Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Cinta Penuh Liku



Tanpa kuduga, seseorang datang memegang pundakku dari belakang. Aku menengok ke arahnya. Ternyata itu mamanya. Wanita paruh baya itu telah berdiri di belakangku. Kucoba menjabat tangannya tetapi Ia menarikku. Beliau memelukku sambil berurai air mata.


“Mama ingin bicara dengan Vivi.. kamu tinggalkan kami sebentar ya nak”ujar mamanya


“Baiklah”kata Coco


Coco meninggalkanku dan mamanya.


Kami duduk di kursi. Ia memegangi tanganku sambil memegang wajahku sesekali.


“Maafkan tante ya..Tante sudah banyak bersalah padamu dan Coco”


“Tante tak perlu meminta maaf..Ini juga salah saya” kataku menyalahkan diri


“Tidak..kamu tidak bersalah sama sekali”


“Semua ini karena keegoisanku..telah membuat putraku sendiri menderita”


“Kamu tak tahu penderitaan apa yang dia alami karena kebodohanku ini” Ia terus menyalahkan dirinya sendiri.


Aku mencoba menenangkannya. Kupeluk tubuhnya yang mulai menua.


Kemudian Ia pun mulai bercerita.


Begitu sampai di Cina, Coco segera menghubungiku. Tapi hp ku tidak aktif. Awalnya Coco tak menaruh curiga kenapa aku susah dihubungi. Dia mulai menghubungi Dedi dan Daniel untuk mencarikan informasi tentang aku. Betapa terkejutnya dia mengetahui aku telah pindah, dan tidak ada yang tahu aku kemana.


Hampir setiap hari Coco dan mamanya bertengkar karena mamanya jengkel, yang dipikirkannya hanya aku. Karena menurut mamanya, cintanya padaku hanyalah cinta monyet biasa. Mamanya mengakui sangat tak suka dengan sikap Coco yang selalu membelaku dan memikirkanku.


Akhirnya satu ketika, mamanya keceplosan. Mengatakan bahwa beliaulah yang memintaku meninggalkannya. Mendengar hal itu, Coco marah besar. Baru kali ini, beliau melihat Coco marah seperti itu.


Mungkin karena merasa bersalah padaku, telah membuatku mengambil keputusan memutuskan hubungan kami secara sepihak, Coco terus menerus menyalahkan diri. Apalagi dia tahu, dia tak bisa kembali ke Indonesia.


Hari-hari berikutnya bagaikan neraka menurut mamanya. Coco terus-terusan mengurung diri di dalam kamar. Dia tak mau makan. Dia tak mau bicara pada siapapun. Jiwanya sepertinya terguncang.


Semua cara dilakukan agar Coco mau keluar kamar. Mamanya takut Coco bisa gila karena hal ini. Dia pun sampai berkonsultasi dengan psikiater.


Pernah sekali, tanpa sepengetahuan mamanya, Coco nekat mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga. Untung saja ada yang mengetahui, dan segera membawa dia ke Rumah Sakit.


Aku syok mendengar cerita itu. Dia mencoba bunuh diri?


Kejadian itu menjadi titik balik dalam kehidupan mamanya. Seumur hidupnya, baru kali ini Ia melihat putranya seperti itu. Coco yang biasanya dingin dan cuek, bahkan pada mamanya, sampai nekat mencoba bunuh diri hanya karena dia mencintaiku. Ia kemudian menyadari bahwa aku sangatlah berarti bagi kehidupan putra bungsunya itu. Ia pun menyadari kesalahannya dan berjanji akan merestui hubungan kami.


Setelah Coco siuman, beliau mengatakan padanya bahwa dia boleh kembali ke Indonesia tetapi dengan satu syarat, dia harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Mamanya berjanji akan membantu mencarikan informasi tentang keberadaanku. Dia juga boleh pulang ke Indonesia saat masa libur kuliah. Awalnya Coco tak percaya dengan mamanya. Namun dengan bantuan Caroline, Coco akhirnya mau mempercayai mamanya.


Dari cerita itu, aku tahu ternyata Caroline adalah teman kakak keduanya yang juga mengambil jurusan kedokteran di Cina. Caroline adalah WNI keturunan Cina yang keluarganya tinggal di Solo. Dari Caroline inilah akhirnya Coco bersedia melanjutkan kuliahnya dan akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai Arsitek di sana.


Selama dia kuliah, dia terus bolak balik Indonesia-Cina, hanya untuk bisa menemukanku. Tetapi aku seperti hilang ditelan bumi. Coco sempat putus asa mencariku. Dedi dan Daniel juga selalu membantunya tapi tak membuahkan hasil.


“Cerita selanjutnya, kau tanyakan sendiri pada Coco”


“Tante sungguh bersyukur, akhirnya kalian bisa dipertemukan lagi”


“Tante merestui hubungan kalian”ucap mamanya


“Terimakasih tante” kataku lalu kupeluk beliau.


“Tante masuk ke dalam dulu.. kalian segera menyusul ke dalam ya”


“Iya tante”Aku mengangguk


Mamanya kembali masuk ke dalam ballroom. Coco menghampiriku. Kami duduk kembali.


Kupegangi wajahnya. Terbayang semua penderitaan yang telah dialaminya karenaku. Membuatku merasa sangat bersalah.


“Pasti kamu di sana menderita karena aku.. maafkan aku”pintaku menyesali semua yang sudah kulakukan padanya sambil berlinangan airmata


“Aku tak pernah berpikir kamu akan senekat itu”


“Jika sampai terjadi apa-apa padamu waktu itu, Aku pasti takkan memaafkan diriku” air mataku kembali mengalir


Dia mengusap airmataku. Dia tersenyum.


“Apa saja yang dikatakan mamaku?”


Kuceritakan kembali semua yang sudah kudengar dari mamanya.


Lalu dia mulai bercerita, bahwa dia sebenarnya sudah tahu aku di Solo sejak  setahun lalu. Tepatnya sejak pernikahan Anti. Ternyata dia juga datang pada pernikahan itu. Tapi dia memilih untuk bersembunyi, dan melihatku dari jauh. Dia tahu bahwa aku pindah karena tak ingin bertemu dengannya. Dia tak mau kehilangan aku untuk


kedua kalinya, makanya dia memilih bersembunyi.


Dia juga bercerita, dia bertemu Anti, tepat setelah aku pulang dari pernikahan itu. Dia tahu bahwa hanya Anti lah satu-satunya sahabatku. Karena itu dia meminta Anti menceritakan semua yang dia tahu tentang aku, terutama setelah kepergiannya ke Cina lima tahun lalu.


Awalnya Anti tak mau. Dia menolak. Karena Anti sudah berjanji padaku tak kan memberitahukan keberadaanku kepada siapapun. Tapi melihat Coco sangat serius padaku, akhirnya Anti luluh juga dan menceritakan semuanya.


Dari Anti inilah akhirnya dia tahu alamatku di Solo. Dia juga tahu aku tak pernah pacaran selama kuliah dan setelah bekerja sekalipun. Walaupun Aldi, adik kelas yang dulu menyukaiku, pernah menembakku untuk kedua kalinya.


Aku sempat kaget mendengar Coco pernah menyusul Aldi ke Surabaya. Dan sekali lagi, bicara sesama lelaki. Coco masih juga merahasiakan isi percakapannya dengan Aldi.


Setelah menyelesaikan segala urusannya di Cina, akhirnya enam bulan lalu, dia memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Solo.


“Jadi kamu tahu aku bekerja pada dokter Caroline?” tanyaku


“Awalnya aku tak tahu. Hanya kebetulan saja saat kamu melamar menjadi perawat di klinik Caroline, aku ada di sana waktu itu..”


“Aku yakin ini semua bukan suatu kebetulan. Ini pasti jawaban dari doa-doa yang kupanjatkan setiap hari”katanya


“Jadi pertemuan kita, di rumah kakakmu waktu itu, bukan yang pertama?”


“Pantas saja, kamu terlihat begitu tenang”kataku


“Jangan-jangan kamu yang mengatur supaya aku menggantikan Aisyah waktu itu?”tanyaku penasaran


“Kamu pikir..Aku akan melewatkan kesempatan bertemu denganmu begitu saja?”jawabnya membuatku terharu


“Aku tak ingin kehilangan dirimu untuk kedua kalinya..Makanya Aku dan Caroline mengatur semua ini” katanya sambil memegang jariku erat.


“Lalu kenapa kamu bohong tentang pernikahanmu? Tentang pertunangan ini?”tanyaku penasaran


“Semua ini ide Caroline..dia yang meyakinkan aku, bahwa kamu pasti akan mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya jika Aku lakukan ini semua”


“Terbukti kan..sekarang kita bisa bersama”ucapnya panjang lebar


Aku mengangguk.


“Dan sekarang…"


Dia bangun dari duduknya, dan duduk bersimpuh di depanku.


"Aku akan memintamu…”


Dia keluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah cincin.


“Maukah kamu menikah denganku?”


Aku terkejut. Tak kusangka dia akan melamarku di sini.


Tentu saja aku mau.


“Aku mau” jawabku.


Dia mengecup punggung tanganku. Aku sangat terharu.


Dia sematkan cincin itu dijariku. Dijari manisku. Sama seperti dulu. Namun kini dia melamarku.


Aku bahagia sekali.


Impianku bersama dengan lelaki yang kucintai akhirnya terwujud. Terbayarkan sudah semua airmata dan penderitaan yang kami alami selama ini.


Akhirnya kami bersatu. Dalam cinta yang penuh liku.