Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Cinta Segitiga



Coco berdiri di depanku menghadap ke arah Arsy dan Mira. Coco kemudian meraih tanganku dan menggenggamnya. Arsy dan Mira terbelalak melihat Coco menggenggam tanganku.


“Vivi sekarang adalah pacarku”ucap Coco tegas


“Aku tak suka kalian membawa-bawa Vivi dalam masalah kalian”ucap Coco pada Mira dan Arsy.


“Dan kau Ar..bukankah dulu aku sudah bilang jangan mendekati Vivi lagi..apa kau lupa?”tanya Coco pada Arsy


“Selama ini kalian juga tak pernah jadian. Kenapa aku tak boleh mendekati Vivi?”protes Arsy sengit


“Tapi sekarang Vivi adalah pacarku”ucap Coco sambil menunjukkan cincin yang melingkar dijariku.


Wajah Arsy terlihat sendu begitu melihat cincin yang melingkar di jariku, tanda aku dan Coco resmi jadian.


“Aku tak akan biarkan siapapun mengganggu hubungan kami. Jadi selesaikan masalah kalian berdua”


Coco lalu menarik tanganku dan mengajakku keluar markas untuk kembali ke kelas.


“Co..lepasin Co”pintaku karena Coco menggenggam tanganku erat sekali.


Dia berjalan dengan langkah lebar, membuatku harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah kaki Coco. Coco menghentikan langkahnya membuat aku malah menabrak punggungnya.


“Aduhh”aku mengaduh


“Kalo berhenti jangan mendadak dong Co?”keluhku sambil mengelus dahiku yang menabrak punggungnya yang lebar.


Coco menatapku dengan tatapan penuh kemarahan.


 “Apa kau pernah pacaran dengan Arsy?”tanya Coco tiba-tiba


“Ngaco kamu..mana ada aku pacaran dengan Arsy”


“Terus kenapa dia bisa segitunya sama kamu?”


“Ya mana aku tahu..yang suka aku kan dia, tanya Arsy aja sana..jangan tanya aku. Emang aku paham situasi seperti tadi. Aku aja ga ngerti apa-apa”


“Udah..udah..bentar lagi jam istirahat berakhir. Kita kembali ke kelas sekarang”ajak Anti yang sejak tadi mengikuti kami.


Coco lalu berbalik arah dan berjalan di depanku. Aku dan Anti mengikutinya di belakang.


“Baru juga sehari jadian, masak udah berantem lagi”keluhku pada Anti


“Hehehe..ya gitu namanya orang pacaran. Orang bilang itu bumbunya dalam hubungan percintaan. Kalo lempeng-lempeng aja nanti kurang menantang. Ga ada gregetnya” ucap “calon kakak iparku” yang sudah lebih berpengalaman dalam hal percintaan.


Di depan perpus, kami bertemu Dedi dan Daniel. Mungkin karena melihat Coco yang sebel, akhirnya Daniel yang mencairkan suasana.


“Berantem lagi nih ceritanya”


Aku mengangkat bahuku. Coco justru melirik pada Daniel.


“Ngliatnya biasa aja deh Co..ga usah kayak gitu”Daniel menepuk bahu Coco.


“Jadi gimana nih..nanti jadi makan-makan ga?”tanya Dedi


“Makan-makan?”tanyaku penasaran sambil mengernyitkan dahi


“Katanya mau ngrayain ulang tahunmu” ucap Dedi padaku


“Jadi ga Co?”tanya Dedi lagi


“Jadi”jawab Coco tegas


Aku, Anti, Dedi dan Daniel sampai menahan tawa mendengar dia yang sedang marah tetapi masih sanggup menjawab pertanyaan Dedi barusan.


“Oke..kalo gitu jangan cemberut gitu..kasihan Vivi nanti”ucap Daniel


“Ttteettttt..tttteeetttttt”bel istrahat kedua berakhir


Kami kembali ke kelas. Sambil menunggu guru datang, Coco dan Dedi duduk di kursi pak Hendy dan Dion yang ada di depanku.


“Kok kamu tahu aku ada di markas?”tanyaku


Coco tak menjawab hanya memberi isyarat dengan mengangkat kepalanya menunjuk pada Anti.


“Hehehehe..tadi aku yang ngasih tau Coco. Karena pas dia balik, kamu ga ada di kelas”


“Aku tadi dah telpon tapi ga kamu angkat”ucap Coco


“Oh ya? kok aku ga denger ada panggilan masuk”aku segera mengeluarkan hp di saku rokku.


Pantesan ga denger, hp ku ternyata mati. Aku tunjukkan layar hp ku yang mati pada Coco.


“Makanya baterainya dicek dong”keluh Coco


“Ya maaf..tadi pagi ga sempet cek”


“Oya, mulai sekarang jangan deket-deket Arsy lagi”perintah Coco


“Iyaa”jawabku malas


“Ga usah sok-sokan jadi penasehat cinta Arsy sama pacarnya”


“Iya..iya..”aku jengkel karena Coco terus menyalahkanku


“Oya, darimana dia tahu kita ga pernah jadian?”tanya Coco


“Oh pliss deh Co..kamu kan ga pernah “nembak” aku. Selama ini kita dekat tapi kan ga pernah jadian. Terus aku juga yang salah karena bilang Arsy kalo kita ga pernah jadian?”keluhku sambil cemberut


Coco menatap wajahku lalu tersenyum. Dia malah mencubit hidungku. Aku sedang marah kenapa dia malah nyubit hidungku sih?


“Iihhh..Coco..jangan dicubit”aku mengelus-elus hidungku yang dicubit Coco barusan


Dia malah cekikikan. Dedi dan Anti hanya geleng-geleng melihat kami berdua.


“Udah lah Ded, balik mejamu aja..lihat mereka malah tambah emosi”ucap Anti


“Bener kamu An..”balas Dedi yang kemudian memilih kembali ke mejanya.


“Hisshhhh”keluhku sambil menata rambutku yang sempat dibuat berantakan.


Tepat setelah Coco berdiri, guru kami datang. Akhirnya kami mengikuti pelajaran jam terakhir sampai selesai.


“tttteeeetttttt….ttteeeetttttt…tttttteeettttt”bel pulang berbunyi


Akhirnya pelajaran berakhir juga. Aku pun pulang bersama Coco naik mobil.


Di dalam mobil, dia terus menggenggam tanganku. Membuatku risih tapi juga senang. Karena pacarku yang posesif dan overprotektif sangat sayang padaku. Dia terus menggenggam tanganku erat. Seakan tak ingin melepaskanku.


“Mau pegang tanganku sampai kapan?”tanyaku


“Kenapa? Kamu ga suka?”tanya Coco sambil menoleh padaku


“Kamu baru nyetir..bahaya kalo nyetir pake satu tangan gitu”


“Tenang aja..aku dah biasa nyetir satu tangan” ucap Coco dengan sombongnya


“Iya..iya..”jawabku


“Vi?”


“Hemm”aku menoleh padanya


“Nanti aku ga bisa jemput, kamu berangkat sendiri ga papa kan?”


“Ga papa. Emang kamu mau kemana dulu?”tanyaku


“Aku masih ada keperluan setelah ini”jawab Coco


“Ooo”


Kenapa perasaanku agak ga enak ya denger perkataan Coco?


“Jujur sama aku, kamu ada keperluan apa?”tanyaku


“Kenapa?”


“Jawab yang jujur..aku mau tahu kamu mau kemana?”


“Ehmmm..itu..ketemu Arsy”jawab Coco tiba-tiba


“Ngapain?”aku kuatir mereka berdua bakalan berantem gara-gara aku


“Aku ikut”


“Ga usah..aku cuma mau menyelesaikan masalah antara kami berdua aja”


“Pokoknya aku ikut”


“Ayolah Vi..”


“Aku ikut..aku ga mau kalian berantem gara-gara aku”


“Vi?”


“Co?”


Aku terus merengek minta ikut. Karena aku memang kuatir pada Coco. Aku takut mereka berdua akan berkelahi. Karena selama ini, yang aku tahu mereka berdua memang tak akur. Kalo sampai mereka berkelahi, jelas Arsy yang akan menang, karena dia kan pemegang sabuk hitam taekwondo.


Akhirnya Coco menyetujui permintaanku. Karena aku mengancam ga akan ikut makan-makan nanti. Sampai di tempat yang mereka setujui, di sebuah taman kota tak jauh dari sekolahku, aku dan Coco segera keluar dari mobil. Sementara Arsy sudah menunggu di atas motor besarnya.


Arsy terlihat kaget melihat kehadiranku. Coco segera menggandeng tanganku.


“Kau mau bicara apa?”tanya Arsy


“Aku ingin memperjelas lagi supaya kau mengerti posisimu. Aku dan Vivi sudah resmi pacaran. Jadi mulai sekarang, kau tak usah mengganggu Vivi lagi. Tak usah sok-sokan minta pendapat Vivi, padahal kamu cuma ingin dekat sama Vivi”ucap Coco dengan wajah dingin menatap Arsy.


“Jadi kau mau pamer kalo sekarang kau yang menang dan akhirnya jadian dengan Vivi?”tanya Arsy


“Terserah apa katamu. Aku tak peduli”ucap Coco dingin


“Co, jangan bicara seperti itu”bisikku pada Coco


“Kau itu curang Co..dari dulu aku sudah suka Vivi. Kau juga sudah tau itu. Kau dengan wajah dinginmu itu tak pernah memperhatikan Vivi. Hanya karena kalian sekelas lagi selama kelas XI, makanya kalian bisa dekat”


“Kamu salah Ar..aku sudah suka sama Coco bahkan sejak kita kelas X”kataku


“Vi?”Arsy menatap wajahku sendu


“Jadi tolong, jangan memperkeruh suasana. Perbaiki hubunganmu dengan Mira. Dia gadis yang baik Ar..jangan sakiti dia”


“Vi”wajah Arsy benar-benar sendu.


Tak pernah kulihat dia sesendu itu selama ini. Cowok dengan tingkat kepercayaan diri 1000x lipat dari orang normal, hari itu berubah drastis. Seperti bukan Arsy yang selama ini kukenal.


“Maaf Ar..selama ini aku hanya menganggapmu teman. Tak lebih. Jadi tolong jangan mengharapkan aku akan membalas perasaanmu”


“Jika itu maumu, aku akan menuruti apapun permintaanmu”


“Terimakasih Ar”


“Dan kau Co..jangan pernah melepaskan Vivi..karena sekali saja kau melepaskan dia, aku takkan tinggal diam. Aku pasti akan mendapatkan Vivi jika sampai kau melepaskannya”


“Tak akan”jawab Coco mantap sambil menggenggam tanganku erat.


“Baiklah..kita hentikan permainan cinta segitiga ini. Aku mengaku kalah”ucap Arsy sambil tersenyum.


Membuat aku dan Coco ikut tersenyum.


“Selamat ya Vi..Co..”


“Terimakasih”jawabku dan Coco bersamaan.


Bagaimanapun juga kami satu team di PMR. Kami pernah jadi satu keluarga sesama senior PMR. Jadi masalah ini, akhirnya terselesaikan dengan baik. Arsy juga berjanji padaku untuk memperbaiki hubungannya dengan Mira. Gadis imut yang sangat suka Arsy, karena sejak dulu sudah nge-fans berat pada Arsy.