Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Sepucuk Berita dari Cina



Menginjak tahun keempatku kuliah, aku semakin disibukkan dengan jadwal magang di Rumah Sakit dan pembuatan Skripsiku. Waktuku bersama Aldi berkurang jauh. Aldi juga sudah mulai persiapan skripsi. Meskipun dia baru tahun ketiga. Rupanya Aldi ingin segera menyelesaikan pre-klinik selama empat tahun seperti mamanya. Dulu mamanya bisa menyelesaikan pendidikan di FK U*M, universitas terkemuka di Jogjakarta selama empat tahun. Sehingga hal itu memacu Aldi untuk mempercepat pendidikan pre-klinik nya. Setelah wisuda, Aldi ingin segera mengambil program profesi kedokteran (rotasi klinik/koasistensi/koas) selama dua tahun. Aldi berencana meneruskan koas di RSUD Moewardi, rumah sakit pemerintah provinsi Jawa Tengah.


Akhirnya aku wisuda lebih awal ketimbang Aldi, Chika, Lala, Agus dan Benny. Saat wisuda Aldi ikut mendampingiku. Aku dan Aldi bahkan sempat berfoto berdua.


Aku berhasil menyelesaikan pendidikan keperawatan setelah tiga setengah tahun kuliah. Selanjutnya aku berencana mengambil program pendidikan profesi karena aku ingin bekerja di Rumah Sakit.


Akhirnya Aldi berhasil melanjutkan koas-nya di RSUD Moewardi, begitu juga denganku yang melanjutkan program profesi Ners, dan melakukan serangkaian praktek layanan kesehatan juga di RSUD Moewardi. Jadilah kami sama-sama bergulat dengan pasien di RSUD itu.


Pengalaman “pacaran” dengan anak koas sangatlah melelahkan dan membutuhkan kesabaran tingkat dewa karena benar-benar menguras waktu dan tenaga. Belum lagi rutinitas di RS yang kami jalani membuat aku dan Aldi meskipun berada dalam satu bangunan, tapi sangat sulit sekali untuk bertemu.


Apakah aku dan Aldi akhirnya pacaran setelah hampir empat tahun bersama? Jawabannya adalah…


TIDAK.


Karena jangankan memikirkan untuk “pacaran”, bisa tidur di kasur empuk di kos adalah sebuah kemewahan yang sangat kami rindukan. Jadwalku dan Aldi kebetulan sekali tidak pernah klop. Aku kebanyakan dapat jadwal praktek pagi, dan Aldi kebetulan seringnya dapat shift jaga pagi sampai malam. Kadang sampai 35 jam pun pernah dialami Aldi ketika dapat shift jaga di UGD. Menjadi dokter muda atau koas tidaklah mudah. Mereka harus menjadi garda terdepan ketika bertemu dengan pasien UGD. Harus siap disalahkan oleh perawat, pasien dan dokter konsulen (sebut saja pembimbing).


*


*


*


*


Selagi aku mengambil program profesi Ners, aku sempat mendapat kabar Anti, sahabatku akan menikah dengan kak Ilham, sepupuku. Aku sebagai supporter utama dan pertama mereka tentu saja ikut bahagia untuk mereka berdua. Walaupun sempat putus nyambung, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah juga.


Aku sempat galau, ketika dihadapkan pada pilihan, pulang menghadiri pernikahan Anti atau tidak pulang. Karena yang aku takutkan adalah aku akan sangat mungkin bertemu dengan Dedi dan Daniel yang notabene adalah sahabat baik Coco sejak dulu.


Walaupun selama hampir lima tahun, aku tak pernah bertemu mereka tetapi karena Dedi dan Daniel juga kuliah di Surabaya, dan mereka (Dedi, Daniel dan Anti) berhubungan baik. Selama lima tahun ini, Anti dan kak Ilham berhasil menyembunyikan keberadaanku dari Dedi dan Daniel. Walaupun berada dalam satu kota, namun mereka jarang bertemu karena kesibukan kuliah mereka masing-masing. Baru kira-kira setahun ini, mereka sering bertemu dan kadang jalan bareng bersama kak Ilham dan pacar-pacar mereka. Mereka bertemu setelah sudah sama-sama bekerja. Jadi mustahil untukku menghindari Dedi dan Daniel kali ini.


Kebetulan Aldi dapat jatah shift jaga di UGD, jadi dia tak bisa menemani aku menghadiri pesta pernikahan Anti. Aku kembali ke kota kelahiranku setelah hampir lima tahun lamanya meninggalkan kota itu. Aku kembali bersama kedua orangtuaku, karena Anti juga dekat dengan keluargaku. Apalagi sekarang kami akan menjadi keluarga besar.


Sepanjang perjalanan, aku benar-benar galau. Gelisah. Siapkah aku mendengar berita tentang Coco setelah lima tahun kami berpisah? Sanggupkah aku mendengar berita tentang Coco? Bagaimana jika nanti Dedi dan Daniel menanyaiku tentang kepindahanku yang mendadak lima tahun lalu?


Banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku. Dadaku sampai terasa sesak membayangkan jika sampai nanti aku mendengar Coco akan menikah dengan gadis pilihan mamanya waktu itu. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku sudah siap mendengar cerita itu?


Sesampainya di rumah Anti, aku langsung menuju kamar pengantin yang juga kamar Anti. Gadis cantik yang sebentar lagi menjadi kakak iparku, hari itu terlihat sangat menawan. Benar kata orang, ketika menikah, aura seseorang akan semakin memancar. Kecantikan Anti membuat semua orang di ruangan itu pangling. Anti benar-benar sangat cantik.


Aku ikut mengantar Anti menuju tempat akad nikah. Saat aku gandeng, tangan itu terasa sangat dingin.


“Nervous An?”bisikku


“Iya lah”jawabnya


Wajah Anti juga terlihat agak tegang.


“Besok kalo nikah sama Aldi, baru deh kamu tahu rasanya”ucap Anti


“Apaan sih An?”


“Emang Aldi belum nglamar kamu?”tanya Anti


“Kamu tuh yang hari ini mau nikah, kenapa malah kepoin aku sih?”


Ruangan akad nikah yang terletak di halaman belakang rumah Anti sangatlah indah. Anti dan kak Ilham sengaja memilih konsep garden party untuk pesta pernikahan mereka. Terutama untuk acara akad nikah. Karena acara itu sangat sakral. Anti dan kak Ilham ingin pernikahan mereka berkesan, dengan didampingi orang-orang terdekat mereka.


Kak Ilham hari itu tampak gagah dengan busana pengantin Jawa yang dikenakannya. Anti berjalan menuju meja akad nikah. Di sana sudah ada bapak penghulu dari KUA, Papa Anti, Ayahku jadi saksi dari pihak kak Ilham, sementara dari pihak Anti yang jadi saksi adalah kakeknya.


Acara akad nikah itu berlangsung dengan sangat khidmat. Aku seperti ikut terbawa suasana. Ikutan tegang ketika Papa Anti selaku wali Anti menjabat tangan kak Ilham, kemudian kalimat ijab qabul diucapkan dengan sangat lantang oleh keduanya.


“Saya terima nikah dan kawinnya, Rianti Kalila Zahra binti Ahmad Syarifuddin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas tersebut dibayar TUNAI”


Saat kak Ilham dengan satu tarikan nafas, dengan suara lantang dan penuh percaya diri melafaskan kalimat ijab qabul, membuat semua yang hadir di sana ikut bahagia, saat kalimat “SAH” diucapkan para saksi dan penghulu pernikahan keduanya.


Ada perasaan lega, haru dan bahagia saat kalimat ijab qabul berhasil diucapkan kak Ilham. Tanpa sadar membuatku ikut menangis. Karena sekali lagi, impian menikah bersama Coco justru hadir saat itu.


Selesai acara akad nikah, kedua mempelai yang sekarang sudah resmi menjadi suami istri itu yang adalah dua orang penting dalam hidupku berjalan beriringan menuju pelaminan untuk mendapatkan ucapan selamat dari kerabat dan orang terdekat. Saat aku mendekati keduanya, aku malah menangis. Aku langsung memeluk Anti. Membuat Anti juga ikut menangis. Kak Ilham malah memarahiku.


“Kamu tu lho Vi..datang-datang malah bikin Anti nangis”seru kak Ilham yang sibuk menghapus airmata Anti supaya tak merusak make-up nya.


“Ya maaf..aku tuh terharu kak..akhirnya kalian nikah juga”ucapku sambil mengusap airmataku.


“Selamat ya Anti sayang”ucapku pada Anti


“Panggil kak Anti..sekarang dia kakak iparmu”ucap kak Ilham mengingatkanku


“Iya..iya..Selamat juga ya kak..Baik-baik lho ya sama Anti”ucapku pada kak Ilham


“Kak Anti” seru kak Ilham lagi membetulkan cara memanggilku.


“Iya..iya..baru juga nikah berapa menit..galak banget sih”gerutuku


“Udah sini..foto dulu”kak Ilham menarik tanganku lalu kami berfoto bertiga dengan aku diapit di tengah.


Aku ikut bahagia melihat kebahagiaan Anti dan kak Ilham hari itu. Kedua pasangan pengantin itu tersenyum dengan sangat bahagia, membuatku ikut tersenyum bahagia bersama keduanya.


Dan akhirnya yang aku takutkan terjadi. Aku bertemu dengan Dedi dan Daniel.


“Bagaimana kabarmu sekarang Vi? Lama ya kita tidak bertemu”kata Dedi


“Iya..ya..sudah berapa tahun? empat tahun? lima tahun?” tanya Daniel


“Lima tahun”kataku sambil tersenyum


“Wah..lama juga ya?”balas Daniel


“Aku baik-baik saja”


Kami berbincang-bincang bertiga. Sudah lama kami tidak bertemu. Rupanya mereka masih sama seperti dulu, tidak banyak berubah. Masih tetap kocak dan konyol seperti terakhir kali kami bertemu. Lima tahun lalu. Tiba-tiba sebuah pertanyaan menggelitikku. Aku jadi ingin tahu kabar Coco.


“Bagaimana..kabar Coco?”


Saat mengucapkan itu, jantungku berdetak sangat kencang. Antara penasaran dan juga takut itulah yang aku rasakan.


“Coco ya? Aku dengar dia bahagia di Cina”kata Dedi


“Iya..dia betah di sana” Daniel menambahi


“Apa kalian tidak pernah bertukar kabar? Kamu kan dulu pacarnya?” tanya Dedi


“Oya, terakhir aku dengar kabar Coco akan menikah”kata Dedi


“Iya..aku juga dapat kabar itu”kata Daniel


“Kamu tak masalah dengan itu Vi?”tanya Dedi


Lagi-lagi aku hanya tersenyum.


“Syukurlah kalo dia bahagia di sana. Sampaikan salamku padanya”


“Aku temui Anti dulu ya”aku pun berpamitan pada Dedi dan Daniel.


“Bisa aku minta nomor hp mu Vi?”tanya Dedi


“Maaf ya, kapan-kapan saja kita ngobrol lagi”kataku lalu meninggalkan Dedi dan Daniel.


Aku tahu cepat atau lambat aku pasti mendengar berita itu juga. Tetapi yang tak ku sadari adalah bahwa dia masih mengisi hatiku. Dia masih menggenggam hati dan perasaanku. Sehingga mendengar berita itu, hatiku terasa sakit sekali.


Setelah pernikahan Anti, aku kembali ke Solo. Sebenarnya Dedi dan Daniel meminta nomor hp ku yang baru, namun aku tak mau memberikannya. Aku tak mau tiba-tiba hp ku berbunyi, dan kudengar suaranya lagi setelah sekian lama. Bukan untuk menanyakan kabarku. Tetapi mengabarkan pernikahannya. Apalagi mereka bilang dalam waktu dekat dia akan menikah. Aku tak mau. Biarlah aku dengan kenangan indahku bersama Coco yang kucintai lima tahun lalu itu.