Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Morning Kiss



Karena acara EPSP itu adalah acara PMR terakhir yang bisa aku dan teman-teman ikuti, maka kami memilih menginap. Sama seperti yang dulu dilakukan kak Ilham cs. Jadi tim huru hara di acara adik kelas XI.


Kami, para alumni diberi kesempatan memberikan wejangan dan nasehat pada calon senior baru yang sebentar lagi dilantik pada acara motivasi dan renungan malam. Selesai acara itu, peserta EPSP diminta kembali ke tenda mereka masing-masing. Sementara kami, para alumni dan panitia bergadang bersama.


Kami saling berbagi kenangan selama menjadi senior PMR. Berbagi cerita suka duka yang kami alami selama menjadi senior PMR. Karena sebentar lagi kami akan berpisah, melanjutkan studi kami masing-masing.


Tak terasa hampir tiga tahun sudah kami menjadi bagian dari PMR sekolah kami. Banyak hal yang sudah kami lalui bersama-sama. Rapat di sela-sela pelajaran demi menyusun acara. Bolos bersama saat bosan di kelas. Bahu membahu membuat proposal kegiatan. Bolak-balik ke ruang guru demi bertemu Pembina PMR untuk mendapatkan tandatangan. Dimarahi guru karena sering terlambat masuk kelas karena sebelumnya sibuk rapat. Pontang panting mencari tambahan dana dari sponsor karena anggaran dana yang disetujui sekolah sangat minim. Melakukan bakti social ke tempat-tempat yang terkena bencana. Menggalang dana kemanusiaan di sekolah dan di jalan-jalan untuk disalurkan ke PMI dan tempat-tempat yang baru saja terkena bencana. Melakukan kegiatan donor darah di sekolah. Mengikuti beragam lomba PMR baik yang diadakan di dalam kota, maupun luar kota. Berdebat bahkan berkelahi sesama pengurus PMR saat berbeda pendapat. Semua itu akhirnya jadi kenangan dalam memori kami semua.


Saat membahas itu semua, membuat kami semua terharu. Ternyata sudah banyak yang kami lalui bersama tiga tahun ini. Kebersamaan yang sangat indah bersama dengan teman-teman yang sangat luar biasa.


Dan akhirnya, acara malam itu ditutup dengan menyanyikan bersama lagu “hymne” PMR kami, KEMESRAAN, milik Iwan Fals. Akhirnya aku paham kenapa lagu itu sering sekali dinyanyikan dalam setiap kesempatan dalam kegiatan PMR, OSIS dan Pramuka di sekolahku. Karena itu sangat relevan dengan lirik lagunya,


“kemesraan ini janganlah cepat berlalu..


kemesraan ini ingin ku kenang selalu..


Hatiku damai..jiwaku tentram disampingmu”


*


*


*


*


Kami bergadang semalaman. Karena kelelahan, akhirnya aku memilih tidur saja.


“Aku ngantuk banget Co..aku tidur aja ya”


“Aku antar ke mobil”


Coco mengantarku sampai ke mobil. Aku memilih tidur di mobil Coco, karena kursinya empuk. Daripada tidur di tenda yang pasti alasnya lebih keras. Coco sengaja membuka jendela mobil supaya ada sirkulasi udara. Tidak terlalu lebar, karena udara malam itu lumayan dingin. Kami juga sudah persiapan membawa selimut. Dua selimut. Untukku dan Coco.


“Udah bobo aja..aku temenin bentar..nanti aku balik kesana”


Aku mengangguk. Lalu aku pun tidur.


Aku tertidur dengan sangat pulas. Aku bangun saat mendengar suara adzan subuh. Dan karena ada suara ketukan di jendela mobil Coco yang membuat aku terbangun. Rupanya teman-teman yang mengetuk.


“Woii..bangun..bangunn, hahahaaha”


“Hayooo..kalian ngapain berduaan di mobil?”goda


teman-teman


“Udah..jangan gangguin orang tidur”


“Kami duluan ya Vi..mau sholat dulu..nanti kalian nyusul ya”


Karena aku belum ON 100%, aku hanya mengangguk saja mendengar ucapan teman-teman. Aku kaget saat menengok ke samping, rupanya Coco juga tidur disebelahku. Dia tidur dengan kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Dia tak memakai selimut yang sudah dibawanya, karena selimut itu justru ada di badanku. Padahal kan aku udah pakai selimut sendiri.


Dengan pelan-pelan, karena takut membangunkan Coco, aku letakkan selimutku dan selimut Coco ditubuhnya. Wajahnya saat tertidur sangatlah lucu dan tampan. Kenapa dia bisa begitu tampan meskipun dalam tidurnya?  Apa dia tau hatiku yang berdesir hebat tiap menikmati wajahnya yang tampan? Dia benar-benar tak bertanggungjawab karena berhasil membuatku selalu mengagumi ketampanannya yang paripurna.


Aku yang awalnya ingin segera menyusul teman-teman, akhirnya malah hanya tiduran sambil menikmati pemandangan indah di sebelahku. Dia kelihatan kelelahan. Hingga tidurnya sangat pulas.


Tiba-tiba aku penasaran, kalo aku gangguin, Coco cepet bangun ga ya?


Aku kemudian mendekati Coco, lalu perlahan-lahan kuletakkan jari telunjukku di pipinya. Dia hanya menggeliat sebentar. Membuat aku kaget dan cekikikan sendiri. Untungnya dia ga bangun.


Percobaan kedua, aku letakkan jari telunjukku di bibir tipisnya. Aku kaget karena tiba-tiba Coco menggigit jariku padahal matanya masih terpejam.


“Ihh..sakit Co” Aku tarik jariku lalu kuelus-elus sambil cemberut.


Dia dengan perlahan membuka mata sambil tersenyum,


“Salah sendiri gangguin orang tidur”


“Udah subuh..ayo bangun”


Dia malah memejamkan matanya lagi lalu memiringkan tubuhnya ke arahku. Aku kaget ketika tangan Coco malah menggenggam tangan kananku dan mendekapnya menjadi bantal. Aku lihat dia masih mengantuk, mungkin sangat lelah.


Aku pun mengelus lengannya.


“Ngantuk banget ya? Tadi tidur jam berapa?”


“Jam tiga kalo ga jam empat”


Pantas saja dia masih ngantuk. Tidur baru 1-2 jam yang lalu.


“Ya udah bobo aja..nanti aku bangunin lagi sebelum pagi”


Dia malah bangun dari tidurnya dan menggeliat. Baru kali ini aku lihat Coco bangun tidur. Meskipun rambutnya berantakan, tapi tetap saja dia ganteng.


“Kenapa bengong? Lihat apa?” suara Coco membuyarkan lamunanku


“Siapa yang bengong? Aku ga bengong”kelitku


“Aku ganteng ya?”ucapnya penuh percaya diri


 “Iya..pacarku yang paling ganteng se-Indonesia Raya”jawabku sambil mendekap wajah Coco dengan kedua tanganku dan tersenyum. Aku kaget banget karena dia malah memonyongkan bibirnya.


“Morning kiss”


“Morning kiss apaan? Ogah” aku segera menyesali perbuatanku sendiri yang mendekap wajah Coco


Dia keluar mobil juga sambil tertawa bahagia. Bahagia karena berhasil menggodaku kan? Dasar!!


“Pagi-pagi udah seneng banget Co”ucap Aryo


“Iya..ketawanya lepas banget”sahut Intan


“Hahaha..ga papa kok” ucap Coco sambil melirik padaku.


“Buruan sholat sana..abis ini kita jalan-jalan ke sungai. Aku denger sungai di sini airnya jernih banget. Kalian ikut ga?”ucap Arman


“Oke..aku sholat dulu”


“Tungguin ya”


“Oke”


Air bekas wudhu membuat wajahku segar. Rasa kantukku perlahan juga menghilang. Aku dan Coco sholat berjamaah.


Kebetulan acara pagi itu adalah senam pagi.  Karena kami bukan panitia, hanya tim huru hara, jadi kami memilih melakukan acara kami sendiri. Kami pergi jalan-jalan sendiri. Pemandangan lokasi EPSP itu sangatlah indah. Sepanjang mata memandang, hamparan sawah yang hijau menyapa mata. Kami menikmati suasana sunrise di tengah sawah. Sangat indah.


Perjalanan menuju sungai yang dimaksud Arman, rupanya lumayan jauh. Jauh karena ternyata tadi kami sempat salah jalan. Untung saja ada warga setempat yang melintas, jadi kami bertanya pada beliau.


“Maaf Pak..jalan ke sungai bener ini kan Pak?”tanya Dani


“Wahh..bukan nak. Tadi di depan harusnya belok kanan”


“Tuh kan Man, kamu sih dibilangin ga percaya”protes Arsy


“Iya maaf..aku kan lupa”jawab Arman yang sudah membuat kami kesasar


“Makasih Pak”


“Ayo..putar balik”ajak Titan


“Ada jalan pintas ga sih? Capek banget nih. Mana kesasarnya jauh gini”keluh Denise


“Mau aku gendong?”goda Aryo


Melihat Aryo yang menggoda Denise, membuat teman-teman yang masih jomblo, tentu saja marah. Mereka berusaha memukul, dan menendang Aryo. Aryo yang ketakutan memilih melarikan diri dari teman-teman sambil tertawa terbahak-bahak.


Kami semua yang melihat tingkah konyol teman-teman ikut tertawa. Kami kembali menyusuri pematang sawah untuk kembali ke rute awal. Sepanjang perjalanan, Coco terus menggandeng tanganku. Kulihat teman-teman yang datang bersama gebetan dan pacar masing-masing juga bergandengan tangan.


Anti dengan kak Ilham. Aryo dengan Denise. Dani dengan Nisa. Dedi dan Vanya. Daniel dan pacarnya Delia. Dan beberapa teman lagi dengan pasangan masing-masing. Hanya Arsy yang sendirian karena pacarnya menjadi panitia EPSP. Dan teman-teman yang masih betah menjomblo yang jalan sendiri.


“Harusnya tadi kita ga usah ikut”ucap Bila


“Lha kenapa Bil?”tanya Lily


“Tuh liat, mereka berpasang-pasangan gitu. Kita salah ikut mereka”keluh Bila menyesali keputusannya ikut kami ke sungai karena kenyataannya kami malah pacaran dengan pasangan kami sendiri-sendiri.


“Makanya jangan jual mahal non”sindir Zaga pada Bila


“Udah..udah…kalian tuh sok jual mahal..udah jadian aja sana”ucap Arsy memanas-manasi keadaan.


Setelah “pensiun” jadi senior PMR, banyak di antara kami yang akhirnya malah pacaran dengan sesama ex-senior PMR. Selama jadi senior, tak ada yang berani pacaran. Paling cuma PDKT. Tapi tak ada yang sampai pacaran. Seperti juga aku dan Coco.


Setelah melewati jalanan terjal dan rute jalan yang memutar karena tersesat, akhirnya kami sampai juga di sungai yang dimaksud Arman. Memang benar, sungai itu airnya masih sangat jernih. Karena masih lumayan pagi, hawa khas pegunungan menyapa kulit. Membuat kami sedikit kedinginan.


“Dingin ga?”tanya Coco padaku


“Lumayan”


Karena air sungai yang jernih, akhirnya membuat kami bermain di sungai. Persis anak kecil. Lelaki-lelaki tanggung yang sebentar lagi jadi mahasiswa itu malah asyik menciprat-cipratkan air sungai pada kami semua yang ada di sungai. Akhirnya baju kami basah terkena air sungai. Tapi jujur saja memang mengasyikkan bermain di sungai. Kami juga sempat beberapa kali berfoto beramai-ramai.


“Ded, tolong fotoin”ucap Coco pada Dedi


Coco minta Dedi memfotoku dan Coco. Aku duduk di batu besar yang ada di sungai itu sambil berpegangan pada lengan Coco sementara Coco berdiri di sampingku.


“Berasa jadi fotografer prewedding” goda Dedi padaku dan Coco karena kami foto dengan saling bertatapan dan tersenyum lebar.


“Kayaknya kalian yang bakal nikah duluan deh di antara Squad PMR kita”goda Arman


“Nanti kalo nikah, jangan lupa undang kita-kita lho ya?”


Gara-gara foto ala prewedding kami, membuat teman-teman malah asyik membicarakan masalah pernikahan. Emang siapa yang mau nikah? Lulus SMA aja belum.


“Iya..nanti aku undang kalian semua”ucap Coco


“Ihh..apaain sih Co? Emang siapa mau nikah duluan? Lulus SMA aja belum..ngomongin nikah”gerutuku pada Coco yang malah menanggapi candaan teman-teman.


“Ucapan yang baik itu sebagian dari doa. Diaminin aja”jawab Coco


“Aamiiinnnn”teman-teman malah yang mengamini.


Dasar aneh emang!!


“Tuh liat..yang ngaminin banyak”


“Udah ah..ga usah bahas nikah-nikah. Kita mau disini sampai kapan nih? Bajuku dah basah..Takut masuk angin”


“Iya nih..balik aja yukk”ajak Anti


Akhirnya kami semua kembali ke lokasi EPSP. Sepanjang jalan kami semua kedinginan karena memang baju kami basah akibat main air tadi. Setelah berganti baju, kami semua pamit pada panitia. Kami pulang  beramai-ramai.