
Seperti tahun-tahun sebelumnya, di awal semester 2, kami kelas XI akan mengikuti kegiatan Wisata Akhir. Seperti biasanya ada 2 option destinasi wisata, wisata dalam negeri dan wisata luar negeri. Siswa kelas XI bebas memilih mengikuti option yang mana. Bagi yang menghendaki wisata keluar negeri, biasanya sekolah memberi kesempatan sejak kelas X, untuk menabung.
Aku dan Coco ikut wisata keluar negeri. Destinasi tahun ini adalah ke Eropa. Selain untuk wisata, biasanya kami juga diajak ke kampus-kampus yang ada di sana, untuk memberi kami gambaran, jika akan melanjutkan kuliah keluar negeri.
Ketika sudah sampai bandara Italy, Coco tampaknya sangat bersemangat. Beberapa kali dia menengok keluar kaca jendela bandara melihat deretan pesawat-pesawat yang ada di bandara.
Setelah keluar dari pemeriksaan paspor, kami dibriefing oleh biro perjalanan yang mengorganisir Wisata Akhir kami. Lalu kami diberi waktu sekitar 30 menit untuk sekedar ke toilet atau makan, sambil menunggu tour guide dari biro perjalanan dari Italy.
“Kita mau kemana nih?”tanyaku
“Krucuk-krucuk” perut Coco berbunyi
Dia meringis. Aku, Anti, Dedi dan Daniel spontan tertawa begitu mendengar bunyi perut Coco yang kelaparan.
“Ayo makan! Aku laper banget nih”ucap Coco
“Ayo..ayo..kasihan cacing di perutmu..udah konser”ucap Daniel sambil merangkul pundak Coco.
Saking laparnya, Coco sampai lari-lari mencari restoran atau café. Karena dia sangat lapar. Sesampainya di restoran, dia melepas coat-nya lalu memesan makanan. Dia pesan pasta. Aku dan Anti pesan pizza ukuran kecil. Dedi dan Daniel pesan coklat hangat karena mereka berdua masih kenyang. Karena di pesawat, mereka sempat makan hidangan yang ada di pesawat.
Sambil menunggu pesanan kami datang, ada saja polah Coco. Ya karena dia sudah lapar itu tadi. Dia pura-pura mengantuk. Dia memejamkan matanya lalu perlahan-lahan kepalanya turun ke meja lalu dia pura-pura tidur. Karena memang pesanan yang agak lama datangnya. Begitu pesanan datang, dia langsung memakannya.
Dasar Coco usil! Waktu aku makan, sempat-sempatnya dia memfotoku. Mana mulutku menganga lebar saat memasukkan pizza ke dalam mulutku. Dasar Coco usil! Dia malah tertawa terbahak-bahak sambil menunjukkan hasil jepretannya pada teman-teman.
Aku yang tak terima, foto jelekku disebarluaskan berusaha merebut hp nya.
“Ihh..hapus Co..jelek banget..hapus foto itu”perintahku pada Coco
“Ga mau”ucapnya lalu menjulurkan lidahnya mengejekku.
“Ihh..Coco..awas ya..tunggu pembalasanku”ucapku sambil cemberut.
Selama kunjungan ke kampus, Coco selalu saja menggangguku. Memintaku memfotokan dia, katanya buat referensi dia kuliah nanti. Pernah satu ketika saat kami sampai di University of Milan, dia minta difoto tapi maunya cuma tampak belakang aja. Ni anak banyak maunya. Aku turuti saja kemauannya.
“Vi..fotoin ya?”sambil menyodorkan hpnya padaku
“Hei Co..lihat kesini..masak cuma kelihatan punggungnya doang?”
“Ga papa. Bangunannya diliatin juga ya?”
Tapi mau foto kayak gimana juga, Coco udah dari sananya cakep, tampak belakangnya juga udah cakep. Tampak jelas bahunya yang semakin lebar, hasil olahraga selama ini.
“Itu bahu apa lapangan? Lebar banget?”godaku melihat hasil jepretanku di hp nya.
Dia malah tertawa mendengar ledekanku.
“Itu soalnya Coco nge-gym terus Vi..makanya bahunya lebar kayak lapangan sepakbola, hahahaha”goda Daniel
“Sialan kamu Dan”umpat Coco
“Kamu udah lihat abs-nya belum Vi? Udah kayak roti sobek..nih aku liatin”ledek Dedi sambil menaikkan baju Coco.
Apa aku lihat abs Coco? Jelas lihat lah.. “Roti sobek” yang terukir jelas di balik kemeja putih dan hoodie abu-abu yang dipakainya. Saat Dedi dengan cepat menarik baju Coco ke atas, sehingga abs Coco tersibak. Tapi Coco dengan cepat segera menutup lagi bajunya. Dia yang tak terima, mengejar Dedi dan Daniel untuk menuntut balas.
Aku akui abs Coco benar-benar indah. Seksi banget, hahahaaha...
Jantungku juga berdetak kencang saat melihat pemandangan singkat tak terduga tadi.
“Kamu tadi lihat Vi?”tanya Anti padaku
“Iya..lihat..hihihi..”roti sobek”nya keren..kamu ga lihat?”
“Enggaak..aku pas nengok tadi..kamu beruntung banget”ucap Anti
“Ga sengaja lihat ya..pas Dedi buka bajunya kebetulan aku pas lihat”
“Kotak-kotak gitu?”tanya Anti
“Iya..hihihihi”
Aku dan Anti saling berbisik membahas “roti sobek” Coco.
“Kalian ngapain bisik-bisik?”tanya Coco
“Pasti bahas “roti sobek” mu tuh”goda Dedi
“Ga kok..kita kan ga lihat ya An”kelitku pura-pura ga lihat abs Coco.
Anti mengangguk.
“Bohong..jelas-jelas tadi kamu lihat Vi..orang aku lihat kamu melotot kok tadi..berarti kamu lihat kan?”goda Daniel
“Enggak ya..aku tuh melotot karena kaget Dedi narik baju Coco”kelitku lagi
Mana mungkin lah aku mengaku sudah lihat abs Coco yang kotak-kotak mirip “roti sobek”. Bisa-bisa aku digodain terus mereka bertiga.
Untung saja saat itu, kampus yang kami kunjungi sedang libur semester jadi tidak banyak mahasiswa di sana. Dan kebetulan saat itu, kami baru selesai berkeliling kampus dan diberi waktu istirahat. Jadi tingkah absurb tiga cowok yang sudah bukan anak kecil itu hanya kami berlima yang tahu, karena kami memang beristirahat agak jauh dari gerombolan teman-teman yang lain.
Universitas Milan yang kami kunjungi merupakan satu dari universitas terbesar di Italy. Universitas yang didirikan sejak tahun 1924 itu memiliki 9 fakultas dan menawarkan 134 program sarjana dan pasca sarjana, 21 program doktoral dan 92 program spesialisasi. Universitas Milano adalah peserta Program Erasmus, yang memungkinkan pertukaran pelajar dengan universitas-universitas lain di Eropa.
Satu pemenang Hadiah Noble dalam Fisika, Riccardo Giaconni, dan pemenang Medal Fields, Enrico Bombieri, adalah lulusan dari universitas ini.
Rata-rata universitas di Eropa, bangunannya sudah tua-tua, bahkan ada yang berusia beberapa abad, namun aku akui bangunannya sangat kokoh. Belajar di luar negeri merupakan salah satu cita-citaku, walaupun itu terdengar sangat mustahil untukku. Tapi bukankah mimpi itu untuk diraih, jadi tak ada salahnya aku bermimpi suatu hari nanti kuliah di luar negeri.
Aku akui selera fashion Coco memang bagus. Pakaian apapun yang dipakainya pasti terlihat bagus di badannya. *Visual attack-*nya benar-benar mengena di hatiku. Paling mengena lagi waktu kami jalan-jalan di Italy. Saat kami diberi kesempatan jalan-jalan menikmati pemandangan kota Milan\, aku dan teman-teman menyempatkan berfoto dengan background bangunan-bangunan tua kota Milan.
Aku dan Coco selalu bergantian menjadi fotografer bagi kami berdua. Saat dia ingin difoto, aku yang jadi fotografernya. Dan saat aku ingin difoto, dia yang jadi fotograferku. Coco memang terlahir menjadi model. Foto-foto yang aku ambil, tak ada satupun yang jelek. Karena Coco memang sangat tampan. Pose seperti apapun pasti hasilnya luar biasa. Dan yang jadi favoritku adalah foto-foto saat dia berpose ala model professional.
Gilakkk..cakep banget!!!
Padahal dia cuma foto berjalan sambil menengok kearah kamera. Tapi aura ketampanannya benar-benar terpancar. Hati cewek mana yang bisa menahan visual attack macam gini? Auto meleleh pasti. Tak terkecuali aku.