
Keesokan harinya, aku pun tetap berangkat sekolah, meskipun aku baru pulang dari kota XX pukul 01.00 WIB. Rasa-rasanya aku sudah tak sabar untuk bisa bertemu dengannya pagi itu. Dengan pujaan hatiku.
Aku berangkat lebih pagi untuk bisa menyapanya. Tetapi aku kaget begitu melihat wajahnya yang sangat pucat. Ketika kusapa pun dia menjawabnya dengan suara lirih. Sekilas kulihat matanya sembab, seperti orang yang habis menangis. Tapi kenapa? Apa yang membuatnya sedih? Apa dia tak membaca status FB ku?
Begitu sampai di kelas, tak biasanya dia meletakkan kepalanya di meja. Saat mata kami berpandangan, dia menoleh ke arah berlawanan. Membuatku semakin kuatir.
Aku harus tahu sebabnya.
Akhirnya aku berjalan ke arahnya, dan duduk di kursi di depannya. Dia tak melihat aku datang, karena dia memejamkan matanya sambil memijat-mijat kepalanya. Ketika dia membuka mata, dia tampak kaget melihatku sudah duduk di didepannya. Saat kutanyakan apakah dia sakit, dia justru pergi keluar kelas. Aku ingin menyusulnya, tetapi Dedi menahanku. Karena kami harus menyerahkan piala juara kepada kepala sekolah.
Ketika upacara bendera, ternyata aku dan Feli yang ditunjuk untuk menyerahkan piala juara lomba. Aku menurut saja karena itu adalah permintaan Pak Agus, guru pembimbing lomba olimpiadeku.
Kulihat semua siswa ikut berbahagia dengan kemenanganku. Semua orang bertepuk tangan ketika piala juara lomba kuserahkan kepada kepala sekolah. Ketika akan kembali ke tempatku lagi, aku lihat Vivi keluar dari barisan dan dipapah ke kelas. Semua itu membuatku semakin bertanya-tanya dengan keadaan Vivi.
Selama pelajaran, kuperhatikan dia dari tempat dudukku.
Begitu istirahat, kulihat dia tak beranjak dari tempat duduknya. Sempat kudengar Anti mengajaknya ke kantin tapi dia menolak. Sebenarnya ada apa denganmu?
Begitu kembali dari kantin, aku bertemu Feli dan Sandra yang ingin mengambil catatan lomba yang sempat kupinjam. Jadilah kami berlima ke kelasku. Dari tempat dudukku kuterus perhatikan dia. Tak kuhiraukan Feli dan Sandra yang bercanda dengan Dedi dan Daniel.
Ketika bel masuk pelajaran berbunyi, tiba-tiba dia beranjak dari tempat duduknya. Anti sempat menahannya tapi dia buru-buru keluar kelas. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Terlebih ketika kulihat dia tak menghiraukan panggilan Aldi ketika berpapasan. Segera saja kususul dia. Kulihat dia berlari kearah lapangan basket. Kukejar dia ke sana.
Tiba di lapangan basket, kulihat dia menangis di pojok tempat duduk penonton. Mendengar suara tangisannya benar-benar menyayat hatiku.
Baru kali ini aku melihat dia menangis seperti itu. Selama ini aku tak pernah melihat dia menangis. Tangisnya mengingatkanku ketika aku membentaknya di depan teman-teman. Waktu itu matanya sampai berkaca-kaca.
Mungkinkah ini salahku? Aku terus bertanya-tanya, karena aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia bisa menangis seperti itu?
Aku mematung di depan pintu masuk lapangan basket sambil memperhatikan dia menangis.
Ada kalanya dia membuatku tertawa, ketika dia bicara sendiri dalam keadaan terus menangis sesenggukan. Tapi kutahan tawaku supaya tak mengagetkannya dengan kehadiranku.
“Udah..ngapain nangis..toh kalian kan tidak pernah jadian” katanya sambil menangis lalu dia menangis sejadi-jadinya.
Kata-katanya itu seperti tamparan bagiku. Menyadarkanku. Selama ini, kami memang tidak pernah jadian. Aku tak pernah memintanya menjadi pacarku secara resmi. Menurutku ungkapan perasaan kami lebih penting daripada sekedar kata “jadian”. Tapi rupanya aku salah.
Selama ini aku juga tak pernah "menembak"nya karena aku ingat ucapannya di kelas X kalo dia tak mau pacaran sampai lulus SMA. Selama ini kata-kata itulah yang aku pegang. Karena aku menghormati keputusan Vivi makanya aku tak "menembak"nya. Tapi sekarang aku tak peduli lagi. Aku akan "menembak"nya hari ini juga. Tepat di hari ulangtahunnya.
Begitu dia sudah tenang dan akan kembali ke kelas, bisa kulihat dia terkejut melihatku. Tetapi dia seakan tak menghiraukan kehadiranku dan berjalan begitu saja di depanku. Akhirnya kuraih tangannya. Ketika dia menjawab pertanyaanku dengan ketus, membuatku semakin penasaran dan marah. Kutarik tangannya, kuajak dia memasuki ruang ganti pemain yang kebetulan terbuka.
Melihat wajahnya yang sangat sedih, membuatku tak tahan lagi. Akhirnya kupeluk dia. Kupeluk gadis yang kusukai. Membuat jantungku berdegup sangat kencang. Bisa kurasakan tubuhnya yang hangat.
Kupeluk dia sangat erat. Hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya di dadaku. Air matanya pun membasahi kemeja seragamku. Ini adalah pertamakalinya aku memeluk tubuh seorang wanita selain keluargaku. Walaupun aku juga takut dia akan marah, karena kupeluk dia tanpa ijin, namun tampaknya dia pasrah saja ketika kupeluk tubuhnya. Dapat kurasakan, kedua tangannya mendekap tubuhku dari belakang. Dia juga memelukku. Kami berpelukan.
Kuusap kepalanya perlahan, hingga akhirnya dia mulai tenang. Kulepaskan pelukanku, tetapi tetap kugenggam tangannya. Kuambil sebuah kursi di ruang ganti pemain itu.
Kami berbincang-bincang dengan lebih hangat. Aku utarakan semua isi hatiku padanya. Kami mulai membahas semua masalah diantara kami. Sambil kugenggam erat jari tangannya. Kali ini aku takkan melepaskan dia dari genggamanku. Dalam hati aku berjanji akan membahagiakan gadis ini. Gadis yang kusukai.
Dari perbincangan kami, baru kutahu alasan dia menangis tadi karena Feli mengirimkan foto dan video yang menunjukkan seolah-olah aku dan Feli sudah pacaran.
Dasar gadis bodoh, mana mungkin aku tertarik pada Feli. Bodohnya dia mengingatkan aku, betapa bodohnya aku percaya semua bualan dan kebohongan Feli hingga membuat gadis yang kusukai begitu sedih hingga menangis.
Akhirnya kuputuskan untuk memintanya menjadi pacarku. Kuhadiahkan sebuah cincin emas putih untuknya sebagai tanda. Ketika kusematkan cincin itu di jari manisnya, kulihat dia seakan tak percaya dengan apa yang kulakukan. Lalu kudekap dia.
Sejak hari itu kami resmi berpacaran.
Aku sangat bahagia hari itu.
*
*
*
*
Ketika istirahat, Dedi, Daniel dan Anti mendengar berita kami sudah baikan dengan sangat heboh. Mereka bertiga lah yang selama ini membantu hubunganku dengan Vivi. Walaupun Dedi dan Daniel juga menceritakan semua keburukanku tapi aku bersyukur memiliki sahabat baik seperti mereka.
Saat kami pulang, sepanjang jalan kugenggam erat tangannya. Membuat teman-teman yang melihat kami bersorak dengan sangat heboh. Tapi tak kuhiraukan mereka semua. Karena saat ini yang ingin kulakukan adalah selalu bersama Vivi. Bersama gadis pujaan hatiku. Gadis yang sangat kucintai. Cinta pertama dalam hidupku.
Di dalam mobil, aku utarakan keinginanku mengajaknya makan malam bersama teman-teman sekaligus merayakan pesta ulangtahunnya yang ke-17. Karena hari itu, dia akan makan malam bersama orangtuanya, akhirnya kuajak dia makan keesokan harinya. Aku senang saat dia setuju makan bersamaku dan teman-teman. Akupun berencana mengajaknya makan di restoran langgananku. Tempat yang biasa kukunjungi bersama keluargaku. Karena makanan di sana sangat pas di lidahku.
Sepanjang jalan, Vivi terus memandangi cincin pemberian dariku. Dia bingung dari mana aku tahu ukuran jarinya. Tentu saja aku tahu. Karena sehari sebelumnya, saat aku final di kota XX, aku sengaja meminta tolong Anti supaya mengajak Vivi ke toko emas. Karena aku ingin membelikan Vivi hadiah ulangtahun. Awalnya Anti menolak permintaanku mentah-mentah.
“Kalo kamu mau ngasih kado buat Vivi, kamu sendiri yang beli sama dia..kenapa mesti bawa-bawa aku juga”keluh Anti di telpon
“Besok ulangtahun Vivi. Aku tak ada waktu membelikannya kado. Tolong aku An..kamu mau kan?”pintaku
“Hei Co..kamu aja belum baikan sama Vivi..apa kamu lupa kalo kamu belum minta maaf sama Vivi?”tanya Anti
“Aku tahu. Makanya aku besok mau minta maaf sekalian. Ayo lah An..tolong bantu aku sekali ini aja”pintaku pada Anti
Anti benar-benar keras kepala. Begitu juga dengan diriku. Kami berdebat lumayan lama. Sampai akhirnya, Anti menyanggupi permintaanku.
“Oke..ini terakhir kalinya aku bantu kamu. Nanti aku ajak Vivi ke toko emas. Tapi ingat, kamu harus janji besok baikan sama Vivi”pinta Anti
“Terimakasih An..aku janji. Besok aku akan minta maaf dan baikan dengan Vivi”
Aku sangat berterimakasih pada Anti yang mau membantuku membelikan cincin emas putih yang sesuai keinginan Vivi.
Aku bahagia setiap melihat Vivi yang salah tingkah karena terus-terusan aku goda. Dia yang sangat menggemaskan. Membuatku selalu ingin menggodanya. Menggoda kekasihku. Pacarku. Tambatan hatiku.