
Gaun ketiga ini menurutku yang paling bagus di antara dua gaun yang sudah aku pakai tadi. Gaun putih dengan model sleeveless dan ballgown yang mengembang. Dengan detail hiasan bunga-bunga kecil di beberapa bagian gaun. Atasannya model tank top dengan tali besar. Bagian belakang meskipun backless namun tidak serendah gaun kedua tadi.
Aku pun keluar dari ruang ganti. Saat aku keluar dari ruang ganti, kulihat hanya ada Coco di sana. Aku tak melihat dokter Caroline. Aku mencari-cari keberadaan dokter tapi dokter sepertinya sedang keluar atau sedang ke toilet.
Melihat aku yang clingukan, Coco malah menghampiriku.
“Kamu mencari Caroline?”
“Iya..dokter kemana? Ke toilet ya?”tanyaku. Karena kupikir ia ke toilet.
“Caroline harus pergi meeting”
“APA?”
“Kenapa suaramu seperti itu?”
“Ah maaf..aku hanya kaget saja”
Terus ini kelanjutannya gimana? Katanya dokter mau cari gaun untuk pertunangannya.
Aku sudah pakai gaun ketiga kalinya. Dokter malah udah pergi duluan. Sekarang yang ada aku malah berdua saja dengan calon tunangannya. Dengan Coco-ku. Berdua saja dengan Coco membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku bingung harus ngapain. Suasana benar-benar sangat canggung. Kami berdua merasa canggung.
Akhirnya aku memilih kembali ke ruang ganti saja. Tiba-tiba Coco menahan langkahku dengan memegang pergelangan lenganku.
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau ganti baju”
“Biarkan aku melihat gaun ini dulu. Caroline minta aku memastikan gaun ini dulu sebelum kita pulang”
Aku lepaskan pegangan tangan Coco di lenganku.
“Baiklah. Sebentar saja”
Jujur saja, hatiku berdesir hebat saat Coco memegang lenganku tadi. Jantungku juga berdetak semakin tak terkendali. Karena ini pertama kalinya dia menyentuhku setelah pertemuan kami minggu lalu. Sejak kami bertemu di rumah kakaknya.
Sebenarnya aku malu. Malu dengan tatapan mata Coco yang melihatku memakai gaun yang dipilih dokter tadi. Dia memintaku berputar. Aku pun menurut.
Kulihat dia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Ini saja”
Akhirnya setelah tiga kali percobaan, Coco mendapatkan yang dia inginkan. Gaun yang akan dikenakan calon tunangannya. Saat kembali dari ruang ganti, kulihat Coco sudah membayar gaun tadi. Pramuniaga butik yang menemaniku, membawa gaun itu ke kasir kemudian memasukkan gaun itu ke dalam tas.
Coco berjalan ke arahku.
“Ayo..aku antar pulang”
“Ga usah..aku bisa naik go*ar kok”
“Kenapa? Apa aku tak boleh mengantarmu pulang?”
“Bukan begitu”
“Tenang saja, Caroline yang memintaku mengantarmu”
Apa yang sebenarnya aku harapkan? Apa aku berharap dia sendiri yang ingin mengantarku pulang? Sadarlah Vi..Kisah kalian sudah lama berakhir..Tak ada lagi namaku di hatinya..Dia juga sebentar lagi tunangan..Bodohnya aku..
“Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena kau sudah membantu kami berdua”
“Baiklah”
Akhirnya aku setuju diantar Coco pulang ke kos. Dia membukakan pintu mobil untukku dan melindungi kepalaku agar tak terbentur. Kemudian dia berjalan ke arah pintu kemudi sopir.
Hal yang tak terduga terjadi saat aku sedang memakai sabuk pengaman. Dia yang sudah masuk mobil, kemudian meletakkan tas berisi gaun yang dibelinya tadi ke belakang. Ke bagian tengah mobil. Aku yang sedang sibuk memakai sabuk pengaman, kaget setengah mati saat aku mendongakkan kepalaku. Posisi tubuhnya yang mendekat ke arahku karena tangan kirinya yang memegang tas justru membuat kepalanya berada tepat di depanku. Saat itu, tanpa sadar mata kami saling bertatapan dengan sangat dekat. Dapat kulihat iris matanya yang sangat indah. Mata yang selalu kurindukan selama ini.
Tapi kemudian aku segera sadar, dan mengalihkan pandanganku ke depan. Ke arah jalanan. Aku tak kuat jika harus bertatapan lama dengan Coco.
Jantungku? Rasanya mau copot saja melihat wajah tampan Coco yang ada di depan mataku.
Coco sudah menyalakan mobil. Kami sama-sama diam. Membuat suasana sangat canggung. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam tanpa sepatah katapun sanggup kuucapkan pada lelaki yang sangat kucintai yang saat ini duduk tepat di sampingku. Saat kulihat pemandangan di jendela mobil di sampingku, dapat kulihat bayangan wajah Coco yang terpantul di sana. Terbayang kembali dalam ingatanku, masa-masa indah saat kami masih bersama dulu. Kenangan itu terasa menyakitkan karena tak akan mungkin terulang. Meskipun Coco sudah kembali, namun kami tak lagi bersama. Meskipun rasa yang kumiliki untuknya tetap terjaga rapi dalam relung hatiku.
Tanpa sadar, bulir air mataku pun menetes kala teringat semua kenyataan yang kini terpampang nyata di hadapanku. Lelaki di sebelahku sebentar lagi akan bertunangan dan akan menikahi gadis yang disukainya. Aku usap perlahan buliran airmata ini. Aku tak mau Coco melihat kerapuhanku. Kesedihanku yang harus melepaskan dirinya dari hatiku.
Akhirnya aku yang memecah keheningan. Karena aku juga penasaran dengan kisah Coco dan dokter.
“Hemm”
Suara berdehem Coco yang dulu selalu aku protes, kudengar lagi setelah sekian lama. Kenapa suaranya terdengar merdu di telingaku? Ahh.. Sudah gila aku rupanya..
“Kau mau tanya apa?”tanyanya sambil melirikku sekilas membuat nyaliku langsung ciut untuk bertanya pada Coco.
“Ga jadi..lupakan saja”
“Ada apa? Tanya saja”
“Kalo kamu ga mau jawab juga ga papa”
“Aku akan jawab”
“Ehmm..itu..Apa kau dan dokter sudah lama kenal?”
Lancang! Kamu lancang Vi! Untuk apa aku tanyakan sesuatu yang bukan urusanku? Aku langsung merutuki ucapanku barusan. Apa sebenarnya yang aku pikirkan?
Kulihat Coco tanpa ekspresi, masih fokus menyetir mobil.
“Sejak di Cina"
Mungkin dokter adalah gadis yang dulu akan dijodohkan mamanya.
"Aku seharusnya berterimakasih padamu. Jika bukan karenamu, aku takkan mungkin mengenal Caroline. Dan kami takkan mungkin bisa bertunangan”
Ucapannya begitu menusuk tepat di hatiku. Rasanya sangat menyakitkan. Ucapan terimakasihnya justru terdengar menyindirku. Aku bahkan tak berani menatap Coco.
Andai kau tahu Co..aku masih sangat mencintaimu. Bahkan sekarang menatapmu terasa menyakitkan bagiku.
“Aku dengar kau juga pacaran dengan Aldi”ucapnya dingin
Hah..darimana Coco tau tentang Aldi?
“Darimana kau tau?”
“Apa itu penting sekarang?”
“Tentu saja tidak”jawabku lemas sambil menundukkan kepalaku
Aku tahu hubungan kami sudah lama berakhir. Sejak aku memilih meninggalkan dia enam tahun lalu. Aku tak perlu menjelaskan apapun pada Coco. Begitu juga dia. Karena sekarang kami hanya dua orang yang pernah punya masa lalu yang sama. Pernah sama-sama saling mencintai. Dulu.
Tapi tetap saja rasa ini begitu menyiksa. Dia begitu dekat dariku. Namun hatinya begitu jauh dari jangkauanku.
Kami berdua sama-sama terdiam. Kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku tak berani berbicara dengannya. Mungkin karena suasana hening, akhirnya Coco memilih menyalakan radio di mobil.
Aku tahu radio di Solo memang suka sekali memutar lagu nostalgia. Namun entah kenapa setiap aku bersamanya, lagu yang diputar di radio, selalu mengena di hatiku. Seperti saat itu. Lagu Terlalu Cinta milik Rossa terdengar sangat menyayat hatiku. Karena kenyataannya, aku memang terlalu cinta pada Coco. Pada cinta pertamaku.
Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi
Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu
Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Dan selalu saja, karena lagu yang mengena itu, aku hanya mampu menatap jendela mobil di sampingku. Sambil mengusap butiran air mata yang menetes di pipiku.