Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Dibutakan Api Cemburu



Pernah satu ketika, hubunganku dengan Vivi merenggang. Itu terjadi ketika aku mengikuti lomba olimpiade matematika. Waktu itu, aku termakan kata-kata Feli, adik kelasku kelas XI yang juga ikut lomba olimpiade matematika. Dia bilang bahwa Vivi dan Aldi, menjalin hubungan di belakangku. Bahkan Feli meyakinkan aku, berita itu sudah banyak diketahui adik-adik kelas. Awalnya aku tak percaya, tapi lama kelamaan aku mulai termakan


kata-kata Feli. Feli juga menunjukkan foto selfie antara Vivi dan Aldi, membuatku semakin percaya.


Awalnya aku memendam kecurigaanku itu sendiri. Tetapi karena Vivi dan Aldi semakin dekat, karena mereka mengurus acara bazar PMR, aku jadi semakin marah. Setiap aku dan Vivi ngobrol, dia pasti selalu membicarakan Aldi. Memuji-muji Aldi. Itu sebabnya, ketika rumor Vivi dan Aldi pacaran, ada sisi dalam hatiku yang takut kehilangan Vivi. Karena aku tahu, Vivi juga ngefans Aldi.


Kemarahanku semakin menjadi-jadi, ketika aku persiapan lomba di lab fisika, kulihat Vivi dan Aldi berjalan berdua. Mereka terlihat sangat akrab. Lalu ketika Vivi tersandung batu, kulihat Aldi dengan sigap menolong Vivi. Mereka berpegangan tangan berdua. Dan Vivi tampak tersenyum bahagia ditolong Aldi. Melihat kejadian itu, rasa-rasanya hatiku terbakar cemburu. Aku marah, jengkel dan sangat cemburu waktu itu.


Hingga akhirnya, aku tak bisa menahan kemarahanku pada Vivi. Aku bentak dia di depan teman-teman. Aku pun berkata kasar padanya. Hal yang tak pernah kulakukan selama ini padanya.


Melihat ekspresi wajahnya yang mau menangis, membuatku sedih.


Tapi aku terlanjur malu didepannya. Aku sudah mempermalukan dia di depan teman-teman. Ingin aku meminta maaf tetapi aku gengsi. Apalagi melihat Aldi masuk ke kelasku memanggil dia untuk rapat bazar. Kemarahanku pun semakin menjadi- jadi.


Selama persiapan lomba, emosiku semakin tak terkendali. Sifatku yang menyebalkan kambuh. Membuat persiapan lomba olimpiade menjadi berantakan. Aku menjadi sering marah-marah tanpa alasan.


Sahabatku Dedi dan Daniel selalu mengingatkan aku untuk segera meminta maaf pada Vivi. Tapi aku menolak. Anti juga selalu mendesakku untuk memperbaiki hubunganku dengan Vivi. Tetapi karena jadwal lomba yang semakin dekat, aku putuskan untuk menunda memperbaiki hubunganku dengan Vivi. Aku hanya bisa menanyakan keadaan Vivi melalui Anti, walaupun Anti berulangkali mengatakan tak ingin membantuku sebelum aku meminta maaf pada Vivi.


Ternyata aku juara 1 lomba olimpiade tingkat kota. Rencanaku untuk berbaikan dengan Vivi, akhirnya harus tertunda lagi. Kesalahanku terus menunda meminta maaf dan memperbaiki hubunganku dengan Vivi, membuat hubunganku dengan dia semakin jauh. Banyak yang bilang kami sudah putus.


Awalnya aku membiarkan Feli selalu di sampingku, hanya untuk membuat Vivi cemburu. Ternyata aku salah. Justru aku yang semakin cemburu melihat kedekatan dia dengan Aldi. Ketika mereka berdua berjalan berdua melewati lab fisika, tempatku persiapan lomba, rasa-rasanya aku ingin berlari mengejar dia, menarik tangannya dan mengatakan pada Aldi untuk menjauhi Vivi, karena dia adalah milikku.


Tiap kali mereka berjalan berdua, membuatku terbayang saat-saat di kelas XI dulu, saat aku dan dia sering jalan berdua ke kantin atau kemanapun. Aku rindu masa-masa itu. Masa-masa dimana dia adalah milikku. Dia gadis pujaan hatiku.


Setiap hari aku selalu menyesali perpisahan kami. Tetapi aku bingung bagaimana caranya meminta maaf padanya. Karena aku sudah membuat dia terluka seperti itu. Aku merasa dia tidak akan memaafkan aku. Semua karena kebodohan dan kecemburuanku yang tak beralasan.


Kuperhatikan dari hari ke hari, tubuhnya semakin kurus. Aku juga jarang melihat dia tersenyum apalagi tertawa.


Perubahan pada dirinya membuatku sedih. Ingin rasanya aku memeluk dia. Menggenggam tangannya dan mengatakan aku menyesali perpisahan kami.












Sejak hubunganku renggang dengan Vivi, kulihat dia semakin dekat dengan Aldi. Bahkan aku dengar mereka sudah jadian. Tapi Vivi menyangkalnya.


Waktu itu, selesai persiapan lomba olimpiade, aku dan teman-teman sengaja main ke café di dekat sekolah untuk mendinginkan kepala sejenak setelah disibukkan dengan persiapan lomba yang menguras waktu dan tenaga.


“Capek ya kak?”tanya Sandra


“Jelaslah..mana lombanya bentar lagi..eh, gimana kalo kita ngadem di café Zigzag sekarang..kalian mau ga?”ajak Dedi


“Males ah..mending pulang aja”jawabku


“Eh..boleh juga tuh..ayo, aku ikut..siapa lagi yang mau ikut?”tanya Daniel


“Boleh juga kak..itung-itung ngademin pikiran. Biar isinya ga angka mulu, hahaha”jawab Richard


“Iya..iya..boleh juga”ucap Ema


“Oya, aku denger tadi Sisil juga rapat bazar di sana..sekalian deh aku samperin ke sana”jawab Richard


Awalnya aku ga mau ikut. Aku ingin istirahat saja di rumah. Tapi saat mendengar Richard mengatakan anak-anak


panitia bazar PMR juga kumpul di sana, membuatku akhirnya ikut ke café. Karena aku tahu Vivi pasti ada di sana juga.


“Ya udah deh, aku juga ikut”


“Kenapa Co? Mau ketemu Vivi ya?”tebak Daniel jitu lalu dia tertawa


Tentu saja aku akan ikut. Apalagi aku sudah sangat merindukan Vivi. Aku sudah beberapa hari ini tak melihatnya. Sampai di café, kulihat Vivi hanya berdua saja dengan Aldi. Panitia yang lain sudah tak ada. Membuatku marah melihat kedekatan mereka berdua. Karena mereka berdua duduk bersebelahan. Sampai-sampai Dedi dan Daniel menggoda keduanya.


Aku sengaja duduk di meja sebelah Vivi. Dan aku duduk menghadap Vivi. Jadi aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang sangat kurindukan. Wajah cantiknya yang selalu membuatku terpesona. Dedi yang selalu mengajak Vivi ngobrol. Dan setiap kali mereka ngobrol, aku memang sengaja mengarahkan mataku untuk menatap ke arahnya. Membuat Vivi kadang salah tingkah.


Rupanya Vivi dan Aldi menunggu kedatangan adik Aldi yang akan datang ke café. Anak kecil itu sangat dekat dengan Vivi. Bahkan aku dengar anak itu menanyakan kepada Vivi kapan dia akan main lagi ke rumahnya. Membuatku langsung bertanya-tanya, apakah Vivi sudah sering main ke rumah Aldi? Apakah mereka memang sudah jadian?


Aku sempat penasaran dengan kelakuan adik Aldi yang menunjukkan sesuatu di laptop Aldi pada Vivi. Karena Vivi langsung menunjukkan ekspresi wajah yang kaget. Sebenarnya apa yang dirahasiakan Aldi? Apa yang ditunjukkan adiknya pada Vivi hingga Vivi sekaget itu? Aku benar-benar dibuat penasaran.


Adik kecil Aldi membuatku benar-benar kesal. Bisa-bisanya dia memperkenalkan Vivi sebagai pacar Aldi di depan teman-temannya. Aku sampai tersedak minumanku begitu mendengarnya. Aku langsung menatap Vivi saat itu juga. Karena aku butuh penjelasan dari perkataan adik Aldi itu.


Adiknya juga berulah lagi dengan mengatakan Aldi suka Vivi. Perkataan adik Aldi itu malah membuat teman-teman ikut penasaran dan lebih tertarik mengetahui hubungan antara Aldi dan Vivi. Mereka berdua segera mengklarifikasi bahwa mereka hanya berteman. Membuatku sedikit lega karena ternyata mereka belum jadian seperti rumor yang selama ini beredar.


Dan akhirnya aku hanya sanggup menatap kepergian Vivi dan Aldi yang pulang lebih dulu dengan berat hati. Dalam hati aku sangat marah, melihat gadis yang kusukai malah berboncengan dengan lelaki lain. Aku terus menatap kepergian Vivi sampai Vivi tak terlihat lagi dari pandanganku. Membuatku merasa ingin segera pulang saja.


“Hei Co..mau kemana buru-buru banget?”tanya Dedi melihat aku yang beranjak dari tempat dudukku.


“Aku capek..aku mau pulang saja”jawabku


Feli menahan tanganku.


“Pulang nanti aja Co..mau ya?”ajak Feli


Aku tepiskan tangannya.


“Maaf Fel..aku bener-bener capek. Mau istirahat di rumah aja”jawabku


“Aku duluan ya”pamitku pada semuanya.


Aku segera pulang naik motorku. Dan kuarahkan motorku ke rumah Vivi. Iya..aku ke sana. Karena aku ingin melihatnya walau dari jauh. Saat di depan gerbang, kulihat Vivi dan Aldi ngobrol di teras rumah Vivi. Akhirnya aku pulang dengan membawa kesedihan dalam hatiku. Sedih karena aku tak bisa melihat gadis pujaan hatiku. Sedih karena aku justru melihat dia bersama lelaki lain.