
Paginya kucoba menguatkan hati untuk tetap masuk sekolah. Walaupun semalaman aku tak tidur, karena menangis semalaman. Mataku bengkak. Wajahku runyam. Aku seperti tak memiliki tujuan hidup. Tapi kukuatkan hati ini.
Aku memilih memakai sweater karena rasanya aku tak enak badan. Aku juga hanya sarapan sesendok. Aku tak punya nafsu makan hari ini. Wajahku benar-benar pucat. Sampai-sampai ayahku memintaku ijin tidak masuk sekolah saja. Tapi ku menolak. Aku bilang aku tak apa-apa.
“Wajahmu kok pucat, sayang?”tanya Bunda padaku
“Hahh..apa benar bund? Aku ga papa kok”
“Iya Vi..kamu pucat. Ijin aja dulu..istirahat di rumah. Biar ayah ijin sama walikelasmu”ucap Ayah
“Aku ga papa kok yah..Bener deh..Aku berangkat dulu ya bunda, ayah”pamitku pada orangtuaku lalu kucium punggung tangannya.
“Ayah anterin ke sekolah”ucap Ayah
“Ga usah yah..aku bisa naik ojek kok”
“Udah..sekalian Ayah mau ke rumah Pak Irwan bentar”
“Oh..oke”
Akhirnya aku berangkat diantar Ayah, karena Ayah kebetulan ingin ke rumah temannya yang lumayan dekat dengan sekolahku. Sepanjang perjalanan ke sekolah, aku lebih banyak diam. Kupandangi pemandangan di luar kaca mobilku.
Sesampainya di sekolah, waktu masih sangat pagi. Aku berjalan perlahan menuju kelasku. Tanganku kusilangkan di dada mendekap badanku untuk melindungiku dari angin pagi itu. Seakan dinginnya merasuk sampai ke hatiku.
Sesekali aku menarik napas panjang, menenangkan pikiranku yang saat itu masih kacau balau. Foto-foto, video dan status FB itu terus terngiang- ngiang di telinga dan pikiranku. Silih berganti merasuki pikiranku.
Saat hampir sampai di kelas, tak kusangka aku harus berpapasan dengan dia.
COCO!!!!
Kenapa juga aku harus bertemu dia sepagi ini? Padahal aku tidak ingin bertemu dengannya. Tidak hari ini. Karena aku sudah sangat berantakan.
Dia menatap ke arahku dan menyapaku hangat. Kujawab sapanya. Sambil aku terus menguatkan diri.
“Pagi Vi”sapanya
“Pagi juga”
Kuletakkan tasku di bangku. Badanku lemas. Aku pun meletakkan kepalaku di atas meja. Kepalaku pusing. Mungkin karena efek kurang tidur semalam. Tak kuperhatikan dia duduk di kursinya menatap ke arahku. Mata kami berpandangan. Aku tak kuat dengan tatapannya. Aku pun memalingkan badanku ke arah yang berlawanan dengan kursi tempatnya duduk.
Satu per satu teman sekelasku datang. Aku angkat kepalaku dan duduk. Kepalaku rasanya tambah pusing. Kupegang kepalaku sambil kupejamkan mataku. Kupijit-pijit kepalaku untuk mengurangi efek pusing yang dari tadi mendera dengan tetap menutup mata.
Saat kubuka mataku, aku kaget setengah mati. Coco sudah duduk di depanku. Di kursi Pak Hendy dan Dion.
“Kamu sakit?” tanyanya pelan
“Tidak” jawabku singkat.
Lalu aku pergi ke kamar mandi.
Kenapa dia mesti sebaik itu padaku? Kenapa harus seperhatian itu? Kenapa tak kau biarkan aku sendiri? Kenapa membuatku selalu salah paham? Aku yang bertepuk sebelah tangan ini sungguh menyedihkan. Aku hanya ingin melupakanmu.
Sambil kuusap wajahku dengan air. Menghapus air mataku yang mengalir.
Iya..Aku menangis lagi.
Menangis karena dia masih perhatian padaku. Menangis karena sadar aku bukan apa-apanya sekarang untuk dikhawatirkan. Menangis karena semua kisah kami hanya tinggal cerita masa lalu. Karena kini dia sudah bersama Feli, kekasihnya yang baru.
“ttteeeeeettttttttt….” Bel berbunyi.
Semua bergegas menuju lapangan untuk upacara bendera. Aku memegang tangan Anti, karena badanku rasanya sangat lemah. Hatiku juga rapuh. Aku dan Anti berbaris dua deret di depan Coco dan Dedi. Sesekali Anti menanyakan keadaanku.
“Kamu kenapa? Sakit? Wajahmu pucat banget Vi”
Aku hanya menggeleng. Aku belum siap menceritakan kesedihanku padanya.
Selesai upacara, Tim Olimpiade dipanggil ke tengah lapangan untuk menyerahkan piala Olimpiade kepada sekolah.
Kulihat piala besar itu dibawa Coco dan Feli untuk diserahkan kepada kepala sekolah.
Hatiku makin hancur.
Aku tak kuasa melihatnya.
Apalagi melihat senyum dan tawa mereka. Ingin sekali aku segera meninggalkan lapangan dan segera ke kelas. Aku lelah.
Setelah piala diserahkan kepada kepala sekolah, semua anak bertepuk tangan tanda suka cita. Tetapi aku tak demikian. Tepuk tangan itu semakin mengingatkanku pada video yang kulihat semalam.
Aku tak sanggup lagi.
“Aku ke kelas dulu ya An..aku ga enak badan”
“Aku antar ke kelas”
Aku pun memilih mundur dari barisan. Teman sesama anggota PMR menerimaku, karena mereka yang bertugas saat itu.
“Kamu sakit Vi?”tanya Bila
Akhirnya aku pun diantar Anti menuju ke kelas untuk istirahat.
Pelajaran pertama kedua berjalan dengan sangat lambat. Tapi aku paksakan diri ini untuk mengikuti pelajaran sampai selesai.
Begitu bel istirahat berbunyi dan guru meninggalkan kelas, semua orang bergegas pergi ke kantin termasuk Coco dan Dedi.
Kulihat saat akan meninggalkan kelas, dia menengok ke arahku. Mata kami saling bertatapan. Namun ku tepiskan pandanganku. Dia pun beranjak pergi.
Aku memilih tetap di kelas. Sebenarnya Anti mengajakku ke kantin. Tetapi kutolak.
“Kamu pergi aja, aku di kelas aja ga papa” kataku
“Beneran kamu ga mau ke kantin?” tanya Anti memastikan lagi
“Wajahmu pucat banget..ayo makan dikit” bujuknya
“Aku ga papa..udah kamu ke kantin aja…keburu penuh lho” jawabku mencoba menjelaskan
“Ya udah, aku belikan makan ya? Nanti kamu makan” bujuk Anti
Aku pun menganggukkan kepalaku tanda setuju. Kemudian Anti pergi ke kantin. Sementara aku kembali sendiri. Kurebahkan kepalaku di atas meja. Hingga kudengar suara Coco dari kejauhan. Aku pun bangun lagi. Aku keluarkan buku tulisku dan mencatat beberapa hal. Benar saja. Coco dan teman-temannya masuk ke kelas. Termasuk di sana ada Feli.
Sekali lagi mataku dan Coco saling berpandangan. Aku juga beradu pandangan dengan Feli. Seolah matanya berkata “JAUHI PACARKU”. Mereka ngobrol keras sekali, bercanda dan tertawa-tawa bersama. Walau tak kulihat ekspresi wajahnya, tapi aku bisa membayangkan mereka berdua tertawa dan bercanda berdua.
Aku sudah benar-benar tak kuat.
Tanganku gemetar.
Pertahananku ambruk.
“ttteeettttttttt……ttttteeeeetttttttt” bel istirahat telah berakhir
Aku tak tahan lagi.
Aku mau pergi. Pergi jauh.
Ketika Anti datang dan menawarkan makanan yang dibelinya dari kantin, aku pun memilih pergi.
“Kamu mau kemana?”tanya Anti sambil menarik tanganku.
“Kalo ada yang mencariku, bilang saja aku ke kamar mandi” jawabku sambil menahan airmataku yang sebentar lagi jatuh.
Aku pun berlari meninggalkan kelas.
Tak kuhiraukan Aldi yang berpapasan denganku di depan kelas.
Aku harus sembunyi.
Aku tak mau ada orang yang melihatku menangis.
Aku pun terus berlari sambil menangis, menuju lapangan basket di sebelah lapangan sepak bola. Dalam pikiranku saat ini sudah terlalu siang untuk jam olahraga basket. Benar saja, lapangan basket kosong.
Aku terduduk di pojok tempat duduk penonton
Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku tak tahan melihat kebahagiaan Feli dan Coco. Yang seolah tertawa di atas luka hatiku.
Hatiku sakit.
Sakit sekali.
Aku menangis tersedu-sedu.
Semua gambaran kebahagiaanku hancur seketika.
Tiga tahun kebersamaan kami ternyata tak berarti apa-apa di matanya. Ternyata selama ini aku yang sudah salahpaham. Dia sama sekali tak menganggapku. Dia tak merasakan yang aku rasakan selama ini.
Lalu untuk apa semua perhatian dan sikap manisnya itu? Kenapa dia membuatku berharap lebih? Jika akhirnya dia memilih gadis lain menjadi pacarnya. Kenapa dia mesti membuatku terpaku hanya padanya?
Aku ambruk.
Sakit ini terlalu dalam.
Entah kapan akan sembuh.
Aku usap air mata ini, sambil menguatkan diriku, namun seakan hati dan ragaku tak seirama.
Hatiku terlalu sakit.
Air mata ini tak mau berhenti mengalir.
Dadaku sesak sekali.
Aku terlalu rapuh saat ini.