
Aku ingat, ketika itu akan ada kegiatan promosi kegiatan PMR ke kelas X. Arsy, teman sesama pengurus PMR, sempat mengutarakan niatnya ingin mengajak Vivi menjadi partnernya. Aku mendengarnya ketika kami sama-sama ke toilet.
Akhirnya ketika rapat PMR, aku berinisitiatif mengajak Vivi terlebih dahulu. Kupegang pergelangan tangannya dengan tangan kiriku. Dia kelihatan bingung dengan apa yang aku lakukan. Tetapi aku puas akhirnya aku bisa promosi ke kelas-kelas dengan dia. Melihat ekspresi kekalahan di wajah Arsy, aku merasa sangat puas.
Pernah juga, saat dia mengikuti lomba PMR di alun-alun kota, aku yang waktu itu ingin memberinya kejutan dengan datang ke lokasi lomba, justru dibuat terkejut sendiri.
Bagaimana tidak, Arsy terang-terangan menyatakan naksir Vivi di depan teman-teman. Arsy membuatku benar-benar marah. Ingin rasanya kupukul dia. Tapi kuurungkan niatku. Akhirnya aku memilih muncul dari samping tenda dan ikut nimbrung dengan pembicaraan teman-teman. Bisa kulihat Vivi terkejut dengan kehadiranku.
Arsy adalah teman sekelasku dengan Vivi di kelas X. Dibandingkan dengan aku, Arsy memang lebih ramah dan perhatian pada cewek. Terutama pada Vivi. Aku bisa lihat, Arsy memang sudah suka Vivi sejak dulu. Itu sebabnya ketika di kelas XI ini, aku tak mau kalah dengan Arsy. Aku tak kan biarkan Arsy merebut Vivi dariku. Karena dia milikku.
Akhirnya aku mengajak Vivi mengambil makanan yang aku tinggalkan di mobil. Ketika tiba-tiba Vivi menabrak tali penyangga tenda, refleks saja tanganku mengelus-elus kepalanya. Kulakukan tepat di depan teman-teman. Membuat Vivi tampak salah tingkah. Teman-teman juga jadi heboh sendiri.
Ketika kami berjalan mengambil makanan di mobil, aku yang dari tadi sudah jengkel, meluapkan kekesalanku padanya. Aku sampai keceplosan, saat dia tanya emang ga boleh Arsy naksir dia, aku jawab dengan tegas, “Ga”. Aku benar-benar marah mendengar pengakuan Arsy padanya. Berani- beraninya Arsy melakukan itu, padahal dia tahu aku dan Vivi dekat. Bahkan teman-teman yang lain pun tahu.
Ketika kembali dari mengambil makanan, aku sengaja duduk di samping Vivi. Tepat disampingnya. Aku juga sengaja meminta Vivi yang mengambilkan pizza untukku. Hingga membuat teman-teman menggoda kami.
“Ambilin”
Vivi menurut dan mengambilkan seiris pizza untukku.
“Mau saus sambal apa tomat?”
“Sambal aja”.
“Idihhh..udah kayak suami istri aja kalian berdua ini. Jiwa jombloku meronta nih liat kemesraan kalian”protes Aryo
“Mesra apanya? Manja iya”protes Vivi sambil menyerahkan irisan pizza itu padaku.
Tapi aku tak perduli dengan ucapan teman—teman. Selama aku bahagia bersama dengan Vivi, aku tak perduli orang mau bicara apa.
Karena pizza di tanganku sudah habis, aku sengaja mengusili Vivi dengan menggigit pizza ditangannya. Membuat Vivi kaget dan protes padaku.
“Kamu apaan sih Co? Ngapain makan pizzaku”
“Kirain ga mau dimakan..ya aku bantuin makan. Kan kasihan, dari tadi pizzanya dianggurin”
“Ini juga lagi ngunyah Co..lihat! Punyamu dah abis? Cepet banget”
Aku baru tahu ternyata Vivi kalo makan masih suka blepotan, seperti anak kecil. Karena kulihat ada beberapa sisa saus tomat di bibirnya yang mungil. Membuat teman-teman yang melihat itu pun menggoda Vivi.
“Hahaha..Vivi kalo makan kayak anak kecil ya..blepotan”ucap Intan
“Kenapa?”
“Apaan sih?”
Karena kulihat Vivi ga sadar juga maksud teman-teman, akhirnya aku bersihkan sisa saus sambal dari bibirnya dengan ujung jariku. Kelakuanku ini membuat Vivi kaget sambil melotot padaku.
“Lihat ini” aku tunjukkan sisa saus tomat di jariku.
“Aduduhhhhh..kalian bisa ga sih jangan pamer kemesraan gitu..aku kan jadi pingin”goda Titan
“Kamu sih..temen-temen jadi mikir yang enggak-enggak kan?”protesnya sambil memukul lenganku beberapa kali.
“Emang aku ngapain?”
Vivi benar-benar ya..kalo sudah mukul lengan keras banget. Membuat lenganku sakit. Tapi aku suka melihat Vivi yang salah tingkah karena kelakuanku barusan. Wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus sungguh sangat lucu dan menggemaskan.
Selesai makan pizza, aku dan teman-teman ngobrol bersama. Aku sengaja duduk sambil merentangkan tanganku ke belakang tubuhku, membuat bahuku dan bahu Vivi berimpitan sangat dekat. Aku sengaja membisikkan sesuatu ditelinga Vivi, hanya agar Arsy tahu, dengan siapa dia berhadapan. Wajah Arsy yang sedang jengkel membuatku sangat bahagia. Aku tak akan membiarkan lelaki manapun mendekati gadisku.
Selain Arsy, ada satu orang lagi saingan terberatku. Namanya Aldi. Aldi adalah adik kelasku yang juga calon ketua PMR. Dia anak yang cukup populer di kalangan anak-anak PMR. Dia juga punya banyak penggemar wanita di kalangan teman-teman satu angkatanku. Vivi dan Anti juga termasuk diantara mereka.
Aku tahu itu, karena mereka berdua selalu memperhatikan Aldi terutama saat latihan PMR. Tingkah mereka saat menggosipkan Aldi benar-benar membuatku tak suka. Aku tak suka dia memperhatikan lelaki lain selain aku.
Pernah satu ketika, saat acara penjelajahan PMR, aku pernah memergoki Anti dan Vivi bertingkah aneh. Mereka cekikikan berdua. Waktu kulihat sekeliling, ternyata ada si Aldi ini.
Ketika Vivi pamit pergi, aku buntuti dia dari belakang tanpa sepengetahuanya. Ternyata dugaanku benar. Vivi dan Anti mengajak Aldi foto bersama. Aku yang setengah marah waktu itu, segera merangkul Vivi dari belakang, dan akhirnya kami berfoto berempat. Selama foto bersama, kurangkul pundaknya dan kujauhkan posisi Vivi dari Aldi.
Aku juga pernah marah-marah sama Vivi disebabkan Aldi ini. Waktu itu, setelah selesai latihan PMR, aku berencana mengajak Vivi pulang bersama seperti biasa. Tapi Aldi tiba-tiba mendekati Vivi. Membuatku jengkel saja melihat kehadiran Aldi. Apalagi Vivi yang malah tersenyum pada Aldi membuat hatiku seketika panas karena cemburu.
“Senyumnya biasa aja kali”
Aku sengaja mengucapkannya dengan keras supaya Vivi berhenti senyum-senyum ga jelas pada Aldi. Vivi yang salah tingkah justru mendorong tubuhku untuk menjauhi mereka berdua. Tentu saja aku tak mau. Rupanya Aldi ingin meminjam catatan PMR Vivi untuk persiapan EPSP. Aku yang mendengar itu, membalasnya dengan kata-kata pedasku.
“Emang selama latihan ngapain aja? Ga pernah nyatet ya?”
Aku yang mulai tak tahan dengan interaksi antara Vivi dan Aldi akhirnya beranjak dari kursiku dan berjalan ke arah keduanya.
“Lama banget sih Vi..udah sore banget nih..ga takut dimarahin ayahmu anak gadisnya ga pulang- pulang?”
“Iihh...bentar Co..ga sabaran banget sih..kamu dah mau pulang? Ya udah pulang aja..aku bisa kok naik angkot apa bis kota..jam segini juga masih ada yang lewat”
Vivi malah sewot menjawab pertanyaanku. Membuatku semakin marah pada Aldi yang sudah membuat aku dan Vivi bertengkar. Akhirnya mereka memillih melanjutkan percakapan mereka melalui chat.
Aku kaget saat tahu Aldi ternyata punya nomor hp Vivi.
“Kok dia punya nomormu? Kalian tukar nomor?”
Vivi tak langsung menjawab pertanyaanku, dia malah masih membahas kelakuanku pada Aldi. Membuatku tanpa sadar meninggikan suaraku.
“Aku tanya dia dapat nomormu darimana?”
“Aku kok yang ngasih nomor ke dia”
“Kenapa dikasih?”
“Terserah aku dong..kamu kenapa sih Co? Hari ini aneh banget”
Hatiku sangat kesal mendengar jawaban Vivi yang ternyata malah dia sendiri yang memberikan nomor hp nya pada Aldi. Tak kuhiraukan kehadiran Arman dan Aryo yang datang menghampiri kami berdua.
“Wah..Vivi kalo marah nyeremin juga ya?”tanya Arman
“Udah Co..sana susul Vivi..kamu juga kenapa marah-marah ga jelas gitu..kasihan kan si Vivi”ucap Aryo
Vivi yang marah karena kelakuanku, membuat aku merasa sangat bersalah. Akhirnya kususul dia ke markas PMR. Sampai di depan pintu markas, kulihat dia sudah menenteng tas ranselnya dengan wajah yang cemberut.
Akhirnya aku memilih meminta maaf pada Vivi.
“Maaf ya”
Tapi Vivi tak menjawab permintaan maafku. Dia malah melengos, tak melihat ke arahku. Aku dekatkan tubuhku sambil membungkuk sehingga wajahku tepat di hadapan Vivi. Aku sengaja mengikuti kemana arah pandangan matanya. Mungkin kelakuanku ini membuat Vivi salah tingkah karena wajahnya tiba-tiba memerah.
“Udah ah Co..jangan dekat-dekat gitu..aku risih tau”
Dia yang salah tingkah mendorong tubuhku menjauh. Membuat aku cekikikan. Gadisku yang lucu dan menggemaskan saat salah tingkah. Membuatku selalu bersemangat untuk menggodanya.