
Awal-awal kedekatan kami, yang kurasakan adalah aku bahagia jika didekatnya. Dia juga sangat hangat kepadaku. Ketika dia dekat dengan cewek lain, Aku tak suka. Dan ketika cowok lain dekat denganku dia sepertinya juga tak suka.
Hal itu sering kualami, ketika dia dengan Tiwi. Jujur aku tak suka, melihat kedekatan mereka. Hatiku rasanya jengkel setiap Tiwi menggoda dia. Setiap mereka ngobrol bersama, aku pasti memilih menghindar. Aku memilih melakukan hal yang lain, ketimbang ikut nimbrung obrolan mereka.
Pernah saat itu, kejadiannya saat penjelajahan PMR. Kami berada di pos yang sama yaitu pos 1. Di pos itu ada 5 orang termasuk aku dan Coco. Di sela-sela menunggu peserta penjelajahan, kami berdua bercanda bersama. Tiba-tiba Tiwi yang harusnya di pos 2, yaitu pos sungai, datang.
“Co, kamu bantuin pos 2 dong..kamu kan bisa berenang. Masak pos 2 cewek semua dan ga ada yang bisa berenang ?” rengek Tiwi
Seketika itu juga aku membalikkan badan, seolah-olah tak mendengarkan Tiwi. Kucoba merapikan bidai dan mitela yang tergeletak di tanah. Sejujurnya aku memang tak begitu menyukai Tiwi. Mungkin karena aku cemburu, ada gadis lain yang akrab dengan dia. Walau sikapnya tak semanis saat bersamaku, tapi dia juga tak pernah acuh terhadap Tiwi. Dan itu yang membuatku semakin cemburu.
Awalnya dia tak mau, tapi Tiwi terus merengek hingga akhirnya dia menyanggupi untuk pindah pos juga.
“Ayo lah Co..bantuin kita..mau ya? ya?” rengek Tiwi dengan suara manjanya.
Dalam hati aku sangat marah, namun tak ku tampakkan. Aku memilih menjauh dari percakapan mereka. Hingga akhirnya, dia duduk berjongkok di depanku.
“Aku pindah pos 2 ya? Kamu disini tidak apa-apa kan ?” ucap Coco lembut padaku
Aku masih tak menghiraukan. Aku masih saja sibuk menata bidai-bidai yang ada.
Dengan senyum yang kupaksakan, Aku pun menjawab
“Kalo Aku bilang “jangan”, kamu mau tetap disini?” godaku padanya
“Ya Aku disini” jawabnya tegas membuatku terharu
Aku tepuk bahunya.
“Hahaha..Aku bercanda kok .. kamu pindah aja ga papa. Lagian yang di pos 2 kasihan, tidak ada yang bisa berenang” jawabku mencoba bijaksana, menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Walaupun dalam hati kecilku, ingin kukatakan “Kamu disini aja”.
“Tapi nanti kalo semua peserta sudah selesai dari pos 1, dan aku menyusul ke pos 2, kamu temenin aku ke pos-pos yang lain ya?” pintaku
“Ok” jawabnya tegas
“Aku pergi dulu ya?”pamitnya
Kuanggukkan kepalaku.
Akhirnya dia dan Tiwi pun meninggalkan pos 1 menuju pos 2.
Mau marah juga percuma, karena aku sendiri yang memintanya pergi. Andai aku bisa lebih tegas, “jangan pergi”. Mungkin dia akan tetep di pos 1 bersamaku. Tapi ya sudahlah.
Satu demi satu kelompok peserta penjelajahan di tes di pos 1. Hampir 1jam lamanya. Begitu kelompok yang terakhir selesai di tes, aku dan teman-teman di pos 1 mengikuti kelompok terakhir menuju pos 2 yaitu pos sungai. Aku tidak ikut menyusuri sungai, tetapi aku lewat jalan darat yang merupakan jalan pintas menuju pos 2.
Sesampainya di pos 2, aku kaget. Ternyata ada banyak orang disana. Teman-teman dari Pramuka yang berkunjung menengok acara PMR kami, berkumpul di pos 2. Bahkan mereka bermain air di sungai. Termasuk dia juga ada di sana. Mencipratkan air pada Tiwi dan kawan-kawanya. Mereka terlihat asyik bermain air.
Ana yang sedari tadi bersamaku pun berteriak kepada mereka.
“Kerja woiii..jangan mainan air aja..”teriak Ana
Seketika itu juga pandangan mata Coco tertuju padaku. Kami pun saling pandang. Seolah dia tak mengira aku sudah sampai di sana.
“Asyik banget ya yang main air” kataku pada Tiwi dan kawan-kawan
“Ana, aku lanjut ke pos 3 dulu ya?” kataku pada Ana
“Kamu mau ikut apa mau disini?”
“Aku disini saja, kayaknya lebih asyik”
“Kalau begitu aku duluan ya?”kataku pada Ana
“Guys, Aku duluan ya.. jangan lama-lama di air nanti masuk angin lho?”teriakku pada semua lalu aku berjalan ke pos 3.
Aku memilih tidak berlama-lama disana. Karena aku memang tidak suka dengan apa yang barusan kulihat tadi. Dia bercanda dengan Tiwi dan kawan-kawannya. Saling mencipratkan air satu sama lain. Mereka terlihat sangat bahagia dan itu berhasil membuatku sangat cemburu. Seperti ada duri yang menusuk hatiku saat melihat mereka seperti itu. Rasanya sakit. Lebih baik aku segera meninggalkan mereka. Aku pun bergegas menjauh dari pos 2.
Kira-kira 100 meter dari pos 2, tiba-tiba tas ranselku ditarik dari belakang membuat langkahku terhenti sejenak. Ketika aku menoleh ke belakang,
“Katanya minta ditemenin, kok malah pergi duluan?“ tanya Coco sambil tersenyum.
Kamipun berjalan beriringan menuju pos 3. Jujur saja, aku senang ternyata dia tidak lupa akan janjinya padaku.
“Kirain udah lupa?”godaku
“Ga lah”ucapnya tanpa melihatku.
Jalan menuju pos 3 sangatlah jauh. Jalannya pun menanjak. Aku yang dari tadi sudah berjalan dari pos 1 mulai kelelahan. Dia mencoba membantuku dengan membawakan tas ranselku yang kelihatannya berat. Walaupun isinya hanya snack dan minuman.
“Pos tiga jauh juga ya rupanya”ucapku
“Capek? Mau aku gendong?”goda Coco sambil duduk berjongkok di depanku. Segera kupukul punggungnya.
“Iiihh..apaan sih Co? hahaha..”
Mau ditaruh dimana mukaku jika aku mau digendong Coco, bisa-bisa temen-temen pingsan lihat aku digendong Coco, hahahaha..
Dia juga tertawa melihat aku yang mungkin kelihatan salah tingkah. Dia pun segera berdiri sambil tertawa bersamaku
“Sini tasmu aku bawain”pinta Coco sambil menarik tas ransel ku lalu dibawanya.
“Hei..ga usah..ga berat kok”pintaku
“Dah ga papa”
“Maacihhh”ucapku sambil tersenyum dengan suara manja yang sengaja aku buat-buat.
Dia malah mengacak-acak rambutku.
Tiba di tanjakan yang licin, akupun kesulitan berjalan. Walaupun ada tali tambang disisi kiri tanjakan, namun karena jalannya berlumpur terkena air hujan kemarin, maka jalannya menjadi becek dan sangat licin. Membuatku kewalahan.
Akhirnya dia menawarkan tangannya untuk menarik aku. Aku pun berpegangan pada pergelangan tangannya. Perlahan-lahan kami menyusuri tanjakan itu. Dia menuntun jalanku dengan sangat hati-hati.
Dan akhirnya….sampailah kami di pos 3. Di wilayah kebun bambu.
Pos 3 adalah pos tempat sahabatku Anti berada, bersama beberapa senior PMR kelas XI lainnya. Melihat kami berdua berpegangan, beberapa orang di pos 3 pun menyoraki kami.
“Cieee..cieee”sorak teman-teman sesama senior PMR yang melihat kami
Aku pun jadi malu. Aku buru-buru melepaskan peganganku pada tangannya.
“Apaan sih kalian?” tanyaku sambil tersipu malu
“Jalannya licin tau…”Alasanku
Dia hanya tersenyum saja mendengar teman-teman menyoraki kami.
Kami pun segera menuju tikar yang ada di pos 3 dan melepas lelah. Aku menawarkan minuman padanya. Dia pun meminum minumannya dengan lahap saking hausnya. Karena memang medan menuju pos 3 sangat jauh dan menanjak.
Dia duduk di sampingku. Sambil sesekali menyenderkan badannya padaku. Semua mata yang memandang seakan tak dihiraukan. Begitulah dia. Sementara aku bercakap-cakap dengan Anti. Dedi juga ada di pos 3 dan bercakap-cakap dengan dia.
Tiba-tiba tim dokumentasi kegiatan penjelajahan datang membawa kamera untuk memfoto kegiatan. Tanpa komando, Bima dari tim dokumentasi mengarahkan lensa kameranya pada kami berempat yang sedang bercakap-cakap.
Karena sadar kamera, kami pun berpose di depan kamera. Seperti biasa aku mengangkat jari kananku membentuk huruf “V”. Seperti dikomando, ternyata dia juga mengangkat jari kirinya membentuk tanda yang sama denganku.
Dengan senyum yang merekah di bibir kami berempat, Bima terlihat senang dengan “pemandangan” yang dilihatnya. Beberapa kali dia memberi instruksi mengarahkan ganti gaya.
“gaya bebas ya!!!” teriak Bima
“1..2..3..”
“1...2…3…”
Kami berpose berbagai gaya.
Sempat sekali, saat masih difoto, saat tangan kiriku kusandarkan ke tanah, menyangga badanku yang kelelahan, ternyata tangan kanannya juga pas di atas tanganku. Aku sempat menengok padanya. Dan dia hanya tersenyum. Sambil mengarahkan matanya, memberi isyarat “udah lihat depan aja”, Aku hanya bisa tersenyum kecut, sambil mengernyitkan dahi. Dia memang sengaja. Dasar!!!!