Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (1) Love at First Sight



Hari sudah menjelang malam, aku akhirnya pulang bersama Coco ke rumah. Begitu mendekati pintu gerbang, terbayang lagi dalam pikiranku pertengkaranku dengan Rena. Hingga membuat perasaanku jadi jelek. Mungkin Coco menangkap perubahan dalam wajahku hingga dia menanyaiku.


“Kenapa wajahnya ditekuk lagi?”tanya Coco


“Ehmm..ga papa”jawabku mencoba berkelit


“Masih marah sama Rena?”tanya Coco lagi


“Nanti kau tanya sendiri sama Rena maksud omongannya tadi pagi itu apa..jangan marah lagi ya”pinta Coco sambil mencubit pipiku


“Sakittt Cooo” Kulepaskan tangan Coco yang baru saja mencubit pipiku.


“Habis kamu kalo marah nggemesin banget”ucap Coco sambil tersenyum


Aku jadi ikut tersenyum mendengar pujian suamiku.


Keluar dari mobil, aku dan Coco berjalan masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan. Kulihat Rena sedang asyik menonton TV di ruang keluarga. Aku tak menyapanya dan bergegas masuk kamarku. Tiba-tiba,


“Kak Vivi..maafin aku ya?”ucap Rena sambil memegang tanganku dengan memasang wajah memelas.


“Aku tadi cuma becanda. Aku udah ceritain semua sama Coco. Aku cuma mau balas dendam sama Coco. Biar kak Vivi marah-marah sama Coco. Aku ga bener-bener bermaksud menyakiti hati kak Vivi. Maafin ya kak..plisss”pinta Rena sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


Kulihat dia serius meminta maaf padaku. Aku pun menghela nafas panjang. Kulirik sepintas ke arah Coco.


“Iya..aku maafkan. Tapi tolong jangan kamu ulangi lagi ya Ren”


“Makasih kak..Ga salah Coco milih kakak..kakak baik banget”ucap Rena sambil memeluk tubuhku.


Membuat aku kaget dengan reaksi Rena yang biasanya dingin dan cuek padaku. Akhirnya aku dan Rena bicara dari hati ke hati berdua di ruang keluarga.


“Aku ke kamar dulu” ucap Coco sambil mencium keningku.


Aku mengangguk pelan.


“Ingat Ren, jangan buat Vivi marah lagi..kalo tidak, aku usir kamu malam ini juga”ancam Coco pada Rena


“Iya..iya..”jawab Rena.


Setelah aku perhatikan, Rena sangat mirip dengan Dila. Sangat kekanak-kanakan. Akhirnya Rena menceritakan awal mula pertemuannya dengan Coco, kira-kira empat tahun lalu. Saat itu Rena baru sekolah setara SMA kelas X jika di Indonesia.


“Kapan kalian pertama kali kenalan?”


“Kami ketemu waktu aku sekolah SMA kelas X lah kalo di Indonesia. Mami sama mama yang udah mengatur perjodohan kami. Awalnya aku juga ga mau dijodohin. Karena aku kan masih sekolah. Masak udah mau dinikahin. Tapi mama bilang, dijalanin aja dulu..siapa tau cocok. Ya udah aku akhirnya nurut. Waktu itu, pertama kali liat Coco, jujur aja aku naksir Coco sih kak..kakak jangan marah ya?”


Aku sih maklum aja mendengar pengakuan Rena, karena itu juga yang terjadi padaku. Cinta pada pandangan pertama. Love at first sight.


“Karena bagiku, baru kali ini aku lihat cowok cool dan secuek Coco. Padahal kan aku ga jelek-jelek banget ya kan? Tapi dia tuh dingin banget. Sepanjang blind date kami, cuma aku yang ngomong. Dia sama sekali ga respon sama aku. Kami ketemu beberapa kali. Dan akhirnya di pertemuan kami yang ke-15 kali, dia bilang sama aku, kalo dia ga mau ketemu aku lagi. Waktu aku tanya kenapa? Katanya ada cewek yang dia cintai, pacarnya saat di SMA. Waktu itu aku bener-bener marah sama Coco. Dan aku berjanji dalam hatiku aku akan menuntut balas atas perlakuan Coco sama aku. Membuatku sudah membuang-buang masa mudaku yang berharga”ujar Rena panjang lebar.


Mendengar pengakuan Rena, ada rasa bahagia dalam hatiku mendengar Coco masih sangat mencintaiku meskipun kami berpisah sekian tahun. Sama sepertiku yang selalu mencintainya dalam hatiku.


“Maaf ya kak..aku sebenarnya cuma pingin buat kakak marah besar sama Coco, jadi pembalasan dendamku tuntas sudah. Aku ga bermaksud menyakiti hati kakak dengan keguguran yang kakak alami. Aku juga tau pasti hati kakak sangat sedih setelah kehilangan calon bayi kakak. Maaf ya kak”pinta Rena dengan mata yang berkaca-kaca.


“Iya”ucapku sambil kugenggam tangannya.


“Aku doakan semoga kamu segera bertemu pangeran hatimu, yang akan mencintaimu dengan tulus”doaku untuk Rena


“Udah kok kak”jawab Rena


“Hah? Udah gimana?”tanyaku bingung


“Aku udah ketemu pangeran hatiku”jawab Rena sambil tersipu malu


“Siapa?”


“Temen kakak tadi..kak Aldi”ucap Rena sambil senyum-senyum sendiri


Rena suka Aldi? Apa mungkin Aldi akan suka Rena?


“Aldi?”tanyaku memastikan


Rena manggut-manggut mengiyakan


“Emang apa yang kamu suka dari Aldi?”tanyaku


“Dia tuh tipe aku banget. Bodynya kak keren abis…wajahnya juga ganteng banget..apalagi suaranya.. uuhhhh..seksi abisss”puji Rena dengan mata berbinar-binar


“Lagi ngomongin aku ya?”tanya Coco tiba-tiba


Aku menoleh ke arah Coco yang sudah mandi dan udah ganteng banget.


“Idihhhh..Ge er..siapa juga yang ngomongin situ?”cibir Rena


Coco lalu duduk disampingku.


“Udah malam, kamu ga mandi?”tanya Coco padaku


“Iya..aku mandi dulu”jawabku


“Aku mandi dulu ya Ren”


“Iya kak”


“Jangan berantem lho ya?”godaku pada Coco dan Rena


“Mending aku nungguin kamu aja daripada di sini”jawab Coco sambil beranjak dari tempatnya lalu menggandeng tanganku masuk kamar.


“Pacaran terooosss”seru Rena dengan suara yang sengaja di keraskan.


Sampai di dalam kamar, aku segera mengambil beberapa baju ganti yang akan aku pakai. Coco tiba-tiba memelukku dari belakang. Coco mulai mencium leherku dan menggigitnya. Membuatku merasa geli.


“Coo..aku belum mandi”ucapku sambil kubalikkan tubuhku menghadap suamiku.


Setelah mandi, kami berdua turun ke lantai satu untuk makan malam.


Di meja makan sudah terhidang beberapa makanan buatan Uti. Kulihat Rena mendengus kesal melihat kami baru turun ke meja makan.


“Kalian lama banget sih?”gerutu Rena


“Maaf ya Ren”ucapku meminta maaf pada Rena


“Kalo udah laper makan aja duluan.. ga usah nungguin kami”jawab Coco ketus.


“Gini-gini aku juga sadar diri ya Co..kan aku Cuma tamu di sini. Masak tamu makan duluan sebelum dipersilahkan tuan rumah”jawab Rena


“Syukurlah kalo masih sadar diri” jawab Coco enteng


“Jangan gitu Co”ucapku


“Maaf ya Ren”


Aku tahu ucapan Coco ga seharusnya seperti itu.


“Kalo kamu masih sadar diri, seharusnya kamu juga ingat, besok kamu harus sudah pulang”ucap Coco


“Oh ya..aku belum bilang ya?”tanya Rena


Membuat aku dan Coco bertatapan.


“Bilang apa Ren?”tanyaku


“Sebenarnya kepulanganku kali ini karena aku mau pindah kuliah di Indonesia”jawab Rena


“Apa? Pindah kuliah?”tanyaku dan Coco hampir bersamaan.


Rena menganggukkan kepalanya pelan.


“Aku capek kuliah di Cina. Materi kuliahku semakin susah, masih terkendala bahasa juga. Aku udah bilang mama kalo aku mau pindah kuliah ke sini aja”


“Terus kamu mau kuliah di mana Ren?”tanya Coco


“Aku pingin ke Jogja”jawab Rena


“Jogja?”


Apa Rena mau nyusul Aldi? Karena seingatku tadi di mall Aldi pingin ambil PPDS di Jogja sekalian jagain Dila.


“Iya”


“Terus kamu mau ambil jurusan apa?”tanyaku


“Kedokteran”


Tuh kan bener..Rena pingin nyusul Aldi. Nih anak ngotot banget pingin deketin Aldi ya?


“Apa orangtuamu udah setuju kamu kuliah di Jogja?”tanya Coco


“Mama sama papa sih sebenarnya ga setuju. Tapi karena aku bilang aku kesusahan kalo nyelesain kuliah kedokteranku di Cina, karena kendala bahasa, akhirnya mama papa setuju aku kuliah disini”


“Di Cina kamu juga ambil jurusan Kedokteran?”


“Iya”


Ooo..aku kira tadi Rena mau nyusul Aldi. Rupanya dia memang ambil jurusan Kedokteran. Udah su’udzon aja..


“Ya ga papa sih Ren, kalo mau kuliah disini..asal orangtuamu setuju. Iya kan Co?”


Coco mengangguk pelan dengan mulutnya yang masih penuh makanan.


“Rencana kapan kamu mau ke Jogja?”


“Besok. Kakak mau ya temenin aku liat-liat kampus” pinta Rena sambil menggenggam tanganku.


“Ga boleh”jawab Coco tegas


“Kenapa sih Co? Aku kan minta tolong kak Vivi nemenin aku”ucap Rena sambil cemberut


“Vivi itu istriku..Kalo mau ngajak Vivi, kamu harusnya ijin dulu sama aku”sahut Coco dengan tegas


“Ya udah..aku minta ijin ya..aku ajak kak Vivi ke Jogja”ucap Rena dengan lebih lembut


“Ga boleh”jawab Coco ketus


“Gimana sih Co? Tadi suruh ijin..sekarang ijin, tetep ga boleh”sungut Rena emosi mendengar jawaban Coco


“Coo..”aku hendak membujuk Coco tapi Coco sepertinya sudah tahu apa yang ingin kusampaikan karena telapak tangannya dihadapkan ke arahku.


Tanda aku ga boleh melanjutkan ucapanku.


“Vivi tuh harus banyak istirahat. Aku ga mau istriku kecapekan gara-gara nemenin kamu”


Coco ada benarnya juga sih..Karena setelah keguguran kemarin, aku memang ga boleh kecapekan. Itu pesan dokter padaku.


“Terus aku ke Jogjanya sama siapa dong? Aku kan belum pernah pergi sendiri”keluh Rena.


Aku merasa kasihan juga pada Rena. Karena keluarga besarnya rata-rata di luar kota. Yang terdekat saat ini adalah Coco. Dan Coco ga mungkin meninggalkan pekerjaannya.


Apa aku minta tolong Dila atau Aldi aja ya? Kan mereka juga kos di sana. Siapa tau mereka bisa bantu. Tapi, kalo aku bilang Coco, pasti ga bakal diijinin. Tadi siang aja, Coco Aldi dan Dila ga akur gitu..


Akhirnya aku simpan ide ku itu seorang diri. Tanpa berani aku sampaikan pada Coco. Karena dia pasti akan menolak ideku. Besok saja, setelah Coco berangkat kerja, aku temui Dila atau Aldi. Semoga mereka bisa membantu Rena.