Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (11) : Keliling Jogja



Seperti yang sudah aku rencanakan, aku akhirnya jalan-jalan di Jogja. Aku dan Coco awalnya jalan-jalan di sekitar pusat kota. Pertama kami mengunjungi Keraton Jogja yang merupakan ikon wisata bersejarah di Jogja. Lokasinya yang berada di pusat Kota Yogyakarta sangat memudahkan wisatawan untuk sampai ke istana kesultanan ini. Kami berkeliling Keraton dan menyempatkan sholat di Masjid Gedhe Kauman.


Petualangan berikutnya kami lanjutkan ke Malioboro. Kawasan ini merupakan jantung kota serta simbol dari kota Yogyakarta. Bahkan sebagian orang serasa belum lengkap ketika datang ke Jogja belum mampir ke Malioboro. Jalan yang membentang sepanjang 2,5 km dari Tugu Yogyakarta sampai Kantor Pos Yogyakarta itu tidak pernah sepi dari wisatawan. Jalan ini disebut sebagai salah satu titik garis imaginer antara Keraton Yogyakarta, Pantai Parangtritis dan Gunung Merapi.


Selama di Malioboro, aku dan Coco hanya cuci mata alias melihat-lihat saja semua souvenir dan aneka dagangan yang ada di sana. Di sana dijual aneka kaos, batik, blankon, sandal, kerajinan tangan bahkan bakpia pathok dan yangko yang merupakan jajanan khas Yogyakarta.


“Ga mau beli apa-apa?”tanya Coco padaku saat kami duduk-duduk di bangku yang ada di Malioboro untuk melepas lelah setelah berjalan-jalan dari tadi.


“Belum ada yang pingin dibeli”jawabku sambil menyeruput minuman ringan yang tadi kami beli untuk meredakan dahaga.


“Gimana? Masih kuat jalan apa ga?”


“Capek juga ya rupanya”


“Kalo capek kita balik aja”


“Jangan! Masak udah mau balik”


“Lha kan katanya capek”


“Iya capek..tapi kita kan baru setengah jalan. Masak dah buru-buru balik. Ga mau”


“Ya udah..jangan cemberut gitu”ucap Coco sambil mencubit hidungku.


Aku sih sebenarnya tau Coco ga terlalu suka ide jalan kaki keliling Malioboro. Tapi kan ke Malioboro ga afdol rasanya kalo ga jalan-jalan. Mengunjungi satu toko ke toko yang lain, melihat-lihat barang dagangan yang ada. Walaupun sebenarnya barang-barang yang dijual hampir sama dan secara harga juga ga bisa dibilang murah, tapi kelebihannya disini kita bisa tawar-menawar harga dengan penjual. Dan disitulah seninya belanja di Malioboro, hehehe….Karena aku memang ga bisa nawar, jadinya aku cuma pindah-pindah aja dari satu toko ke toko yang lain. Dari satu pedagang ke pedagang yang lain.


Saat berada di Malioboro, aku dan Coco sempat duduk sambil menikmati pertunjukan musik dari Group Musik Tradisional yang lebih dikenal dengan nama “Angklung Carehal”. Nama Carehal sendiri memiliki arti “Cari Rejeki Halal”. Angklung Carehal menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan Malioboro. Angklung Carehal biasanya meramaikan suasana Malioboro mulai dari jam 4 sore hingga jam 9 malam.


Angklung Carehal menggunakan beberapa alat musik tradisional seperti Angklung, Gambang, Basambung, Perkusi, dan Ketipung yang dipadukan menjadi satu-kesatuan harmoni dan irama yang enak didengar. Angklung Carehal sudah menjadi bagian dari Malioboro. Malioboro akan terlihat sepi ketika tidak ada Angklung Carehal.


Angklung Carehal ini adalah group musik yang luar biasa selain turut meramaikan suasana Malioboro di sore hari dan malam hari secara tidak langsung mereka juga memperkenalkan alat musik tradisional yang kita miliki kepada wisatawan mancanegara maupun dalam negara serta turut melestarikan budaya dengan cara memainkan segala jenis genre musik menggunakan alat musik tradisional. Aku salut sama mereka. T.O.P  B.G.T lah pokoknya.


Karena sudah menjelang malam, aku dan Coco akhirnya pulang ke hotel.


“Co, kita mampir Ambarukmo Plaza ya?”


“Mau ngapain lagi sih?”


“Jangan gitu..aku cuma mau makan di food court nya aja. Kalo di hotel aku ga selera makan. Ga tau kenapa rasanya ga selera”


“Bilang aja kamu pingin jajan”


“Tau ajah”


Suamiku emang the best banget lah..tau aja yang dipikiranku.


“Tapi jangan kebanyakan jajan ya sayang..ingat, kamu makan juga buat dedek”


“Ini juga yang pingin dedek kali Co”


“Dedek apa kamunya yang mau?”


“Dua-duanya..hehehehehe”


Aku seneng banget karena selama kehamilanku ini meskipun Coco jadi protektif banget tapi dia juga jadi lebih sabar dan dewasa banget ngadepin aku yang kadang emosinya naik turun ga jelas. Pengaruh hormon kehamilan, mungkin.


Sampai di Ambarukmo Plaza, aku dan Coco mampir sebentar di toko buku. Seperti biasa, untuk mengusir kejenuhan dan mengisi waktu, aku biasanya memang membaca buku. Kali ini aku memang sengaja membeli buku-buku tentang kehamilan dan kelahiran, supaya aku dan Coco semakin siap menyambut kehadiran dedek yang sebentar lagi akan segera hadir ke dunia ini.


Saat memasuki toko buku, aku merasa seperti mengenali salah satu pengunjung toko buku itu. Aku awalnya ragu-ragu untuk menyapa tapi begitu pengunjung itu membalik badannya, aku semakin yakin aku memang mengenal dia.


“Chiara? Adrian?”


Chiara dan Adrian yang kupanggil terlihat kaget begitu bertemu denganku.


“Kak Vivi?”


“Kalian berdua aja nih”


Chiara keliatan malu-malu. Apa gara-gara ketahuan sama aku dia jalan sama Adrian ya?


“Dila mana? Ga ikut?”


“Dila baru ke toilet sih kak”


“Ooo..jadi kalian rame-rame kesini?”


“Iya”jawab Adrian


“Sayang..kamu jadi beli buku apa ga?”tanya Coco


“Oh iya..aku sampe lupa. Kalian abis ini mau kemana?”


Chiara kulihat menatap Adrian.


“Kalo kalian ga kemana-mana, kita makan bareng aja di food court di atas. Gimana?”ajakku pada mereka berdua


“Aku tanya Dila dulu aja ya kak”


“Iya..aku duluan ya..kabari aku ya Chia”


“Iya kak”


Akhirnya aku meninggalkan dosgan dan mahasiswinya itu. Tapi jujur saja aku masih penasaran kenapa Chiara malah bareng Adrian, karena seingatku kemarin Bryan adik Adrian yang ngajak ke toko buku. Apa kemarin mereka ga jadi ke toko buku ya? Ahhh..aku beneran penasaran.


“Itu tuh yang aku ceritain kemarin. Adrian sama Chiara. Temennya Arsy sama Dila”


“Oo..yang dosen itu”


“Iya. Aku penasaran kenapa mereka berdua aja”


“Udah..ga usah ngurusin urusan orang lain. Aku ga suka kamu kayak gitu”


“Iya sayangg..aku kan Cuma bilang aku penasaran. Bukan berarti aku akan mengganggu mereka. Biasa lah namanya juga penasaran”


Coco malah menggenggam tanganku dan mengajakku berjalan ke arah rak buku yang berisi buku-buku tentang kehamilan dan kelahiran bayi. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya aku menemukan buku yang ingin kubeli.


Setelah meninggalkan toko buku dan masuk lift, hp ku berdering.


“Halo? Ada apa Dila?”


“Kak Vivi dimana? Ini aku sama Chiara mau ke food court”


“Oo..ini kakak juga baru masuk lift mau ke food court. Kamu nyusul ya?”


“Iya kak..Oya, nanti Rena sama kak Aldi ikut juga, ga papa ya kak?”


Waduh..gawat! Kenapa mesti ada Aldi sih? Aku harus ngomong Coco dulu nih, biar ga terjadi perang dunia lagi seperti terakhir kali kami ketemu.


“Bentar ya Dila..kak Vivi ijin dulu. Nanti kakak hubungi kamu”


Coco langsung menatap ke arahku. Membuat tubuhku langsung merinding melihat tatapan suamiku yang mendadak serius.


“Ijin kenapa?”tanya Coco pelan karena di dalam lift ada beberapa orang.


“Nanti aku ceritain”


Begitu pintu lift terbuka, Coco menggenggam tanganku keluar lift dan mengajakku ke Seorae Korean Grill yang ada di lantai 3 Ambarukmo Plaza. Aku memang pingin makan masakan korea dan kamipun memesan bibimbap. Sambil menunggu pesanan datang, aku ceritakan apa yang dikatakan Dila tadi.


“Co..masalah ijin tadi”


“Iya..kenapa?”


“Tadi Dila yang telpon. Kamu ingat kan tadi aku ngajak mereka makan di sini”


“Terus?”


“Dila bilang..”


Belum sampai aku menceritakan semuanya sama Coco, Dila dan rombongannya malah udah sampai di lantai tiga.


“Kak Vivi?”Dila melambaikan tangan padaku.


Dila datang bersama Chiara, Rena, Arsy, Adrian dan Aldi. Perfect..SEMPURNA!!


“Kalian udah datang? Ayo sini”


Karena aku yang mengajak mereka makan, ga mungkin kan aku mengusir mereka semua. Tapi ini kenapa malah rame banget gini ya..


Ya udah lah, udah terlanjur juga..Diurus nanti aja kalo Coco marah.


Akhirnya kami berdelapan makan bersama. Suasana sangat menyenangkan karena ada Dila dan Rena juga di sana. Kami ngobrol banyak hal sambil menikmati hidangan yang sudah kami pesan.


Sesekali kulirik suamiku. Wajah tampannya terlihat sangat dingin dan serius banget karena satu meja dengan Aldi.


“Kak Vivi tadi udah jalan-jalan kemana aja?”tanya Rena


“Aku tadi ke Keraton, Alun-alun Utara, Masjid Gedhe, sama ke Malioboro”


“Oya, besok kan minggu..kak Vivi jadi ke sunmor ga?”


“Iya..aku pingin banget liat sunmor”


Aku langsung menoleh ke arah suamiku. Berharap Coco mengijinkan jalan-jalan ke sunmor.


“Boleh kan?”


“Liat besok”


“Iihh..boleh ya Co?”


“Jangan merajuk disini..diliatin mereka, kamu ga malu?”


Dila, Chiara dan Rena malah cekikikan melihat tingkahku. Biarin, yang penting aku bisa ke sunmor. Ga ada urusan sama malu.


“Kasihan kak Vivi Co..udah ngebet banget ke sunmor. Nanti aku yang temenin”bujuk Rena


Coco menoleh ke arahku.


“Boleh ya sayang?”kurayu Coco sambil mengedip-ngedipkan mataku seperti boneka dengan senyum semanis mungkin.


“Ya udah..tapi bentar aja ya”


“Yeyyyy...Makasih sayang!”