Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Haruskah Menyerah?



Sekembalinya dari kota kelahiranku, aku menjadi lebih banyak diam. Aku jadi sering melamun. Sehingga kadang sering membuat kepala perawat dan perawat senior di RS marah padaku. Saat bertemu dengan Aldi, dia seperti dapat membaca perubahan sikapku.


“Kamu kenapa? Sekarang lebih banyak bengong. Mikirin apa?”tanya Aldi


Aku memang tak bercerita pada Aldi bahwa aku bertemu dengan Dedi dan Daniel di pesta pernikahan Anti. Tapi entah gimana, Aldi seperti punya indera keenam.


“Kemarin di pernikahan Anti ada kejadian apa?” tanya Aldi


“Ga ada..biasa aja. Kak Ilham terus-terusan marahin aku gara-gara salah nyebut Anti. Dia kan sekarang kakak iparku, jadi aku harus manggil “kak Anti”. Tapi kan aku ga biasa. Hampir delapan tahun aku sama Anti. Terus tiba-tiba aku disuruh panggil “kak Anti”. Rasanya aneh aja gitu”


“Di sana ga ketemu sama siapa gitu? Temen Coco mungkin?”tanya Aldi


“Maksudmu? Dedi sama Daniel?”


“Iya”


“Ehmm..iya, aku ketemu mereka. Tapi Cuma bentar doang”jawabku


“Kalian pasti bahas Coco kan? Gimana kabarnya sekarang? Apa dia akan balik ke Indonesia?”tanya Aldi


Jujur saja, wajah Aldi saat itu sangat lain dari biasanya. Karena selama lima tahun kedekatan kami, aku tak pernah membahas tentang Coco. Aku antara sedih, bingung dan takut. Semua perasaan bercampur aduk.


“Dia..katanya udah mau nikah”jawabku pelan


Aldi langsung menatap ke arahku. Membuatku hanya bisa tersenyum. Menyembunyikan kesedihanku mendengar berita itu. Aldi kemudian malah menggenggam tanganku.


“Kamu mau apa Al?”tanyaku bingung tiba-tiba Aldi menggenggam tanganku. Aku pun terus berusaha melepaskan genggaman Aldi.


“Sampai kapan kamu akan menunggunya? Lihat..sekarang dia sudah mau menikah. Apa kamu masih berharap bisa bersama dengannya? Kenapa tak kau biarkan aku membahagiakanmu?” tanya Aldi


Kata-kata Aldi membuat hatiku terasa sangat sakit. Airmataku pun semakin mendesak keluar. Aldi mengusap airmataku dan menatapku sendu.


“Jangan sakiti dirimu seperti ini Vi..Kamu pantas bahagia..Dan aku pasti akan membahagiakanmu, asal kau memberiku kesempatan”


Tapi benarkah aku takkan pernah bersatu dengan Coco? Benarkah kami sama sekali tak berjodoh? Apakah aku harus menerima Aldi? Lalu bagaimana dengan hatiku? Sanggupkah aku memulai lagi untuk mencintai Aldi?


Aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri. Jiwa dan ragaku tak seirama. Pikiranku mengatakan aku harus move-on dari Coco dan mencoba menjalani dengan Aldi. Tapi hati kecilku masih sangat mencintai Coco. Dialah satu-satunya pria yang kucintai selama ini.


Aku tahu aku sudah berlaku sangat tidak adil pada Aldi. Dia yang selama lima tahun ini selalu bersamaku. Menemaniku. Menjadi naunganku saat aku sedih dan gelisah dengan semua masalah kulliahku. Dia yang selalu menghiburku. Membuatku sejenak melupakan semua masalahku. Dia yang dengan tulus menyayangiku dan mencintaiku sejak dulu. Sejak kami SMA.


Karena aku belum bisa yakin dengan perasaanku sendiri, akhirnya aku minta waktu pada Aldi untuk memikirkan kelanjutan hubungan kami.


Aku akhirnya berhasil menyelesaikan program profesi Ners-ku setelah dua tahun. Aldi juga berhasil menyelesaikan pendidikan profesi dan lulus sertifikasi atau ujian kompetensi mahasiswa pendidikan profesi (UKMPPD). Aldi akhirnya magang atau internship di RS dr.Soetomo Surabaya. Bagaimana dia bisa masuk disana? Aku pun tak tahu. Chika dan Lala berspekulasi bahwa keluarga Aldi pasti ada sangkut pautnya dengan magangnya Aldi disana.


Setelah mendapatkan gelar Ners-ku, aku sempat bekerja di RS selama beberapa saat. Tapi kemudian aku memilih keluar dari RS karena sempat mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari beberapa senior perawat. Semua karena aku dianggap mendapat perlakuan khusus dari dokter kandungan yang aku ikuti. Banyak rumor dan gossip yang mengatakan bahwa aku menjadi penyebab kandasnya pertunangan dokter Ramon. Padahal aku sama sekali


tak tahu menahu tentang hubungan dokter Ramon. Beliau adalah salah satu dokter spesialis kandungan favorit di RS. Dokter muda yang rupawan, menurut sebagian besar perawat lantai 2 RS.


Kenapa aku selalu dianggap pengganggu hubungan oranglain? Apa salahku jika lelaki mendekati dan baik padaku? Bukan aku yang mendekati mereka tapi mereka yang mendekatiku? Apa salahku jika mereka suka padaku? Apa salah jika aku juga baik pada mereka?


Aku sampai tak habis pikir dengan pemikiran para seniorku. Bahkan “skandal” antara aku dan dokter Ramon sampai terdengar ke telinga kepala perawat dan bahkan sampai dewan direksi RS. Walaupun paman Aldi, salah satu dewan direksi, berusaha membelaku, tapi karena aku merasa lingkungan kerja yang sudah tak kondusif lagi, maka aku putuskan untuk resign dari sana.


Aldi sebenarnya memaksaku pindah ke Surabaya, dan akan membantuku supaya bisa bekerja di RS dr.Soetomo, tapi aku menolak. Aku anak tunggal. Aku tak mungkin meninggalkan kedua orangtuaku. Aku tahu Aldi pasti sangat kecewa dengan keputusanku, tapi ini adalah hidupku, aku yang akan memutuskan hidup seperti apa yang ingin aku jalani.


Aku akhirnya melamar di sebuah klinik yang terletak di pusat kota Solo. Klinik yang baru didirikan. Aku juga awalnya ragu untuk mendaftar, tapi akhirnya aku yakinkan diriku, bahwa kesuksesan tidak selalu harus diawali dari RS. Siapa tahu di klinik ini, aku bisa lebih bermanfaat.


Setelah menunggu selama satu minggu, aku akhirnya diterima bekerja di klinik baru milik seorang dokter muda cantik keturunan Cina bernama dokter Caroline. Namanya bagus kan? Orangnya juga sangat baik.


Setelah diterima di sana, aku juga mengajak Chika dan Lala untuk mendaftar kesana. Pikirku akan sangat menyenangkan jika mereka berdua juga bisa bekerja di tempat yang sama denganku. Karena selama ini merekalah sahabatku.


Penghasilan selama bekerja di klinik tentu saja tak sebanyak penghasilanku ketika di RS. Tetapi aku belajar banyak selama di klinik. Berhadapan dengan banyak pasien. Berinteraksi dengan berbagai macam karakter manusia. Membuatku belajar banyak tentang kehidupan.


Waktu yang kumiliki juga bisa lebih fleksible. Lebih banyak longgarnya. Tapi semua kunikmati. Chika dan Lala kadang mengeluh, untuk apa kami susah-susah belajar program profesi Ners jika ternyata kami hanya bekerja di sebuah klinik kecil seperti sekarang. Tapi aku selalu mengatakan pada mereka, semua harus disyukuri. Apapun itu, pasti ada maksud Tuhan mengijinkan kita bekerja disana.


Jadi kami harus banyak bersyukur dan belajar menerima kenyataan. Karena semua pasti ada maksud di balik setiap jalan kehidupan yang kita lalui. Seperti yang kualami.