
Satu hari, aku beranikan diriku untuk menghubungi mamanya melalui telepon.
“Pagi tante”sapaku
“Pagi..ini siapa?”jawab mamanya.
“Saya Vivi, tante”
“Oh..Vivi..ada apa?”
“Bisa kita bertemu tante, ada yang ingin saya bicarakan”
Aku mengajak mamanya bertemu, tapi aku ingin Coco tak mengetahui pertemuan kami. Akhirnya mamanya mengajakku bertemu di rumah makan milik salah satu kerabatnya tanpa sepengetahuan Coco.
Kami berbicara berdua. Suasana benar-benar sangat canggung, karena aku tahu beliau tak pernah suka padaku dan mengharapkan bertemu denganku. Tapi aku harus melakukan ini. Demi memenuhi permintaan mamanya padaku. Permintaannya yang dengan kata lain, mengorbankan kebahagiaanku bersama Coco.
“Maaf tante, jika saya sudah menganggu waktu istirahat tante. Tapi saya benar-benar harus bertemu dengan tante.”
“Saya sudah putuskan..saya akan memenuhi permintaan tante. Saya akan meninggalkan Coco.”
Mendengar ucapanku, mamanya tersenyum bahagia. Jujur saja, hatiku sakit. Melihat wanita yang melahirkan kekasihku, sangat tak mengharapkan aku bersama putranya. Padahal aku sangat mencintai putranya. Dan Coco juga menyayangiku.
“Saya sudah berusaha membujuk Coco untuk ikut pindah dengan tante. Tapi dia benar-benar keras kepala. Dia bersikeras tidak mau pindah”
“Apa kau sudah membujuknya dengan segala upaya?”tanya mamanya.
Andai beliau mau sedikit berempati padaku. Apa beliau pikir aku setengah hati membujuk putranya? Hatiku semakin sakit mendengar pertanyaan mamanya yang meragukan usahaku selama ini untuk meyakinkan putranya.
“Sudah tante. Tapi Coco tetap pada pendiriannya”
Mamanya mendesah kesal.
“Maksud saya mengajak tante bertemu, saya mau minta tolong pada tante”
“Minta tolong apa?”tanya mamanya dengan wajah sangat serius.
“Saya minta tolong, tante mau menyetujui hubungan kami”
“Apa?”mamanya menatapku penuh kekesalan.
“Pura-pura saja tante merestui hubungan kami. Katakan pada Coco, dia tetap bisa pulang ke Indonesia selama libur semester. Dan setelah lulus, dia bisa kembali menetap di Indonesia. Saya yakin dengan cara itu, dia akan mau pindah ke China”jelasku pada mamanya panjang lebar.
Aku sudah kehabisan cara untuk membujuk Coco mau ke China. Pindah ke China. Karena itu, aku pikir cara inilah yang mungkin bisa membuat Coco berubah pikiran.
Senyum seketika itu juga terbit di wajah mamanya. Sungguh senyumnya mencabik-cabik hatiku yang sedang terluka. Aku harus bersiap melepaskan kebahagiaanku dan cintaku. Tapi mamanya tersenyum bahagia di atas penderitaanku.
Andai aku lebih kuat. Andai aku tak selemah ini. Aku pasti akan berjuang supaya mamanya mau menerimaku. Supaya beliau tahu sedalam apa cintaku pada putranya. Meskipun harus berkonfrontasi langsung dengan keluarganya. Namun aku terlahir dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi restu orangtua. Bagiku tanpa restu orangtua, apapun yang aku lakukan, pasti akan berantakan dan berujung kepedihan dan kegagalan. Karena doa orangtua terutama ibu adalah yang paling mustajab. Aku tak berani melawan keinginan mamanya yang ingin aku meninggalkan putranya. Jika aku melawan, aku yakin pasti akan banyak rintangan yang jauh lebih besar nantinya. Itulah sebabnya aku dengan terpaksa menyetujui permintaan mamanya. Walaupun sakit yang kurasa harus aku rasakan sendiri sepanjang hidupku, mungkin.
“Baiklah. Aku akan lakukan itu”ucap mamanya
“Dan satu lagi tante”
“Saya punya satu permintaan”
“Katakan”
“Jika nanti Coco bersedia pindah ke China, ijinkan saya mengantarnya untuk terakhir kali ke bandara”
“Saya berjanji setelah itu, saya akan tinggalkan Coco. Saya tidak akan menghubungi putra tante lagi. Saya akan keluar dari kehidupan Coco jadi dia takkan bertemu saya lagi”
Kali ini airmataku tak terbendung. Aku ucapkan sebuah janji pada mamanya untuk meninggalkan putranya. Hatiku sangat sakit saat harus mengucapkan semua kata-kata itu. Terbayang di benakku, aku harus menjalani hidupku tanpa Coco disisiku.
Mamanya menggenggam tanganku lalu memelukku.
“Baiklah. Kau boleh melakukakannya”
“Terimakasih tante”
Aku pun pamit setelah agak tenang.
Akhirnya setelah beberapa hari membujuk Coco, dia pun melunak. Terlebih setelah mamanya membantuku berbohong, akan menerima hubungan kami. Mamanya juga mengatakan bahwa mereka akan di sana selama dia kuliah dan akan kembali ke Indonesia setelah dia lulus kuliah nanti. Dia juga tetap boleh ke Indonesia saat libur kuliah nanti.
Dia setuju pindah ke Cina.
Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku sudah benar-benar tak tahu mesti bahagia atau sedih dengan semua ini. Karena kenyataannya, aku yang memilih melepaskannya. Mungkin aku akan semakin menderita atau aku akan bahagia. Entahlah. Biarlah Tuhan saja yang mengatur semuanya. Aku pasrah.
*
*
*
*
Hari kepergiannya ke Cina sudah ditentukan. Akupun ikut mengantar ke bandara. Kami berempat naik mobil ke Jakarta. Aku dan Coco duduk di kursi belakang. Papa dan mamanya duduk di kursi tengah. Dan seorang sopir sewaan mengantar kami ke bandara.
Aku telah membuat kesepakatan dengan mamanya. Bahwa aku akan memenuhi permintaannya jika Ia memenuhi permintaanku. Aku minta agar diijinkan mengantarkan dia ke bandara.
Bagiku, kebersamaan sekecil apapun dengannya menjelang keberangkatannya ke Cina adalah sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang akan aku kenang selamanya. Walaupun kemudian aku harus meratapi kesedihanku karena telah melepaskan cintaku padanya. Aku rela.
Sepanjang perjalanan kami terus berpegangan tangan. Aku tak ingin melepaskannya. Begitu juga dengan dia. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Ingin kunikmati momen berharga ini sebagai kenangan terindah dalam hidupku.
Sesekali kuusap air mataku yang terurai. Aku sedih. Hatiku hancur. Berat rasanya mesti melepaskannya. Kulihat dia
juga berkaca-kaca. Bisa kulihat diapun berat untuk melepaskanku. Hari itu sungguh hari terberat dalam hidupku. Dia tak tahu bahwa setelah ini kami akan benar-benar berpisah.
Sesampainya di bandara, kami langsung menuju pemberangkatan internasional. Langkahku semakin berat. Apalagi setelah ini aku tak kan melihat dia lagi. Hati rasanya teriris-iris. Semakin kugenggam erat tangannya.
Mamanya melihatku sepintas. Namun tak berkata apa-apa.
Kuambil hp ku. Aku mengajaknya berfoto. Sebenarnya dia menolak. Tapi aku memaksa. Akhirnya dia mau. Aku juga memvideo dia dari dekat. Sebenarnya dia malu. Karena banyak orang yang melihat. Tingkahnya sangat lucu ketika beberapa kali menepis hp ku. Aku sebenarnya juga malu. Tapi bagiku ini adalah momen-momen yang harus kuabadikan. Karena ini akan menjadi kenangan. Kenangan yang akan kusimpan selamanya. Kenangan bersama kekasih hatiku. Cinta dalam hidupku.