
Pernikahan. Sebuah kata yang sarat makna. Bersatunya dua jiwa dalam suatu ikatan cinta yang disaksikan tak hanya penghuni bumi tetapi juga dipersaksikan oleh penghuni langit. Karena dengan mengucap kalimat ijab qabul, itu tandanya sepasang insan manusia yang saling mengikat janji suci bersumpah untuk mengarungi bahtera kehidupan bersama sebagai sepasang suami isteri.
Persiapan menuju pernikahanku terbilang cukup singkat. Hanya dalam waktu enam bulan aku dan Coco bersiap untuk menikah. Pikirku ketika akan menikah, yang dibutuhkan hanya persiapan dari kedua calon mempelai saja. Namun ternyata persiapan pernikahan sangatlah rumit dan banyak.
Aku sengaja mengambil cuti kerja untuk membantu keluargaku mempersiapkan hari besarku. Maklum saja aku anak tunggal. Aku tak mungkin membiarkan keluargaku sendirian yang mengurus hari besarku. Kak Ilham yang bertugas sebagai Koordinator acara pernikahanku. Karena Anti sedang hamil muda, maka aku dan Coco berinisiatif membantu kak Ilham, bersama-sama mempersiapkan pesta pernikahan kami. Kami berdua yang memesan gedung pernikahan untuk resepsi pernikahan. Berkoordinasi dengan WO (Wedding Organizer) yang mengurus pernikahan kami.
Kami melakukan foto prewedding dengan konsep outdoor. Kami sengaja memilih ke Lombok untuk melakukan foto prewedding di sana, karena pantainya yang sangat indah dan di sana juga ada kenangan indah antara aku dan Coco. Kami berfoto dengan background keindahan pemandangan pantai Tanjung Ann, Bukit Merese, goa Bangkang dan beberapa tempat indah lainnya. Kami juga sempat melakukan sesi foto prewedding di Labuan Bajo yang memang memiliki pemandangan yang sangat indah.
Semakin mendekati hari bahagiaku, aku merasa semakin stress dan lelah tak hanya secara fisik tetapi juga secara mental. Benar-benar mengurus pernikahan bukan hal yang gampang. Tak jarang aku dan Coco bersitegang karena perbedaan pendapat. Tetapi satu per satu masalah bisa kami pecahkan bersama. Aku sangat bersyukur karena Coco sangat sabar menghadapi diriku yang kadang masih labil. Enam tahun perpisahan kami, membuat Coco jauh lebih dewasa daripada diriku yang kadang masih kekanak-kanakan.
Suatu hari, aku bersama Coco berbelanja keperluan seserahan dan mahar pernikahan. Sejujurnya aku bukan tipe wanita yang suka berbelanja. Aku biasanya hanya belanja keperluanku jika benar-benar butuh saja. Karena itu saat dia mengajakku belanja keperluan seserahan aku hanya bisa menurut saja dengan apa yang dibelikannya. Kami pun membeli beberapa keperluan seserahan. Seperti seperangkat alat sholat lengkap dengan mushaf Al Quran. Seperangkat keperluan skincare yang biasa aku pakai. Kami juga membeli sandal, sepatu dan tas jinjing.
“Kamu minta apa?”tanya Coco padaku saat kami baru memasuki mall terbesar di kota Solo
“Aku ga minta apa-apa. Apapun yang kamu beri, aku pasti menerimanya”jawabku sambil tersenyum.
Dia justru semakin menggenggam tanganku erat. Kami masuk dari satu toko ke toko yang lain. Mengelilingi mall terbesar di kota Solo untuk membeli semua keperluanku. Coco membelikanku keperluan mandi seperti handuk couple, jubah mandi dan beberapa sabun dan shampoo yang biasanya aku pakai. Dia juga membelikanku beberapa gaun. Saat kami melintas di depan sebuah gerai yang menjual aneka pakaian dalam dan lingerie, aku kaget karena Coco malah mengajakku masuk ke dalam.
“Kita ngapain ke sini?”bisikku pada Coco
“Ya beli”bisiknya padaku
Aku malu jika harus membeli pakaian dalam dan lingerie bersama Coco. Apalagi lingerie yang dipajang dengan aneka warna itu, bahannya sangat tipis. Aku segera menarik tangan Coco keluar. Jantungku berdetak tak karuan selama di toko itu. Entah apa yang ada dalam pikiran Coco melihat aneka pakaian dalam wanita yang terpajang di mannequin-mannequin itu.
“Hei..kenapa?”tanya Coco begitu kami sudah di luar toko sambil tertawa kecil
“Masak kita beli berdua..aku kan malu”jawabku menahan malu
Coco malah tersenyum nakal padaku.
“Kenapa harus malu? Sebentar lagi kan aku tahu semuanya”bisik Coco padaku membuatku semakin malu
“Ihhh..Coco”
“Hahahaha”
Dia malah terus-terusan menggodaku. Membuatku cemberut dan akhirnya memilih pergi meninggalkan Coco.
“Mau kemana?”tanya Coco sambil menarik tanganku
Aku memilih diam. Aku sebal karena Coco malah menggodaku terus. Akhirnya Coco mengajakku pergi ke foodcourt di lantai atas mall dan membelikan es krim untukku. Selalu saja, dia berhasil meluluhkan pertahananku. Es krim coklat. Kenapa setiap mendapat es krim aku jadi selemah ini sih? Heran..
Dia hanya menatapku menikmati es krim di tanganku. Es krim coklat yang selalu bisa merubah moodku. Dia malah tertawa kecil sambil menatapku dan menikmati thai tea.
“Kenapa tertawa?”tanyaku
“Ga papa”jawabnya sambil mengelus rambutku
“Kalo kamu malu belanja “itu” denganku, terus kamu mau belanja kapan? Aku sebentar lagi juga sibuk. Karena ada beberapa proyek yang harus aku kerjakan sebelum pernikahan kita”
“Aku belanja sama Anti aja ya? Boleh kan?”
“Emang nanti kak Ilham ngijinin? Anti kan baru hamil muda..dia ga boleh kecapekan kan?”ucap Coco
Memang benar, sejak Anti hamil kedua ini, kak Ilham jadi lebih protektif. Anti ga boleh kecapekan. Bahkan sekarang Anti sudah resign dari bank tempatnya bekerja. Anti dulu sempat hamil beberapa minggu namun keguguran. Dokter bilang mungkin karena kecapekan. Itu sebabnya di kehamilan kedua ini, dia benar-benar harus bedrest.
“Aku coba tanyakan dulu. Sekarang kan kehamilannya udah hampir masuk trimester kedua. Semoga aja boleh. Lagian kan Cuma beli bentar”jawabku
“Padahal kan aku pingin liat kamu pake yang tadi”Coco menggodaku lagi.
Karena kesal, aku pukul saja lengannya.
“Aduhh..kok dipukul sih?”Coco mengaduh sambil mengelus lengannya
“Rasain..siapa suruh godain terus”jawabku
Aku dan Coco malah tertawa bersama. Aku tak menyangka sebentar lagi akan bersanding dengan Coco dan Coco akan memilikiku seutuhnya. Apa adanya diriku.
*
*
*
*
Keesokan harinya,
Coco mesti kerja untuk segera menyelesaikan proyek pembangunan sebuah Mall yang diklaim terbesar di kota Solo. Kemungkinan besar dia harus lembur. Aku selalu mengingatkan dia supaya makan teratur. Karena aku khawatir, kebiasaan lamanya yang lupa makan setiap kali sedang sibuk.
Kebetulan kak Ilham dan Anti selama hampir seminggu ini ada di Solo untuk membantu persiapan penikahanku. Akhirnya setelah berdebat lumayan lama dengan kak Ilham, aku dan Anti diperbolehkan untuk belanja berdua ke mall. Itu pun setelah aku menyanggupi beberapa persyaratan dari kak Ilham. Pertama, belanja hanya selama dua jam. Kedua, ga boleh terlalu lama jalan-jalan, hanya ke toko yang kemarin aku dan Coco hendak belanja, dan ke foodcourt saja aku boleh mengajak Anti. Aku sampai geleng-geleng kepala ternyata kak Ilham sangat protektif pada Anti. Tapi aku senang, itu tandanya kak Ilham sangat mencintai Anti.
“Iya..Tiap hari harus minum susu hamil, minum vitamin dan harus banyak istirahat. Aku ga boleh ngapa-ngapain. Kadang bikin sebel juga. Tapi demi si kecil ga papa lah”ucap Anti sambil mengelus perutnya yang mulai kelihatan membuncit.
“Dedek jagain mama ya..jangan rewel”ucapku pada baby Anti sambil mengelus perutnya.
Sampai di toko yang kemarin aku dan Coco, aku segera disambut beberapa pramuniaga toko yang memang khusus menjual aneka pakaian dalam wanita dan lingerie yang seksi-seksi. Aku berkelilling di toko itu. Bentuk pakaian dalam yang sebagian besar kurang kain itu, membuatku tak minat membeli.
“Kok dibalikin terus sih Vi?”tanya Anti
“Aku tuh ga suka model yang kayak gini..terlalu tipis. Sama aja ga pake”bisikku pada Anti
Anti malah tersenyum lalu membisikkan di telingaku.
“Justru itu yang disukai suami-suami kita”
Aku tergelak mendengar ucapan kakak ipar sekaligus sahabat baikku itu. Mungkin karena dia sudah lebih dulu menikah, jadi dia tak merasa risih mengucapkannya. Tapi aku yang masih suci dan perawan ting-ting ini, merasa ucapan Anti terlalu vulgar.
Mungkin karena Anti melihat aku kaget, dia menepuk bahuku.
“Kamu itu kan perawat Vi..masak denger gitu aja kaget”
“Tapi kan aku belum pernah nikah An”
Anti malah terus saja menggodaku kalo aku tuh terlalu polos dan lugu. Memang benar aku perawat. Aku sudah biasa melihat tubuh polos jenasah dan pasien. Hal itu memang tak terlalu berpengaruh padaku. Tak pernah membuatku bernafsu atau bergairah jika melihat tubuh polos cadaver ataupun pasien pria yang pernah kutangani. Namun jika membayangkan Coco….ga usah aku terusin ah..aku malu..
Akhirnya aku dan Anti membeli beberapa pasang pakaian dalam dan beberapa lingerie. Sebenarnya aku menolak beli lingerie di toko itu karena modelnya benar-benar membuatku malu. Membayangkan aku memakai lingerie itu di depan Coco…aahhhh..bisa gila akunya…
Tapi sekali lagi aku menurut saja dengan perkataan seniorku dalam urusan melayani suami.
“Kamu tuh bentar lagi jadi seorang isteri..jadi mulai belajar hal-hal yang disukai suami. Contohnya ini”ucap Anti sambil menunjukkan lingerie tipis berwarna hitam dengan tambahan bra kecil dan G string.
Jujur saja aku panas dingin hanya dengan melihat lingerie itu. Pikiranku berlarian kemana-mana. Apa aku akan sanggup mengenakan pakaian kurang bahan yang sangat tipis itu? Entahlah..kita lihat saja nanti..
Selesai membeli pakaian dalam dan lingerie, aku dan Anti menuju lift ke lantai atas mall. Ke foodcourt. Karena aku dan Anti sudah lapar. Sambil menikmati cilok dan batagor yang sudah kami pesan, tiba-tiba sebuah pertanyaan menggelitik muncul dalam otakku. Aku pun memberanikan diriku bertanya pada Anti. Aku berani karena kebetulan suasana foodcourt itu sedang sepi. Kalo rame, mana aku berani.
“An..aku tanya ya..tapi jangan diketawain”
“Mau tanya apa?”
“Beneran lho..jangan diketawain”
“Hahaha..mau nanya apa sih Vi?”
“Sssttt..jangan keras-keras..aku malu kalo sampai ada yang denger”
“Kayaknya aku tahu deh apa yang mau kamu tanyain”
“Ehhmm..gimana sih..rasanya *L?”bisikku di telinga Anti
Anti yang mendengar pertanyaanku malah tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar kamu An..temen nanya bener-bener malah diketawain..hissshh..
“Menurutmu?”
“Kok malah nanya balik..aku kan nanya kenapa malah balik nanya sih”
“Kalo menurutmu, aku sampe punya debay gini..kira-kira gimana rasanya?”
Aku sebal karena Anti malah memberiku pertanyaan balik.
“Tapi dari yang aku denger, kalo pertama kali itu sakit banget..bener ga sih?”
“Namanya juga pertama kali..tentu aja ada sakitnya tapi kalo udah sering nglakuin nanti juga dah ga sakit..nagih malah”
“Ihhh..ga usah vulgar gitu napa sih? Geli aku dengernya”protesku pada Anti
Anti malah semakin kenceng menertawakan aku.
“Yang penting, kamu harus rileks..ga usah ditahan..biarin aja..tar lama-lama juga ga sakit”
“Udah ah..salah aku nanya kamu”
“Terus kamu mau nanya siapa? Nanya Coco?”goda Anti
“Ihh..udah-udah stop it..aku ga mau bahas lagi. Tar juga aku tahu sendiri”
“Sebaiknya mulai sekarang kamu banyak baca deh Vi..percayalah itu mungkin masih tabu buat kamu sekarang..tapi belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan se*, sangat membantu kita dalam melayani suami kita nanti”
Pesan bijak seorang Anti. Yang dengan enteng dan tanpa tedeng aling-aling mengucapkan kata SE* dengan gampangnya meluncur dari bibirnya itu, tanpa melihat pelayan yang mengantarkan pesanan makan siang kami.
Makasih An..kamu udah buat aku malu banget diliatin mas-mas pelayan yang tentu saja mendengar ucapan Anti sambil senyum-senyum sendiri. Kalo ga inget kamu kakak iparku yang sedang hamil muda, udah kusumbat mulutmu itu..