Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (6) Lebih Berisi?



Sepanjang perjalanan pulang, Rena yang biasanya berisik dan banyak bicara, sejak kejadian Aldi dan Coco yang mengkhawatirkan aku di warung soto itu, kulihat jadi lebih pendiam. Membuat aku merasa bersalah. Aku pun mulai mengajak Rena bicara masalah kos dan kuliahnya.


“Tadi kamu kemana aja Rena waktu di kampus?”


“Ehmm..Cuma ke rektorat sama ngurus berkas pindah ke fakultas kedokteran sih kak”


“Kok bisa ketemu Dila gimana ceritanya?”


“Tadi kebetulan Dila baru ngurus KRS, terus ketemu aku. Jadinya kita keliling kampus. Diantar kak Aldi juga”


“Udah liat kos juga?”


“Belum. Rencana sekalian pas ke Jogja lagi aja. Bawa barang-barangku sekalian”


“Sekalian pindahan? Kan kamu belum liat kosnya Dila?”


“Aku dah dikasih liat foto sama video keadaan kamar di kos Dila. Aku lihat kamarnya lumayan besar dan nyaman. Jadi aku mau kos disana dulu. Sambil liat keadaan. Kalo misal nanti mau pindah kosan, ya sambil kuliah aja..siapa tau dapet referensi kosan yang lebih bagus”


Mendengar Rena membicarakan kosnya di Jogja membuat aku pingin ke Jogja. Sudah lama aku ga jalan-jalan ke Jogja. Aku pingin kesana.


“Coo..bisa ga kita ikut nganter Rena pindahan?”pintaku pada Coco yang sedang fokus menyetir.


“Ga usah..jauh”jawab Coco singkat


Ucapan Coco membuat suasana hatiku langsung sedih. Karena aku sudah lama tidak jalan-jalan. Ke Solo menjenguk keponakan inipun kalo aku ga maksa, Coco pasti ga mau.


“Tapi kan kita udah lama ga jalan-jalan ke Jogja. Boleh ya? Sekalian aku mau lihat kampusnya Rena. Boleh ya Co?”pintaku sambil merengek


Membuat Rena tertawa kecil melihat tingkahku yang kekanak-kanakan. Ga perduli..yang penting aku bisa jalan-jalan. Masak dirumah mulu.. Sekali-kali kan kita juga butuh refreshing..Biar hati senang..


Kata Chika, sahabatku saat di akademi, refreshing itu penting, untuk menjaga kesehatan dan kewarasan dalam menghadapi masalah dalam hidup yang terus datang silih berganti.


“Iya Co..kalian ikut aja sekalian”ucap Rena membelaku


“Apa kamu ga ingat? Kita kan mesti ke dokter dulu mriksain kamu?”jawab Coco sambil melirik padaku sepintas.


“Lhoh..kak Vivi sakit?”tanya Rena


“Ga kok Rena”


“Jangan keras-keras..kan ada Rena”bisikku pada Coco


Aku ga mau Rena tahu aku mau periksa ke dokter kandungan. Karena memang belum pasti aku hamil atau tidak. Aku kan belum test menggunakan test pack. Aku tak mau terlalu percaya diri langsung periksa ke dokter kandungan. Padahal sebenarnya aku ga hamil.


“Apaan sih kak kok bisik-bisik segala?”tanya Rena penasaran.


“Itu..Vivi kan udah waktunya kontrol..sudah tiga bulan. Kata dokter kami harus kontrol kalo sudah tiga bulan untuk memastikan kondisi rahimnya”jawab Coco


Oh iya ya..kenapa aku bisa lupa? Dulu setelah dikuret kan aku memang harus kontrol setelah tiga bulan. Ahh..kirain Coco mau mengantarku periksa kehamilan. Ternyata kontrol..


“Oh gitu..semoga kontrolnya lancar ya kak..Siapa tau nanti pas kontrol ternyata malah “isi” siapa tau kan?”


Kenapa Rena juga mikir aku “isi” ya?


“Iya Rena..makasih..doain aja”


“Tapi kak..kakak merasa ga sih kalo akhir-akhir ini kakak tuh lebih berisi”


Ini lagi..kenapa mesti bahas berat badan lagi sih..Kemarin Coco sekarang Rena..Ga tau apa aku tuh sensitif banget kalo udah urusan “berat badan”


Ucapan Rena barusan berhasil membuat moodku jatuh. Karena sekali lagi, berat badanku yang naik dibahas lagi.


“Iya kan Ren..kamu juga ngrasa gitu?”ucap Coco ikut-ikutan


“Apaan sih Co? Udah ga usah bahas berat badanku bisa ga sih? Iya..iya..aku sekarang gendut.. Puassss”ucapku sambil kusilangkan kedua tanganku di depan dadaku dan kuarahkan mataku untuk menatap ke arah jendela mobil.


“Hihihihi..kak Vivi jangan marah gitu..Bukan gendut kak..tapi berisi. Aura kak Vivi juga kelihatan beda gitu”


“Beda gimana? Emang kamu punya mata batin bisa baca aura segala?”


“Kakak boleh percaya boleh ga..tapi aku ngrasa aura kak Vivi tuh kayak..orang hamil”


Rena sok tau..apa hubungannya coba, aura sama orang hamil? ada-ada aja..


“Ga usah sok tau deh”


“Kamu ga ngrasa gitu Co?”tanya Rena pada Coco


Segera kulirik suamiku dengan tatapan dingin dan tajam. Awas saja kalo dia ikutan gila kayak Rena..sok-sokan baca aura..


Coco yang melirik sepintas padaku hanya tersenyum.


“Ga usah serius gitu, sayang..anggap aja itu doanya Rena..ya kan Ren?”


“Habisnya kalian bahas badanku yang “berisi” , pake acara baca aura orang hamil segala”keluhku


“Iya kak..diaminin aja..semoga yang aku pikirin tuh bener..kalo kak Vivi hamil lagi”


“Aamiin”


Kutangkupkan kedua tanganku ke arah wajahku mengamini doa dari Rena.


Semoga saja..


“Oya..masalah ke kampusnya Rena gimana? Boleh ya Co kita kesana”


Aku merayu suamiku lagi begitu ingat masalah jalan-jalan ke Jogja.


“Viii”


“Ayo lah Co..boleh ya? Aku janji bakal nurut. Yang penting kita jalan-jalan ke Jogja. Aku bosen di rumah terus. Kita juga udah lama ga jalan-jalan”


“Lha ini kan juga jalan-jalan”


“Jalan-jalan apanya? Dari rumah kita langsung ke rumah sakit. Dari rumah sakit mampir ke warung soto tadi terus sekarang kita pulang. Itu kamu bilang jalan-jalan?”keluhku untuk kesekian kalinya.


“Udah lah Co..diturutin aja. Siapa tau kak Vivi ngidamnya jalan-jalan, hahahaha”goda Rena


“Ngidam?”tanya Coco sambil menatapku dengan ekspresi wajah serius


“Apaan sih Ren? Aku kan belum tentu hamil. Masak ngidam..aneh-aneh aja kamu Ren”


“Kan aku bilang, siapa tau kak Vivi sekarang hamil, makanya sekarang lebih berisi, makannya banyak, gampang nangis, sensitif abis. Terus sekarang ngidam pingin ke Jogja, ya kan?”


“Ya udah..kita bicarakan lagi setelah kita kontrol ke dokter”jawab Coco


“Beneran? Oke..makasih sayang”ucapku sambil kucium pipi suamiku.


Coco tersenyum senang.


“Kak Vivi apa-apaan sih? Jangan gitu dong kak..aku kan masih jomblo. Ga kasihan sama aku?”


“Aduh..maaf Rena..tadi refleks. Maaf ya”ucapku meminta maaf pada Rena


Aku semakin ga bisa ngontrol perasaanku sendiri. Main ***** aja..maaf ya Ren..


“Kamu rencana ke Jogja lagi kapan Rena?”tanyaku


“Belum tau kak, nunggu info dari Dila aja”


Akhirnya sepanjang perjalanan pulang, kami ngobrol banyak hal. Hingga tak terasa kami sudah sampai di kota kami.


Sebelum sampai di rumah, tiba-tiba Coco memarkirkan mobil kami di sebuah apotek yang tak jauh dari rumah.


“Ngapain sayang? Kok kita berhenti di sini?”tanyaku bingung


“Turun dulu”


Apaan sih Coco? Ngajak ke apotik emang siapa yang butuh obat?


Aku pun menurut saja. Aku turun dari mobil.


“Aku nunggu di mobil aja ya kak?”


Aku mengangguk pelan. Coco mengulurkan tangannya padaku dan kuterima uluran tangannya. Coco menggenggam tanganku memasuki apotek bersama-sama. Untung saja apotek dalam kondisi sepi. Seorang apoteker mendekati kami,


“Ada yang bisa kami bantu?”tanya apoteker itu.


“Ada test pack digital?”ucap Coco pada apoteker


Apoteker itu langsung mencari barang yang diinginkan Coco. Aku yang awalnya ga paham, begitu mendengar Coco mau membeli testpack, saking kagetnya sampai aku membelalakkan mataku.


“Ngapain beli test pack?”bisikku pada Coco


“Kan ngetes dulu sebelum ke dokter”


“Katanya cuma mau kontrol, kok test kehamilan juga?”bisikku


“Udah dites dulu..kan ga papa ngetes dulu”


“Ini Pak”ucap apoteker yang membawakan kami sebuah kemasan test pack digital merk Clear Blue Digital Pregnancy Test yang setauku memang memiliki keakuratan paling baik. Akurasinya hampir 99% dengan disertai tampilan perkiraan usia kehamilan juga dalam indikator mingguan.


Setelah membayar di kasir, aku segera menarik lengan suamiku untuk mengajaknya bicara sebelum kami kembali ke mobil.


“Kamu juga mikir aku “isi”?”


“Aku cuma penasaran aja dengan perubahanmu akhir-akhir ini, makanya sebelum ke dokter aku pingin ngetes dulu. Ga papa kan?”


“Kalo ternyata aku ga hamil?”tanyaku


“Ya gapapa. Tinggal bikin lagi sampai kamu hamil”goda suamiku.


Membuatku jengkel sekaligus tersipu malu.


“Bikin lagi..emang adonan dibikin lagi”keluhku sambil mengerucutkan mulutku


Coco malah mencubit pipiku dengan gemas.


Kami pun kembali ke mobil dan akhirnya kami pulang.


*


*


*


*


Malam harinya saat di kamar, sebelum kami tidur. Aku dan Coco sudah berbaring di ranjang, dengan tubuhku berada dalam pelukan suamiku.


“Co..”


“Hemm”ucap Coco sambil mengelus rambutku lembut.


Kudongakkan kepalaku menatap suamiku. Coco malah mencium keningku.


“Kenapa?”


“Aku takut”


“Takut apa? Masalah test pack tadi?”


Aku mengangguk pelan.


“Aku takut kalo ternyata aku ga hamil”


Coco semakin mendekap erat tubuhku. Dapat kurasakan tubuh hangat suamiku.


“Sayang..kita kan cuma ngetes doang. Ga usah kamu pikirin dalem-dalem. Kalo misal hasilnya positif, ya alhamdulillah..berarti kita dipercaya lagi untuk punya anak. Tapi kalo ternyata hasilnya negatif, ya udah disyukuri aja..berarti kita harus belajar lagi. Kita harus memantaskan diri supaya nanti ketika waktunya tepat, kita sudah bener-bener pantas untuk jadi orangtua”


Kata-kata Coco selalu bisa mendamaikan perasaanku yang kadang bergejolak hebat. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti Coco yang dewasa dan sabar.


Kutatap wajah suamiku lekat-lekat. Kami sama-sama tersenyum.


“Makasih ya..kamu selalu bisa menenangkan perasaanku. I love you”


Kukecup bibir suamiku. Coco ganti membalas kecupanku.


“I love you too”


Kemudian Coco mencium bibirku lagi. Kali ini dengan lebih semangat. Kami saling berciuman. Ciuman yang semakin lama semakin dalam. Membuat tubuhku segera merespon. Rasanya semakin panas. Deru nafas kami pun semakin berkejar-kejaran. Karena bahasa cinta antara suami istri yang terjadi melalui penyatuan dua jiwa menjadi satu adalah anugerah dari sang Pencipta.


Kuterima setiap sentuhan yang dilakukan Coco padaku karena aku juga menginginkannya. Karena aku adalah miliknya seutuhnya dan dia milikku seutuhnya. Hasrat dalam diri kami semakin menggelora. Dalam pergulatan panas yang kami lakukan. Dan akhirnya..kami pun bercinta sepanjang malam itu.