
Lomba prince and princess school 20XX peringatan ulangtahun sekolah ke 52 tahun, kami sekali lagi didapuk menjadi perwakilan kelas. Dua tahun kami juara pertama, dan ini kali ketiga kami mengikuti lomba itu. Bisa dibilang kami adalah juara bertahan lomba itu.
Awalnya dia sempat menolak. Mungkin karena dia tak mau dipasangkan denganku lagi. Tapi setelah dipaksa oleh teman-teman akhirnya dia menyanggupi juga. Salahku yang tak segera mengakhiri masalah kami. Membuat dia merasa tak nyaman berada di sekitarku.
Awalnya aku setuju dengan lagu pilihannya. Dia memilih lagu Utada Hikaru, First Love. Jujur saja, melodinya bagus, dan suara Vivi sangat cocok dengan lagu ini.
Tapi aku merasa ada yang tak beres, karena setiap menyanyikan lagu ini, suaranya seperti tertahan. Dan raut wajahnya menjadi sedih. Bahkan seperti akan menangis.
Akhirnya kuputuskan mencari tahu arti lagu itu. Aku syok. Ternyata lagu itu lagu perpisahan. Lagu patah hati. Pantas saja, Vivi selalu kelihatan sedih setiap menyanyikan lagu ini. Aku tak mau hubunganku seperti lagu itu.
Keesokan harinya, aku putuskan untuk mengganti lagu kami. Kami sampai harus bertengkar supaya dia mau mengganti lagu itu. Akhirnya dia setuju dengan pilihan laguku. Aku memilih lagu Need You Now, Lady Antebellum.
Aku membuat alasan, supaya aku bisa duet dengannya. Padahal sebenarnya, lagu itu benar-benar mewakili perasaanku padanya. Aku ingin dia sekarang (I just need you now). Aku ingin dia berada di sampingku, seperti dulu.
Untuk ketiga kalinya, kami juara pertama. Dan mendapat penghargaan sebagai Best Couple, karena berhasil memenangkan perlombaan itu tiga tahun berturut-turut.
Hari itu, seperti biasa, dia cantik sekali. Aku sengaja meminta tolong pada Anti untuk memfoto Vivi, supaya Vivi tak curiga. Sebenarnya Anti tak mau menolongku, sebelum aku berbaikan dengan Vivi. Tapi karena aku terus memohon, akhirnya Anti setuju.
Aku mulai menemukan keberanian untuk memperbaiki hubunganku dengan Vivi, setelah aku bicara empat mata dengan Aldi. Ketika itu, Aldi menyusulku ke hotel, tempatku menginap selama penyisihan grup lomba olimpiade tingkat provinsi.
“Kamu mau bicara apa?”tanyaku dengan nada malas
“Aku langsung saja..aku tahu kamu dan kak Vivi ada hubungan special”katanya
Mendengar Aldi memanggil namanya dengan lembut membuatku benar-benar marah.
“Memangnya apa yang kamu tahu tentang hubunganku dengan Vivi?”tanyaku
“Aku tak tahu banyak.. tapi aku bisa lihat, kalian sangat dekat”katanya
“Jangan berbelit-belit, apa maumu?”tanyaku dengan nada marah
“Aku suka kak Vivi” katanya tiba-tiba, membuatku semakin marah.
Beraninya dia mengaku seperti itu. Membuatku naik pitam.
“Bahkan sejak pertama kali perkenalan senior PMR”katanya.
Mataku melotot, kukepalkan tanganku.
“Aku juga sudah “menembaknya” menjadi pacarku, tapi..dia menolak. Dia bilang ada seseorang yang dia suka.” Kata Aldi membuatku hampir saja memukul dia, tapi kutahan.
Aku senang mendengar Vivi mengatakan ada seseorang yang dia suka. Kata-kata itu membuatku bersemangat untuk memperbaiki hubunganku dengan Vivi. Aku merasa inilah kesempatanku.
“Lalu untuk apa kamu mengatakan semua itu padaku?”tanyaku
“Aku tahu orang itu adalah kamu Co.. Walaupun kak Vivi tak pernah mengatakannya. Maksud kedatanganku kemari, aku minta kamu berjanji untuk membahagiakan kak Vivi. Aku sedih melihat dia selalu murung, sedih bahkan menangis saat tak ada orang. Walaupun sekeras apapun usahaku untuk menyenangkan dia, aku tahu hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatnya tertawa dan ceria seperti dulu. Jadi tolong Co, bahagiakan dia.”kata Aldi
Dari kata-katanya, aku tahu dia lelaki yang baik. Walaupun aku tak suka caranya mengkhawatirkan Vivi. Terlebih mendengar dia melihat Vivi menangis karena aku. Membuat rasa bersalah dalam hatiku karena sudah membuat sedih gadis yang aku sukai.
“Aku rasa itu bukan urusanmu”kataku ketus
“Aku akan melepaskan kak Vivi asalkan dia bahagia”kata Aldi membuatku kagum padanya
Kuambil hp di kantong celanaku, kutunjukkan foto selfie Vivi dan Aldi.
“Apa maksud dari foto ini?” tanyaku
Aldi memperhatikan foto itu. Dia tampak kaget aku memiliki foto itu.
“Darimana kamu dapat foto ini?”tanyanya
“Tak penting darimana aku dapat foto ini. Jawab dulu pertanyaanku”kataku
“Setauku hanya Feli yang tahu foto itu”kata Aldi
“Waktu itu, Feli bilang padaku dia menyukaiku. Tapi aku tolak karena aku sudah suka gadis lain.”katanya lagi
“Foto itu aku ambil saat minta tandatangan senior PMR. Tugas pertama setelah perkenalan senior PMR. Aku memang sengaja mengajak kak Vivi untuk foto selfie”katanya.
Semakin jelaslah kini. Feli memang yang sudah mengarang semua cerita tentang Aldi dan Vivi. Dan bodohnya aku percaya semua kata-katanya. Membuat gadis yang kusukai terluka akibat kebodohanku.
“Aku rasa urusan kita sudah cukup. Kamu bisa pulang sekarang”kataku setengah mengusirnya
“Baiklah Co... Aku harap kamu bisa menjadi lelaki sejati”katanya
Setelah pertemuanku dengan Aldi, semakin membuatku bersemangat untuk kembali memperbaiki hubunganku dengan Vivi.
Keesokan harinya, aku memilih pulang sambil menunggu pengumuman penyisihan grup.
Aku mulai memberanikan diri ngobrol dengan dia. Awalnya suasana agak canggung, tapi Anti dan Dedi menolongku. Sehingga kami berempat bisa bercanda dan ngobrol bersama, walaupun dia lebih banyak diam.
Ketika rapat PMR membahas briefing akhir bazar PMR, hampir saja kami berjalan berdampingan. Aku hanya bisa menatap Vivi yang berjalan di depanku, berjalan beriringan dengan Aldi.
Ketika sampai di ruang rapat, aku sengaja duduk di samping Vivi dan Aldi. Membuat kami bertiga seperti narapidana yang diadili dalam persidangan. Walaupun teman-teman menggoda kami bertiga, dia hanya tersenyum.
Ketika rapat dimulai, kuperhatikan dia baik-baik. Bagaimana ekspresi wajahnya saat sedang bicara memaparkan gagasan dan hasil rapat bazar. Auranya memancar sangat jelas. Apalagi ketika dia menyibak rambutnya yang terurai, sungguh cantik. Ketika dia melirik ke arahku yang sedang memperhatikan dia, dia menatapku dingin. Walaupun aku sudah mencoba tersenyum padanya.
Waktu rapat itu, aku usulkan untuk membuat brosur dan menempelkan serta membagikannya ke tempat-tempat strategis supaya semakin banyak orang yang datang. Teman-teman tampak puas dengan usulku. Kami sempat saling berpandangan, sebelum akhirnya dia menoleh ke arah Aldi.
Selesai rapat, aku ajak dia kembali ke kelas bersama-sama. Tetapi dia memilih untuk tetap di sana untuk memperbaiki konsep dengan Aldi. Akhirnya aku kembali ke kelas sendiri.
Aku putuskan untuk mengajak dia bicara lagi ketika latihan PMR sorenya. Tetapi rencana itu pun gagal karena tiba-tiba Feli datang mengagetkan aku. Vivi yang melihat Feli datang, juga memilih meninggalkan aku dengan Feli. Padahal kami belum sempat bicara.
Aku sebenarnya juga sudah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi ternyata Aldi sudah lebih dulu menawarinya. Jadilah aku gagal berbaikan dengan Vivi hari itu. Aku pulang dengan berat hati, melihat gadis yang kusukai berboncengan dengan lelaki lain.
Rencananya aku akan mencoba berbaikan esok harinya. Ternyata aku lolos penyisihan grup dan harus kembali ke kota XX untuk mengikuti Semifinal. Karena aku lolos semifinal dan harus masuk final akhirnya aku harus bersabar sebentar lagi.
Begitu menang menjadi juara, rasanya aku ingin sekali berbagi momen kemenanganku bersamanya. Tetapi karena kota XX jauh, akhirnya aku hanya bisa menuliskan kebahagianku dengan menulis status di FB ku dengan harapan dia akan membacanya.
“KEMENANGAN INI UNTUKMU❤❤❤
Begitu kutulis status di FBku.