
Selain Tiwi, satu lagi cewek yang selalu berhasil membuatku cemburu. Vanya. Ya..cewek yang selama di kelas X dikabarkan jadi gebetan Coco.
Vanya adalah seorang gadis yang cantik. Rambutnya panjang dan indah. Dengan tinggi badan 173 cm dan berat badan 50 kg, dia termasuk gadis yang tinggi di sekolahku. Badannya juga sangat langsing, dan kulitnya juga putih bersih. Keturunan Cina. Pantas saja Coco dan Vanya sering digosipkan pacaran. Aku lihat mereka juga sangat dekat.
Sejak aku dan Coco dekat, setiap kali Vanya mendekati Coco, rasa-rasanya aku mau meledak. Aku cemburu berat. Hatiku rasanya panas membara. Karena aku tahu, aku tak kan mungkin menang jika bersaing dengan Vanya.
Kebetulan mereka les privat di tempat yang sama. Sehingga intensitas pertemuan mereka menjadi lebih sering.
Waktu itu, jam istirahat pertama. Aku dan Coco sedang makan snack berdua dan ngobrol berdua di dalam kelas. Tiwi dkk baru ke kantin. Tiba-tiba Vanya datang.
“Permisi..Hai Co”sapa Vanya ketika memasuki kelasku
“Eh Vanya..ada apa?”tanya Coco setelah melihat kedatangan Vanya
“Hai Vanya”sapaku pada Vanya
“Hai Vi” sapanya balik
“Bisa kita bicara di luar?”katanya pada Coco
Apa-apan ini coba, kenapa dia ga langsung bicara aja sih? Membuatku jadi jengkel.
“Kalian mau ngobrol berdua ya? Ngobrol aja..Aku mau ke toilet kok”kataku pada Vanya
Aku pun pamit ke toilet. Kutinggalkan mereka berdua. Sempat aku menoleh sebentar kearah mereka. Kulihat mereka asyik ngobrol. Lalu aku.. pergi ke kelas Anti. Ya..aku bohong soal mau ke toilet.
“Kamu kenapa? Datang-datang mukanya cemberut gitu”tanya Anti setelah melihat kedatanganku ke kelasnya dengan muka cemberut
“Vanya” jawabku singkat. Lalu aku menaruh kepalaku di meja.
Anti tahu benar jika aku tak suka pada Vanya. Dia tahu aku suka Coco. Bahkan sejak jadi secret admirer nya dulu di kelas X.
“Vanya kenapa?”tanya Anti
“Ke kelas..ngajak Coco ngobrol berdua”
“Udahlah..ga usah cemberut gitu..orang cuma ngobrol kan, apa salahnya?”kata Anti mencoba menghiburku
“Dia (Vanya) tu aneh banget sih..dulu aja ga mau.. Sok jual mahal gitu. Sekarang malah deketin.. Maksudnya apa coba?”kataku sewot
Anti hanya tersenyum. Dia mengelus pundakku.
“Kamu juga kenapa sewot sendiri? kalo memang ga suka Vanya deketin Coco, kamu bilang dong sama Coco. Biar Coco yang ngomong sama Vanya. Bukan malah ngomel-ngomel ga jelas disini”kata Anti
“Kamu kan tahu..Aku ga mungkin ngomong gitu sama Coco” kataku lemas.
Aku di kelas Anti sampai istirahat berakhir
“tttteeetttttt…tttteeeetttttt” bel pun berbunyi
“Aku balik dulu ya?”kataku pada Anti
“Iyaa..yang semangat..FIGHTING!!” kata Anti menyemangatiku
Aku hanya tersenyum.
Dalam perjalanan menuju kelasku, aku berpapasan dengan Vanya. Kami saling menyapa di jalan. Sampai di kelas, aku langsung duduk di kursiku.
“Ke toilet lama banget?”tanya Coco
Aku hanya tersenyum. Karena aku memang tidak ke toilet.
“Tadi ngobrolin apa sama Vanya?” kuberanikan diri bertanya karena aku memang penasaran.
“Oo..itu..dia minta pulang sekolah nanti bareng sekalian ke tempat les” katanya sambil memakan snack yang ada di mejanya
Apaaa? Pulang sekolah bareng?
“Terus kamu jawab apa?”tanyaku harap-harap cemas
“Ya Aku iyain aja” jawabnya enteng
Whattt? Aku benar-benar jengkel mendengar jawaban Coco. Aku marah. Kesal. Cemburu berat. Campur aduk. Benar saja, sepulang sekolah Vanya langsung menghampiri Coco ke kelas. Setelah berpamitan padaku, mereka pulang bersama. Aku hanya bisa melihat mereka berboncengan berdua dengan penuh kekesalan.
Kejadian itu berlangsung selama 2 hari berturut- turut. Selama itu juga aku sedikit menjauhi Coco. Aku menghindari dia. Dia sepertinya juga merasakan aku menghindari dia.
“Kamu kenapa?”tanyanya
“Hah..emangnya aku kenapa?” tanyaku balik pura-pura tak mengerti maksud pertanyaannya
“Aku ga kenapa-kenapa”kataku sambil tersenyum
“Kamu..kayak beda gitu..sama aku” katanya
“Ahhh..itu cuma perasaanmu aja kali” kataku sambil memukul bahunya
Dia tersenyum.
Kadang aku ingin marah, melampiaskan semua kekesalanku padanya. Kemarahan yang menggebu- gebu di dadaku. Kecemburuanku yang sudah akut ini. Tapi alih-alih marah, aku selalu memilih menghindar, menjauhi dia. Kemudian mencoba mengalah dengan keadaan. Seolah tidak terjadi apa-apa. Supaya kemudian aku tetap bisa dekat dengannya. Itulah Aku. Gadis lemah yang sudah terpaku pada satu pria, Coco.