas. Coco tersenyum setelah kucium. Kami bertatapan selama beberapa saat.
“Cemburumu itu sangat ga beralasan. Tidak selalu semua hal yang berkaitan dengan kuliahku harus dikaitkan dengan Aldi”
“Maaf sayang..tapi setiap mengingat kedekatan kalian selama aku di Cina benar-benar membuatku sesak. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak marah dan cemburu”
Segera kupeluk tubuh besar suamiku yang cemburuan. Karena perutku sudah mulai membuncit, aku tak leluasa memeluknya.
“Jangan marah ya Ayah”ucapku untuk menenangkan suamiku
Coco balik memelukku dan mengecup pucuk kepalaku. Akhirnya aku hanya bisa menerima keputusan Coco untuk tidak naik kereta. Daripada aku ga jadi ke Jogja.